ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : SANG KELINCI BULAN II



"Maaf tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu, selesaikan masalahmu dengan kemampuanmu sendiri. Tolong jangan melibatkan diriku dan anakku, aku mohon padamu."


Ibu melebarkan tangannya, melingkarkan pada tubuhku selagi mengunci pandangannya pada pemakan bayangan yang melayang di depan kami.


Topeng tengkorak pada wajah pemakan bayangan itu menjadi miring, dengan potongan dari retakannya yang berhamburan.


Muncul dua cabang pada gumpalan hitam di bawah topeng tengkorak itu, membentuk sebuah tangan dengan tujuh jari. Lalu di salah satu tangannya itu, muncul kembali sebuah sabit panjang.


"Kalian tidak membantuku? Padahal aku sudah meminta tolong pada kalian untuk menjadi umpan untukku. Ada manusia jahat yang mengejarku dan kalian yang merupakan Roh sama sepertiku, tidak mau membantuku menyingkirkannya?"


Pemakan bayangan itu memutar sabitnya dengan kedua tangannya, mengarahkannya pada kami. Ibu yang mengunci pandangannya sedari tadi, mulai mengeluarkan asap berwarna putih kebiruan yang menyelimuti tubuhnya.


"Kau tadi bilang Puteri Bulan, kan? Aku pernah mendengar tentangnya. Tampaknya dia seorang gadis manusia yang memiliki Energi Spiritual sangat besar dan banyak mengalahkan Roh tingkat tinggi di berbagai wilayah."


"Ya, manusia lancang menjijikkan yang memiliki Energi Spiritual sebesar itu harus dimusnahkan. Keberadaannya memiliki potensi besar yang mengancam kami para Roh. Setelah tahu itu, kenapa kau tidak membantu kami? Apa kau adalah pengkhianat? Apa kau salah satu pengikutnya?"


"Sayang sekali tapi aku bukanlah pengikutnya. Hanya saja, aku juga mendengar kabar lain. Itu menyebutkan jika Puteri Bulan hanya akan menyerang para Roh yang menyerangnya. Dengan kata lain, dia sendiri tidak memiliki niat untuk melakukan hal buruk selama dirinya tidak di provokasi."


"Hah? Kelinci rendahan, apa yang ingin kau katakan?"


Asap yang mengelilingi tubuh ibu sedari tadi memadat, membentuk sebuah wujud yang tiga kali lebih besar, dengan tampilan seekor kelinci berbulu putih bersama tiga tanduk pada kepalanya.


Itu wujud kedua yang ibu miliki sebagai Roh tingkat menengah.


"Dengan kata lain, dirimulah yang mengganggunya lebih dulu. Pemakan bayangan, pergilah dan tinggalkan kami, aku tidak menginginkan adanya perselisihan. Ini lebih baik jika semuanya selesai dengan damai."


"Damai, kau bilang? Dasar pengkhianat, akan aku beri kalian berdua hukuman terberat karena memihak pada manusia!!"


Pemakan bayangan itu mengeluarkan asap hitam yang langsung menyelimuti tubuhnya dan dengan teriakannya itu, putaran pada sabit di tangannya menjadi lebih cepat dan ganas.


"Rasakan ini!!"


Pemakan bayangan itu pun melesat ke arah kami dengan cepat, bersama sabitnya yang sangat siap untuk memotong. Tapi sebelum dia sampai, ibu sudah mengeluarkan ledakan asap yang langsung memenuhi area luas.


"Huh? Apa ini?"


Disaat aku sedang dipenuhi kebingungan, sesuatu melilit perutku.


"Keika, dengarkan ibu baik-baik. Saat kamu sudah menjadi Roh tingkat tinggi, ingat tugas utama yang harus kamu lakukan. Kamu harus menemui ayahmu pada wilayah yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang merupakan Roh tingkat tinggi. Kamu mengingat nama tempatnya dalam kisah yang sudah pernah ibu ceritakan sebelumnya, kan?"


"Huh? Ibu?"


"Maafkan ibu, tapi tampaknya dari sini kamu harus berusaha dengan kekuatanmu sendiri. Lakukanlah yang terbaik untuk hidup."


"A-Apa maksud ... Hwah—!!!"


Lilitan pada perutku menguat dan begitu aku menyadarinya, tubuhku sudah ada di atas langit yang tinggi. Ada sesuatu yang menyelimuti tubuhku dan saat aku melihat ke bawah, itu bertepatan dengan daratan dimana aku mendarat.


Dump—!!!


Sebuah benturan yang sangat keras pun terjadi dan dengan itu, kesadaranku menghilang.


____________________________________


Tepat saat aku sadar, beberapa hari telah berlalu sejak tubuhku terlempar. Sepertinya ibu menggunakan ekornya untuk melemparkan ku menuju sisi lain gunung dengan ekornya.


Bangun tanpa adanya ibu di sampingku membuat diriku dipenuhi dengan kegelisahan dan rasa takut saat itu, aku pun langsung berlari menuju tebing dimana ibu dan pemakan bayangan itu terakhir terlihat.


Tapi bukan berarti pemakan bayangan itu bebas dengan mudah, nyatanya ada sangat banyak kerusakan yang pemakan bayangan itu dapat. Pada akhirnya pemakan bayangan itu juga dibasmi oleh seorang gadis manusia dengan rambut putih.


Ibu dan pemakan bayangan itu sudah dibasmi.


Aku sangat tidak mengerti, kenapa semua ini harus terjadi?


Awalnya kami berencana untuk mengambil beberapa ubi untuk makan dan mendapatkan beberapa tangkai bunga matahari untuk barter tapi tiba-tiba pemakan bayangan itu datang dan menyerang kami karena kesimpulan satu sisinya.


Ini sangat tidak masuk akal. Bahkan aku masih ragu apakah semua ini nyata? Tapi keberadaan ibu yang tiada sudah menggambarkan semuanya.


Ini bukanlah sebuah mimpi, melainkan kenyataan. Karena itu tidak ada pilihan selain menerimanya, aku tidak bisa melakukan apapun selain itu.


Pada akhirnya, mereka yang lemah hanya bisa menerima akan nasib yang mereka dapatkan tanpa bisa memprotesnya sedikitpun. Mereka yang berhak melakukannya hanyalah mereka yang memiliki kekuatan untuk itu.


Dan itu sudah sangat jelas jika aku tidak termasuk ke dalam salah satu Roh yang dapat melakukan itu. Menjadi Roh tingkat tinggi? Aku sudah menunggu sangat lama sejak ibu meninggalkanku tapi tidak ada perubahan apapun yang terjadi padaku.


Aku masihlah Roh kelinci tingkat rendah yang tidak bisa melakukan apapun.


Roh yang tidak berguna.


Itulah aku.


____________________________________


Beberapa tahun pun berlalu dengan cepat setelah itu. Aku tidak lagi mempedulikan apapun selain mengambil makanan dan buah-buahan.


Dan disaat-saat itu, para Roh hutan lain yang selalu melihat diriku dari kejauhan mulai mendekat. Mereka mulai menggangguku karena ketiadaan ibuku yang biasa melindungi diriku dari mereka.


Buah-buahan yang aku ambil mereka rampas, ikan yang aku tangkap mereka rebut dan sayuran yang aku rawat mereka rusak. Aku mencoba untuk melawan tapi semuanya sia-sia, mereka yang menggangguku adalah Roh tingkat menengah.


Sekeras apapun mencoba, Roh tingkat rendah sepertiku hanya akan diinjak-injak. Kekuatan yang kami miliki sama sekali tidak sepadan.


Ditengah-tengah itu, aku mulai menyadari betapa besarnya keberadaan yang ibu miliki untuk melindungi diriku dari para Roh yang menganggu ini. Dia pasti sudah berusaha sangat keras dari apa yang pernah aku lihat selama ini.


Dan memikirkan itu, membuatku semakin paham akan betapa tidak bergunanya diriku. Bahkan aku pun mulai berpikir jika kehidupan seperti ini mungkin akan berlangsung selamanya tanpa adanya sebuah perubahan. Hanya terus membiarkan diriku diganggu tanpa memberikan perlawanan.


Sampai suatu hari—


"Kalian, pergilah dari sini. Aku akan mengampuni untuk pertama kali, tapi tidak untuk kedua kalinya. Jangan mengulanginya lagi. Jangan membuka mulut dan jawab dengan anggukan, apa kalian mengerti?"


—Sampai suatu hari, aku melihat seorang anak manusia yang membantuku.


Dari apa yang aku lihat, anak itu memiliki bau yang unik dan yang terpenting, memiliki Energi Spiritual yang sangat besar pada tubuhnya.


Hal ini mengingatkanku akan suatu hal di masa lalu.


Puteri bulan?


Tidak, bukan. Puteri bulan adalah seorang gadis berambut putih. Sedangkan anak di depanku ini adalah seorang pria dengan rambut hitam. Anak itu memberikan tatapan yang memiliki kesan menakutkan, apa yang dia pikirkan?


Anak itu pun mengulurkan tangannya padaku.


"Apa kau baik-baik saja? Tubuhmu terlihat sedikit lecet."


Dan karena rasa takut yang terakumulasi, tanpa sadar aku melompat, menggunakan kepalanya sebagai pijakan dan meluncur untuk bersembunyi di dalam semak-semak.