ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.7 : PENCARIAN HUFLU



Ada cukup banyak Roh yang kami temui selama pencarian, masing-masing Roh itu sendiri termasuk ke dalam tingkat rendah dan menengah, aku masih belum melihat Roh tingkat tinggi satupun sejauh ini.


Melihat dari popularitas yang Huflu miliki, setidaknya aku mengira akan ada beberapa Roh tingkat tinggi yang masuk ke dalam game pencarian ini untuk mendapatkan sarang lebah itu. Atau mereka sudah puas karena masing-masingnya mendapatkan sarang lebahnya?


Tidak, tidak mungkin. Aku harus bersabar dan menunggu, mereka pasti akan muncul entah bagaimana nantinya. Beida juga mengatakan jika ada beberapa Roh bawahan Dewa yang mewakili tuannya untuk mengikuti pencarian ini dan mendapatkannya.


"Ngomong-ngomong Beida, di sembilan pencarian sebelumnya, siapa yang mendapatkan sarang lebah itu?"


"Oh, untuk pencarian di lokasi ke sembilan saya masih belum mendengar informasinya tapi untuk delapan lokasi sebelumnya ... Benar juga, ada dua Roh tingkat tinggi yang mendapatkannya sejauh ini."


"Hooh ... Siapa mereka?"


Beida mendongakkan kepalanya pada ranting-ranting pohon diatas, mendekatkan salah satu tangannya pada mulutnya yang mengeluarkan busa secara berkala dan antenanya berhenti bergerak.


Dua tangan kanan rampingnya terangkat.


"Yang memenangkan delapan lokasi sebelumnya adalah Tuan Hjorn dengan enam kemenangan dan Tuan Vips dengan dua kemenangan lainnya. Keduanya bertanding cukup sengit untuk mendapatkan madu Huflu dan tidak mau mengalah sampai akhir."


"...."


Meskipun hanya sedikit, aku bisa menyadari beberapa perubahan pada ekspresi Master saat mendengar dua nama yang belalang ini sebutkan.


Ekornya juga berhenti mengayun sesaat, dengan telinganya yang sedikit menutup. Aku berpura-pura tidak menyadari itu dan melanjutkannya.


"Hjorn dan Vips? Mereka termasuk Roh tingkat tinggi, kan? Seperti apa penampilan mereka?"


"Ah, ya. Keduanya memang termasuk Roh tingkat tinggi. Untuk Tuan Hjorn sendiri, beliau memiliki penampilan layaknya beruang madu dengan bulu seputih salju, lalu empat lengan dan bekas luka di sekujur tubuhnya, kemudian ditambah tiga tanduk pada kepalanya dengan satu tanduk bagian depan yang patah."


Beida menghentikan kalimatnya sesaat untuk memikirkan sesuatu. Dia segera melanjutkannya kembali.


"Sejauh yang saya tahu, Tuan Hjorn selalu mengikuti pencarian ini kurang lebih sejak lima ratus tahun lalu, dimana pencarian ini pertama kali dilakukan sebagai bentuk perayaan pada Dewa yang menguasai daratan hutan bagian utara yang sekarang sudah musnah."


Aku tidak tahu kenapa tapi Beida terbatuk dengan canggung dan melanjutkan.


"Karena popularitasnya, pencarian ini tetap dilakukan sampai sekarang dan di setiap kesempatan, setidaknya Tuan Hjorn selalu mendapatkan lima Huflu di setiap sesinya yang hanya diadakan beberapa dekade sekali. Dari awal beliau memang memiliki hidung yang tajam untuk mencari sesuatu yang manis jadi hal ini cukup menguntungkannya."


"Heeh ... Setidaknya dia akan mendapatkan lima madu di setiap sesinya, ya? Lalu bagaimana dengan Roh satunya yang bernama Yips itu?"


"Tuan Aciel, namanya Vips. Anda bisa memanggilnya dengan sebutan Tuan Vips."


"Begitukah? Vips, ya? Aku sudah mengingatnya dengan baik. Jadi, bagaimana dengannya?"


Beida menghela napasnya dengan pelan dan melanjutkan kembali ceritanya.


"Untuk Tuan Vips sendiri, beliau memiliki wujud layaknya ular Pyton dengan sisik berwarna cokelat yang memiliki corak kemerahan. Beliau memiliki mata yang cukup berbahaya, ditambah bisanya yang bisa melelehkan apapun yang mengenainya.


Mata yang berbahaya? Tapi bisa yang melelehkan apapun itu terdengar lebih berbahaya bagiku, aku harus berhati-hati agar kita tidak berpapasan dan berujung pada sebuah pertarungan.


"Meskipun begitu, tampaknya Tuan Vips sendiri cukup jarang menggunakan dua kemampuan itu, tidak ada yang mengetahui alasan mengapa beliau melakukannya.


Karena itulah hanya ada sedikit sekali informasi yang bisa menjelaskan kemampuannya. Ditambah, Tuan Vips sendiri tidak terlalu menyukai keramaian."


"Tidak menyukai keramaian? Lalu kenapa dia mengikuti acara pencarian ini? Bagaimanapun kau melihatnya, ada sangat banyak Roh yang terlibat di dalamnya dan membuat semuanya tampak meriah."


Aku menunjuk pada Roh kecil yang berlalu lalang pada semak-semak dan pepohonan. Hutan ini memang sangat ramai dengan Roh saat ini. Hm? Ini mengingatkanku pada pertanyaan yang aku berikan pada Beida sebelumnya,


Bagaimana para Roh ini mengetahui informasi tentang Huflu? Apa mereka juga memiliki alasan yang sama seperti Beida, yaitu membuat sahabatnya menyusup dan memberikan informasi?


"Alasan, ya? Menurut rumor, alasan sebenarnya mengapa Tuan Vips mengikuti acara pencarian selama seratus tahun terakhir ini adalah untuk mengganggu kemenangan tuan Hjorn. Terjadi sesuatu diantara keduanya dan membuat Tuan Vips menaruh amarah yang besar pada Tuan Hjorn."


Terjadi sesuatu? Perselisihan, ya?


"Awalnya tuan Vips memutuskan untuk menyebarkan informasi tentang sepuluh lokasi setiap pencarian Huflu diadakan saja tapi saat beliau tahu jika hal itu sama sekali tidak mengganggu kemenangan yang didapatkan Tuan Hjorn, beliau pun memutuskan untuk turun tangan sendiri dan mengganggunya."


Oh jadi yang menyebarkan informasi itu pada para Roh kecil ini adalah si ular, ya? Sepertinya si beruang melakukan hal besar yang menyulut amarahnya hingga si ular membalasnya sejauh ini.


Meskipun begitu, kali ini beruang itu mendapatkan enam Huflu dan si ular mendapatkan dua Huflu di delapan pencarian terakhir. Untuk lokasi sembilan aku masih belum tahu tapi mungkin si ular yang mendapatkannya, kalau begitu enam dan tiga, ya?


Ular itu masih saja kalah setelah semua yang telah dia lakukan. hal itu pasti menjadi penyebab kedua untuknya agar mengikuti pencarian ini berkali-kali hingga dia mengalahkan beruang itu dan merasa puas.


Ah, merepotkan.


"Kita hentikan saja pembahasan tentang ini. Aku mulai pusing setelah mendengarnya. Lalu bagaimana ini? Apa kita hanya akan berkeliling hutan? Aku rasa tidak akan ada kemajuan jika kita melakukannya dengan kecepatan ini. Kita hanya akan tertinggal dan membiarkan beruang atau ular itu mendapatkannya lagi."


"Benar juga, saya berencana untuk memulai pencarian pada gua dan danau di dekat sini tapi jaraknya masih sedikit jauh. Mungkin kita bisa mempercepatnya jika terbang, bagaimana dengan itu?"


"Aku tidak keberatan sih, kita bisa menggunakan itu. Master, bagaimana?"


"Tidak masalah, aku bisa melakukannya ... Hm?"


Tapi saat itu, sebuah bayangan langsung menutupi tempat dimana kami berdiri.


Awalnya aku pikir itu hanyalah sebuah awan lewat yang menutupi matahari tapi bukan, dari perhatian Master yang teralihkan dan Beida yang terjatuh bersama tubuhnya yang gemetar.


Aku bisa merasakannya dengan jelas. Aura kehadiran yang sangat kuat ini, pastinya datang dari Roh tingkat tinggi di atas kami.


Aku membalik tubuhku, mendongakkan kepalaku dan melihat ke atas.


"Huh?"


Sesaat itu tampak seperti sebuah gunung tapi bukan, dengan warnanya yang putih bersama banyak goresan di beberapa bagian. Tiga kerucut yang mencolok di bagian teratasnya, dengan salah satunya yang lebih pendek dari dua lainnya.


Empat tangannya bergerak, dengan dua tangan atas yang melipat dan dua tangan bawahnya yang menggaruk perutnya.


Mahluk itu melihat ke arah kami ... Tidak, lebih tepatnya ke arah salah satu dari kami. Mulutnya yang dipenuhi oleh taring terbuka,.mengeluarkan kepulan asap daei salamnya san sudutnya sedikit naik.


Mahluk itu sepertinya tersenyum. Dia pun mendekatkan kepala putihnya pada dataran dimana kami berdiri, membuat gelombang angin pelan yang tercipta akibat gerakan kecil dari tubuhnya yang berukuran sangatlah besar itu.


Dua puluh ... Tidak, mungkin mendekati tiga puluh meter. Wujudnya memang menyerupai beruang, seperti yang Beida katakan sebelumnya.


Hjorn, termasuk ke dalam Roh tingkat tinggi.


Mungkin ini wujud ketiganya, Master juga memiliki wujud ketiga, hanya saja dia belum pernah menggunakannya di depanku. Hal itu membuatku sedikit tidak terbiasa saat melihat ukuran sebesar ini.


Disaat kami hanya terdiam selagi melihatnya, Roh beruang itu akhirnya mengangkat suaranya. Suara yang rendah, tapi terdengar sangat keras.


"Aku merasakan kehadiran yang aneh dan memutuskan datang untuk mengeceknya tapi apa ini? Ada sesuatu yang tidak terduga di sini."


Beruang itu menyipitkan matanya, sudut pada mulutnya naik semakin tinggi.


"Lama tidak bertemu, Leore. Kira-kira sudah berapa abad berlalu sejak kita terakhir bertatapan seperti ini? Kau menjadi sangat kecil sekarang tapi sayangnya aku tidak akan salah mengenalimu."