ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.11 : LEBIH BAIK



Gadis kelinci, mungkin aku harus memanggilnya seperti itu? Lagipula aku tidak tahu namanya dan menanyakan nama Roh itu bukanlah sesuatu yang sopan. Aku tidak harus melakukannya.


Jika membandingkannya dengan manusia, Master bilang menanyakan nama Roh itu sama seperti menanyakan ****** ***** apa yang kau pakai hari ini. Tentu saja, itu bukanlah hal sopan.


Setelah menerima daun talas besar itu, aku mengulangi untuk berterimakasih pada gadis kelinci itu dan dia pun membalasnya dengan senyuman. Tampaknya gadis itu tipe Roh yang ramah.


Aku sangat ingin memakai daun talas yang dia berikan tapi intensitas hujan benar-benar menjadi lebih parah dan membuatnya tidak memungkinkan. Yang bisa aku lakukan hanya menunggunya.


Dan karena aku tidak bisa membiarkan Gadis kelinci itu kembali bersembunyi dalam semak, aku memintanya untuk tetap berlindung pada pohon.


Selagi memangku Master pada pangkuanku, Gadis kelinci itu duduk di sampingku. Beberapa kali, aku merasakan tatapan darinya. Bukan tatapan yang seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tatapan yang dipenuhi oleh rasa penasaran seperti sebelumnya.


Aku mencoba untuk mengabaikannya sebisa mungkin dengan pura-pura tidur tapi rasanya tetap sulit. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk berbicara.


Meskipun begitu, topik apa yang harus aku ambil? Aku tidak terpikirkan satu hal pun!! Kepalaku berputar dengan kecepatan tinggi, disaat aku hampir membuka mulutku dengan sempurna.


Sebuah gambaran ide datang padaku, mulutku pun menyuarakannya begitu saja.


"Dua Roh yang mengganggumu sebelumnya, apa mereka selalu melakukannya?"


Tubuhnya sedikit bergetar sesaat aku mengangkat suaraku tapi disisi lain, sedikit senyuman keluar dan dia menatap ke arahku. Senyuman yang lemah, menggambarkan rasa senang dan kesedihan disaat yang sama.


Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya menampakkan kedua emosi itu. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Bagaimana ini? Tapi entah kenapa, aku tidak berpikir jika itu hal buruk.


Setelah memikirkannya lebih baik, kenapa aku selalu bisa membaca sesuatu seperti ini? Seolah apa yang mereka rasakan tertulis jelas pada wajah mereka.


Apa ini adalah sesuatu yang wajar? Kupikir tidak.


"Mm ... Mereka dulunya tidak sering menggangguku karena ada ibu yang membalasnya tapi setelah ibu meninggal, tidak ada yang menghentikan mereka lagi dan mereka terus menggangguku. Itu bukanlah hal aneh saat Roh lemah ditindas."


Dua telinga putih gadis itu sedikit terangkat dan mencondongkan ke belakang kepalanya. Itu benar-benar tampak layaknya seekor kelinci jika dia memposisikan telinganya seperti itu.


"Ibumu meninggal, ya? Jadi begitu. Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Huh?"


"Hm? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Aku hanya bertanya apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi dua Roh itu. Tentunya kau tidak akan membiarkan mereka mengganggumu selamanya, kan? Akan datang saat dimana kau harus melawan."


"Um ... Itu ... Tapi aku lemah ..."


Aku mengalihkan pandangan pada semak-semak yang terguyur oleh air hujan. Setiap daun disana mengeluarkan kilauan, dengan suara redaman yang menenangkan. Jujur saja, aku sebenarnya tidak begitu membenci hujan.


Malahan, bisa dibilang jika aku cukup menyukainya. Dalam banyak hal, itu membuatku tenang saat melihat langit mendung. Menambahkan dengan suara gemericik air dan kilauan petir.


Ada sangat banyak alasan yang membuatku bisa menyukai hujan.


Terlebih, suasana abu-abu seperti ini seolah mendekatkan jarak diantara kami, membuatku bisa mendengar suaranya dengan begitu jelas.


"Lemah, ya? Itu berlaku sama untukku. Tapi yang aku maksud dengan melawan bukanlah mengalahkan mereka, tapi memastikan jika kau tidak begitu saja membiarkan dirimu dengan mudah diganggu."


Gadis itu mengangkat alis tipisnya, memiringkan kepalanya. Raut kebingungan tergambar dengan jelas saat dia membalas.


"Tidak mengalahkan tapi memastikan agar mereka tidak mudah menggangguku ... Apa maksudnya itu? Manusia, apa kau bisa menjelaskannya?"


Manusia ... Sudah lama sejak terakhir kali ada Roh yang memanggilku seperti itu. Kalau kuingat lagi, aku memang belum memberitahukan namaku. Yah, itu bisa dilakukan nanti.


"Hmm ... Bagaimana, ya? Intinya, kau harus melawan."


"Melawan?"


"Ya, melawan. Pukul, gigit atau apapun, selama itu bisa menaruh sedikit rasa waspada mereka terhadapmu. Jika kau bisa melakukannya, mereka pasti tidak akan mengganggumu dengan mudah lagi. Kau harus bisa melakukannya berkali-kali."


"Gigit ... Pukul ... Apa mereka akan benar-benar berhenti menggangguku setelah itu? Manusia, kau tidak berbohong, kan?"


"Berbohong? Kenapa aku harus melakukannya?"


"Ah ... Tidak ... Maafkan aku. Padahal kau sudah memberikan saran-saran untuk masalahku tapi aku malah membalasnya seperti itu."


Gadis kelinci itu menundukkan kepalanya ke arahku. Hal itu membuatku panik untuk sesaat dan tidak tahu harus melakukan apa.


"Ah ... Tidak, kau tidak perlu menundukkan kepalamu seperti itu ..."


Apa yang dia lakukan sebelumnya sama sepertiku tapi berbeda denganku, dia langsung meminta maaf saat itu juga daripada hanya tersenyum.


Sialan, Roh ini lebih baik padaku.


"Terimakasih, aku terbantu dengan itu."


"Hm? Manusia, harusnya aku yang mengatakan itu."


"Ah ... Benar, kau memang benar."


Selagi menunggu hujan deras berlalu, kami membicarakan beberapa hal lainnya setelah itu seperti beberapa tempat pada gunung yang menyimpan buah-buahan paling segar lalu sungai yang memberikan banyak ikan berlemak.


Diantara cerita itu, Master hanya mendengarkan selagi tertidur tenang pada pangkuanku tapi dia segera terbangun setelah gadis kelinci itu membahas beberapa titik mata air yang mengeluarkan arak dengan kualitas cukup bagus.


Cerita yang paling membuatku tertarik adalah saat gadis kelinci itu melihat Roh dengan wujud burung yang sangat besar melalui gunung.


Burung itu memiliki tubuh besar dengan bulu berwarna merah keemasan, bersama bara api yang keluar di setiap kepakan sayapnya, mengiringi setiap jalur yang dilewatinya dengan sebuah pelangi yang menampilkan tujuh warna terbalik.


Master melanjutkannya, menyampaikan jika burung itu adalah Roh yang biasa disebut dengan Bara api sang timur. Salah satu Roh tingkat tinggi yang menjadi bawahan setia Dewa Matahari.


Para Manusia sering menyebutnya burung keabadian, Phoenix.


Bagaimanapun, gadis itu banyak memberikan kisah yang sangat menarik dan Master ada disana untuk menyampaikannya lebih detail. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, langit pun menjadi cerah kembali dan hujan akhirnya berhenti.


Kicauan burung-burung mulai terdengar, membawa suasana ceria kembali pada hutan yang mengeluarkan kilauan. Karena masih ada sedikit rintik hujan, aku memakai daun talas yang diberikan gadis kelinci itu dan berjalan kembali bersama Master.


Kami berjalan menjauh, dengan gadis kelinci itu yang melihat kami dari kejauhan, melambaikan tangannya dengan perlahan dan tersenyum.


Aku memutuskan untuk menemuinya lagi besok, karena masih ada satu hari tersisa.


____________________________________


Setelah sampai pada penginapan, aku segera menuju ke ruang absensi dan menanyakan beberapa hal pada staff yang mendapatkan tugas itu.


Setelah mendapatkan apa yang aku inginkan, aku langsung berjalan cepat. Menuju tempat pembakaran di samping penginapan dan menemukan Ella yang duduk selagi menghangatkan dirinya bersama dengan Mona di samping api unggun.


Keduanya menatapku dengan ragu saat aku berjalan mendekat, aku berusaha menerima itu dan menundukkan kepalaku pada Ella.


"Ella, Maafkan untuk yang tadi. Bagaimanapun, itu sudah terlalu berlebihan untuk sebuah candaan. Aku tidak mempertimbangkan hal itu. Aku benar-benar meminta maaf."


"Ah? Oh ... Um ..."


Ella tampaknya kebingungan dengan apa yang aku lakukan, aku tidak bisa melihat wajahnya tapi tingkahnya sedikit canggung.


Disisi lain, Mona mendekat padaku dan menepuk punggungku dengan pelan lalu dia berjalan mendekat pada Ella. Sepertinya dia membisikkan sesuatu, Ella pun menghela napasnya.


"Ah, baiklah ... Aku mengerti jadi angkat wajahmu. Lagipula aku tidak semarah itu ... Bagaimana mengatakannya, ya? Aku hanya sedikit kesal dan hanya itu saja."


"Apa kau memaafkanku?"


Aku mengangkat wajahku, melihat ke atas pada Ella yang menatapku dengan bingung. Dia memainkan rambut pendeknya, selagi melirik beberapa kali ke banyak arah lainnya.


"Ya, tapi dengan satu syarat."


"Satu syarat? Apa itu?"


"Tutup matamu ... Ah, kau tidak perlu merubah posisi. Tetap pertahankan itu."


Aku tidak terlalu mengerti tapi lebih baik untuk menurutinya saat ini.


"Oh ... Aku mengerti."


Aku pun menutup kedua mataku.


Kemudian aku mendengar suara hentakan kuat pada tanah. Saat firasat buruk mendekat pada diriku, itu sudah sangat terlambat.


"Gurgh—!!"


Benturan kuat menghantam wajahku, membuatku kehilangan kesadaran diri. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.