ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.9 : IKATAN TIGA SERANGKAI



Tawaran untuk menjadi asisten seorang Pembasmi Roh.


Jujur saja, aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan sesuatu seperti itu dalam hidupku. Karena itu meskipun aku meminta waktu untuk menjawabnya, sampai saat ini aku masih belum tahu jawaban seperti apakah yang harus aku berikan.


Sudah dua hari berlalu sejak aku meminta waktu untuk memberikan jawaban.


Untuk sekarang, minatku terbagi menjadi 30% tertarik dengan penawarannya sebagai bentuk pengalaman dan pembelajaran. Lalu 70% menolaknya karena itu mungkin akan membuatku terlibat dalam banyak hal yang lebih merepotkan dari pada Roh.


Tentu saja, aku sangat memahami jika semua hal yang harus aku dapatkan memiliki sebuah harga dan resiko di sampingnya tapi aku tidak ingin terlibat dengan sesuatu seperti itu sekarang.


Setelah aku mendapatkan banyak bantuan dari Master dan memiliki kenalan di dalam Perkumpulan Frouya, aku mulai berpikir jika para Roh tidaklah begitu buruk dan kesan ku pada mereka mulai membaik.


Terlebih, masalah yang disebabkan para Roh adalah sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang sepertiku. Jika aku terlibat masalah dengan para Roh dan orang biasa melihatku saat itu, mereka hanya akan menilai ku sebagai orang aneh.


Tidak lebih dan kurang. Itu memang menjengkelkan tapi aku sudah cukup terbiasa.


Tapi berbeda jika aku memiliki urusan dengan Pembasmi Roh, karena bagaimanapun mereka juga seorang manusia sama sepertiku. Master mungkin bisa mengusir mereka jika mengusikku tapi aku tidak akan membiarkannya membunuh manusia.


Tidak sama seperti para Roh yang akan menghilang menjadi partikel cahaya, tubuh manusia yang terbunuh akan selalu tertinggal.


Dan melibatkan diri dengan para manusia di dalam dunia para Roh sebagai pembasmi Roh tentunya akan membuat semuanya semakin rumit karena identitas yang ibuku miliki dan fakta dimana aku memiliki sebuah perkumpulan yang diisi oleh para Roh untuk mengumpulkan informasi.


Tidak heran jika ada seorang Pembasmi Roh mengetahui fakta itu, maka aku mungkin akan di cap sebagai mata-mata untuk mengamati gerakan mereka dan melaporkan semuanya pada para Roh. Ada kemungkinan orang-orang dekatku juga akan terlibat.


Meskipun begitu, ide dimana aku yang dapat memperoleh banyak informasi yang hanya dibagikan diantara para Pembasmi Roh juga bukanlah sesuatu yang buruk. Aku menginginkan semua itu sebagai bentuk perlindungan diri.


Meskipun sangat membingungkan, setelah meminta waktu untuk memikirkannya selama dua hari ini, kurasa sudah waktunya untukku memberikan jawaban.


"Aku akan menolak tawarannya dan menjaga posisiku untuk tetap netral. Pada akhirnya, berada di dua garis itu adalah yang terbaik untukku saat ini."


Karena berbagai hal yang aku pikirkan, tanpa sadar mulutku bergumam begitu saja.


"Aciel? Apa kau mengatakan sesuatu?"


"...."


Hal itu membuat kedua gadis yang ada di sampingku mengalihkan perhatian mereka padaku. Aku menggelengkan kepala untuk meresponnya, memasukkan roti pada mulutku.


"Tidak, bukan apa-apa."


Ella dan Mona, entah kenapa akhir-akhir ini mereka berdua mulai mengikuti ku di jam istirahat dan merebut tempatku untuk makan siang. Kami saat ini berada di belakang gedung, memakan makanan kami selagi melihat sampah yang terbakar hebat di depan.


Aku mencoba untuk menghindari mereka tapi keduanya benar-benar gigih, pada kahirnya hal itu membuatku menyerah dan membiarkan mereka melakukan apapun sesukanya. Dari apa yang Ella katakan, Mona lah yang mengajaknya untuk melakukan hal ini.


Dan saat aku bertanya Mona mana yang dia maksud, Ella menjawab jika itu adalah permintaan dari Mona yang pendiam. Aku cukup sulit mempercayainya tapi setelah melihatnya yang dengan nyaman memakan bekal nasi di sampingku, apa yang bisa lakukan hanya mempercayainya.


"Mona, ambillah roti ini satu, aku membelinya terlalu banyak."


Aku melebarkan plastik berisi beberapa roti, mendekatkannya pada Mona. Gadis itu sedikit ragu awalnya tapi dia segera mengambilnya.


Karena sudah lebih dari tiga hari berlalu, kepribadian Mona kembali ke asalnya. Saat ini dia adalah seorang gadis pemalu.


"Ah, Y-Ya .... Te-Terimakasih."


Siapa kau?


Apa dia benar-benar gadis sama yang sudah menepuk keras punggungku kemudian tertawa ceria dua hari yang lalu? Di saat aku mulai terbiasa dengan kepribadian cerianya, dia sudah kembali menjadi yang asli dan pemalu.


Yah, itu bukanlah hal yang buruk sih. Lagipula dia tetaplah cantik. Meskipun cukup sulit, aku harus sedikit berusaha untuk terbiasa.


"Hmmm ... Tidak ada yang berisi selai stroberi, ya? Aku akan mengambil kacang hijau kalau begitu."


Di sisi lain, Ella juga tetap sama seperti biasa. Awalnya aku mengiranya sebagai gadis menakutkan tapi sebenarnya dia adalah orang yang kerap mengatakan semua hal apa adanya.


Meski itu membuatnya cukup dijauhi, tapi dia terlihat tidak terlalu peduli dengan itu. Yah, aku tidak berpikir jika dia adalah orang yang buruk.


Pada akhirnya, kami bertiga menjalin sebuah hubungan pertemanan.


"...."


"Hm? Ada apa, Mona? Kau melirikku beberapa kali seperti itu ... Apa ada sesuatu di wajahku? Katakan saja dan aku akan membenarkannya."


"Ah, tidak .... Bukan itu. Hanya saja ... Aciel, hari ini kamu terlihat sedikit murung."


Mona menundukkan kepalanya, menutupi wajah dengan poni panjangnya dan melirikku beberapa kali lalu mengepalkan tangannya dengan kuat, memalingkan wajahnya padaku kembali.


"Um .... Aciel, kamu hari ini terlihat .... Sedikit murung jadi ... Aku berpikir .... Apakah terjadi sesuatu?"


Tampak sedikit murung? Aku? Begitukah?


Aku menyentuh wajahku dengan penasaran, menekan beberapa titik. Ella mulai membuka mulutnya untuk.memberikan pendapatnya.


"Oh? Kalau melihatnya lebih jelas Mona memang benar, wajahmu terlihat lebih bodoh dari biasanya. Memangnya apa yang terjadi?"


Dari tatapan yang dikeluarkannya, aku bisa tahu jika Mona mengkhawatirkan ku saat dia menanyakan hal itu padaku sebelumnya tapi dalam kasus Ella, gadis ini hanya berniat untuk mengejekku.


Daripada khawatir, wajahnya terlihat berbinar-binar.


"Tidak, sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang khusus."


Tapi apa wajahku memang terlihat murung? Aku memang memikirkan cukup banyak hal selama dua hari ini karena tawaran pelukis aneh itu, aku tidak menyangka jika Mona akan menyadarinya. Itu membuatku sedikit senang karena dia memperhatikanku.


Tapi membuatnya khawatir lebih jauh adalah hal yang buruk. Menceritakannya tentang tawaran itu juga bukanlah sebuah pilihan, aku harus mencari alternatif lain sebagai jalan keluar.


Dan saat itu, sebuah inspirasi mendatangiku.


"Memang tidak ada kejadian khusus yang terjadi sih .... Hanya saja, kucing hitam yang aku rawat di rumah buang air di kasur lipat ku pagi ini dan hal itu membuat suasana hatiku cukup buruk."


"Sialan! Berani-beraninya kau mengatakan sesuatu yang kotor seperti itu saat kita sedang makan! Jangan melanjutkannya lagi! Aku sudah benar-benar tidak minat untuk mendengarnya!!"


Saat aku mengatakan itu, seperti dugaan Ella langsung berteriak dengan marah ke arahku. Reaksi itu tentunya membuatku tertawa kecil.


"Bwhahahaha—!! Tapi bukannya kau juga penasaran dan menanyakannya padaku?"


"Berisik! Berhenti membahas hal itu!!"


"Maaf~ maaf~ aku akan berhenti jadi jangan memukul lenganku seperti itu."


Aku memang bisa mengalihkannya dari Ella dengan itu tapi Mona tidak tertawa, malahan tatapan yang dia berikan menjadi lebih kuat. Dia pasti tahu jika itu adalah kebohongan.


Meskipun begitu, aku tetap tidak akan memberitahunya sih. Membuat temanmu mengkhawatirkan hal tidak perlu seperti ini bukanlah hal yang baik. Setidaknya aku akan meyakini hal itu.


Mona memang bisa melihat Roh tapi itu hanya berlaku sebagian kecilnya saja, dia tidaklah bisa mengakses tampilan yang lebih besar. Karena itu tidak ada alasan bagiku untuk menyeretnya.


Pada akhirnya, kehidupan damai tanpa ada apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Setidaknya, aku masih bisa mempertahankan keseharian ini.