ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.12 : MEMBINGUNGKAN & SEDIKIT GAWAT



Besoknya, aku mengambil absen sekolah seperti biasanya dan memperhatikan pelajaran yang berjalan pada kelas.


Tak terasa, bel istirahat pun berbunyi, menandakan waktu istirahat yang datang. Tak menunggu apapun, aku langsung pergi dari kelas.


Setelah melalui keramaian pada kantin yang diisi penuh oleh para murid yang kelaparan, akhirnya aku berhasil mendapatkan beberapa roti daging favorit dengan susu yang diincar banyak anak lainnya.


Dengan mood baik, aku langsung membawa keduanya pada belakang gedung sekolah dan memakannya selagi melihat tumpukan sampah yang terbakar di depanku.


"Hah ..."


Aku pikir ini akan menjadi keseharian sekolah yang biasanya tapi sepertinya tidak begitu. Sejak keluar dari kantin, aku sudah diikuti oleh seseorang.


Dia juga mengawasi ku dengan gigih dari sisi dinding lain gedung saat ini. Apa yang dia inginkan?


Tatapan kuatnya benar-benar terasa, ini seperti ada seseorang yang menusuk punggungku dengan sebuah jarum kecil berkali-kali. Ada cukup banyak Roh yang mengikuti ku dari kecil, hal itu membuatku sedikit peka dengan lingkungan sekitar.


Terlebih, yang melakukannya saat ini hanyalah pemula yang bahkan tidak bisa menyembunyikan dirinya dengan baik. Aku bisa melihat rambutnya dari sini, apa dia benar-benar berniat sembunyi?


Seorang gadis dengan rambut berwarna hitam kemerahan, menggunakan kacamata bulat dan memiliki tubuh yang sedikit ramping dan tinggi. Aku sudah mendapatkan ciri-cirinya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh rambut gel itu.


Jadi si gel itu tidak berbohong, ya? Aku akan meminta maaf padanya nanti. Untuk gadis kacamata itu, mungkin aku akan mengurusnya setelah masalah dengan Roh Paman Gen itu selesai.


Tidak lama, bel yang menandakan habisnya istirahat pun berbunyi. Gadis itu juga ikut menghilang setelahnya, sebenarnya apa yang dia inginkan? Apa dia berniat menjahiliku? Aku tidak paham.


Para Gadis memang membingungkan, percuma untuk berusaha memahami mereka.


____________________________________


Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu untuk pulang. Aku segera berlari untuk kembali dan melewati gerbang.


Di saat itu, seekor merpati langsung hinggap pada salah satu bahuku, merpati itu pun mengarahkan paruh kecilnya pada telingaku.


"Tuan Aciel, kami sudah menemukan Roh dengan ciri yang anda sebutkan. Mohon untuk menuju ke tempat dengan sedikit orang, saya akan langsung membawa anda ke sana."


"Aku mengerti. Wasa, apa kau bisa meminta Roh lain untuk menghampiri Master yang ada di rumahku? Master adalah asuransi untuk mengantisipasi adanya kemungkinan terburuk."


"Saya mengerti. Kalau begitu selagi anda mencari tempat yang sepi, saya akan segera menyampaikan hal ini pada Roh lainnya. Anda hanya perlu menunggu dua menit, saya akan segera kembali."


"Oke, cepatlah."


Wasa terbang pada langit, merubah wujudnya menjadi merpati raksasa dan melesat dengan kecepatan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sungguh, kenapa dia tidak memiliki wujud elang saja? Wujud Merpati itu menahan pesona yang dia miliki.


Aku pun segera berlari dan menghampiri sebuah gedung yang masih dalam proses pembangunan. Sayangnya pembangunannya masih tertunda dan membuatnya menjadi sebuah bangunan kosong tanpa adanya satupun orang sama sekali di sini.


Seharusnya ini tempat yang pas.


Tidak lama kemudian, Wasa dengan wujud besarnya datang.


"Kau terlambat satu menit."


"Maafkan saya, itu membutuhkan sedikit waktu untuk mencari Roh cukup cerdas yang dapat dititipi sebuah pesan. Kalau begitu silahkan naik ke punggung saya, kita akan meluncur."


Aku segera melompat menuju belakang leher Wasa dan memegang bulunya dengan erat.


"Oke, aku sudah siap."


"Baik, saya akan memulainya."


Wasa mengepakkan kedua sayapnya.


Meninggalkan gelombang angin kuat dan kepulan debu yang cukup tebal, kami akhirnya meluncur dengan momentum yang tinggi pada langit.


Kecepatan ini membuatku sedikit sulit untuk membuka mata, tapi masih baik-baik saja.


"Wasa!! Jelaskan detail situasinya selagi kita meluncur ke sana!!"


"Ya!! Roh itu ditemukan beristirahat di dalam sebuah gua pada tebing untuk memulihkan kekuatannya. Dari informasi mereka yang melihatnya, tubuhnya terlihat terluka cukup berat. Mungkin itu adalah luka yang sudah ada sejak lama, disebabkan saat dia sebelum disegel dengan kendi oleh pembasmi Roh itu."


"Begitu rupanya, aku paham!! Meskipun begitu aku cukup kaget kalian bisa menemukannya secepat ini!! Bagaimana kalian melakukannya?!"


Wasa sedikit menundukkan kepala burungnya, membawa Ekspresi pahit tanpa memalingkan pandangannya dari depan.


Aku menepuk leher Wasa dengan sedikit keras, untuk menarik perhatiannya.


"Tuan Aciel?"


"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku sudah mengerti, kau tidak perlu melanjutkannya lagi. Untuk sekarang fokus saja sampai di sana secepat mungkin."


"Baik!! Serahkan saja pada saya!!"


Wasa merapatkan posturnya lebih dalam dan kecepatan terbangnya pun dengan perlahan, mulai bertambah dan melesat lebih cepat.


Hanya butuh beberapa menit sampai kami tiba pada area hutan dan pegunungan, melihat sebuah dataran berumput, Wasa pun mendaratkan dirinya di sana. Aku segera melompat ke bawah dengan Wasa yang merubah dirinya menjadi merpati kecil.


"Saya akan menuntun anda menuju tempatnya, silahkan mengikuti saya."


"Oke~"


Melewati beberapa pohon, menembus semak-semak dan menghindari akar-akar besar yang menonjol pada tanah, akhirnya aku sampai pada sebuah tebing yang sangat tinggi di depanku. Pada bagian tengah tebing itu, terdapat sebuah lubang.


"Dia berada di sana. Tolong berhati-hatilah, tidak ada yang tahu kapan dia akan menyerang anda. Karena temperamennya yang tidak teratur, serangan yang dia lakukan pun cenderung lebih ganas."


"Ya, kau tidak perlu khawatir."


Wasa merubah bentuknya menjadi besar kembali, memposisikan dirinya di depanku.


Dengan langkah perlahan, kami berjalan. Menuju sebuah gua dimana ada sedikit jejak Energi Spiritual yang cukup pekat mengarah ke dalamnya.


Aliran berwarna merah kehijauan yang mengarah ke dalam gua, Roh itu memang ada di sana.


Baiklah, apa mengutus Wasa sendirian saja sudah cukup untuk mengatasinya? Menunggu datangnya Master menjadi pilihan yang lebih baik.


"Oh ya Wasa, aku lupa menanyakan ini. Apa kalian sudah memastikan Tingkat berapa Roh itu—Gurgh!!!"


Hanya butuh sesaat, tanpa aku menyadarinya.


"Tuan Aciel!!"


Dalam waktu yang sangatlah singkat, sesuatu menyerang tubuhku. Membuatku terjatuh pada tanah, pemandangan pada mataku yang tiba-tiba berubah masih belum bisa diproses otakku.


Apa ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?


Aku menggerakkan tanganku, menyentuh salah satu bagian tubuhku dimana itu paling terasa sangat kosong saat ini. Tepat pada bagian dada kanan, tangan kiri ku menyentuhnya.


Sensasi ini, sebuah air? Apa ada yang menyiram dadaku dengan air? Tidak, bukan itu.


Aku mengangkat tanganku diatas wajah, menampakkan pemandangan di baliknya.


Merah, tangan kiri yang aku tempatkan pada dadaku sebelumnya menjadi berwarna merah. Sebuah darah, menetes dari tanganku menuju wajah.


Baunya sangat menyengat.


Sudah berkali-kali aku melihat darahku, tapi semuanya tidak pernah mencapai jumlah sebanyak ini. Kalau begitu keadaan dada kiri milikku sekarang ...


"Tuan Aciel!! Bertahanlah!!!"


Sial, aku membuat Roh dengan kepribadian serius seperti Wasa memasang ekspresi panik yang terlalu berlebihan seperti itu.


Mungkin ini benar-benar gawat, ya kan?


"Gurghh!!"


"Tuan Aciel!!"


"Oi Merpati sialan!! Jelaskan situasinya padaku!!! Apa yang terjadi dengan bocah bodoh ini?!"


Master? Kau terlihat sangat marah.


Kenapa?


—Dan dengan begitu, kesadaranku pun hilang sepenuhnya.