
Setelah aku dan Mona meninggalkan taman, aku baru teringat dua hal penting yang menjadi tujuan utama kenapa aku keluar meskipun tubuhku sedang dalam kondisi kelelahan yang cukup besar saat ini.
Tujuan pertama adalah jalan-jalan untuk menguruskan kucing hitam itu dan tujuan kedua adalah membeli beberapa bakpao daging setelah kami lelah berkeliling dan memakannya bersama.
Tapi kucing hitam yang menjadi pusat dari kedua alasan itu sudah menghilang sekarang. hal ini mulai membuatku sangat kesal karena pemikiran dimana kegiatan kali ini berakhir sia-sia. Bahkan aku juga baru tahu jika kucing itu tidak bertambah berat.
Tapi fakta dimana aku merasa lapar sekarang adalah kebenaran dan hal itu membuat perutku mulai bernyanyi cukup keras, hingga titik dimana telinga Mona menangkap suaranya.
"Aciel, kamu lapar? Apa kita mampir lebih dulu ke kafe untuk membeli beberapa camilan?"
Mona menunjuk beberapa toko di sisi lain jalan, menarik tanganku. Anak ini ... Dia benar-benar berani dengan kepribadiannya yang sekarang, tapi kurasa aku sudah mulai terbiasa dengannya.
Meskipun dia seperti seorang gadis yang tidak tahu apa itu ruang pribadi dan terus berjalan di sampingku dengan jarak beberapa inci. Aku harap dia bisa sedikit menjauh atau orang-orang akan salah paham.
"Ah tidak, aku akan menahannya sampai rumah saja. Lebih baik kita segera pulang, ada beberapa hal yang akan aku lakukan juga di rumah."
"Aku mengerti, jangan memaksakan diri."
Oh? Kupikir dia akan sedikit memaksaku tapi tampaknya tidak begitu. Dia menyerah terlalu mudah, baru sesaat yang lalu aku mengatakan jika sudah mulai memahaminya tapi sepertinya aku harus menarik kata-kata itu.
"Ya, terimakasih atas perhatiannya."
Disaat aku mulai berpikir jika kami akan berjalan dengan tenang, masalah lain datang. Itu berbentuk seekor kucing hitam yang muncul dari semak-semak di depan kami dengan kupu-kupu di mulutnya.
"Hm? Kucing siapa ini?"
Kami menghentikan langkah, Mona pun mendekati kucing itu dan berjongkok, menggaruk leher kucing hitam yang menggigit kupu-kupu pada mulutnya. Kucing itu terlihat sangat menikmatinya.
"Hm?"
Di saat aku mengamati keduanya, aku menyadari jika tali di leher Master sudah menghilang. Aku pun langsung mendekatinya dan mencengkeram kepala kucing sialan ini lalu mengangkatnya.
"Meow?!"
"Aciel, apa yang kamu lakukan?!"
Mengabaikan suara panik yang Mona keluarkan, aku menatap lurus pada mata kucing itu. Kucing hitam itu tampaknya menyadari apa maksudku dan dengan tatapannya yang masam, dia memalingkan wajahnya ke arah lain dan menelan kupu-kupu di mulutnya.
"Master, kau menghilangkan talinya, kan?"
"Meow?"
Kucing hitam itu memasang wajah bodoh, memiringkan kepalanya dan memasang ekspresi memelas. Apa dia benar-benar berpikir hal remeh seperti itu akan mempan terhadapku?
"Begitukah? Aku sangat paham dengan itu. Kalau begitu rasakan ini!!"
"Meow?!"
Aku segera menaruh kucing hitam itu pada jalanan dan menggelitiknya. Kucing itu memberontak tapi tentunya dia tidak akan bisa melepaskan dirinya dengan wujud yang dia gunakan saat ini.
Sampai akhirnya Mona memegang kedua tanganku dan mengambil kucing itu, dia memeluknya selagi menjauhkannya dariku.
"Mona, apa yang kau lakukan?"
"Aciel, aku tahu kamu sangat menyukai kucing tapi jangan terlalu berlebihan. Kucing hitam ini terlihat tidak nyaman saat kamu menggelitiknya."
"Tidak, itu bukan berarti jika aku menyukainya. Malahan, yang terjadi benar-benar sebaliknya dan aku sangat kesal dengannya sekarang. Mona, berikan dia padaku, aku akan memastikan kucing itu memahami posisi dimana dia berdiri saat ini."
Aku mencoba untuk mengambil kembali kucing itu tapi Mona menghindarinya.
Sampai kapan kau akan berpura-pura menjadi seekor kucing?!
"Mona, berikan kucing bodoh itu padaku."
"Aciel!!, Menjauhlah!! Tanganmu menakutkan!!"
Kami pun langsung melakukan permainan perebutan dan tentunya hal itu menghabiskan cukup banyak waktu, posisi matahari sudah mulai mendekati batasnya dan langit pun menjadi semakin gelap.
Aku yang terlalu lelah untuk melanjutkannya, memilih beristirahat dan Mona menyarankan agar kami mampir ke sebuah toko yang dia rekomendasikan. Tapi saat aku datang ke toko itu, sayangnya itu adalah tempat yang paling tidak ingin aku masuki saat ini.
Itu toko dimana kami biasa membeli bakpao daging.
Tapi disaat aku menolak untuk masuk, Mona malah memaksaku lebih jauh. Gadis ini, dia sebelumnya menyerah dengan cukup mudah tapi saat ini reaksinya benar-benar berbeda.
Aku memang tidak memahaminya. Karena itulah diriku yang kehabisan tenaga memilih untuk tidak melawan dan mengikutinya. Selagi Mona memesan beberapa menu, aku mencari sebuah tempat duduk.
Tempat duduk yang aku pilih terletak di bagian depan, bertempat di dekat jendela dengan jarak terdekat dari jalan para pejalan kaki. Pemandangan yang terlihat cukup jelas dari sini.
Jika ditanya alasan kenapa aku memilih tempat duduk ini, tentunya itu karena aku bisa melihat kucing hitam yang menatapku dari luar di balik jendela. Kucing itu menatapku dengan iri.
Toko bakpao daging ini tidak mengijinkan hewan masuk, karena itu aku biasanya memilih untuk memesan dan membawanya pulang tapi karena ada Mona di sini, aku tidak bisa melakukannya.
"Maaf Master, tapi kau harus menunggu."
Bukan berarti aku tidak ingin Master memakan bakpao daging, tapi aku tidak bisa. Aku akan membelikannya nanti jadi untuk saat ini Master hanya bisa duduk diam diluar selagi melihat kami menikmati bakpao daging di dalam ruangan yang hangat.
Ya, ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena itu aku tidak harus merasa bersalah.
"Aciel, ini bakpao mu. Aku membelikan dua yang berisi kacang merah dan selai stroberi."
"Oh, terimakasih."
Aku mengambil dua bakpao dengan uap yang mengepul dari Mona. Dia segera duduk di sampingku, kami membukanya bersama dan memakannya. Aku sangat menikmati rasa dari bakpao ini.
Dan saat aku menoleh pada jendela untuk melihat kucing hitam di luar sana demi meningkatkan rasa dari bakpao ini, apa yang aku lihat di sana sangat bertentangan dengan ekspetasi ku.
"Mona, apa kau yang memberikan kucing itu Bakpaonya?"
"Ya, dia terlihat lapar jadi aku membelikannya dua bakpao juga."
"Begitu, ya ... Kau membelikannya bakpao dengan isi apa?"
"Hm? Karena itu untuk kucing jadi aku mencari jalan aman dan memilih bakpao daging. Memangnya kenapa dengan itu?"
"Aku mengerti. Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya penasaran jika seekor kucing bisa memakan bakpao dan sedikit terkejut untuk itu."
"Yah, karena aku memberikannya yang isi daging jadi dia pasti menyukainya."
"Ya, dia memakannya dengan sangat lahap."
Yah, ini tidak terlalu buruk.
Entah kenapa, melihatnya memakan semua bakpao itu dengan sangat lahap juga membuat rasa dari bakpao yang aku pegang menjadi cukup enak. Pada akhirnya tujuan aku melihatnya tetaplah sama.
Mungkin aku harus membelikannya beberapa bakpao lagi saat pulang nanti.