
Setelah membahas beberapa hal lain dan menyelesaikan sedikit bagian yang dibutuhkan, akhirnya aku menyelesaikan tugas kunjungan ini. Membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah, yang paling lama adalah saat menyalin catatan dari ayah paman Gen.
Ngomong-ngomong nama paman itu adalah Gen, dan marganya adalah Liunis. Dengan itu, nama lengkapnya adalah Gen Liunis. Nama marganya cukup keren.
Aku membuka pagar dan berbalik pada paman Gen yang berdiri di belakangku.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Terimakasih banyak atas salinan bukunya."
"Tidak perlu dipikirkan, aku juga akan menantikan hasil dari pencariannya. Kamu tidak perlu tergesa-gesa dengan hal itu, tahu?"
"Ya, aku akan melakukannya dengan santai."
"Baguslah kalau begitu."
Kami berdua mengangguk, lalu bersalaman dengan kepalan tangan yang kuat.
"Oh ya, Aciel. Kau bisa mampir kapanpun ke sini jika ingin membicarakan sesuatu, anakku yang hampir tidak memiliki teman juga pasti akan senang dengan kedatangan mu."
"Ya, paman Gen. Aku pasti akan mampir lagi ke kediaman Liunis setelah ini, selanjutnya aku juga akan membawa beberapa kudapan untuk menemani. Oh ya, apa paman Gen bisa bermain catur?"
"Catur? Aku cukup ahli soal itu, sih."
"Heeh ... Begitukah? Kalau begitu kita bisa bermain dengan maksimal."
"Aku tidak akan menahan diri meskipun lawannya adalah anak-anak."
"Tentu saja, itulah yang aku cari."
Selagi nenek Liunis menyelesaikan persiapannya, aku menunggu bersama paman Gen di pagar depan dan membicarakan beberapa hal tentang penempatan catur.
Awalnya aku berniat langsung pulang tapi nenek itu menghentikan ku dengan membawakan beberapa manisan sebagai kudapan di jalan. Tidak ada satupun jalur untuk menolak.
Perlahan namun pasti, rona langit mulai berubah menjadi merah kekuningan, diikuti suara burung-burung yang kembali pada sarangnya. Bising dari serangga juga mulai terdengar.
Aku menghabiskan waktu cukup banyak di sini, meskipun awalnya berniat untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Bagaimanapun sudah lama aku tidak senyaman ini saat berbicara dengan seseorang, apa boleh buat, kan? Kira-kira seperti apa anak dari paman Gen, ya? Mungkin aku bisa berteman dengannya.
Membawa satu plastik penuh manisan pada tangan kananku, akhirnya aku pun kembali pada dataran rumput dimana merupakan titik tempatku berpisah dengan Wasa. Aku melihat ke arah langit dan sekeliling, lalu terasa sensasi pijakan pada bahuku.
"Saya pikir anda berniat untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Apakah hasilnya mengarah pada kemungkinan yang buruk?" ucap Wasa, tepat di samping telingaku.
Kurasa aku membuatnya merasakan kekhawatiran yang tidak perlu karena terlalu lama menyelesaikannya. Yah, melihat merpati yang kelewat serius sepertinya menjadi panik memang sedikit menyenangkan jadi mungkin aku akan membiarkannya seperti ini untuk sementara waktu.
"Aku akan membahasnya dengan semua anggota dari perkumpulan Frouya. Ayo kita pergi dari sini dan langsung menemui mereka."
"Baik!!"
Dengan Wasa yang terbang menjauh, mengambil wujud merpati raksasa sekali lagi, kami pun terbang menunju langit sore untuk kembali.
Melihat bulu putih Wasa yang memantulkan warna indah dari langit entah kenapa membuatku ingin memujinya. Tapi saat itu, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.
____________________________________
Setelah kembali pada tempat Frouya berkumpul, aku langsung duduk bersama Rune yang berada di pusat Roh yang mengelilingi kami. Menjelaskan setiap situasi yang terjadi dan tentang apa yang harus kita lakukan setelah ini untuk menyelesaikannya.
Setiap Roh mendengarkan penjelasan ku dengan perhatian penuh. Ada beberapa pertanyaan yang mereka ajukan di tengah-tengah dan aku menjawabnya, kemudian mereka membalas dengan anggukan paham yang nyaman untuk dilihat.
Jika memikirkannya lebih detail lagi, bukankah mereka memanglah kumpulan Roh baik dengan suasana yang cukup bersahabat pada manusia? Aku harus memberikan beberapa evaluasi tentang ini.
Setelah menyelesaikan sesi penjelasan yang memakan waktu sekitar dua puluh menit itu, Rune akhirnya mengangkat tangan ... Tidak, kaki depan untuk pertama kalinya sejak aku sampai di sini. Dia menegaskan setiap poin-poin penjelasannya.
"Jadi pembasmi Roh itu sebenarnya adalah manusia biasa yang kebetulan memiliki kemampuan pembasmian Roh yang hebat dan nyatanya tidak bisa melihat keberadaan para Roh. Dan karena alasan kendi yang menyegel Roh kuat tanpa sengaja terbuka, dia mulai melakukan pemurnian di sekitar hutan dekat rumahnya dan memasang banyak perangkap di sana sini. Apakah begitu?"
Aku menjentikkan jari, melanjutkannya.
"Ya. Dan agar orang itu berhenti melakukan pemurnian membabi buta lagi di sekitar hutan kalian, aku menawarkan bantuan padanya dan menggantikan dirinya dalam mencari informasi tentang Roh itu dan membasminya jika memang diperlukan. Tentu saja tugas yang aku ingin untuk kalian lakukan adalah mencari informasi tentang Roh itu."
Menjentikkan jari sekali lagi, mengalirkan sedikit penekanan pada kalimat selanjutnya dan menarik lebih banyak perhatian.
"Jika mungkin, kalian bisa membasminya di tempat jika Roh itu memiliki kemungkinan untuk membahayakan keluarga dari orang itu lagi. Jika kalian tidak membasminya sendiri, maka panggil aku dan aku pasti segera datang."
"Dan semisal Roh itu bukanlah ancaman?"
"Hm? Kalau memang begitu biarkan saja dia, meskipun aku yakin kemungkinannya kecil. Itu adalah sesuatu yang sangat jelas, kan?"
"Rune, apa ada yang mengganggumu? Katakan saja, aku tidak akan keberatan."
"Tidak ada yang khusus sih, hanya saja ... Saya ingin menanyakan ini. Tuan Aciel, apa hanya itu saja yang ingin anda sampaikan?"
....
"Ya, hanya itu saja."
Rune menajamkan tatapannya ke arahku, kemudian memejamkannya kembali dan mengangguk.
"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu kami akan menerima tugas untuk mengawasi area sekitar rumah anak pembasmi Roh itu dan mencari di sekeliling hutan terdekat, terkait keberadaan dari Roh yang kabur itu. Meskipun ada juga kemungkinan jika Roh itu sudah pergi cukup jauh."
"Ya, kemungkinan itu pastinya ada. Untuk ciri Rohnya sendiri memiliki wujud seekor Rusa dengan tinggi tiga meter, dilapisi oleh bulu berwarna putih dan tanduk kebiruan. Dari ukurannya sepertinya Roh itu termasuk ke Tingkat Menengah."
"Ya, kami akan berhati-hati."
Tepat di saat itu, sebuah siluet dari sesuatu yang ada di langit menutupi sedikit jarak pandang ku. Saat aku melihat ke atas untuk memastikannya, seekor harimau raksasa dengan bulu hitam bergaris hijau berlari turun ke arah kami dengan langkah yang curam.
Harimau itu menapak pada tanah, menciptakan sedikit gelombang angin.
"Master, kenapa kau ke sini?"
Harimau itu mendekatkan wajahnya yang menakutkan padaku dan mendengus, dia melihat ke arah Roh lain yang memasang raut waspada. Master hanya mengabaikan mereka dan mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Bocah bodoh, aku berusaha untuk mencarimu karena kau pulang terlambat tapi situasi seperti apa yang ada di sini? Cepat jelaskan padaku."
"Kesampingkan itu dulu Master, langit sudah mulai gelap jadi ayo kita kembali lebih dulu. Aku akan menjelaskannya di perjalanan."
"Hah? Jelaskan padaku sekarang."
Aku mengabaikan Master dan berlari mengambil tas lalu melompat pada punggungnya.
"Baiklah. Untuk sisanya akan aku serahkan padamu, Rune. Lalu untuk Wasa, terimakasih atas tunggangannya hari ini."
"Ah, ya. Saya akan mengatasinya." jawab Rune tergagap, tatapannya masih terpaku pada sosok Master yang besar.
"Tidak, itu sudah tugas saya." Wasa menundukkan kepalanya sedikit, dia juga tampaknya beberapa kali mencuri pandang menuju Master.
Aku memeluk bulu Master yang lembut dan harum, lalu menunjuk pada langit di kejauhan.
"Baiklah, Master!! Ayo kita pergi!!"
"Tsk!!, Dasar bocah, selalu saja seenaknya sendiri."
Master mencambuk ekornya pada permukaan rumput dan melompat, berlari memanjat pada langit. Dengan angin kuat yang menembus setiap pori-pori kulit, aku mengambil jalan pintas untuk pulang.
Di tengah perjalanan, aku teringat akan sesuatu.
"Oh ya Master, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah mungkin bagi seseorang yang memiliki kemampuan Spiritual kuat tapi tidak bisa melihat para Roh?"
"Hm? itu mungkin saja. Energi Spiritual bisa didapatkan dari dua hal, pada sebuah kelahiran dan latihan keras. Mereka yang mengasahnya melalui latihan cenderung tidak memiliki kemampuan untuk melihat para Roh, meskipun Energi yang ada pada tubuh mereka cukup besar."
"Ohh ... Jadi begitu, ya? Entah mengapa itu terlihat sedikit rumit."
"Itu terlihat rumit karena kau adalah anak yang bodoh. Kesampingkan itu, bagi mereka yang memiliki Energi Spiritual dari kelahiran juga terdapat beberapa tingkatan tertentu. Semua orang memiliki kapasitasnya masing-masing, itulah yang disebut sebagai bakat. Dan bakat diberikan pada manusia agar mereka dapat memenuhi peran mereka."
"Hmmm .... Jadi begitu. Lalu dengan semua yang aku miliki ini, kira-kira peran seperti apa yang aku miliki dan akan aku pilih nantinya, ya? Apa Master tahu?"
Master hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan ku.
"Master? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Hm? Tidak, bukan apa-apa. Oh ya tentang sesuatu yang sudah aku janjikan untuk bicarakan padamu, kita akan melakukannya setelah menyelesaikan semua ini."
"Hm? Aku tidak masalah sih. Kenapa menundanya lagi?"
"Karena itu merepotkan."
"Huh? Apa maksud—Ugrhh?!"
Master pun mempercepat lajunya pada langit, tidak membiarkanku untuk mengatakan sesuatu lebih jauh.