
"Hah ... Hah ... Hah ... Sialan ... Aku sangat lelah"
Dengan sekuat tenaga berlari, akhirnya aku mencapai taman dan saat aku berniat untuk berhenti, kakiku malah tersandung sendiri dan membuatku jatuh tersungkur ke depan.
Aku segera bangun dan melihat ke belakang, Roh kertas itu masih mengejarku. Tapi hanya sampai sini dia bisa melakukannya, tidak akan aku biarkan dia bergerak sedikitpun mulai sekarang.
—!!
Aku mengulurkan tangan, mengalirkan sejumlah besar Energi dan menghentikan gerakannya. Mana mungkin kertas kurus dan kecil sepertinya bisa melawan sesuatu yang bahkan Roh tingkat menengah tidak bisa.
Roh kertas itu terhenti, mencoba untuk bergerak tapi itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Aku mengambil kesempatan ini untuk menarik banyak napas dan mengistirahatkan tubuhku sesaat.
Setelah merasa sedikit baikan, aku berdiri dan mendekati Roh kertas itu. Kemudian menggoreskan jariku pada wajahnya.
Teksturnya sedikit kasar dan cukup kering, seperti kertas pada umumnya. Aku mencoba di beberapa bagian dan hasilnya juga sama.
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?"
Aku mencoba untuk berbicara padanya tapi kertas itu sama sekali tidak merespon, apa yang dia lakukan hanyalah mencoba untuk bergerak. Sepertinya Roh ini memang tidak bisa bicara.
Jika memikirkannya lebih baik itu wajar saja, lagipula dia tidak memiliki mulut.
"Aku mencoba untuk mendapatkan informasi tapi ini hanya buang-buang waktu. Aku harus segera mendatangi akar masalahnya dan menyelesaikannya atau hal seperti ini mungkin akan terus terulang. Tapi apa yang harus aku lakukan?"
Aku melihat lebih dekat pada wajah Roh kertas yang tidak berubah itu, beberapa emosi mulai tumbuh dalam diriku saat aku melakukannya.
"Aku tidak peduli lagi."
Dan saat aku sadar, aku sudah menggunakan tangan kiriku untuk menyobek wajahnya. Roh kertas itu pun turun ke tanah dan berhenti bergerak, keterkejutan mendatangiku.
"Dia benar-benar lemah. Mungkin tidak masalah semisal hal seperti ini terulang. Daripada itu tubuhku masih sangat lelah, lebih baik aku segera kembali. Aku juga harus membereskan kaleng dan kardus yang berjatuhan tadi. Ini benar-benar merepotkan."
Dengan helaan napas kecil, aku segera kembali, meninggalkan tumpukan kertas di belakangku. Tapi sebelum aku bisa melangkah keluar dari taman, sebuah suara memanggilku.
"Tunggu, Aciel."
Reflek, aku berbalik tanpa berpikir.
Melihat seorang pria dengan topi di kepalanya. Jika melihat penampilannya yang ditutupi kegelapan dengan cahaya redup dari lampu sekeliling, maka aku sama sekali tidak bisa mengenalinya.
Tapi sayangnya, aku mengenali suaranya. Terlebih, aku baru saja bertemu dengannya sore ini. Selagi melangkah mendekat, aku membalasnya.
"Kak Ren, apa yang kau lakukan di sini?"
Ren Yafia, pelukis aneh dengan lukisan aneh bersama gadis pelayan aneh. Itulah kesan pertama yang aku dapatkan darinya. Kesimpulan yang aku dapatkan, dia adalah orang yang sangat aneh.
Tentu saja, aku tidak memiliki hak untuk mengomentari tentang keanehannya itu. Lagipula aku juga bukanlah orang yang normal.
Tapi melihatnya ada di sebuah taman sendirian pada jam seperti ini, tanpa seorang pelayan di sampingnya membuatnya tampak lebih aneh.
Tidak, menyebutnya aneh masih sedikit lembut. Orang ini terlihat mencurigakan. Terlebih, dia muncul saat aku akan pergi dari taman
Yang artinya, dia pasti melihatku saat bercengkrama dengan Roh kertas itu.
Apa yang dia pikirkan?
Baiklah, bagaimana aku mengatasi ini?
Aku menghentikan langkahku di depannya dan kak Ren pun menatapku. Wajahnya tidak terlihat begitu jelas tapi kurasa dia sedang tersenyum.
"Memang benar, kau bisa melihatnya, kan?"
Aku tidak memahami maksudnya dengan mengatakan itu, membuatku memiringkan kepala dan memasang ekspresi bingung palsu.
"Melihat? Memangnya apa yang aku lihat?"
Kak Ren tertawa setelah mendengar balasan itu dan mendekat pada tumpukan kertas dari Roh yang baru saja aku robek. Dia mengambil salah satu potongannya dan berbalik padaku.
"Sesuatu yang biasa disebut mahluk halus, sesuatu yang biasa disebut siluman, sesuatu yang biasa disebut iblis dan sesuatu yang biasa disebut Roh. Kau bisa melihat semuanya, kan?"
Dan setelah dia selesai mengatakannya, kepulan asap berwarna kelabu yang menyala terang muncul dari punggung kak Ren.
Asap itu semakin banyak dan memadat, membentuk suatu wujud. Dan ketika aku sadar wujud apa yang sedang di bentuk oleh kumpulan asap itu, kebingungan lainnya mendatangiku.
Bagaimanapun kau melihatnya, itu adalah gadis pelayan yang ada di samping kak Ren sore ini. Ternyata dia adalah Roh, ya? Ini memang sedikit sulit bagiku untuk membedakan keduanya.
Aku selalu harus membutuhkan kehadiran pihak ketiga untuk memastikan hal itu.
"Jadi begitu, tanpa sadar tadi sore aku menyapa gadis pelayan ini yang merupakan Roh dan hal itu membuatmu terkejut, lalu menaruh ketertarikan padaku. Jadi itu alasan kenapa kalian berdua memasang wajah terkejut sebelumnya."
"Ya, begitulah. Aku sangat senang kau dapat memahaminya dengan cepat. Ini menyingkat waktu untuk menjelaskan."
Yah, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk itu. Lagipula membedakan Roh yang memiliki wujud manusia sangatlah sulit untukku.
Master bilang aku bisa tahu dari bau yang mereka keluarkan tapi sayangnya penciumanku tidaklah setajam itu. Ada cukup banyak kejadian di mana aku mengira Roh adalah seorang manusia.
"Kalau begitu Kak Ren, apa yang kau inginkan dengan menggiringku ke sini?"
"Hanya sapaan kecil, atau begitulah niatku awalnya. Tapi niatku berubah saat melihatmu menghentikan gerakan dari kertas pemanggil itu."
Kak Ren mengulurkan tangannya, menampakkan telapak tangannya padaku.
"Aciel, apa kau bersedia untuk menjadi asistenku? Dengan Energi Spiritual yang cukup besar itu dan bakat yang kau miliki, setidaknya aku ingin agar kau dapat membantu beberapa pekerjaanku. Itu juga akan memberimu pengalaman."
"Asisten, ya? Aku tidak berpikir jika kita sedang membicarakan profesi mu sebagai pelukis di sini. Kak Ren, apa kau memiliki pekerjaan lain? Sayangnya aku cukup buruk dalam seni."
Jawabanku tentunya memicu tawa lain dari pria di depanku. Dan setelah dia menyelesaikannya, jawaban datang menyusul.
"Aku adalah seorang pembasmi Roh. Untuk seseorang yang dapat melihat Roh sepertimu, tentunya kau sudah pernah mendengarnya, kan?"
Pembasmi Roh, ya? Aku memang sudah cukup sering mendengarnya. Baik melalui mimpi Ebi, saat menyelesaikan masalah Perkumpulan Frouya bersama Wasa dan Rune lalu yang lainnya.
Tapi karena aku melihatnya dari sudut pandang para Roh, apa yang bisa aku tahu dari mereka hanyalah sisi negatif yang mereka miliki. Karena itu saat orang ini menawariku untuk menjadi asistennya, aku memiliki beberapa keraguan tentangnya.
Meskipun begitu, penawaran untuk mendapatkan sebuah pengalaman bukanlah sesuatu yang buruk. Aku juga bisa lebih melindungi diriku dengan itu, apa baiknya aku menerima penawarannya saja, ya?
"Aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya. Apa itu baik-baik saja?"