
Setelah menangani beberapa hal merepotkan seperti Ella yang menghajar wajahku sampai pingsan dan sadar dari UKS dengan Mona yang meminta maaf berkali-kali, akhirnya aku bisa pulang.
Karena hambatan itu, aku pulang setengah jam lebih lambat dari biasanya.
Master akan langsung menghampiri bahuku setelah aku keluar dari gerbang sekolah tapi aku tidak menemukannya untuk saat ini dan pulang sendirian.
Sudah lama sejak terakhir kali aku pulang sendirian seperti ini ... Tidak, tidak terlalu lama juga sih. Lagipula belum genap satu bulan sejak aku bertemu dengan Master di hutan itu.
"Kucing itu akan kembali malam nanti dengan keadaan mabuk berat. Ini masih siang jadi mungkin aku bisa melakukan beberapa hal untuk mengisi waktu? Tapi Master sudah memintaku untuk langsung pulang jadi aku harus menepatinya."
Yah, aku bisa bersih-bersih gudang selagi menghabiskan waktu dan melakukan beberapa pekerjaan rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya Bibi An tidak akan mengomel lagi.
"Ya ampun, ini sedikit membosankan."
Berjalan melalui jalanan yang kosong, tanpa ada seorangpun di atasnya, aku kembali pulang. Memulainya dengan membersihkan gudang, menjemur kasur lipat dan merapikan alat sekolah, aku menyelesaikan semua pekerjaan kurang lebih dalam dua jam.
Lalu setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, aku langsung menuju ke rumah marga Sena dan membantu mereka seperti membersihkan rumah dengan menyapu dan mengepel, membersihkan toilet, mencuci piring dan menyiapkan menu untuk makam malam.
Hanya butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan itu juga.
Tak terasa, matahari pun mulai terbenam.
Karena hari ini keluarga Sena akan melakukan makan malam diluar sepertinya mereka tidak membutuhkan lauk yang sudah aku siapkan dan memintaku memakan semuanya sampai habis.
Ini memang sedikit menyakitkan tapi tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu. Lagipula perutku akan kenyang, aku tidak harus mengeluh.
Bulan sudah mulai bersinar semakin terang saat aku menyiapkan tempat tidur dan berencana untuk mengistirahatkan tubuh. Dan disaat itu, suara gedoran datang dari pintu gudang.
Awalnya aku mengira jika itu Bibi An tapi gedoran yang orang itu buat selalu gaduh, berbeda dengan gedoran pelan yang saat ini terdengar. Aku mendekat dengan hati-hati dan membukanya.
Apa yang ada disana adalah sesuatu yang berwarna hitam dan bergoyang-goyang lalu dengan tubuh kecilnya, dia terjatuh ke samping. Tubuhnya kejang untuk beberapa saat dan berhenti bergerak.
"Ugh ... Kepalaku sakit ... Tolong aku ... Aciel, aku akan mati ... Berikan aku air putih ... Cepat ... Urghh ... Beruang sialan itu ... Benar-benar kelewatan ... Aku tidak akan menerima ... Undangannya ... Lagi ..."
"Master, kau sampai mabuk separah ini. Cobalah untuk menahan diri sedikit."
"Berisik ... Cepat ... Aku tidak tahan lag—Urghh!! Bwerrghh!!!"
"Oi!! Beraninya kau muntah di depan gudang yang aku tinggali?! Hentikan!! Master!! Ah, sialan!! Bertahanlah sebentar!! Aku akan segera mengambil air!!"
Setelah melakukan beberapa hal merepotkan di malam hari seperti membersihkan muntahan kucing dan menyiramnya, aku segera membaringkan Master yang lemas pada tempat tidur.
Memijat perut dan telapak kakinya perlahan, meminumkannya air putih dan mengipasi beberapa bagian tubuhnya bergantian.
"Master, apa kau sudah enakan?"
"Ah? Ya ... Ini sedikit nyaman ... Teruskan ..."
Master memutar tubuhnya ke arah lain, aku segera membaliknya kembali.
"Jangan menghadap kesana atau kau akan muntah lagi. Ya ampun, ini benar-benar merepotkan. Bisa-bisanya Roh tingkat tinggi sepertimu membuat orang yang harus kau lindungi melakukan ini. Master, bukannya kau harus mengevaluasi diri?"
"Hmhh ... Berisik ... Bocah bodoh ..."
Pada akhirnya aku harus tidur dengan kucing pemabuk yang mengeluarkan aroma arak menyengat di setiap butir bulunya di sampingku. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk tidur dengan nyaman sendirian.
Ya ampun, kucing ini memang tidak bisa membiarkanku bersantai sebentar saja, entah aku harus senang atau kesal dengan itu. Yah, lagipula dia juga sudah melindungi diriku beberapa kali.
"Mungkin hasilnya sedikit seimbang? Atau lebih condong ke arahku yang lebih berkorban?"
"Mhhm? Aciel, apa kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Aku sudah mengantuk jadi jangan mengajakku bicara."
Yah, apapun itu aku tidak perlu terlalu memikirkannya. Setidaknya saat ini aku menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak harus dipermasalahkan.
Itu saja sudah lebih dari cukup.
____________________________________
Besoknya.
Karena perjalanan yang akan cukup panjang menuju pegunungan, kami diharuskan berangkat sedikit lebih pagi dari biasanya. Saat jam menginjak angka lima pagi, aku sudah mengangkat kaki dari gudang.
Aku sudah menyelesaikan setiap hal untuk persiapan pagi hari jadi tidak akan ada kesempatan bagi Bibi An untuk memprotes. Dan untuk Brian, anak babi itu termasuk ke dalam kelas khusus jadi dia tidak akan mengikuti sesi Study Tour ini.
Meskipun dia hanyalah anak dengan tubuh yang menyerupai babi jadi-jadian, setidaknya nilainya cukup tinggi. Meskipun itu masih ada pada dua tingkat di bawah nilai yang aku miliki.
Melihatku yang melakukan sebuah perjalanan untuk liburan ini pastinya membuat Brian merasa iri, dia terus mengolok-olok diriku dari tadi malam untuk sesuatu yang tidak aku tahu dan jujur saja itu semua membuatku sangat kesal.
Aku akan memastikan untuk membalas anak babi itu sebelum pindah dari rumah ini.
"Oi bocah bodoh, kenapa kau tersenyum-senyum sendiri seperti itu? Menjijikkan."
"Huh?"
Ditengah perjalanan menuju sekolah, aku mendengar suara yang sangat familiar, dan itu membuat jantungku berdetak lebih kencang.
Jangan-jangan ... Tidak mungkin.
Aku langsung memastikan sumbernya dan membuka tas besar yang aku bawa pada tanganku, lalu melihat seekor kucing yang melompat dari sana. Master langsung duduk pada bahuku.
"Master? Kenapa kau bisa ada di sini ... Tidak, kenapa kau mengikuti ku diam-diam? Masuk seperti itu ke dalam tas ... Pantas saja terasa sangat berat. Master, apa kau bisa kembali ke rumah? Master tahu jika hari ini aku ada sebuah tugas pengamatan, kan? Lagipula aku sudah memberitahumu."
"Tentu saja aku tahu, justru itulah alasanku mengikutimu. Kau bilang jika kegiatannya ada di tengah hutan dan gunung, kan? Apa otak kecilmu itu sudah lupa tempat seperti apa gunung dan hutan itu? Akan ada sangat banyak Roh yang mengincarmu."
"Ya, aku tahu itu. Tapi akhir-akhir ini aku sudah melatih kemampuanku untuk mengendalikan aliran Energi dan bisa memanfaatkannya sebagai penahan gerakan pada Roh. Bahkan Roh tingkat tinggi seperti Vips setidaknya bisa aku tahan untuk—aduh!! Kenapa kau menampar pipiku?!'
"Dasar bodoh, besar kepala hanya karena bisa menahan gerakan dari ular itu? Aciel, bukannya aku sudah memberitahumu sebelumnya? Vips digolongkan menjadi Roh tingkat tinggi karena kemampuan mata yang dia miliki. Pada akhirnya, daya tahannya hanya sedikit lebih tinggi dari Roh tingkat menengah pada umumnya."
"Eh? Lalu apa maksudnya dengan itu?"
Master mendecakkan lidahnya dan menampar pipiku sekali lagi.
"Intinya, kau membutuhkanku sebagai penjaga. Apa kau mengerti? Hanya itu saja dan aku tidak akan mengatakan apapun. Sudahlah, cepat berjalan atau kau akan tertinggal bis."
Kucing ini benar-benar tidak masuk akal, semua alasannya sangat tidak rata dan labil. Mana mungkin aku bisa mempercayai semua itu, kan? Apa semua Roh tingkat tinggi memang seperti ini?
Beruang dan ular itu sepertinya masih lebih mending daripada Master. Lalu untuk Ebi, dia justru cukup ramah kepadaku. Jadi hanya Master saja yang bertingkah tidak masuk akal seperti ini, ya?
Sungguh, benar-benar sulit untuk menanganinya.
Tapi—
"Master, jangan duduk di bahuku. Setidaknya sembunyi di dalam tas sampai aku tiba di gunung. Aku akan mengeluarkanmu setelah itu."
"Hah?! Mana mungkin aku bisa terus menunggu di dalam tas sempit dan pengap itu, kan?!
"Apa boleh buat, kan?! Kau akan dibuang jika para guru tahu keberadaanmu di dalam bis!! Sudah cepatlah, masuk ke dalam dan diam!! Aku akan membuka sedikit celah untuk bernapas!!"
Meskipun aku tidak tahu apakah Roh benar-benar membutuhkannya.
"Guhh—!! Bocah sialan!! Beraninya kau!!"