
Besoknya, pada pagi hari dimana cahaya matahari masih belum menyentuh lapisan langit, aku sudah terbangun dan duduk pada meja belajar yang diterangi oleh cahaya redup dari lampu belajar bekas yang aku dapatkan dari rongsokan gudang.
Tidak, aku salah menyebutkannya.
Daripada terbangun, itu lebih tepat untuk mengatakan jika aku sama sekali tidak bisa tidur semalam dan memilih untuk menyerah saat jarum jam alarm menyentuh angka tiga pagi. Kepalaku pusing, mataku juga terasa sakit tapi aku sama sekali tidak bisa tertidur pulas.
Penyebabnya sangatlah jelas, itu adalah sesuatu yang aku pegang saat ini. Aku mendekatkannya pada cahaya lampu untuk melihat isinya sekali lagi, ini sudah puluhan kali aku mengeceknya dan isinya masih tidaklah berubah dan hanya bertuliskan hal sama.
Yah, itu wajar saja sih. Mana mungkin isi sebuah surat akan berubah begitu saja, kan?
Surat yang tampak kusam, berwarna kekuningan dengan teksturnya yang kasar, ada satu paragraf pada bagian tengahnya. Tulisan disana tidak begitu rapi tapi masih bisa dibaca.
Ada beberapa hal terjadi dan ini membuatku harus memperpanjang sedikit waktu untuk mencari segel dari ketiga temanku. Mungkin aku tidak akan pulang dalam waktu dekat, terimakasih.
Dan, itu saja. Pada bagian depan surat ada nama Ebi yang tercantum. Melihat hal ini membuatku memikirkan banyak hal yang langsung memenuhi otakku dan membuatku tidak bisa tidur.
Terutama pada bagian yang menyebutkan jika ada beberapa hal yang terjadi, Rubah betina itu sama sekali tidak menjelaskan apa maksud dari kalimatnya dan membiarkannya begitu saja.
Memangnya apa yang telah terjadi? Aku membutuhkan penjelasan untuk bagian itu, sialan.
Lalu kata yang menyebutkan sedikit waktu dan yang menyebutkan jika dirinya tidak akan pulang dalam waktu dekat. Keduanya memiliki arti yang berlawanan dan itu membuat kebingunganku semakin menggumpal dan hampir meledak.
Dan yang terakhir.
Fakta tentang kenapa Rubah itu lebih memilih menggunakan surat dengan tulisan buruk ini daripada menyampaikannya padaku secara langsung? Apa ada alsan tertentu untuk itu?
Aku memang tidak sedang ada di area gudang saat itu karena membantu Beida si belalang untuk mendapatkan Huflu, tapi aku harap Rubah itu mau menunggu sebentar saja sampai aku kembali atau mengambil inisiatif untuk mencariku.
Setidaknya aku ingin dia menyampaikan hal seperti ini dari mulutnya langsung, daripada membuat surat yang membuatku sakit mata seperti ini.
Apa dia memang sangat terburu-buru? Tidak, aku tidak peduli meskipun itu benar. Aku ingin agar dia membicarakannya denganku.
"Sialan, aku akan pastikan untuk menjewer telinganya dan menggelitiknya sampai mati saat dia kembali lagi kesini nanti. Awas saja kau, Ebi. Aku pasti akan melakukannya. Hweheheheeh!"
"Aku berpikir kenapa anak dengan otak kecil sepertimu terbangun pagi-pagi seperti ini tapi apa yang aku temukan di sini? Kau menggumamkan sesuatu dengan raut wajah menakutkan dan mengeluarkan tawa yang menjijikkan. Apa akhirnya kau sudah gila?"
Suara terdengar dari arah lain. Dengan rasa ragu, aku memalingkan pandanganku dan menemukan seekor kucing hitam yang berjalan mendekat.
"Master, kau masih bangun? Ya ampun, seharusnya kau mengajakku bicara saat aku bangun tadi. Apa Master juga mengkhawatirkan Ebi dan tidak bisa tidur karenanya? Sepertinya kita sa—"
"Jangan mengalihkan pembicaraan dan menyimpulkan sesuatu sembarangan seperti itu. Aku hanya terbangun saat kau bergerak dari kasur sebelumnya. Lupakan itu dan jawab pertanyaan ku, apa kau sudah gila?"
Master melompat pada meja belajar dan berbaring diatasnya, menghadap ke arahku selagi menjilat perutnya.
"Sayangnya tidak, aku hanya memikirkan tentang surat yang Ebi kirimkan kemarin dan hal ini membuatku gelisah sampai tidak tertidur. Apa ada sesuatu yang terjadi, ya? Aku ingin tahu."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan setelah mengetahuinya?"
"Eh? Ya, aku akan membantunya? Pastinya aku akan melakukan sesuatu agar Ebi bisa menyelesaikannya dengan cepat. Setelah itu Ebi pasti akan kembali lagi kesini, kan?"
Mendengar jawabanku itu membuat Master mendengus dengan kesal.
"Master, bukannya jawabanmu itu sedikit dingin?"
"Dingin? Apa seperti itu kau menangkapnya? Aciel, bagaimana kau menafsirkan apa yang aku katakan sebelumnya? Jawablah."
"Huh? Burghh—!! Apa yang kau lakukan tiba-tiba?!"
Master mendecakkan lidahnya dan menampar pipiku menggunakan ekornya, itu cukup kencang dan membuatku terkejut meskipun tidak terasa sakit sama sekali.
"Hah? Itu karena kau plin plan dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku berikan, kan? Baiklah, aku akan menjawabnya untukmu. Aciel, berhentilah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Jujur saja, itu membuatku mual."
Entah kenapa, perkataan yang Master berikan itu menusuk dadaku dengan maksimal dan menyebarkan rasa sakit ke seluruh tubuhku.
Aku mengulangi perkataan itu pada kepalaku berkali-kali dan tanpa sadar menggumamkan hal itu.
"Melakukan sesuatu dengan setengah-setengah? Aku? Master, apa maksudmu?"
"Kenapa aku harus memberitahumu? Pikirkan saja hal itu baik-baik dengan kepala kosong yang kau miliki dan pahamilah sendiri artinya. Jujur saja ini mulai menjengkelkan karena kau bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Sialan, aku akan tidur."
Master melompat dari meja dan berjalan menjauh, memasuki selimut dan membenamkan dirinya di dalam sana.
"Apa-apaan itu? Mengatakan sesuatu yang menyakitkan dan pergi begitu saja tanpa menyampaikan maksudnya. Dasar kucing sialan, tidak akan ada porsi bakpao daging untukmu besok."
Tapi, aku masih tidak paham kenapa Master mengatakan hal seperti itu padaku.
Setengah-setengah? Apa maksudnya? Kenapa kucing itu tiba-tiba mengatakannya dengan raut wajah kesal seperti itu? Apa aku memang melakukan sesuatu yang setengah-setengah akhir-akhir ini?
Tidak, bahkan aku tidak paham apa yang Master tunjuk sebagai Setengah-setengah itu. Memangnya setengah-setengah itu apa? Melakukan sesuatu dengan tidak serius, kan?
Apa aku memang melakukannya? Kapan? Dimana? Sialan, ini membingungkan. Kucing itu benar-benar menjatuhkan bom pada pikiranku. Tapi dia pasti tidak akan memberitahukannya.
"Hah ... Sialan, Ebi tidak memberitahuku apapun karena aku setengah-setengah? Ini membuatku pusing saat memikirkannya. Lebih baik aku keluar dan jalan-jalan untuk mencari angin sebentar."
Aku berdiri dari kursi dan berjalan, membuka pintu gudang.
"Oi, bocah bodoh, mau kemana kau pagi-pagi seperti ini? Matahari masih belum terbit."
Aku mendengar sebuah suara tapi lebih memilih untuk mengabaikannya dan menutup pintu gudang lalu menguncinya.
"Oi, buka pintunya!! Aku juga akan keluar!!"
Meninggalkan suara gedoran dan teriakan yang tidak tahu darimana asalnya, aku segera menjauh dan berjalan menuju jalanan kosong yang hanya dipenuhi lampu pada setiap sisinya.
Udaranya cukup dingin tapi terasa nyaman disaat yang sama, untung saja aku membawa jaket dan celana panjang. Aku membuka teh yang aku beli semalam dan meminumnya melalui sedotan.
Tidak ada suara apapun selain hembusan angin yang pelan, dengan suasananya yang sangat menenangkan. Seolah seluruh jalan ini adalah milikku sendiri, tanpa adanya satupun orang lain.
"Hwahh ... Ini cukup bagus."
Mungkin melakukan ini setiap hari bukan ide yang buruk.