ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.8 : BENANG KEPERCAYAAN



"Baiklah. Karena proses untuk kontrak dan pemberian nama kelompok sudah selesai, maka yang tersisa hanya menyelesaikan masalahnya. Wasa akan mengantarku ke tempat dimana Pembasmi Roh itu sering muncul, untuk sisanya menunggu saja di sini."


Aku melompat pada Roh Merpati putih dengan tinggi dua meter dan menungganginya selagi merapatkan pegangan pada tangan dan kaki. Butuh sedikit keberanian untuk benar-benar melakukannya.


"Kalau begitu tuan Rune, kami akan berangkat."


"Ya, berhati-hatilah saat kau terbang dengan membawa tuan Aciel di punggungmu. Dia memang memiliki Energi Spiritual yang besar tapi tubuhnya hanyalah tubuh dari manusia biasa."


"Ya!! Saya akan pastikan untuk mengantarkannya dengan aman!! Kalau begitu, tuan Aciel. Apakah anda sudah menyelesaikan persiapannya?"


Aku menundukkan tubuhku dan memeluk bulu merpati dari Wasa, yang mana terasa sangat lembut ditambah aromanya yang harum.


"Ya, aku sudah siap. Wasa, kau bisa melakukannya kapanpun."


"Dimengerti"


Wasa melebarkan sayap putihnya yang memiliki sebuah corak layaknya awan, kemudian menghempaskan itu pada permukaan rumput dan mendorong tubuhnya untuk terbang ke langit.


Hanya butuh lima detik sampai aku berada pada ketinggian dimana bisa melihat hutan luas dan beberapa pegunungan. Kemudian dilanjutkan dengan Wasa yang terbang menuju arah hutan bagian barat menggunakan kecepatan normal.


"Wasa, aku kira kau termasuk ke dalam Roh tingkat rendah tapi ternyata kau tingkat menengah, ya? Apa ini perubahan kedua yang bisa kau lakukan?"


"Ya!! Di dalam perkumpulan Frouya saat ini, yang termasuk ke dalam kelompok Roh tingkat menengah hanya saya dan tuan Rune. Untuk sisanya sendiri merupakan Roh tingkat rendah."


Rakun yang mirip pria tua itu juga tingkat menengah, ya? Aku cukup penasaran dengan perubahan kedua yang bisa dia lakukan. Kira-kira bagaimana penampilannya akan terlihat, ya?


Oh, aku baru teringat.


"Wasa, apa kau bisa menjelaskan bagaimana penampilan dari pembasmi Roh itu?"


"Penampilan, ya? Jujur saja tidak ada satupun dari kami yang sudah melihat penampilannya secara penuh. Itu karena kami semua segera melarikan diri saat Pembasmi Roh itu melemparkan pemurnian, saat mengikutinya pun kami hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Pembasmi Roh itu kalau tidak salah memiliki kepala yang bersih, kami juga mengetahui jika dia adalah seorang manusia dari aroma yang dia tinggalkan."


Kepala yang bersih? Ah, botak, ya?


"Pembasmi Roh itu juga memasang banyak jebakan untuk para Roh di malam hari, sangat sulit untuk menebak pergerakan yang dia lakukan. Kami sempat merasa putus asa sebelumnya karena tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, sampai saya melihat anda di hutan empat hari lalu."


"Begitukah? Syukurlah kalau begitu."


"Ya!! Saya benar-benar senang karena anda bersedia membantu kami. Bahkan imbalan yang anda inginkan pun tidaklah terlalu besar. Setidaknya saya rasa tuan Aciel adalah manusia yang dapat dipercaya."


Aku menepuk leher burung dari Wasa dan mengusapnya pelan.


"Wasa, aku senang dengan pujian yang kau berikan itu. Tapi jujur saja aku akan lebih senang jika kau mengatakan sesuatu yang benar-benar kau pikirkan. Rune memintamu melakukannya, kan?"


Aku bisa merasakan tubuh Wasa sedikit tersentak saat mulutku menyebutkan nama Rune.


Tampaknya aku memang benar, padahal aku hanya menebak dengan acak. Lagipula Wasa memang memberikan pujian terlalu banyak, meskipun itu tidaklah menggambarkan karakternya.


Dengan suara yang menandakan sebuah penyesalan, Wasa segera menambahkan.


"Mohon maafkan saya, tapi saya harap anda tidak menyalahkan tuan Rune. Apa yang beliau lakukan hanya demi kebaikan kelompok."


"Aku mengerti itu. Dia memintamu melakukannya untuk menarik rasa simpati dariku dengan tujuan membuatku tidak memperlakukan kalian seenaknya, kan? Tenang saja, lagipula aku tidak berencana melakukannya dari awal."


"Meskipun begitu sudah wajar jika kalian tidak akan langsung begitu saja mempercayaiku, memang satu-satunya cara adalah menghabiskan waktu bersama dan mengenal satu sama lain lebih baik. Tidak perlu terburu-buru."


"....!!"


Itu benar, kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun melalui sebuah proses.


Rune yang masih meragukan diriku tentunya di dorong oleh rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mewakili enam belas nama dari Roh yang dia pimpin. Itu adalah tindakan yang tepat.


Lagipula aku juga masih belum benar-benar mempercayai semuanya, satu-satunya yang mendasari tindakan yang kami lakukan saat ini hanyalah murni dari sebuah Kontrak yang sudah disepakati.


"Tuan Aciel, biarkan saya untuk memohon maaf dan menarik semua ucapan yang saya keluarkan sebelumnya."


Tiba-tiba Wasa mengangkat suaranya, membuatku yang termenung sedikit terkejut dan menjawab dengan nada yang sedikit lebih cepat.


"Hm? Ah, tentang yang barusan? Tidak apa, kau tidak perlu memikirkannya terlalu dalam." jawabku dengan senyum ringan.


Meskipun begitu, Wasa sedikit menaikkan leher dan melihat ke arahku dengan matanya.


"Tuan Aciel, saya akan mencoba yang terbaik untuk dapat mempercayai anda. Karena itu saya juga berharap agar anda akan melakukan hal yang sama pada kami, sebagai tanda adanya sebuah hubungan."


Wasa menurunkan kembali kepalanya dan sedikit mempercepat terbangnya, kemudian memiringkan postur tubuhnya ke arah kiri dan perlahan, mengurangi kecepatan terbang selagi menyiapkan sebuah pendaratan dengan sayap dan kakinya.


"Mencoba yang terbaik untuk mempercayai, ya?"


Itu kata-kata yang bagus untuk Roh sepertinya, apa dia juga mempelajari hal itu dari Rakun tua itu?


Mungkin juga benar, atau mungkin juga tidak. Aku tidak percaya bisa mendapatkan sedikit pelajaran dari para Roh, entah kenapa membuatku kesal.


Fwssshhh—!!


Setelah mencari dataran rumput yang sedikit luas sebagai spot pendaratan yang sesuai, Wasa langsung turun dan menapakkan kakinya sekali lagi pada permukaan rumput. Aku melompat dan turun, melihat sekeliling yang hanya dipenuhi pepohonan.


"Aku hanya melihat sedikit Roh selama perjalanan menuju ke sini, apa ini juga akibat dari keberadaan pembasmi Roh itu?"


"Ya. Awalnya ada cukup banyak Roh yang berkumpul untuk bersenang-senang dan bersantai di hutan ini tapi karena kedatangan pembasmi Roh itu, belakangan ini hutan menjadi lebih sepi."


Wasa merubah wujudnya menjadi merpati putih kecil dan terbang ke arah bahuku dan mengangkat salah satu sayapnya untuk menunjuk.


"Baiklah, tuan Aciel. Anda bisa mengambil arah ini agar sampai ke kuil pembasmi Roh itu dalam waktu singkat. Disisi lain saya akan mengawasi dari langit jadi anda tidak perlu terlalu khawatir untuk tersesat."


"Oke, aku akan menyerahkan arahnya padamu dan kau bisa menyerahkan pembasmi Roh itu padaku. Aku akan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin dan kembali pulang."


"Baik!! Kalau begitu, saya doakan untuk keberuntungan anda!!"


Wasa mengepakkan sayapnya, melesat menuju langit dan menghilang di kejauhan. Dia terbang dengan sangat cepat, meskipun hanya merpati.


Bukannya kecepatan seperti itu adalah spesifikasi dari seekor elang?


"Yah, kesampingkan itu. Aku masih ada beberapa tugas untuk diselesaikan."


Aku pun mengambil langkah dan memasuki barisan pepohonan, memilih rute lurus tercepat untuk sampai ke kuil yang ada pada perbatasan hutan.