
Setelah kembali dari UKS bersama Mona dan Ella, mereka berdua langsung menggiringku ke ruang makan penginapan. Tampaknya karena aku pingsan, Mona mengusulkan untuk menungguku agar kita bisa makan bersama.
Dan tentunya, Ella yang menjadi penanggung jawab terbesar kenapa aku bisa pingsan tidak memiliki satupun suara untuk menentang hal itu. Kami segera menuju meja pemesanan dan mengambil satu meja dengan tiga kursi.
Tidak lama sampai pesanan kami datang. Selagi membahas mengenai tugas pengamatan dan pengalaman penjelajahan di dalam hutan, kami mengisi perut dan menceritakan beberapa hal.
Meskipun aku menyebutkan kata 'kami' di sini, sebagian besar yang bercerita adalah Mona. Aku dapat memaklumi itu karena ledakan kepribadian yang dijelaskan Ella sebelumnya tapi melihatnya seperti ini memang sedikit mengejutkan.
"Hm? Ada apa, Aciel? Kamu melamun seperti itu."
"Huh? Ah, tidak ada. Hanya memikirkan beberapa hal."
Mona yang duduk di sampingku, mendekatkan wajahnya dan membuatku sedikit terkejut. Ekspresinya memang benar-benar berbeda.
Setelah mendengar jawabanku itu, Mona tersenyum cerah dan tertawa.
"Ya ampun, kamu memang mudah sekali melamun~ coba perhatikan saat ada seseorang yang bercerita, ya~ atau aku akan menghukum mu."
Mona mengedipkan matanya, sekilas aku bisa melihat bintang kecil keluar dari sana. Dia segera kembali pada kursinya dan bersenandung.
"Ah, iya. Maaf, aku tidak akan mengulanginya."
Sungguh, siapa orang ini?
Otakku sedikit panas karena mencoba untuk beradaptasi pada perubahan sedramatis ini. Aku harus menenangkan diri, tidak baik jika terlalu memikirkannya. Tapi dari tadi Ella juga tidak berbicara, apa yang dia ... Huh?
Aku melihat ke arah lain, dimana Ella berada tapi yang aku temukan hanyalah seorang gadis yang menutupi matanya dengan penutup mata, menyandarkan tubuhnya pada kursi dan tertidur.
Gadis ini ... Apa yang dia lakukan?
Sepertinya ekspresi pada wajahku terbaca jelas oleh Mona, dia menjawab kebingunganku selagi menggoyangkan sendok dan garpu di kedua tangannya.
"Hm? Ah, kamu penasaran dengan Ella? Tenang saja, dia selalu seperti itu. Dia akan bangun sendiri saat kita selesai makan nanti, tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Itu cukup aneh karena dia selalu tertidur saat aku bercerita."
Ah, seperti yang diharapkan dari temannya.
Ella sudah beradaptasi sedari tadi, memahami situasi yang akan terjadi dan menyiapkan jalan untuk menyerahkan semuanya padaku yang masih belum mengetahui apapun.
Gadis berandalan sialan.
"Oh ya tentang Ella yang tertidur, aku punya beberapa cerita menarik!! Coba dengarkan!!"
Pada akhirnya, akulah yang mendengarkan semua cerita Mona selagi kami menghabiskan makanan. Dia tidak memberikan celah sedikitpun untuk bernapas ataupun bertanya balik.
Sampai tiga puluh menit berlalu, jarum jam menunjuk pada angka enam, dengan langit merah kekuningan yang mulai menggelap. Dan saat kami mulai menyelesaikan makanan dan cerita, beberapa anak melewati lorong dan berjalan ke arah lain.
Mona mengangkat tinggi tangannya dan berteriak riang ke arah mereka.
"Apa ada sesuatu?"
Dia menghampiri salah satu murid gadis dan bertanya padanya. Gadis itu tampaknya sedikit kebingungan tapi dia langsung menjawab dengan cepat.
"Ah, ya. Kita diminta untuk berkumpul pada lapangan di belakang penginapan saat jam enam sore, bukannya itu sudah ada di jadwal? Pak guru akan membagikan hasil pengamatan yang kita lakukan hari ini dan memberikan daftar objek pengamatan lagi untuk besok. Jangan sampai terlambat, ya."
Gadis itu melambaikan tangannya dan berjalan menjauh, Mona melambaikan kembali.
"Oke~ terimakasih banyak~"
Mona segera duduk pada kursinya lagi dan sebelum dia bisa mengatakan apapun, Ella yang melepas penutup matanya berbicara.
"Aku mendengarnya. Karena kita sudah menyelesaikan makannya, bagaimana jika langsung pergi?"
"Ya, aku juga setuju."
"Eh? Aciel, apa kamu tidak apa? Kamu baru saja sadar daei UKS sebelumnya dan mungkin masih belum sembuh secara total. Ada baiknya untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri."
"Hm? Tidak, tidak apa. Rahang ku memang sedikit sakit tapi hanya itu. Tidak perlu mengkhawatirkannya, lagipula ini bukan sesuatu yang serius ... Ah, tapi aku akan ke toilet sebentar jadi kalian bisa langsung saja dan tidak perlu menungguku."
"Begitulah, katanya. Mona, ayo kita berangkat."
"Ah, ya ... Tapi jika kamu merasa tidak enak, langsung saja panggil kami, ya? Tidak perlu merasa sungkan, lagipula kita adalah teman."
Hanya sedikit saja.
"Ya, aku akan langsung mengabari jika itu terjadi."
Setelah melihat dua gadis itu berbelok pada lorong dan berjalan menjauh, aku segera merapikan meja makan, membeli beberapa roti isi dan menuju toilet. Saat masuk ke dalamnya, aku menemukan seekor kucing hitam yang duduk selagi menggoyangkan ekornya.
"Jadi Master, apa yang kau inginkan? Sampai masuk ke dalam penginapan seperti ini, bukannya aku sudah melarang itu sebelumnya? Apa itu sesuatu yang harus segera diselesaikan?"
Master mengangkat pantatnya dan berjalan ke arahku, memutari kakiku.
"Ya, begitulah. Ini sesuatu yang sangat penting."
"Hm? Memangnya apa itu?"
Setelah memutari kakiku, kucing itu berjalan ke depan dan berbalik ke arahku.
Dia menatap mataku dan tatapan yang dikeluarkannya itu perlahan-lahan menuju ke arah tanganku, dimana aku memegang dua bungkus roti isi. Menyadari hal itu membuatku menghela napas.
Dia hanya lapar, ya? Itu tidak masalah sih, lagipula aku membeli ini karena melihat Master yang berjalan melalui lorong sebelumnya.
"Ini Master, makanlah semuanya."
Aku membuka bungkus roti dan memberikannya pada Master, kucing itu memakannya dengan lahap tanpa menyisakan satu remah pun pada lantai. Saat Melihatnya seperti ini, mau tidak mau itu memunculkan beberapa keraguan pada diriku.
Apa kucing ini benar-benar Roh tingkat tinggi? Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Tapi ada di beberapa saat Master dapat diandalkan dan wujud keduanya juga cukup keren.
Kurasa itu memang benar jika Master termasuk ke dalam kelompok Roh tingkat tinggi dengan tiga wujud berbeda.
Ngomong-ngomong soal itu, aku belum pernah melihat wujud ketiga milik Master.
Kira-kira seperti apa, ya?
"Baiklah, aku sudah kenyang. Kalau begitu aku akan pergi."
"Hm? Pergi kemana?"
"Ada Roh kuat kenalanku yang berdiam diri pada bagian barat gunung ini, aku akan mencoba untuk menemuinya dan membicarakan beberapa hal. Itulah hal penting yang ingin aku sampaikan padamu."
"Bertemu dengan Roh tingkat tinggi kenalan ... Kupikir Master datang hanya karena lapar. Maafkan aku karena sudah memikirkan sesuatu yang tidak sopan."
"Aku tidak butuh minta maaf palsu itu ... Kesampingkan saja, untuk waktu dekat sebisa mungkin jangan mendekati bagian barat gunung. Akan ada pesta besar yang diadakan para Roh, orang sepertimu yang memiliki Energi Spiritual besar pasti akan terseret ke dalamnya. Aku datang untuk memberikan informasi itu, katakan itu juga pada temanmu."
"Temanku? Apa maksud Master Mona?"
"Ya, Energi Spiritualnya memang tidak terlalu besar tapi masih ada kemungkinan jika dia akan terseret ke dalam pesta. Jika itu terjadi, maka dia pasti akan dijadikan makanan pembuka pesta. Kau tidak menginginkannya, kan?"
"Oke, aku akan memberitahunya nanti. Oh ya, bagaimana dengan anak lainnya?"
"Hm? Mereka pasti baik-baik saja, kan? Ada batas standar untuk mengukur Energi Spiritual agar bisa berpartisipasi ke dalam pesta. Semua anak biasa itu tidak akan memenuhi standar dengan Energi lemah yang mereka miliki, kau tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Baiklah, kalau begitu aku bisa tenang."
"Hmph, memangnya kenapa jika ada satu atau dua anak yang menghilang? Itu bukan masalah besar. Aku akan mengingatkannya lagi, jangan sampai kau mendekati bagian barat gunung."
"Iya~ iya~ aku mengerti itu~"
"Cih, bocah sialan."
Master pun melompat pada udara dan menghilang begitu saja. Dengan itu, aku segera berjalan keluar dan menuju lapangan penginapan.
Bagian barat gunung ... Pesta besar ... Itu terdengar menarik. Aku juga masih punya topeng yang Ebi pinjamkan sebelumnya.
Bagaimana jika aku mencoba sedikit untuk menyusup?
Itu mungkin akan menjadi masalah yang besar jadi lebih baik aku mengurungkannya.
Untuk saat ini.