
Beberapa menit kemudian, aku sampai di sekolah. Tidak sama seperti rencana awal, hanya ada sedikit murid yang sudah sampai di sekolah. Bahkan aku tidak melihat satupun anak-anak dari kelasku.
Rencananya kita akan berangkat jam setengah enam pagi dan sekarang sudah sepuluh menit melebihinya. seperti biasa, mungkin akan mundur setengah atau satu jam dari jadwal sebelumnya.
Yah, mengatur puluhan anak dari tiga kelas berbeda bukanlah tugas yang mudah, tidak ada yang bisa dilakukan dengan itu. Mundur setengah jam dari jadwal awal sudah termasuk hal yang umum saat membahas tentang liburan sekolah.
"Lagipula aku termasuk ke dalam anak yang terlambat, tidak ada ruang untuk protes."
Aku langsung menaruh tas besar berisikan baju dan beberapa kebutuhan pokok pada tempat penyimpanan di samping bis. Untuk tas yang lebih kecil, aku membawanya bersamaku.
Lagipula ada Master di dalamnya, mana mungkin aku akan meninggalkannya di tempat penyimpanan. Kucing itu mungkin akan mengutukku jika aku benar-benar melakukannya.
Tidak ada yang harus aku lakukan di luar dengan suhu yang dingin, aku langsung masuk ke dalam bis dimana kelompokku berada dan mencari tempat duduk yang sudah dibagikan.
Di dalam bisa masing-masing tempat duduknya terbagi menjadi tiga bagian, untuk itu satu kelompok bisa duduk berdampingan. Aku mengeluarkan kertas nomor dan mencocokkannya pada setiap barisan tempat duduk yang ada di dalam bisa.
Dan pada kursi barisan kanan urutan kelima, aku menemukan sebuah kecocokan pada nomor kursi. Saat aku berencana untuk duduk, aku merasakan kehadiran dan melihat kesana.
Sudah ada seseorang di dalam kelompokku yang sampai dan duduk lebih dulu.
Anak itu juga menyadari diriku dan mengangguk dengan senyuman canggung, menggeser tempat duduknya menuju dekat jendela.
"Kau datang cukup cepat, Mona."
"T-Tidak, aku sudah datang sekitar lima menit lalu jadi aku juga termasuk anak yang terlambat sih. Tapi masih ada banyak anak yang belum datang, mungkin akan sedikit lama sampai kita berangkat."
"Begitulah, mungkin sekitar satu jam lagi kita akan berangkat. Ngomong-ngomong Mona, aku ingin meminta sesuatu padamu."
Mona menoleh padaku dan memiringkan kepalanya. Jika melihat lebih dekat, dia juga cukup manis.
Yah tidak perlu melihat lebih dekat juga cukup jelas jika dia termasuk gadis yang cantik. Daripada ayahnya yang botak, mungkin dia lebih mirip ibunya? Aku masih belum pernah melihat ibunya sih.
"Ya?"
Tanpa sadar, aku melihat ke arah lain saat menjelaskan.
"Begini, karena hubunganku dengan Ella yang cukup buruk, mungkin akan lebih baik jika kau duduk diantara kami dan berperan sebagai pembatas. Aku akan sangat terbantu jika kau mau melakukannya"
Setelah mendengar itu, Mona memiringkan wajahnya sesaat seolah dia tidak memahami apa yang aku katakan dan langsung melebarkan matanya.
"Ah! Benar juga, maaf karena aku tidak menawarinya dan membuatmu mengatakannya. Aku terlalu bersemangat dengan perjalanan ini dan tidak memikirkannya sama sekali."
"Tidak, itu bukanlah masalah. Lagipula aku juga cukup bersemangat dengan perjalanan ini."
Mona segera keluar dari barisan tempat duduk dan sebagai gantinya, aku duduk di dekat jendela dengan Mona yang ada di samping kiri, memisahkan diriku dengan satu kursi lainnya.
Setelah aku duduk, ada beberapa gejolak pada tas dan agar Mona tidak menyadarinya, aku menaruhnya di bawah dan berusaha untuk tidak membukanya sama sekali di dalam bis.
Diiringi dengan ketegangan akan kemungkinan bahwa Master akan keluar dengan paksa dan ketahuan, membuat waktu berjalan cukup cepat bagiku dan tiga puluh menit pun sampai dalam sekejap.
Setelah pak guru selesai mengkonfirmasi setiap kehadiran murid di dalam bus dan memastikan jika tidak ada satupun yang tertinggal, kami pun berangkat sembari menyanyikan lagu mars dari sekolah yang sama sekali tidak aku ingat.
Ngomong-ngomong terjadi sedikit perdebatan kecil saat Ella sampai di dalam bus karena keinginannya yang kuat untuk duduk di dekat jendela, hal itu membuatnya berusaha mengusirku.
Tapi karena aku sudah terlanjur mengambilnya, tidak ada satu niat pun untuk mengalah dan membiarkan perempuan itu mengambilnya.
Ya ampun, benar-benar merepotkan.
____________________________________
Perjalanan yang ditempuh sekitar tiga jam, akhirnya kami sampai pada kaki pegunungan dimana tugas pengamatan akan dilakukan.
Setelah memarkir bis di samping sebuah penginapan tradisional dan melakukan absensi lalu mengambil tas kami setelahnya. Kami langsung masuk ke dalam kamar yang sudah diberikan.
Tentu saja masing-masing ruangan akan terbagi menjadi dua bagian, ruangan yang berisi anak laki-laki dan anak perempuan. Meskipun satu kelompok, itu tetap tidak diperbolehkan untuk menempati ruangan yang sama dengan jenis kelamin berbeda.
Jenis kelamin ... Apa mungkin aku menggambarkannya terlalu kasar, ya? Mungkin lebih tepat untuk menyebutnya genre berbeda? Tidak, itu lebih tidak jelas dari sebelumnya.
Kesampingkan itu, aku segera menaruh semua barang di kamar dan berganti kaus olahraga dengan celana panjang. Lalu berkumpul pada lapangan di belakang penginapan untuk mendapatkan beberapa pengarahan tentang tugas pengamatan yang akan dilakukan.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit sampai pengarahan selesai dan kami diberikan masing-masing satu buku dengan set menulis. Lalu setiap anak juga diberikan dua botol minum dan tiga roti untuk bekal saat melakukan pengamatan nantinya.
Waktu pengamatan adalah enam jam, masing-masing kelompok sudah terbagi akan jenis tanaman atau hewan yang harus mereka amati. Semua anak juga digiring pada tempat dimana banyak ditemui akan tanaman dan hewan yang harus mereka cari untuk mempermudah tugas.
Setelah semua hal merepotkan itu selesai, waktu untuk melakukan pengamatan pun dimulai.
Aku dengan Mona dan Ella segera berjalan memasuki pegunungan dan hutan bersama anak-anak lainnya, menuju masing-masing lokasi yang sudah diberikan pada kami sebelumnya.
Untuk kelompok kami, pengamatan yang harus kami lakukan adalah tentang kehidupan seekor kelinci dan beberapa informasi tanaman obat-obatan yang tersebar di beberapa titik gunung ini.
Meskipun aku menyebutnya dengan pengamatan, ini bukanlah sesuatu yang cukup serius seperti itu. Lagipula tujuan sebenarnya dari perjalanan ini hanyalah liburan akhir semata.
Kata tugas dan pengamatan hanyalah formalitas yang para guru tunjukkan dan waktu enam jam untuk pengamatan ini sebenarnya juga waktu yang bisa kami gunakan bersenang-senang dengan mengelilingi banyak titik spot indah pada gunung dan hutan.
Meskipun begitu, karena tidak tahu harus memulai darimana, pada akhirnya aku bersama dengan Mona dan Ella memutuskan untuk menyelesaikan tugas terlebih dulu selagi mengelilingi pegunungan.
Pada beberapa bagian, aku sempat melihat para Roh yang berlarian dan berjalan melewati kami, mengeluh tentang banyaknya anak manusia yang datang menuju gunung hari ini tanpa adanya satupun sesaji yang mereka bawakan.
Hm? Ngomong-ngomong soal Roh ... Aku masih meninggalkan Master di dalam tas yang tertutup rapat.
"Apa aku harus kembali, ya?"
"Hm? Aciel, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tidak, bukan apa-apa."
"Mona, lupakan saja dia. Ayo cepat selesaikan ini dan bersantai di penginapan."
Oh, dan satu hal lagi. Aku mulai menyadari jika Mona sepertinya tidak bisa melihat Roh dengan ukuran yang cukup besar.
Apa yang bisa dia lihat hanyalah Roh yang berukuran kurang lebih sebesar bola tenis, untuk Roh yang lebih besar dari itu sepertinya dia lihat seperti kepulan bayangan atau dirinya yang hanya dapat merasakan kehadiran mereka.
Jadi itu alasan kenapa dia bisa melihat Roh yang kecil, tapi tidak dengan Roh yang memiliki tubuh lebih besar. Kurasa itu ada hubungannya dengan seberapa besar Aliran Energi yang Mona miliki dan para Roh itu miliki.
Ini benar-benar mengejutkan saat aku mengetahuinya. Tapi, yah ... Aku cukup bersyukur. Lagipula tidak akan ada hal baik yang kau dapatkan jika terlibat pada sesuatu seperti ini lebih jauh.
Melegakan, ya?