ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.15 : PENAWARAN & PERMINTAAN



"A-Apa yang terjadi?!"


"Tu-Tubuhku tidak bisa bergerak!"


Mengabaikan dua Roh yang membeku itu, aku berjalan menghampiri Roh gadis yang masih tertahan, melepas pegangan Roh itu dan menariknya. Gadis kelinci itu hanya melihatku tanpa mengatakan apapun, apa dia mengenaliku?


Kami segera menjauh dari dua Roh itu selagi aku masih mempertahankan pengaliran Energi Spiritual, tubuh kedua Roh itu masih terhenti. Mereka benar-benar tidak bisa melawannya.


"Jujur saja, membasmi Roh bukanlah sesuatu yang bisa aku lakukan dengan senang hati. Aku akan sangat senang jika kalian bisa pergi begitu saja dan tidak lagi melakukan sesuatu seperti ini."


Aku melemahkan sedikit pengaliran Energi Spiritual, mengurangi tekanan pada kedua Roh itu untuk memudahkan mereka berbicara. Yang pertama membuka mulutnya adalah Roh kuda.


"Siapa kau?! Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya!!"


Hm? Oh, benar juga. Aku sedang mengenakan topeng kali ini jadi mereka tidak mengenaliku. Yah, bukanlah hal buruk membiarkan mereka melihat wajahku. Lagipula mereka sudah melihatnya.


"—!!'


"Huh?!"


"Wajah itu—!! Dan bau ini—!!"


Aku melepaskan topeng, diikuti suara kejutan dari ketiga Roh di dekatku. Ketiganya melihat ke arahku dengan raut wajah yang cukup bagus, rasa terkejut dan keheranan tercampur dengan baik di dalam ekspresi yang mereka berikan.


"Kita sudah bertemu sebelumnya, kan?"


Aku memberikan senyuman canggung, yang segera dibalas dengan teriakan dari Roh kuda dan Banteng yang masih terpaku pada tempat mereka. Tubuh mereka gemetaran hebat, mencoba untuk melawan aliran Energi yang aku pertahankan.


Tapi meskipun begitu, aku masih bisa mempertahankan alirannya denhan sangat baik. Perlawanan yang mereka berikan tidak berarti apapun.


"Manusia!! Berani-beraninya kau menghalangi kami lagi!! Cepat lepaskan kami!!"


Sejumlah besar ludah keluar saat Roh kuda di depanku membuka mulutnya, memamerkan giginya yang berwarna kekuningan. Matanya benar-benar membentuk lingkaran dengan aura miliknya yang memadat.


"Bisa-bisanya seorang anak manusia memiliki Energi Spiritual sebesar ini!! Ketahuilah dimana tempat kau berdiri, manusia lancang!!"


Begitu pula Roh banteng di sisi lainnya, kedua tanduk hitamnya mulai membesar. Diikuti kulit cokelatnya yang mulai memudar dan kedua matanya yang mengeluarkan sinar berwarna merah terang.


Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun untuk dapat mengetahui jika mereka benar-benar marah. Ini sedikit merepotkan karena akan memakan waktu lama untuk berbicara dengan mereka.


"Burghh—!!"


"Gughwekk—!!"


Aku mengalirkan tambahan Energi Spiritual pada mereka dan meningkatkan tekanannya sampai tahap di mana dapat merenggut kesadaran. Kedua Roh itu langsung tergeletak pada rumput.


"Baiklah, kita bisa pergi dari sini sekarang ... Huh? Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Aku mencoba menarik tangan gadis kelinci itu tapi tangannya tertahan, membuatku sedikit tersandung dan saat aku melihat ke arahnya, dia menatapku dengan wajah yang aneh.


Aku tidak memahaminya, apa yang dia pikirkan?


"Ah ... Tidak, um ... Terimakasih karena sudah membantuku lagi."


"Ya, kita bisa membahas yang lainnya setelah ini tapi pertama-tama ayo keluar dari area berkabut ini. Akan ada banyak Roh yang datang."


" .... Aku mengerti."


Kami segera berlari menuju arah timur untuk menjauh secepat mungkin dari area berkabut. Setelah sampai dengan kapasitas kabut yang tidak terlalu padat, kami melanjutkannya menuju arah utara.


Kenapa ke arah Utara? Tentu saja karena disana adalah sisi yang memberikan pemandangan terindah. Dan disana juga tempat dimana makam dari ibu gadis kelinci itu dibuat.


Lalu untukku—


Aku sudah menyelesaikan tugas pengamatan dan masih tersisa beberapa jam sampai waktu habis, tidak ada salahnya untuk bersenang-senang, kan? Lagipula aku juga masih ingin mendengar kisah dari gadis kelinci ini lebih jauh lagi.


____________________________________


Setelah melihat pemandangan gelap yang dipenuhi dengan kabut pada bagian barat, sulit untuk mempercayai jika pemandangan seperti ini ada di sisi lain daei gunung yang sama.


Gadis kelinci yang ikut bersamaku duduk dengan posisi melipat kakinya, menyatukan tangannya dan menundukkan kepala, menghadap tumpukan batu berlumut itu. Itu tampak jika dia sedang memberikan sebuah doa pada ibunya.


Aku duduk di sampingnya, melakukan hal yang sama.


Setelah kami menyelesaikannya, Gadis kelinci itu memutar tubuhnya dan menghadap padaku, menatapku dengan kedua matanya. Sepertinya dia sedang mempersiapkan diri untuk menanyakan sesuatu tapi terhenti di tengah.


Aku memutuskan untuk sedikit membantunya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan atau tanyakan padaku? Kau bisa mengatakannya tanpa ragu, lagipula aku tidak akan marah."


"Ah ... Ya, itu ... Manusia, kau benar-benar seorang manusia, kan? Entah kenapa, aura dan bau yang tubuhmu keluarkan terasa cukup unik. Itu membuatku sedikit sulit mengenalinya."


Ah, jadi itu yang ingin dia katakan, ya?


"Ya, aku seorang manusia sih ... Setidaknya aku tidak pernah ragu akan hal itu. Kau bisa menciumnya lebih dekat untuk memastikannya."


Aku mengulurkan tanganku dan mendekatkannya pada gadis kelinci itu. Meskipun sedikit ragu, dia segera mendekatkan wajahnya dan mengendus tanganku beberapa kali lalu menjilatinya.


Aku segera menarik tanganku dengan panik.


"Hei! Aku memang memintamu untuk memastikannya tapi masih ada batas untuk itu! Mengendus masih dalam batas aman tapi tidak dengan menjilat!"


"Ah, maafkan aku. Untuk selanjutnya aku akan memastikan untuk meminta ijin darimu terlebih dahulu sebelum melakukannya."


Tidak, bukan itu masalahnya. Ini sedikit sulit karena aku berhadapan dengan Roh di sini. Penampilannya memang tampak seperti seorang gadis tapi pada akhirnya Roh tetaplah Roh, ya?


"Lupakan itu. Jadi, bagaimana? Apa kau sudah yakin jika aku seorang manusia?"


"Hmm ... Sebentar, aku akan memprosesnya."


Gsdis kelinci itu menaruh tangan pada wajahnya dan memiringkan kepalanya, melihat ke arah lain seolah memikirkan sesuatu dengan rumit. Telinganya bergerak beberapa kali.


Dia pun menepuk kedua tangannya lalu menjentikkan jarinya.


"Itu sedikit rumit untuk menjelaskannya tapi bau manusia yang ada padamu memang cukup kuat, kurasa kau memang seorang manusia."


Kata 'kurasa' yang dia keluarkan dengan nada santai itu entah bagaimana membuatku merasakan sedikit kecemasan tapi itu pasti hanyalah penilaian pribadi yang dia berikan.


"Begitukah? Yah, syukurlah jika aku memang seorang manusia tulen. Lalu, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lagi padaku?"


"Ada dua lagi yang ingin aku tanyakan padamu. Manusia, apa aku boleh tahu nama yang kau miliki?"


Gadis kelinci itu sedikit mendekatkan dirinya padaku. Sebaliknya, aku memundurkan tubuhku untuk melebarkan sedikit jaraknya.


"Nama, ya? Aku memang belum memberitahumu tentang itu. Namaku adalah Aciel Luciel, kau bisa memanggilku dengan Aciel saja."


"Aciel ... Luciel ... Nama yang bagus. Namaku adalah Keika."


Gadis kelinci itu tersenyum canggung, memperlihatkan gigi putihnya yang bersinar.


"Keika, ya? Kau juga memiliki nama yang bagus."


"Benar, kan? Aku menyukai namaku. Lalu untuk pertanyaan terakhir. Tapi daripada pertanyaan, ini lebih mirip ke sebuah permintaan."


"Hm? Apa itu? Kau bisa mengatakannya. Mungkin aku bisa membantumu."


Gadis kelinci itu menggeser tubuhnya sedikit ke belakang, menatap mataku dan sedikit menundukkan kepalanya. Dengan suaranya yang diperkuat, dia pun memberitahukannya.


"Aciel Luciel, manusia yang memiliki kekuatan sangat besar. Apa kau bisa menjadikan diriku sebagai bawahanmu? Aku pasti akan berguna dan melakukan apapun perintah yang kau berikan. Sebagai gantinya, lindungilah aku."


Mengakhirinya dengan itu, gadis kelinci menundukkan kepalanya lebih dalam. Disisi lain, aku memiringkan kepalaku dan menaikkan alis.


"Huh? Bawahan?"