ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : SANG KELINCI BULAN III



Pada dasarnya, aku tidak menyukai manusia.


Itu adalah sesuatu yang sangat umum diantara para Roh, karena manusia memiliki sebuah kelompok yang disebut sebagai pembasmi Roh. Dengan kemampuannya, mereka menindas dan menjadikan para Roh sebagai budak untuk melayani mereka.


Meskipun ada pembasmi Roh yang baik pun, pada akhirnya pekerjaan mereka tetaplah membasmi. Dan manusia seperti itu tidak pernah mengeluarkan sebuah aura yang baik.


Di beberapa kesempatan, aku dan ibu sempat bertemu beberapa pembasmi Roh dengan tipe yang bermacam-macam. Untungnya kami dapat meloloskan diri dari semua itu.


Dan dari semua kesempatan itu, tidak satupun pertemuan dengan mereka yang memberikan kesan baik padaku. Malahan, rasa tidak sukaku pada mereka semakin membesar dan membengkak.


Tapi, anak manusia yang aku temui saat ini memiliki sebuah perbedaan.


"Aduh ... Itu tidak sakit tapi rasanya cukup tidak sopan. Yah, aku tidak terlalu masalah sih"


Bau unik yang dia keluarkan tentu saja menarik perhatianku tapi disaat yang sama, anak manusia ini juga tidak memiliki aura mencekam seperti yang biasa dimiliki oleh para Pembasmi Roh itu.


Meskipun tatapannya masihlah terasa menakutkan. Tapi lebih dari itu, apa-apaan Energi Spiritual yang menggumpal di dalam tubuhnya? Apa Energi sebesar itu benar-benar ada di dalam tubuh anak sekecil itu? Tidak, kenyataannya memang begitu.


Ada apa dengan anak ini? Dia membuatku sedikit tertarik dengannya Mungkin tidak ada salahnya untuk mengikutinya.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Hm? Anak itu terlihat kebingungan, dia juga melihat ke berbagai arah. Apa dia tersesat? Kalau begitu mungkin aku bisa membantunya sebagai bentuk balas budi karena dia sudah menolongku tadi. Tapi bagaimana aku melakukannya?


Apa aku harus mendekat ke arahnya?


Selagi aku memikirkan hal itu, terjadi sesuatu pada anak itu.


"Huh? Dia memanjat pohon?"


Apa yang dia lakukan? Kenapa dia malah memanjat pohon saat tersesat? Dengan Energi sebesar itu, seharusnya manusia itu bisa dengan mudah membaca aliran udara di sekitarnya. Padahal dia bisa menemukan arah dengan itu.


Apa dia tidak bisa melakukannya? Dengan Energi Spiritual sebesar itu? Tidak, itu tidak mungkin. Dia pasti hanya mencoba sesuatu.


Tapi apa itu?


Disaat kebingungan memenuhi kepalaku, anak itu sudah mencapai puncak dari pohon yang dipanjatnya, membuat sosoknya tidak terlihat. Dan saat aku mencoba untuk mendekat, anak itu terjatuh dari pohon.


Lalu sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.


"Sakit!! Apa yang kau lakukan tiba-tiba?!"


"Akulah yang harusnya mengatakan itu, bocah bodoh. Bisa-bisanya kau pergi ke dalam hutan sejauh ini tanpa pengawasan dariku. Apa yang akan kau lakukan jika ada Roh yang memakan tubuhmu?"


Roh berwujud Harimau dengan bulu segelap malam menyelamatkan anak itu saat dia terjatuh dan melempar tubuhnya pada rumput. Keduanya sedang berdebat saat ini.


Tapi bukan itu yang harus diperhatikan.


Roh harimau itu ... Tidak salah lagi termasuk ke dalam roh tingkat tinggi. Dengan tingkat Energi Spiritual yang sangat besar, aura yang mengelilinginya serta intimidasi yang dikeluarkan oleh tatapan kedua matanya itu.


Ini pertama kalinya aku melihat Roh tingkat tinggi, mereka terlihat sangat agung. Ibu pernah mengatakan jika aku memiliki potensi untuk menjadi Roh tingkat tinggi sebelumnya tapi itu memang tidak akan mungkin terjadi.


Aku, menjadi sama seperti Roh harimau itu? Memikirkannya saja sudah membuat perutku dipenuhi rasa sakit.


Tapi, kenapa anak itu bisa mengenal Roh dengan tingkat setinggi itu? Yah, anak itu juga memiliki Energi Spiritual sangat besar pada tubuhnya jadi tidak aneh jika keduanya sudah membentuk sebuah kontrak. Mereka terlihat begitu dekat saat berdebat.


Dari tatapannya, Roh agung juga tidak membenci anak manusia itu. Lalu si anak juga melihat Roh itu dengan tatapan akan rasa hormat. Hubungan mereka mungkin sudah berlangsung cukup lama.


"Hah? Beberapa hal? Ceritakan padaku apa saja yang terjadi dengan rinci ... Hm? Aku merasakan keberadaan Roh, ada di dekat sini."


"Oh itu mungkin Roh yang mengawasi ku sejak tadi, aku akan menceritakannya."


Anak itu sepertinya memberikan Harimau hitam itu penjelasan, apa dia menyelematkan ku lagi? Harimau itu sudah kehilangan ketertarikannya.


"Yah, lagipula dia hanyalah Roh rendahan. Aku bisa saja mengabaikannya."


Roh rendahan ... Itu benar, aku adalah Roh rendahan.


Meskipun aku melihat mereka dari jauh, itu tidak akan memberikan perbedaan apapun. Justru karena aku Roh rendahan Harimau melepaskan ku, mungkin aku harus bersyukur untuk itu?


Entahlah, aku tidak tahu tentang itu. Ada terlalu banyak hal yang tidak aku ketahui.


Tidak lama waktu berlalu, hujan pun turun, diikuti rona langit yang semakin gelap. Anak manusia itu pun berteduh pada sebuah pohon beringin bersama kucing hitam yang merupakan jelmaan Harimau agung.


Melihat hal ini membuatku bingung sekali lagi, kenapa mereka malah berteduh? Mereka bisa saja kembali dengan si anak manusia itu yang menunggangi Harimau dan semuanya selesai.


Sudah kuduga, memang ada yang aneh dengan anak itu. Ini membuat rasa penasaranku menjadi lebih tinggi, kurasa aku akan menghabiskan waktu untuk mengawasinya lebih jauh. Dan mungkin, aku juga bisa memintanya untuk ....


Tidak, tidak baik untuk melakukan itu.


"Meskipun begitu, ini kesempatan bagus untukku membalas budi pada manusia itu, meskipun masih belum sepadan dengan apa yang dia lakukan."


Aku segera berlari meninggalkan semak-semak dan menemukan sebuah daun talas yang besar, dengan ini harusnya sudah cukup. Setelah membawa dua biji, aku memberikan salah satunya pada anak itu.


Tapi tampaknya terjadi sesuatu pada mereka saat aku pergi, anak manusia itu dan kucingnya bertarung satu sama lain.


Aku memang merasa khawatir untuk diriku sendiri jika mendekat pada mereka di situasi seperti ini tapi tidak ada pilihan lain. Setelah memompa semangat, akhirnya aku mengambil langkah mendekati keduanya.


Mereka langsung menyadari keberadaanku dan menatap padaku dengan bingung.


Aku segera melemparkan salah satu daun talas yang aku pegang pada mereka. Anak manusia itu mengambilnya dan menatapku. Itu adalah tatapan yang meminta sebuah penjelasan.


Baiklah, aku harus menenangkan diri.


"Jadikan itu ... Sebagai payung ... Untuk ... Pulang."


Anak itu memiringkan kepalanya setelah mendengarku, memindahkan tatapannya pada daun talas yang dia putar dengan tangannya.


"Jadi begitu ... Menggunakan daun talas sebagai payung. Begitu, kan?"


Ah, dia memahaminya. Syukurlah.


Aku mengangguk beberapa kali untuk meresponnya dan menunjuk pada suatu arah. Itu adalah jalan keluar untuk pergi dari hutan.


"Sekarang ... Kau bisa ... Kembali."


Anak manusia itu melihat pada arah yang aku tunjuk dan berpaling padaku. Dengan raut wajah canggung pada ekspresinya, anak itu membalas.


"Oh ... Terimakasih?"


Dan setelah dia mengatakan itu, entah kenapa di beberapa titik pada dadaku, terasa sedikit kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan.


"S-Sama-sama."


Mungkin bukan hanya perasaanku tapi anak manusia ini memang berbeda. Bukan hanya pada bau, aura ataupun tingkat Energi Spiritual, kepribadian yang dia miliki pun sangatlah berbeda.


Ada baiknya untukku mengawasinya lebih lama lagi.