ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : KEPINGAN API VII



Pada akhirnya sama seperti apa yang Dewa bertopeng rubah itu katakan, tahun dimana dia mengunjungi Nebi sebelumnya adalah tahun terakhirnya. Sang Dewa tidak pernah datang untuk mengunjungi Nebi setelahnya, membuat Nebi mulai merenungkan banyak hal untuk mengisi waktunya.


Kebimbangan, itulah hal yang menghantuinya saat ini. Dia mulai memikirkan berbagai hal, memberikan banyak pertanyaan pada dirinya sendiri, meragukan apakah perasaan yang dia rasakan saat ini adalah sebuah kesalahan?


Dia tidak tahu, kebenciannya pada manusia sangatlah besar, begitu pula kekecewaannya pada Kitsu, yang mendasari semua Tragedi ini. Lalu kesedihannya tentang semuanya yang sudah menghilang, mereka yang dibasmi dan mereka yang dipaksa untuk melakukan Kontrak satu pihak.


Apakah perasaan yang ada padaku adalah sebuah kesalahan? Ataukah sebuah kebenaran? Kenapa sang Dewa menghabiskan waktunya selama empat ratus tahun untuk bersujud meminta maaf di depanku, kemudian memintaku untuk memaafkan para manusia itu?


Dia melayangkan pertanyaan itu setiap harinya. Tapi tidak sekalipun dia bisa mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.


Terus dan terus...


Nebi merenungi semua hal ini setiap harinya, mengabaikan perubahan akan lingkungan di sekitarnya, yang perlahan menggapainya.


Beberapa dekade pun berlalu dengan cepat sejak kunjungan terakhir dari sang Dewa. Pada cuaca cerah dimana hutan dipenuhi oleh nyanyian para burung, beberapa roh datang dari arah lain dengan panik dan berteriak.


"Sialan!! Puteri bulan melakukannya lagi!! Semuanya kaburlah!! Puteri bulan ada di hutan untuk bermain dan menghibur dirinya!! Cepatlah lari jika kau ingin selamat!! Dia benar-benar manusia yang gila!!" teriak Roh dengan tubuh besar, layaknya manusia berwajah banteng.


"Puteri bulan ada disini!! Puteri bulan ada di sini!! Siapapun yang mendengar suaraku, cepatlah lari jika kalian ingin selamat!!" di samping si banteng, sebuah Roh dengan penampilan yang mirip burung beo dengan tubuh kelinci melompat dan berteriak.


"Kenapa dia selalu melakukan hal itu?! Aku sama sekali tidak memahami jalan pikirannya!!" ucap Roh lain, yang mengikuti keduanya. Memiliki mata bulat sempurna dengan sisik di sekujur tubuhnya.


"Percuma jika kau berusaha untuk memahami manusia, pada dasarnya mereka semua itu gila!!" balas Roh dengan penampilan layaknya manusia katak yang melompat pada dataran rumput.


Keempat Roh itu berlari, melewati Lentera batu dan masuk ke dalam semak-semak di sisi lain yang cukup jauh. Kau bisa mendengar jika mereka berlari sekuat tenaga untuk melarikan diri.


Puteri bulan? Siapa lagi ini? Keempat Roh yang lewat itu menyebutkan jika dia seorang manusia. Dan mereka juga menyebutnya Puteri, jadi pastinya dia adalah seorang gadis.


Seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk melihat Roh, terlebih tampaknya para Roh juga memiliki kewaspadaan pada dirinya. Apa saja yang sudah dia lakukan pada mereka?


Gulp—!!


Tanpa sadar, aku menelan ludah.


Orang seperti apa yang akan muncul setelah ini? Aku harus memastikan untuk melihat wajahnya ... Hm? Jika ada orang seperti itu bermain di hutan ini, itu artinya dia memiliki tempat tinggal yang cukup berdekatan denganku, kan?


Apapun itu, aku harus berusaha untuk mendapatkan sebuah petunjuk di sini.


Suara langkah kaki yang cukup cepat terdengar dari semak-semak yang merupakan tempat empat Roh barusan keluar, dia berlari. Tak butuh waktu lama, seseorang keluar dari semak-semak itu.


Dia berlari tapi kelihatannya perhatiannya sedang teralihkan oleh hal lain.


"Urgh—!!"


Dia menabrak Lentera batu yang berlumut, membuat tubuhnya terlempar ke depan kerena momentum larinya dan jatuh berguling pada permukaan rumput.


Adegan ini membuatku merasakan sebuah Deja vu. Kupikir hanya aku yang pernah menabraknya, jadi orang lain juga melakukannya, ya?


"Aarrghh—!! Sakit!! Sakit!! Sakit!! Sakit!! Apa itu?! Jebakan yang dibuat Roh?! Tidak, bukan!! Lentera batu?! Sialan, siapa yang menaruh sesuatu seperti itu di tengah jalan setapak ini?! Arrghhh—!! Sakit sekali—!!!" Kakikuuuu—!!!"


Gadis itu berguling-guling dan mengeluarkan teriak menyakitkan, berusaha untuk meredam rasa sakitnya, aku bisa memahami itu. Sedikit air mata keluar pada ujung matanya, gadis itu pun berjalan mendekat ke arah Lentera batu dan menendangnya.


"Sialan!! Minggir!! Hm? Aku tidak bisa menyingkirkannya dari jalan?! Apa-apaan ini?! Siapa yang iseng menata sesuatu seperti ini di tengah jalan?!"


Gadis itu menendang Lentera batu beberapa kali sembari berteriak penuh amarah, kakinya yang memakai sandal mengeluarkan sedikit darah dari kuku pada ibu jarinya yang pecah.


Sial, itu terlihat sangat menyakitkan!!


Tapi Lentera batu itu sama sekali tidak bergeming, aku bisa memahami alasannya. Tapi tidak dengan gadis itu, membuat dia menendangnya berkali-kali.


Dengan rambut putih tipisnya yang tergantung diatas bahu, bersama matanya yang berkilau, memantulkan cahaya matahari dengan warna biru kehijauannya, yang tampak layaknya sebuah permata.


Berkebalikan dengan wajahnya yang tampak cukup elegan, ekspresi yang gadis itu keluarkan terlihat sangat ganas, bersama alis putihnya yang mengkerut dan juga kata-kata kasarnya yang keluar dari bibir tipis berwarna merah mudanya.


Gadis ini memang termasuk peringkat atas, tapi dia bukanlah tipeku. Aku lebih suka gadis yang tenang dengan senyuman lembut.


"Anak manusia biadab, sampai kapan kau akan menendang Lentera ini? Singkirkan kaki kotor milikmu itu dan pergilah!!"


"Hm? Sebuah suara, dari Lentera batu ini? Ah, kalau aku melihatnya lebih dekat, memang ada satu Roh yang terperangkap di dalamnya. Hei kau!! Apa kau baik-baik saja?! Sebentar, aku akan melakukan sesuatu dan mengeluarkanmu dari sana!!"


"Gadis biadab, apa yang kau lakukan?!"


Mengabaikan suara Nebi, gadis itu mengulurkan tangannya dan menempatkannya diatas Lentera batu, cahaya berwarna biru kehijauan menyala pada tangannya dan gelombang angin yang sangat kuat pun tercipta.


Tapi—


"Gurgh!!"


Tangan gadis itu terpental, mengeluarkan asap berwarna hitam kemerahan pada telapak tangannya dan darah pun mengalir menuju lengannya.


Apa yang baru saja terjadi?


"Apa yang baru saja terjadi? Aku tidak bisa membuka segelnya? Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Hei, rubah sialan!! Segel seperti apa yang mengurung dirimu?!"


Gadis itu mengambil sebuah perban pada saku celananya dan mengobati telapak tangan serta ibu jari kakinya yang terluka. Kenapa dia bisa membawa sesuatu seperti perban itu? Ini tampak seperti gadis ini sudah terbiasa terluka.


"Dasar gadis rendahan, mana mungkin seorang manusia sepertimu bisa membukanya, kan? Ketahuilah posisimu. Bahkan Dewa—"


"—Ah, begitukah? Jadi memang mustahil, ya? Apa boleh buat kalau begitu. Aku sudah bosan bermain dengan Roh lain. Rubah, apa kau bisa menceritakan beberapa hal menarik? Aku akan mendengarnya."


Gadis itu memotong kalimat Nebi, lalu duduk di depan Lentera batu. Gadis ini, dia benar-benar seenaknya sendiri dan mengabaikan Nebi.


Disisi lain Lentera batu itu terdiam, tidak mengeluarkan suara apapun. Mungkin Nebi juga memikirkan hal yang sama denganku, beberapa saat pun berlalu dengan cepat sampai Nebi mengangkat suaranya.


"Kenapa aku harus mendengarkan ucapan manusia sepertimu? Asal kau tahu saja, aku sangatlah membenci manusia. Mahluk rendahan seperti kalian yang memiliki banyak pemikiran kotor dan menjijikkan lebih baik dimusnahkan sepenuhnya."


Sedikit emosi bercampur pada ucapan Nebi, yang semakin menguat seiring banyaknya kata yang dia keluarkan.


"Lagipula karena manusialah aku berada di titik ini, aku bersumpah tidak akan memaafkan kalian, dan memastikan untuk membunuh kalian semua begitu aku berhasil keluar dari sini!!"


Sedangkan gadis dengan rambut putih itu, hanya memasang ekspresi biasa dan mendengarkan Nebi tanpa mengatakan apapun.


Tapi kemudian, sebuah senyum keluar dari wajahnya.


"Ya, kan? Lagipula manusia itu memang sampah tak berarti, setidaknya itulah yang aku pikirkan tentang mereka saat ini. Kau yang membenci mereka itu sangatlah wajar, begitupula diriku." tambah gadis itu dengan senyuman yang semakin melebar.


"Hah?"


Nebi yang tidak menduga respon seperti itu, hanya mengeluarkan suara yang menggambarkan kebingungannya. Aku juga sama.


"Karena itulah, aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan setelah keluar dari segel ini, baik itu membunuh manusia atau hal lainnya. Satu satunya hal yang aku pedulikan sekarang adalah diriku sendiri, jadi kau bisa melakukan apapun selama itu tidak memberikan pengaruh buruk tertentu pada diriku dan orang-orang di sekitarku."


Gadis itu merapatkan perban pada telapak tangannya dan melanjutkan.


"Aku sangatlah kuat, karena itu aku tidak perlu khawatir tentang dirimu yang ingin untuk membunuhku. Lagipula kau tidak akan bisa melakukannya."


Gadis itu pun melapisi kakinya dengan perban pula, dia langsung mengikatnya begitu saja tanpa memberikan anti bakteri sedikitpun.


"Daripada itu, aku lebih tertarik tentang cerita yang bisa kau berikan padaku. Kau pasti merasa bosan karena terus ada di dalam sana, kan? Untuk sementara ini ayo kita menghabiskan waktu bersama."


Sungguh, apa-apaan gadis ini? Dia terlalu bebas.


"Gadis manusia, tampaknya kau memiliki beberapa baut yang lepas di dalam kepalamu."


Mendengar ucapan dari Nebi, gadis itu melebarkan matanya, kemudian memegangi perutnya dan tubuhnya pun bergetar.


Apa dia menangis?


"Pfft—!! Ada banyak manusia dan Roh yang mengatakan itu, aku sudah terbiasa!!"


Ah, tidak. Dia tertawa.