ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 1.10 : KERTAS LIPAT MANUSIA & PILAR CAHAYA



Dengan sembilan ekor yang memanjang, melingkari wilayah bersama warna keemasan yang menyala terang, sembilan kepala yang memiliki dua tanduk, menggambarkan sebuah kehormatan dan keagungan, dengan sebuah simbol setengah pada bagian dahinya. Masing-masing matanya bersinar, menatap ke arahku.


"Jadi Aciel, bantuan seperti apa yang kau inginkan dariku sebagai ganti dari sedikit darah itu? Aku akan melakukannya."


"Uh, maaf tapi pertama-tama apa kau bisa berubah menjadi wujud kecil yang sebelumnya? Entah kenapa melihat wujud yang kau miliki sekarang membuatku merasakan kegelisahan dan tidak bisa tenang, apa kau bisa melakukannya?"


Aku menyatukan tanganku, memohon pada Ebi yang memasang ekspresi heran pada setiap kepala yang dimilikinya.


"Aku sedikit tidak paham dengan itu tapi karena ini adalah permintaanmu, aku akan menerimanya. Tunggu sebentar."


Ebi melompat pada langit dan mengeluarkan asap berwarna keemasan yang langsung menutupi seluruh wujudnya yang besar, kemudian yang muncul dari sana berikutnya adalah wujudnya yang kecil.


Aku lebih terbiasa dengan wujud ini.


"Baiklah, apa kau sudah puas dengan ini? Memang wujud ini lebih efisien dari wujud keduaku, tapi aku juga merasakan sedikit rasa tidak tenang."


"Yah, kau bisa menahan itu, kan? Daripada itu, aku lebih menyukai wujud darimu yang sekarang. Ngomong-ngomong Master, aku juga menyukai wujud kecil milikmu itu."


Aku berteriak ke arah lain, melihat kucing hitam yang mengibaskan ekornya dengan pelan dan menggerakkan telinganya beberapa kali.


"Yah, kesampingkan itu. Jadi, bantuan seperti apa yang kau inginkan?"


"Tentang itu, kau tahu siluman dengan topeng tengkorak hitam sebelumnya, kan? Dia kabur dan Master memberitahuku jika dia pasti akan kembali lagi untuk membunuh dan memakan tubuhku. Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya? Kalau bisa aku ingin menyelesaikannya malam ini juga."


"Oh, si pemakan bayangan itu, ya? Memang benar, mereka siluman yang sangat gigih untuk mengejar mangsanya sampai ke ujung Dunia. Satu-satunya pilihan yang bisa kau lakukan setelah bertemu mereka hanyalah menghabisi semuanya sekaligus atau lari dan menjadi incaran mereka seumur hidup."


"Pemakan bayangan? Jadi itu namanya, ya?"


"Itu lebih ke nama dari Spesiesnya. Kesampingkan itu, aku akan membantumu untuk membasminya. Apa kau membawa sebuah kertas?"


"Ah ya, itu ada di dalam tasku. Sebentar, aku akan segera mengambilnya."


Aku membuka tas sekali lagi dan mengambil buku, lalu membeberkannya pada rumput dan menyobek secarik kertas pada bagian tengah.


"Kalau begitu lipat kertas itu menjadi bentuk apapun sesukamu. Kau bisa membentuknya menjadi lipatan manusia, pesawat ataupun katak. Aku menyarankan yang pertama."


Sesuai instruksi dari Ebi, aku melipat satu kertas menjadi bentuk manusia, meskipun hasil jadinya tidaklah begitu baik.


"Baiklah, apa kau memiliki beberapa pengetahuan tentang segel atau mantera yang biasa digunakan oleh para manusia?" Tanya Ebi, selagi menepuk lipatan manusia buatanku.


"Tidak, aku tidak memiliki sesuatu seperti itu sedikitpun. Yang aku tahu hanya Teknik untuk menahan gerakan Roh yang aku lakukan padamu sebelumnya, selain itu tidak ada."


"Begitukah? Yah, aku sudah menduganya. Kalau begitu aku akan menggantikan dirimu untuk menuliskan simbol mantera. Aku akan memastikan untuk mengajarimu semua yang aku tahu setelah ini selesai, jadi persiapkan dirimu."


Huh? Ebi, itu artinya kau akan tinggal bersamaku?


"Hm? Aciel, kenapa kau tersenyum? Terlebih senyum yang menjijikkan."


"Hah? Ah, tidak. Bukan apa-apa. Aku mengerti, kau bisa mengajarkanku apapun."


Ebi menghela nafasnya lalu menuliskan beberapa coretan pada lipatan kertas di bawah, aku tidak tahu apa artinya tapi itu tampak seperti sebuah aksara kuno.


Lalu setelah Ebi selesai menulisnya, cahaya berwarna keemasan muncul dari coretan itu.


"Baiklah, selanjutnya kau bisa menyentuh simbol bercahaya itu, alirkan sedikit Energi milikmu ke dalamnya sembari membayangkan bentuk dari pemakan bayangan yang sebelumnya."


"Aku mengerti."


Beberapa saat berlalu hingga aku merasakan beberapa getaran dari kertas berbentuk lipatan manusia itu.


"Apa ini? Kertasnya bergerak?! Menakutkan!!" Aku melompat pada Ebi dan memeluk bulunya.


"Mantera yang ditanamkan berhasil. Dan juga, apa-apaan kau ini? Kau melihat wujud keduaku dan Harimau itu, lalu melihat pemakan bayangan sebelumnya dan aku sama sekali tidak merasakan ketakutan darimu. Tapi kau merasa takut dengan kertas yang bergerak? Ada yang aneh denganmu."


"Aku sudah melihat para Roh sejak kecil jadi itu membuatku cukup terbiasa tapi ini pertama kalinya aku melihat lipatan kertas bergerak! Apa boleh buat, kan?! Sesuatu yang menakutkan ya tetaplah menakutkan sampai kapanpun!!"


"Ah begitukah? Aku tidak terlalu peduli. Daripada itu lihatlah, kertasnya sudah mulai bergerak."


"Huh?"


Kertas yang bergetar itu akhirnya mulai melayang pada langit, kemudian meluncur dan menghilang di semak-semak. Arah yang dia ambil itu—


"—Bukannya itu arah yang sama dengan si tengkorak lari sebelumnya? Apa kertas itu mengejarnya?"


"Ya, lagipula itu fungsi utamanya. Serahkan saja padaku, kau akan segera melihat hal yang menarik setelah ini ... Ah itu dia, aku menemukannya. Baiklah, sisanya hanya meledakkannya."


"Hm? Apa yang kau bicarakan ... Huh?"


Di kejauhan, aku bisa melihat sebuah pilar cahaya raksasa yang berdiri terang. Dari arahnya, kemungkinan itu adalah jalur dimana roh tengkorak itu melarikan diri. Itu artinya—


"—Bukannya membuat pilar cahaya besar itu sedikit berlebihan? Bahkan aku merasa sedikit kasihan setelah melihatnya."


"Saat aku menemukannya, dia sedang berkumpul bersama para pemakan bayangan lainnya. Satu-satunya pilihan untuk jalur aman adalah meledakkan mereka semua, kan?"


"Ah, begitu rupanya. Kalau begitu apa boleh buat."


Selagi kami berdua melihat pilar cahaya yang mulai meredup tanpa mengatakan satu hal apapun, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang naik pada bahu.


"Semuanya sudah selesai, kan? Kalau begitu ayo kembali. Malam ini kita akan mengadakan pesta untuk menyambut kebebasan diriku yang agung, sekaligus merayakan tempat tinggal baru kita."


"Huh? Master, kau akan tinggal denganku?"


"Huh? Bukankah aku sudah bilang untuk menjadi penjaga tubuhmu? Bagaimana aku bisa melindungi dirimu jika kita tinggal berjauhan? jika ada apa-apa denganmu, akulah yang kerepotan."


"Ya, kau benar tapi aku tinggal di dalam gudang, kau tahu? Apa tidak apa-apa mahluk agung sepertimu tinggal di dalam gudang yang kotor? Bukannya itu akan merusak gambaran dirimu sebagai Roh Tingkat Tinggi?"


"Dasar bodoh, anak manusia rendahan sepertimu tidak harus mengkhawatirkan hal kecil seperti itu. Terlebih, keagungan bukanlah sesuatu yang bisa kau nilai dari sebuah tampilan, melainkan sesuatu yang kau pancarkan melalui jiwa dan tatapan matamu. Karenanya, semua itu tidaklah terlalu penting."


Sesuatu yang dipancarkan melalui jiwa dan tatapan mata ... Kata-kata yang bagus. Mahluk yang sudah hidup lama memang memiliki banyak pengalaman.


Aku mempelajari banyak hal baru hari ini.


"Kalau begitu aku juga ikut. Aciel, itu tidak apa, kan?"


"Hm? Ya, tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan membebaskan rekanmu yang masih terkurung di beberapa segel?"


"Aku bisa melakukannya besok. Berkat setengah kekuatan yang sudah kau pulihkan dengan darahmu, aku bisa melakukannya lebih cepat dari apa yang aku rencanakan. Aku ucapkan terimakasih."


"Begitukah? Baguslah. Kalau begitu tidak ada masalah lain, kan?"


Aku menoleh pada keduanya, yang dibalas dengan anggukan ringan.


"Oke~ ayo kita kembali~"