ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.12 : ASAL USUL



"Jadi, mahluk aneh apa yang memiliki wujud seperti kucing ini?"


Kak Ren melihat pada kucing hitam yang duduk sembari mengusap bulunya di sampingku, yang bisa aku lakukan saat ini hanya tersenyum canggung. Apakah aku harus menjawabnya dengan jujur?


"Seperti yang kau lihat, dia hanyalah seekor kucing. Aku memelihara sekor kucing hitam di rumah, bagaimana menurutmu? Bukannya dia sedikit imut?"


Aku mengangkat Master dan kucing itu segera memberontak tapi segera terhenti saat aku membisikkannya sesuatu yang menyinggung dua bakpao daging.


"Myau~"


Kucing itu memberikan pose imut, melupakan harga diri yang sudah dia pertahankan selama ini. Aku hampir tertawa dibuatnya.


Kak Ren melangkah mendekat, melihat pada kucing itu pada jarak yang hampir bersentuhan. Master terlihat ingin melahapnya dan aku menguatkan pegangan pada tanganku untuk memperingatkannya.


Setelah mengamati Master, kak Ren tersenyum lemah dan membalas.


"Bagiku dia hanya terlihat seperti kucing hitam pembawa sial aneh yang menyeramkan tapi syukurlah kalau dia memang kucing peliharaan milikmu. Aku tidak akan menanyakan apapun lagi."


Master terlihat kesal mendengar perkataannya, tapi disisi lain hanya ada kecemasan yang menghantui diriku saat melihat senyum itu.


Eh? Apa dia mempercayainya begitu saja? Tidak, kucing ini mengeluarkan cahaya kehijauan tadi dan tentunya orang ini pasti juga melihatnya. Tapi dia tidak menanyakan apapun kepadaku dan hanya tersenyum seperti itu.


Sialan, jika kau membalas seperti itu semuanya malah akan semakin sulit untukku.


"Maafkan aku, kak Ren. Tapi kucing hitam ini sebenarnya bukanlah kucing. Aku memanggilnya Master dan dia memiliki pekerjaan untuk melindungi tubuhku."


Master terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tetap diam, aku pun menurunkannya dan mengalihkan pandanganku pada kak Ren, pria pirang ini masih tersenyum. Meskipun senyum yang dia tunjukkan berbeda dari sebelumnya.


"Begitu, seperti penjaga, ya? Terimakasih karena sudah memberitahuku. Aku menghargai itu."


Kak Ren pun mendekati Master dan berjongkok, mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Master dengan lembut.


"Kau memiliki peliharaan yang imut dan tampak dapat diandalkan. Itu hal yang bagu—Gugh!!"


Sebelum kak Ren bisa menyelesaikan perkataannya, Master sudah melompat dan memukul dagunya sembari berteriak.


"Biarkan aku merevisi perkataan bocah bodoh itu, dia bukanlah tuanku melainkan mangsaku. Jangan menyimpulkan sesuatu seenaknya dan menilai ku begitu saja, bocah sialan!"


Kak Ren terjatuh pada tanah dan sebuah lubang awan berwarna kelabu terbentuk di atasnya, dari sana keluar gadis pelayan yang marah.


"Dasar kucing pembawa sial! Beraninya kau melakukan hal tidak sopan itu pada tuanku!!"


"Hah?! Bukannya kau gadis berambut rumput laut yang kabur sebelumnya?! Lebih baik berlindung di balik bayangan tuanmu dan berhentilah menjadi Roh penjaganya! Setidaknya Roh lemah sepertimu cocok mendapatkannya!"


"Apa katamu, kucing sialan?!"


Keduanya saling memberikan pukulan dan cakaran, membuat situasinya semakin rumit. Aku yang tidak tahan lagi berteriak ke arah mereka.


"Hentikan, kalian berdua!!"


Pada akhirnya, kak Ren menghentikan pertengkaran itu dengan memerintahkan Roh nya untuk kembali dan aku memegangi tubuh Master.


Kami segera menuju penginapan kak Ren menginap untuk membahas kelanjutan dari detail pekerjaan yang terpotong di Kafe. Itu tempat yang cukup besar, kami segera menuju meja berbentuk lingkaran dan kak Ren mengambil beberapa air minum dan camilan.


Lalu dia memunculkan dua Roh di belakangnya. Roh satunya sudah pernah aku lihat sebelumnya tapi tidak dengan Roh lainnya. Keduanya memiliki wajah yang identik, hanya saja warna rambut yang mereka miliki berbeda.


Kedua Roh itu sedikit menundukkan kepala mereka padaku, meskipun tatapan yang mereka berikan masih cukup tajam. Terlebih Roh dengan rambut merah itu, dia benar-benar menatap tajam kami. Kalau tidak salah namanya Ruria, dia adalah Roh yang bertengkar dengan Master sebelumnya dan Roh yang selalu aku temui saat bersama kak Ren belakangan ini.


Roh dengan rambut ungu bernama Lilia itu tampaknya lebih tenang. Tidak, karena mereka identik pastinya kepribadian yang mereka miliki juga sama. Aku tidak harus menaruh harapan apapun.


"Aku mengerti, aku akan mengingat mereka."


Setelah itu, kak Ren pun menjelaskan detail pekerjaan yang dia terima dari sebuah keluarga lama. Keluarga itu memiliki sebuah gudang terlarang yang akan mengutuk siapapun yang membukanya, aku menelan ludahku saat mendengar ini.


Suatu saat, keluarga itu membutuhkan uang dan berniat menjual gudang pada seorang penggadai. Si penggadai itu pun membuka gudangnya dan masuk ke dalam untuk melihat kondisi daei gudang tersebut, tapi sesuatu yang aneh terjadi padanya setelah itu.


Si penggadai terus saja mengalami sebuah mimpi buruk setiap malam, keluarga di rumahnya menjadi sakit-sakitan dan yang lebih parah, anaknya baru saja mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.


"Apakah itu memang sesuatu yang dilakukan oleh Roh?"


Aku bertanya padanya untuk memastikan, bisa saja hal itu hanyalah sebuah kebetulan. Tapi sayangnya firasat ku tidak menyetujuinya, semua itu dikonfirmasi oleh jawaban yang kak Ren berikan.


"Sayangnya begitu. Aku meminta mereka berdua untuk menyelidikinya dan keduanya mengatakan jika hal itu memanglah perbuatan Roh."


Dari apa yang kak Ren sampaikan, sejak leluhur dari keluarga pemilik gudang itu menyimpan banyak barang berharga sebagai simpanan di dalam gudang, Roh itu mulai tinggal di dalam sana dan menolak keras untuk keluar.


Kak Ren hanya tersenyum lemah menanggapi itu.


"Ya ampun, memang sesuatu yang merepotkan. Mereka selalu tidak masuk akal dan keberadaan yang suka seenaknya sendiri. Memikirkannya saja sudah membuatku jengkel."


Dia mengatakannya lagi tanpa ragu di dekat Roh penjaganya. Tapi kedua Roh itu memang tampak tidak terganggu sama sekali. Mungkin itu adalah sesuatu yang biasa diantara mereka.


Jika aku mengatakan hal seperti itu pada Master, kucing ini pasti akan memakanku saat itu juga tanpa ragu sedikitpun.


"...."


Tapi aku masih memiliki beberapa keraguan tentang cerita yang kak Ren sampaikan, memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikannya.


"Apakah memang begitu? Kita tidak akan tahu jika tidak memastikan keadaannya. Lebih baik untuk menyelidikinya terlebih dulu sebelum memutuskan suatu hal seperti ini."


"Haha~ jawaban yang sangat menggambarkan dirimu. Seperti yang aku duga, kau sepertinya benar-benar memihak para Roh, kan? Terkadang rute anti mainstream seperti itu bukanlah sesuatu yang buruk."


"Tidak, ini bukan seperti aku memihak para Roh. Yang ingin aku sampaikan adalah agar memastikan keadaannya terlebih dulu sebelum melakukan suatu tindakan."


"Ya~ ya~ aku mengerti itu dengan baik jadi tidak perlu khawatir."


Kak Ren menghampiriku dan mengusap rambutku perlahan. Aku hanya bisa melihatnya melakukan itu dan sedikit terkejut.


"Aciel, kau adalah anak yang baik, hanyalah seorang anak yang baik. Karena itu kau tidak perlu merasa malu akan apapun."


Akhirnya kesadaranku kembali dan tanganku secara reflek langsung menampiknya.


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, itu sedikit menjengkelkan."


"Ahahaha~ maaf~ maaf~ aku sedikit terbawa suasana."


Orang ini memang cukup sering tersenyum dan tertawa, hal itu membuatku jengkel tapi kurasa kak Ren bukanlah seseorang yang buruk.


Meskipun membutuhkan waktu sampai aku benar-benar bisa mempercayainya.