
Besoknya, aku datang pada tempat yang sama dan pada halaman di depan rumah, aku menemukan kak Ren yang sudah menggambar sebuah simbol lingkaran dengan beberapa garis aksara pada tanah, serta menaburkan potongan kertas di atas lingkaran itu.
Lingkaran yang digambar dengan ranting, berdiameter dua meter. Aku melihatnya dan kak Ren menyadari keberadaanku, tersenyum lalu melambaikan tangannya untuk menyambut.
"Sudah cukup siang sekarang, aku pikir kau tidak akan datang. Baiklah, bantu aku menabur potongan kertas ini di atas lingkaran dan semuanya sudah selesai. Aku akan mentraktir mu setelah tugas ini berakhir."
Aku mendekat pada kak Ren dan mengambil kertas itu, menyobeknya tapi tidak menaburkannya. Kertas dengan tekstur lembab dan tebal, seperti kardus yang basah oleh air, mengeluarkan bau harum.
Mengesampingkan urusan kertas, aku bertanya pada kak Ren.
"Kak Ren, apa kau tahu tentang identitas Roh yang akan dimurnikan saat ini?"
"Hm? Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? Itu adalah Roh yang diperbudak dengan tali pada leher, kedua tangan dan kedua kakinya. Bagaimanapun, kita harus membebaskannya secepat mungkin. Lagipula inilah jalan terbaik yang bisa diambil."
Kak Ren menyobek beberapa kertas sekaligus dan menyebarkannya lagi.
"Ayo, kau juga sebarkan kertas di tanganmu itu. Aku akan mengajari bagaimana caranya untuk melakukan pemurnian pada Roh."
Percuma, orang ini sama sekali tidak mengingatnya. Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk memicu ingatan pada kepalanya? Apa memukulnya saja? Tidak, lebih baik untuk tidak membiarkan Roh bertopeng itu pergi kesini.
Aku harus mengulur waktu lebih banyak.
"Ah, Aciel! Mau kemana kau?!"
Aku melemparkan potongan kertas itu pada lingkaran dan berniat pergi keluar menemui Roh bertopeng itu dan memperingatkannya untuk menjauh dari sini sementara waktu.
"Urghh—!!"
Tapi sebelum aku bisa keluar dari gerbang rumah, sesuatu mengikat tubuhku, itu adalah rangkaian rambut berwarna merah. Rambut itu menarik tubuhku dan menghantamkan diriku pada batang pohon, mengikatku dengan rapat di sana.
"Bocah, apa yang ingin kau lakukan? Tidak akan aku biarkan kau mengganggu upacaranya. Diamlah dan lihat saja dari sini."
Ruria berdiri di sampingku yang terikat pada batang pohon, bersama rambut merahnya yang mengikat tubuhku. Dia menatapku dengan tajam, tidak membiarkan pengawasannya padaku mengendur sedikitpun.
Ini gawat, aku tidak bisa keluar dari sini jika dia menghalangiku. Sebisa mungkin aku harus melepaskan diri dari ikatan rambut sialan ini.
"Kak Ren! Dengarkan aku!"
Aku mencoba berteriak tapi kak Ren hanya terdiam dan melanjutkan persiapannya. Dia sama sekali tidak mendengarkan ku. Lalu perhatian pria pirang itu teralihkan dan melihat pada arah lain, aku melihat ke arah yang sama dengannya.
Roh bertopeng itu sudah sampai pada gerbang. Dia berdiri dan melihat ke arah kak Ren, kemudian melihat pada lingkaran permurnian. Dan tanpa mengatakan apapun, dia mulai melangkah mendekat.
"Kak Ren, kubilang hentikan!! Dengarkan aku sebentar saja!!"
Aku mencoba untuk memanggilnya sekali lagi tapi itu percuma, pelukis gadungan itu benar-benar mengabaikan ku dan memfokuskan perhatiannya pada Roh bertopeng itu.
Roh bertopeng itu berhenti di atas lingkaran pemurnian dan mengangguk.
Menanggapi itu, Kak Ren mulai membuat sebuah tanda dengan tangannya dan menggumamkan sesuatu, cahaya berwarna biru keputihan mulai muncul setelahnya dan semakin menguat seiring berjalannya waktu. Ratusan potongan kertas di atasnya pun mulai beterbangan dan berkumpul di sekeliling Roh bertopeng itu.
Ritual pemurnian sudah dimulai.
"Ahh!! Sialan!! Aku harus melakukan sesuatu!!"
Aku menggerakkan tubuhku, menguatkan setiap otot pada lengan serta kaki untuk melawan dan melepaskan ikatan rambut merah ini. Mencoba sekeras mungkin sampai titik tenaga penghabisan berakhir, aku harus melepaskan diri dari ikatan ini.
"Percuma saja. Kau hanya melakukan usaha yang sia-sia, bocah manusia."
Berisik! Sia-sia atau tidak, aku ditetapkan pada situasi dimana harus melakukannya!! Yang menentukan apakah semua ini berguna atau tidak juga tidak lain adalah diriku sendiri, bukan Roh sepertimu!! Bagaimanapun caranya, aku harus melepaskan diri!!
"—?! Bagaimana bisa kau melakukannya?! Hentikan!!"
Aku tidak tahu bagaimana pastinya tapi rambut yang mengikat tubuhku sudah berjatuhan, dan yang aku tangkap saat mataku mengambil satu kedipan adalah diriku yang sudah melompat pada lingkaran pemurnian dan memeluk Roh bertopeng itu.
Semuanya terjadi begitu cepat, dalam waktu yang sangatlah singkat.
"Bocah manusia!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!! Kau bisa terlibat juga!!"
"Aciel!! Cepat keluarlah!! Aku tidak bisa membatalkan mantera pemurniannya!!"
Aku mendengar dua teriakan tapi tidak terlalu jelas, itu karena suara dengung yang menguat pada telingaku, diikuti sensasi pusing dan sakit pada perutku. Aku bisa merasakan sesuatu yang basah keluar dari hidungku, kesadaranku berkurang.
"Dasar bocah bodoh!! Selalu saja seenaknya sendiri!! Sudah kubilang untuk tidak melukai tubuhmu, kan?! Itu adalah aset investasi milikku!!"
Teriakan lainnya terdengar, aku membuka mataku sekali lagi dan melihat harimau yang membuka taringnya dengan lebar ke arahku.
Master benar-benar terlihat marah kali ini, aku harus meminta maaf padanya nanti.
Master mendekatkan kepalanya padaku, membungkus keseluruhan tubuhku bersama bulu hitamnya dan hal terakhir yang bisa aku lihat adalah cahaya biru putih yang menguat, membutakan pandangan mataku dengan dengungan suara yang memecahkan telinga.
Hal terakhir yang aku tangkap adalah suara ledakan yang besar dan kesadaranku benar-benar menghilang setelahnya. Pemandangan menjadi gelap, tapi aku melihat sesuatu yang lain.
Tampilan mimpi dimana ada Roh bertopeng yang duduk di depan sebuah gudang, menatap langit biru, kemudian memalingkan wajahnya pada seorang anak kecil yang tertawa keras di depannya.
Mereka berdua ...
____________________________________
Membuka mataku, melihat atap asing yang tidak pernah kuingat. Di sampingku terdapat kucing hitam yang menggulung tubuhnya, dia memiliki beberapa perban pada tubuhnya. Dan disisi lain, terdapat seorang gadis yang duduk menatapku.
Aku sama sekali tidak mengenalinya, dan tentunya menampakkan mata waspada. Tapi anehnya gadis itu malah tersenyum dan mengusap dahiku, dengan tangannya yang sangat lembut.
Biasanya aku akan menampik tangan orang yang menyentuh kepalaku, tapi kali ini adalah pengecualian. Mendapatkan usapan lembut dari seorang gadis cantik adalah sesuatu yang jarang terjadi.
"Ah, um ... Siapa kau?"
"Oh ... Benar juga, ini pertama kalinya kau melihat wajahku."
Gadis itu mengambil sesuatu di belakangnya lalu memasangnya pada wajah, itu adalah sebuah topeng mata satu yang familiar bagiku.
"Kau ... Roh bertopeng? Jadi bukan manusia, ya?"
"Apa? Wajahmu terlihat cukup kecewa di sana. Maaf jika aku bukanlah seorang gadis muda. Padahal aku sudah menunggumu sadar, tapi inikah balasan yang aku dapatkan dari itu? Bocah manusia memang mahluk yang paling egois."
Meskipun dia mengatakan sebuah cacian, senyum pada wajahnya tidak memudar. Gadis itu menutup matanya, terbatuk pelan dan melihat padaku sekali lagi.
"Aku ingin berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkanku, anak manusia. Jika kau tidak berlari ke arahku saat itu, aku mungkin sudah musnah."
"Ah, tidak ... Um ... Pertama-tama, bisakah kau jelaskan apa yang sudah dan sedang terjadi? Kepalaku masih belum menangkap apapun."