ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.15 : TEMAN RAHASIA



Karena keperluanku datang saat ini hanyalah menyampaikan informasi tentang pembasmian Roh rusa itu, waktu yang aku butuhkan untuk kunjungan pun tidak terlalu lama. Lagipula aku juga tidak bisa membuat Master menunggu terlalu lama.


Selesai mengucapkan salam, paman Gen segera mengantarku pada pagar depan.


"Baiklah paman, kunjungan selanjutnya aku benar-benar akan membawa papan catur. Kita bisa bermain dengan serius saat itu."


"Ya, aku menunggunya."


Aku segera menutup pagar dan mengangguk pada paman Gen yang ada di baliknya, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu diriku. Aku pun memutuskan untuk memastikannya.


"Paman Gen, apa anak paman itu seorang gadis?"


"Hm? Ya, dia pastinya sekolah di tempat yang sama denganmu karena seragam kalian cukup mirip. Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"


"Tidak, bukan apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Hm? Ya, kalau begitu sampai jumpa lagi."


"Aku juga titip salam untuk nenek, terimakasih atas camilan dan tehnya."


"Aku akan menyampaikannya setelah ini."


Menaruh tasku pada punggung, berjalan menjauh dari rumah itu dan meninggalkan paman Gen yang melambai di belakang, beberapa hal mulai terlintas pada pikiranku saat aku mendapatkan setiap langkah.


Semuanya dimulai dari Rune dan Wasa yang membawaku secara paksa, lalu menerima permintaan yang mereka ajukan.


Aku tidak menyangka semuanya akan berjalan seperti ini, membuatku mendapatkan beberapa kenalan orang baik yang tidak menganggap ku aneh bahkan setelah mereka tahu jika aku bisa melihat Roh.


Benar-benar sesuatu yang mengejutkan. Jika aku menolak permintaan Rune dan Wasa saat itu, kira-kira apa yang akan terjadi, ya?


"Apa urusannya sudah selesai?"


Entah dari mana dia datang, tiba-tiba Master sudah melompat pada bahuku dan melingkarkan ekor kecilnya pada leherku.


"Ya, aku sudah menyelesaikan ... Tidak, masih ada beberapa hal yang harus aku urus."


"Hm? Apa saja itu?"


"Rahasia, itu bukanlah sesuatu yang harus Master ketahui. Kesampingkan itu, aku mendapatkan beberapa kudapan dari paman Gen. Apa Master mau mencobanya satu? Bakpao kukus ini sangat enak."


"Tidak, aku tidak mengingi—Pghhf!!"


Aku mengeluarkan satu bakpao daging dari plastik dan menekannya pada mulut Master yang sempat menolak tapi terhenti di tengah-tengah. Tampaknya dia mulai berubah pikiran setelah menggigitnya.


"Bagaimana? Apakah rasanya enak? Nenek bilang itu bakpao daging kebanggaannya."


Dengan mulut kecilnya, secara perlahan Master melahap bakpao yang berukuran sama dengan telapak tangan milikku itu dan menelan semuanya sekaligus, lalu bersendawa pelan.


Kucing hitam ini mulai terlihat seperti pria tua dengan suaranya saat bersendawa.


"Kebanggaan, ya? Tidak buruk. Setidaknya aku bisa menikmati bakpao daging itu. Apakah masih ada lagi? Berikan padaku semuanya."


Oh? Dia menyukainya. Aku tidak menduganya.


"Master punya tiga porsi, sudah tersisa dua sekarang."


Aku mengambil satu bakpao daging lagi dan melemparnya pada Master yang segera menangkapnya dengan ekornya yang memanjang.


"Jangan terlalu memperhitungkan hal kecil, karena inilah aku membenci manusia."


"Aku tidak ingin mendengar itu dari kucing pemabuk."


Aku juga mengambil bakpao daging yang masih hangat itu dan memakannya. Rasanya sangat enak dengan daging ayam yang dipotong kecil-kecil, meskipun bagian dalamnya masih sedikit panas.


Selagi mengunyah bakpao yang dia pegang menggunakan ekornya, Master mulai membicarakan sesuatu.


"Ya ampun. Setelah banyak hal yang terjadi, pada akhirnya kau lebih memihak pada para Roh, ya? Sampai membuat sebuah perkumpulan seperti itu. Apa kau ingin membentuk pasukan?"


Hm? Kenapa Master tiba-tiba membicarakan itu?


Memihak, ya?


"Bukan berarti aku memihak mereka, sih. Hanya saja setelah aku berkenalan dengan mereka dan membicarakan banyak hal, itu membuatku cukup senang. Tujuan utamaku membuat perkumpulan itu juga hanya untuk mengumpulkan informasi dan menggunakan semuanya sebagai perlindungan."


"Apa begitu? Itu mungkin hanyalah salah satunya."


"Ya ampun, tidak dipercayai memang sedikit sulit. Meskipun begitu, saat aku kecil dulu, ada saat dimana aku pernah bertemu dengan Roh yanh memiliki wujud menyerupai manusia."


Beberapa potongan ingatan muncul padaku.


"Karena saat itu aku masih kecil dan sensitif, hal itu membuatku tersakiti cukup dalam dan mengatakan banyak hal yang menyakitinya. Tapi setelah memikirkannya sekarang, aku tahu jika mereka hanya ingin berbicara denganku."


Bahkan para Roh yang menggangguku, setidaknya mereka tidak pernah serius mencoba untuk membunuhku. Kecuali beberapa pengecualian, sebagian besarnya hanya ingin bersenang-senang.


"Karena itulah, setidaknya aku tidak pernah menyesal telah bertemu mereka."


Aku juga sudah mulai terbiasa dengan kemampuan melihat ini, mungkin semua pemikiran itu muncul kerena aku yang telah menerima diriku. Mencoba untuk menjalani hidup sebaik mungkin.


"Hmph!! Melihat bocah sepertimu mengatakan hal samar dengan wajah yang menggambarkan suatu kebijakan itu membuatku ingin muntah. Lebih baik—Ughhff!!"


Sebelum kucing ini mengatakan sesuatu lebih banyak lagi, aku merebut bakpao di ekornya dan menyumpalkan semua itu pada mulutnya.


Ini pagi yang indah, aku harus segera mengabari Wasa dan bertukar posisi dengannya lalu masuk sekolah seperti biasanya hari ini. Lalu sisanya hanya keperluan yang ada di sekolah.


Aku akan menyelesaikan semuanya hari ini.


____________________________________


Aku pergi ke sekolah setelah itu dan meminta agar Master menyusup ke dalam untuk memberitahu Wasa keadaanku. Keduanya segera datang beberapa menit kemudian dan itu cukup menyenangkan saat melihat reaksi berlebihan dari Wasa.


Dia benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkanku terluka tapi aku segera menenangkannya. Melanjutkannya dengan Wasa yang menceritakan situasi selama dua hari saat aku pingsan.


Sepertinya gadis kacamata itu masih saja mengikuti ku saat di sekolah. Selain itu tidak ada perkembangan khusus yang perlu diperhatikan.


Aku pun bertukar posisi kembali dengan Wasa dan memasuki kelas. Menjalani keseharian seperti biasa seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dan tanpa terasa, bel istirahat pun berbunyi.


Sama seperti biasa, aku langsung pergi menuju kantin dan mendapatkan setiap menu favorit yang dicari banyak anak lalu membawanya pada belakang gedung. Dan seperti biasa, gadis itu masih mengawasi dengan payah di sisi lain gedung.


Aku harus mengakhirinya sekarang.


"Hup—!!"


Aku melompat, berlari dengan kecepatan penuh ke aeah gadis itu.


"—!!"


Tentu saja dia terlambat merespon dan terpaku sesaat, membuatku dengan mudah langsung memegang tangannya dan menahannya. Gadis itu melawan sesaat tapi dia langsung tahu jika itu tidak berguna.


Dengan tangannya yang sedikit gemetar dan kepalanya yang tertunduk, gadis itu terdiam.


"Kenapa kau terus mengikuti dan mengawasi ku belakangan ini? Aku tidak berpikir jika kau melakukan hal itu kerena menyukaiku."


Gadis itu masih menundukkan kepalanya, menoleh ke beberapa arah. Tapi pandangannya segera berhenti pada tanah, dimana terdapat Roh dengan wujud tikus berekor dua dengan enam kaki yang lewat.


"Kau juga bisa melihat mereka, kan?"


Gadis itu tersentak saat aku mengatakannya dan membuatnya untuk pertama kali, melihat secara langsung pada wajahku. Dengan suara yang gemetar, kecil dan rendah, gadis jitu berbicara.


"Apa kamu ... Juga bisa melihatnya?"


"Ya, cukup jelas. Untuk memastikannya, bagaimana jika kita mengatakannya bersamaan?"


Gadis itu langsung mengangguk berkali-kali.


Kalau begitu—


"—Tikus dengan enam kaki."


"—Hamster dengan enam kaki."


Huh?


"Darimana pun kau melihatnya, itu seekor tikus, kan?"


"Bukan! Tikus memiliki warna hitam dan cenderung abu-abu!! Tapi yang ada di depan kita memiliki bulu terang dengan loreng cokelat, lalu tubuh gemuk dengan ekor pendeknya itu. Itu sudah pasti seekor hamster!!"


"Ah ... Be-begitukah?"


Gsdis itu berteriak ke arahku, yang mana membuatku cukup terkejut.


Jujur saja aku tidak terlalu peduli dengan masalah tikus atau hamster tapi fakta jika gadis penakut ini bisa berteriak lebih mengguncangku.


"Ah!"


Gadis itu kembali menundukkan kepalanya pada tanah. Saat aku berpikir jika dia tidak akan berbicara lagi, suaranya yang lemah terdengar.


"Dari mana kamu tahu kalau aku bisa melihatnya?"


"Hm? Hanya menebaknya. Untuk berjaga-jaga, biarkan aku bertanya. Siapa namamu?"


"Mo-Mona Liunis."


Yah, ini memang hal yang bisa di duga.


Lagipula aku mendapatkan kemampuan ini dari ibuku, tidak heran jika gadis ini mendapatkan kemampuan untuk melihat Roh dari kakeknya. Sayangnya ayahnya yang botak tidak memilikinya.


Apa ini yang disebut kekuatan dari gen?


Mungkin begitu.


Apapun itu, mulai saat ini, Mona Liunis telah menjadi teman pertamaku dalam berbagi rahasia, ataupun teman pertamaku dalam artian umum.


Yang manapun itu, teman tetaplah teman. Aku cukup senang kerena sudah mendapatkannya.