
"Kelihatan!! Kita masih sempat!! Kalian berdua, aku akan berhenti!! Persiapkan diri kalian dengan baik!!" teriak Master, tercampur sedikit perasaan senang dan lega di dalamnya.
Tapi di kecepatan ini aku tidak terlalu bisa mendengar apa yang dikatakan Master dan hal itu membuatku sedikit lengah.
"Huh?! Gwahhh—!!"
Saat aku sedikit merenggangkan pegangan pada bulu dengan kebingungan, Master menghentikan laju cepatnya secara total, mengabaikan hukum alam yang tidak mengikat tubuh Rohnya.
Hal itu membuat manusia sepertiku yang memiliki massa dan terikat dengan hukum fisika, terlempar ke depan dan melesat jauh dengan kecepatan yang sangat mengerikan.
"Hwahhhh—!! Tuan Aciel!!"
Aku mendengar sebuah teriakan yang memanggil namaku di ujung daun telinga tapi semuanya sudah terlambat, aku tidak bisa melihat apapun selain putaran tidak jelas dengan kepalaku yang terasa sakit. Hanya masalah waktu sampai kesadaranku menghilang.
"Dasar, bukannya aku sudah memperingatkan untuk berhati-hati? Karena inilah aku tidak menyukai anak bodoh sepertimu. Kau benar-benar lengah."
"Urghh—?!"
Tapi sesuatu yang lembut dan kuat melilit perutku, bersama suara Master yang terdengar jengkel. Disaat yang bersamaan, pusaran di sekitar pandanganku berhenti meskipun rasa sakit yang sangat kuat masih tertempel pada kepalaku.
"Tuan Aciel!! Apa anda baik-baik saja?!"
Sialan, jangan berteriak. Kepalaku sangat sakit saat ini jadi kumohon jangan berteriak. Ya ampun, itu tadi sangatlah berbahaya. Aku benar-benar berpikir akan mati, cukup menakutkan.
"Hwehehehehe"
"Tch!! Belalang, urus bocah gila yang mulai tertawa sendiri dengan wajah bodohnya ini. Aku akan menangani sisanya dan kembali bersama Huflu sialan itu jadi cecunguk seperti kalian tunggu saja di sini. Lagipula kalian hanya akan mengganggu."
"Sa-Saya mengerti, apakah anda baik-baik saja dengan itu?"
"Hah?, Apa maksudmu dengan menanyakan hal itu? Apa kau pikir aku akan kalah dari beruang bodoh itu? Belalang, ketahui tempatmu."
"Ah! Maafkan saya!! Saya tidak bermaksud seperti itu!!"
"Kalau begitu tutup mulutmu dan jaga bocah bodoh ini. Aku akan segera kembali."
"Baik!!"
Aku merasakan sensasi lembut menyentuh punggungku, dengan bau dedaunan yang menggelitik hidung. Apa aku terbaring di atas rumput? Ah sial, kepalaku sangat sakit. Pandanganku kabur, tampaknya Master akan pergi ke suatu tempat.
Kemana? Apa dia akan meninggalkanku? Kenapa dia pergi sendiri? Apa kita berencana untuk melakukan sesuatu?
Ah, benar. Kita berusaha untuk mencari Huflu bersama belalang lemah dengan tubuhnya yang kekurangan gizi itu. Apa yang terjadi setelahnya? Apa kita sudah menyelesaikan semuanya? Tidak, kita belum melakukannya.
Ini gawat.
Kepalaku tidak bisa memproses informasinya dengan runtut karena rasa sakit ini.
bagaimana ini? Aku harus melakukan sesuatu ... Sesuatu ... Apa itu? Benar, aku harus membantu Master untuk melakukan tugasnya.
Aku tidak akan membiarkannya melakukan semua hal sendirian dan meninggalkanku begitu saja. Sialan, berani-beraninya kucing itu melemparkan tubuhku begitu saja dari punggungnya.
Aku akan menyusulnya.
Tapi bagaimana?
"Urghh—?!"
Tubuhku tidak mau mendengarkan perintahku.
"Tuan Aciel, semuanya akan baik-baik saja. Anda bisa tidur sebentar. Mari kita serahkan sisanya pada Tuan Leore, beliau pasti akan menyelesaikannya dengan cepat dan membawa Huflu itu."
Aku mendengar sebuah suara, itu suara Beida. Pandangan pada mataku masih tidak begitu jelas tapi aku tahu dari bayangannya.
Wajahnya sangat dekat, sampai hampir memenuhi hidang penglihatan ku. Apa yang belalang ini inginkan? Wajahnya terlalu dekat!!
"Burgh—?!!"
Aku menamparnya secara reflek. Entah kenapa terasa cukup menakutkan.
Itu karena kau terlalu dekat dengan wajahku, bodoh. Aku berpikir jika kau akan memberikan sebuah ciuman, terdengar sedikit mengerikan.
Tapi, benar juga. Mungkin aku bisa menyerahkannya pada Master kali ini. Lagipula kucing itu yang memulainya, aku akan menunggu ya dengan tenang sampai dia kembali.
____________________________________
Pada sebuah dataran terjal berisi batuan batuan berlumut dengan sebuah sumur pada bagian tengahnya, terdapat Beruang putih yang memiliki tinggi empat meter. Memegang sesuatu yang bercahaya keemasan pada keempat tangannya.
Menyebutnya sebagai tangan sedikit aneh, karena sebenarnya itu adalah sebuah kaki depan yang berjumlah empat.
Tapi disaat yang sama itu adalah hal tepat untuk menyebutnya sebagai sebuah tangan karena beruang itu bisa berdiri tegak menggunakan sisa dua kaki belakangnya.
Beruang putih itu menoleh pada belakangnya. Menyadari sebuah kehadiran yang berjalan mendekatinya secara perlahan tanpa sebuah suara.
Menyadari siapa itu, membuat beruang itu mendengus dengan sudut mulutnya yang sedikit naik. Meskipun apa yang sebenarnya dia rasakan adalah kejengkelan karena diganggu.
"Apaan? Kau juga mau merebut Huflu ini sama seperti yang dilakukan ular sialan itu? Sayang sekali tapi aku sudah mendapatkannya."
"Sudah mendapatkannya, kau bilang? Tidak, tidak. Jika kau memang sudah mendapatkannya, maka aku hanya perlu merebutnya kembali darimu, kan? Lagipula aku juga tidak terlalu peduli."
Menghentikan kakinya, memisahkan jaraknya dari beruang itu sejauh lima puluh meter. Leore menaikkan sudut mulutnya untuk mengejek dan memberikan sedikit aura intimidasi.
Tentu saja selain ekspresi mengejek yang dia keluarkan itu, semuanya tidaklah begitu efektif pada Hjorn si beruang putih.
Dan Leore memahami betul hal itu. Keduanya memakai wujud kedua saat ini, membuat tubuh mereka memiliki ukuran yang jauh lebih kecil. Tapi tidak ada yang keberatan dengannya.
Hjorn melihat ke arah lain, sekaligus mengamati beberapa bagian pada Leore.
"Dimana dua cecunguk yang kau bawa itu? Aku tidak melihat mereka."
"Huh? Kau tidak perlu mempedulikan hal kecil seperti itu, kan? Lagipula ada atau tidaknya mereka tidak akan mempengaruhi apapun. Mereka tidak ada disini, kau tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Aku tidak mengkhawatirkannya, hanya memastikan saja. Kesampingkan itu, aku juga tidak melihat Vips sedari tadi, meskipun dia sudah berbicara besar tentang merebut Huflu terakhir ini. Apa kau melakukan sesuatu pada ular itu?"
Hjorn melemparkan Huflu ke belakangnya, atau lebih tepatnya menjauhkannya. Menyiapkan beberapa hal yang mungkin saja bisa terjadi. Dan saat dirinya melakukan itu, pandangan Leore sedikit bergerak untuk memastikan arah Huflu itu terjatuh.
Keduanya sudah mengeluarkan sedikit dari aura yang mereka punya. Meskipun tidaklah serius, pertarungan daei dua Roh tingkat tinggi tentunya akan melibatkan cakupan area yang luas.
Karena itu saat ini pada hutan dan pegunungan di sekitar keduanya, terjadi sedikit kekacauan karena aura yang mereka berdua keluarkan membuat para Roh lebih rendah menjadi panik dan kebingungan.
Tidak ada yang ingin terlibat dalam kekacauan yang akan dua Roh tingkat tinggi ini buat sebentar lagi dan semua Roh di area sekitar pun menjauh.
"Ular? Ah, ular pemalu dan sensitif yang memakai kain untuk menutupi matanya itu, ya? Dia menghalangiku jadi aku menyingkirkannya. Dia sedang tidur di hutan lannya saat ini. Apa kau mengkhawatirkannya?"
"Tidak, bukannya aku sudah bilang sebelumnya? Aku hanya memastikannya. Baiklah, kalau begitu apa kita bisa langsung memulainya?"
"Secara pribadi aku ingin menyelesaikannya secepat dan seaman mungkin sih. Hjorn, apa kau bisa menyerahkannya saja padaku? Lagipula kau juga sudah memiliki enam Huflu lainnya, kan?"
"Tidak tidak, aku tidak akan pernah puas. Karena itu aku juga tidak akan memberimu apa-apa jika kau tidak bisa mendapatkannya sendiri. Kau juga paham, kan? Satu-satunya pilihan adalah menghadapi ku."
Leore menghela napas dengan pelan.
"Baiklah, aku mengerti."
Aura keduanya bertambah kuat dan menyebar pada sekitar, saling bertabrakan dan menelan satu sama lainnya.
Bagi keduanya hal seperti ini adalah sesuatu yang kecil tapi tidak bagi penduduk hutan, setidaknya bagi mereka itu adalah tanda dimulainya pertempuran.
Leore menurunkan sudut mulutnya, sedikit menajamkan pandangannya pada Hjorn yang ada di depannya dan menurunkan postur tubuhnya.
"Kita hanya akan mengeluarkan 5%, kau mengerti? Mereka yang melanggarnya berarti kalah."
Hjorn mendengus, dengan menurunkan posturnya layaknya seekor beruang normal.
"Aku mengerti, ayo cepat mulai saja."
Dengan itu sebagai permulaan, sebuah cahaya berwarna kebiruan pun bersinar sangat terang, diikuti suara mendesis yang menyebar dengan sangat cepat dan menelan semua hal di sekitarnya.