
Sensasi saat diriku berada pada jalur diantara kenyataan dan imajinasi, dimana keduanya terasa begitu dekat tapi disaat yang sama juga terasa sangat jauh. Sensasi familiar yang pernah aku alami sebelumnya.
Sebuah mimpi, ini mimpi yang sama saat aku melihat masa lalu dari Ebi. Tapi apa yang ditampilkan saat ini berbeda, meskipun pemandangan yang ada di depanku adalah sebuah hutan yang dihujani oleh cahaya matahari, terletak pada sebuah tebing.
Tebing hijau, dipenuhi oleh rumput dan tanaman yang tumbuh dengan sangat baik, bergoyang kerena hembusan angin hangat. Terdengar sedikit suara dari katak yang melompat, katak itu membawa setangkai bunga pada mulutnya.
Katak itu melompat dan melompat, sampai pada sebuah batuan yang tertumpuk pada tebing, katak itu menaruh tangkai bunga itu di depan tumpukan batu itu dan melihatnya.
Setelah beberapa saat terdiam, katak itu mengangguk dan pergi.
Tumpukan batu itu terdiri dari lima batu berbentuk balok yang ditumpuk layaknya menara. Jika melihatnya lebih baik, ada beberapa tangkai bunga lainnya di dekat tumpukan batu itu.
Itu terlihat seperti sebuah kuburan daripada tumpukan batu, setidaknya bagiku seperti itu. Sebuah makam yang terletak di ujung tebing, ya?
Meskipun begitu, dimana ini? Aku tidak mengenal dataran seperti ini pada hutan di dekat rumahku, apa letaknya memang tidak di sana? Lalu, kenapa aku melihat sesuatu seperti ini?
Yah, tidak berguna aku mengeluh. Sama seperti sebelumnya, apa yang harus aku lakukan saat ini hanyalah mengamatinya.
Mungkin akan ada sesuatu yang harus aku perhatikan, jadi lebih baik untukku mengingatnya. Pasti ada sebuah alasan untuk ini.
Aku hanya perlu meyakininya.
Aku melanjutkan melihat sisi pemandangan dari tebing, tapi tidak ada yang berubah selama beberapa saat. Apa yang tertampil di depanku tetaplah sebuah tebing hijau dengan makam di atasnya.
Sampai rona cahaya pada langit sedikit berubah, awan yang sedikit tebal mulai menutupi langit dan menghalangi sinar matahari. Membuat semua yang ada di depanku terlihat sedikit gelap.
Tak lama lagi, hujan yang cukup deras pun datang. Dan pada saat itulah, sebuah perubahan terjadi.
Aku melihat seorang gadis, dengan pakaian compang-camping yang menutupi tubuh kecilnya. Gadis itu membawa sebuket bunga di kedua tangannya, dengan warnanya yang sangat bervariasi.
Gadis itu berjalan, dengan kakinya yang tidak terlapisi oleh alas kaki.
Saat aku mengira jika dirinya adalah seorang manusia, sebuah kekecewaan mendatangiku. Itu terjadi saat aku melihat sepasang telinga berwarna putih dengan corak hitam pada rangkaian rambut putih gadis itu.
Lalu Ekor bulat berwarna putih yang menonjol pada bagian belakang tubuhnya, ciri ini mengingatkanku dengan seekor kelinci.
Telinganya menggantung, terlihat tidak adanya Energi, lalu ekspresinya yang sayu, tertutupi oleh guyuran air hujan. Melihatnya seperti ini, seolah menampakkan jika gadis itu sedang menangis.
Dengan bahu yang terkulai dan kepala yang sedikit menunduk, gadis itu berjalan perlahan mendekat pada tumpukan batu itu.
Gadis itu duduk di depan tumpukan batu itu dengan melipat lututnya, menaruh buket bunga di depan tumpukan batu dan menyatukan kedua tangannya, menggumamkan sesuatu.
Aku tidak bisa mendengarnya karena suara hujan ini tapi mungkin gadis itu sedang berdoa.
Setelah beberapa saat, gadis itu mengangkat wajahnya dan mengeluarkan sebuah senyuman.
Bukan senyuman yang menggambarkan suatu kebahagiaan, melainkan senyuman yang dipenuhi kepasrahan dan kesepian.
Entah kenapa, aku melihatnya seperti itu.
Gadis itu membuka mulutnya sekali lagi. Dengan senyum tak berisi itu, dia mulai mengatakan banyak hal yang tidak bisa aku dengar.
Apa yang dia katakan?
Dan saat aku mencoba untuk mendekat, gadis itu menggerakkan kepalanya sekali lagi. Melihat ke arah dimana aku melihatnya.
Mata kami pun bertemu.
Eh?
Tapi sebelum aku bisa mengatakan apapun, pemandangan yang aku lihat berubah drastis dalam sekejap.
____________________________________
Aku bangun dari tempat tidurku, menyingkirkan kucing hitam yang menindih tubuhku. Berdiri dan berjalan untuk mengambil satu gelas air minum. Kepalaku terasa sakit dan tenggorokanku pun sedikit kering, membuatku tidak nyaman.
Air minum di pagi hari memang dingin, tapi itu juga segar disaat yang sama.
"Hah ... Segarnya ..."
Hal itu memang tidak terlalu memberikan pengaruh pada sakit kepala tapi setidaknya tenggorokanku sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Aku mengambil satu gelas lagi dan membawanya pada meja belajar.
Mengambil satu buku dan menggambar sesuatu pada salah satu halaman kosongnya.
Itu adalah pemandangan tebing yang aku lihat pada mimpiku sebelumnya.
"Kurasa seperti ini? Aku tidak terlalu pandai menggambar jadi masih ada beberapa bagian yang salah tapi kurasa sudah cukup. Meskipun begitu, apa maksud dari mimpi itu, ya?"
Aku tahu jika memikirkannya sekarang tidak ada gunanya tapi hal itu masih menggangguku. Terlebih saat bagian dimana gadis itu melihatku.
Tidak, apa gadis itu memang melihatku? Setidaknya dia berpaling ke arahku. Dan sebelum terjadi apapun, aku sudah terbangun begitu saja.
Untuk selanjutnya aku benar-benar berharap agar tidak berubah disaat-saat yang menggantung seperti itu. Ini membuatku kesal saat memikirkannya.
"Oy, bocah bodoh. Apa yang kau pikirkan dengan raut wajah jelek seperti itu pagi-pagi? Apa perutmu sakit? Cepatlah pergi ke toilet."
"Master, aku juga berharap akan ada pagi dimana Master tidak menyapaku dengan sebuah ejekan. Apa kau bisa melakukannya?"
"Sayang sekali tapi tidak mungkin Lagipula dari awal alasan keberadaan manusia rendahan seperti kalian itu ditujukan untuk diinjak-injak dan diludahi. Apa yang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang wajar sebagai Roh tingkat tinggi."
"Sesuatu yang wajar, ya? Berapa kalipun melihatnya bagiku itu adalah hal yang buruk."
Master melompat pada meja di depanku dan membaringkan tubuhnya seperti biasa, memanjangkan ekornya untuk mengambil gelas dan meminum sekua air di dalamnya.
"Hei, itu aku yang mengambilnya. Jika Master mau ambillah sendiri."
Meskipun aku sudah mengatakan hal itu, Master mengabaikannya dan masih meminum semua air di dalam gelas tanpa tersisa sedikitpun dan bersendawa setelahnya.
Daripada kucing kecil, aku seakan melihat pria tua di sini. Ada seekor kucing yang berbicara dengan suara berat dan bersendawa.
Hal ini benar-benar tidak lucu
"Jadi, bagaimana? Apa yang kau pikirkan pagi-pagi sampai membuat wajahmu menjadi jelek seperti itu? Apa kau baru saja mimpi basah untuk pertama kalinya? Kalau begitu ceritakan padaku."
Apa yang kucing ini katakan tiba-tiba? Ini mulai membuatku sedikit kesal saat melihatnya. Mungkin tidak memberinya camilan selama beberapa hari cocok sebagai hukumannya.
Dan juga, apa itu mimpi basah? Aku tidak mengerti.
"Tidak, bukan itu. Aku hanya memikirkan surat yang Ebi kirim beberapa hari lalu. Kira-kira apa yang dia lakukan sekarang, ya?"
"Ah begitu? Tidak masalah jika kau tidak ingin memberitahukannya."
"Tidak, tidak, jujur saja aku juga memikirkan hal itu."
Meskipun mimpi yang aku lihat jauh lebih mengganggu, sih.
"Yah, kesampingkan itu. Aku akan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dan membantu Bibi An menyiapkan sarapan. Master, apa bakpao dagingmu mau aku hangatkan juga?"
"Lakukan sesukamu."
"Aku mengerti. Aku akan kembali setengah jam lagi jadi jangan kemana-mana ya, jika Master tidak ada maka aku akan memakan semuanya nanti."
"Dan jika kau benar-benar melakukannya, maka aku akan pastikan agar kau membelikannya sekali lagi. Itu hal mudah.
"Ahahaha, sayang sekali tapi uangku sudah habis untuk membeli bakpao tadi malam."