
Kami sampai pada Kafe yang aku rekomendasikan, duduk pada salah satu meja di pinggir ruangan untuk menghindari keramaian dan memesan minuman serta camilan. Setelah pelayan mengantarkan semuanya, kak Ren memulainya.
Dia menaruh sikunya pada meja lalu mengatupkan kedua tangannya, menutupi mulutnya dan menatap lurus padaku. Itu tampak seperti pose seorang komandan tertinggi dari tentara nasional.
Meskipun begitu, Roh gadis dengan pakaian pelayan di sampingnya menghancurkan gambaran itu. Gadis itu hanya diam dan melihat ke luar jendela, lebih baik untuk diriku mengabaikannya.
"Baiklah, Aciel. Aku memang mengatakan jika penolakan yang kau berikan atas tawaran itu adalah sesuatu yang wajar tapi aku pikir kau masih sedikit terburu-buru tentang itu. Karena itu aku ingin agar kau memikirkannya kembali setelah mendapatkan beberapa pengalaman langsung sebagai pembasmi Roh."
Aku mengambil gelas teh selagi mendengarkan penjelasannya, meminumnya dan menaruhnya kembali pada meja. Mengetuk meja beberapa kali dengan jariku dan melihat pada kak Ren.
Tatapan kami bertemu satu sama lain.
"Apa itu adalah sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku sekarang?"
"Tidak, ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan itu. Kebetulan aku memiliki sebuah pekerjaan tentang pembasmian yang harus diselesaikan, aku ingin agar kau melihatnya dari dekat dan mempelajari semuanya sendiri. Kemudian untuk keputusan apapun yang akan kau buat, aku akan menerimanya."
Dengan kata lain, orang ini memintaku untuk magang dengannya selama sesaat, ya? Melihat semuanya dari dekat dan membuat keputusan ulang, aku tidak berpikir akan berubah pikiran semudah itu.
"Kak Ren, kenapa kau harus sejauh ini? Setelah tahu itu, apa yang aku rasakan darimu sekarang hanyalah kecurigaan yang kuat. Aku tidak bisa menemukan satu alasan pun bagimu untuk melakukannya."
"Alasan, ya? Fakta bahwa kau memiliki Energi Spiritual cukup besar dan kepribadian yang menarik adalah sesuatu yang aku nilai tinggi tapi lebih dari semua itu, aku berharap agar setidaknya kau tahu dimana tempat kau berdiri saat ini."
"Tempat dimana aku berdiri? Apa maksudmu?"
"Aciel. Daripada manusia, aku merasa jika kau lebih condong kepada para Roh. Dan tentunya, itu bukanlah sesuatu yang baik. Roh adalah keberadaan yang merepotkan dan selalu menyebabkan banyak masalah dimanapun mereka berada. Aku ingin agar kau menyadari hal itu dan menentukan pilihan untuk dirimu sendiri."
Orang ini, dia mengatakan sesuatu yang kejam seperti itu tepat di samping Roh pelayannya, di sisi lain Roh itu juga sama sekali tidak terganggu. Jadi begitu, keduanya sudah saling memahami, ya?
Tapi ini membuatku sedikit tidak senang, bagaimana bisa orang ini menyimpulkan begitu saja jika aku memihak para Roh? Seenaknya memutuskan meskipun aku tidak benar-benar berpikir seperti itu.
Apa yang aku pihak memang bukanlah manusia ataupun Roh, sejak awal yang aku inginkan hanyalah kehidupan tenang dan menjauhkan semua masalah. Jadi untuk masalah memihak seperti ini, aku tidak terlalu condong pada satu sisi.
Jika mereka menggangguku, maka aku akan melawannya. Dan jika mereka mengulurkan tangannya padaku, maka aku akan membalasnya. Tidak peduli Roh ataupun manusia, di mataku keduanya sama aja. Kedua pihak memiliki sisi negatif & positif masing-masing. Itu adalah sesuatu yang wajar.
Karena itulah, aku tidak begitu peduli. Tapi tentunya aku tidak bisa mengatakan semua ini padanya. Lagipula pria ini pasti tidak akan mengerti.
Setidaknya itulah yang aku rasakan padanya.
"Jadi, rencana seperti apa yang sudah kau siapkan untuk membuatku berpikir jika Roh adalah keberadaan yang mengganggu?"
Aku mengatakannya dengan senyum tipis, yang dibalas olehnya dengan senyum lainnya. Ini membuatku kesal sendiri karena orang ini sama sekali tidak terpengaruh provokasi itu.
Disisi lain, gadis pelayan itulah yang terpancing. Ekspresi pada wajahnya sudah mulai berubah, dengan kedua matanya yang melotot padaku, bersama beberapa urat pada wajahnya bermunculan.
Menakutkan.
"Aku hanya ingin agar kau membantu pekerjaanku sekali ini saja. Tenang saja, aku tidak merencanakan sesuatu yang buruk padamu."
Aku tahu seharusnya berhenti untuk memberinya provokasi lebih dari ini tapi bagaimanapun, aku tidak bisa menahannya lagi.
Setelah meminum teh pada gelas sampai habis, aku menatap kak Ren dan tersenyum sekali lagi, mencoba untuk memancingnya.
"Begitukah? Sayangnya aku tidak terlalu yakin dengan itu."
Tapi ekspresi pria ini sama sekali tidak berubah dan masih tersenyum padaku. Sedangkan yang terpancing adalah Roh di sampingnya.
"Bocah manusia, aku mencoba untuk menahan diri tapi kau terus saja melontarkan hinaan itu pada tuanku. Tidak bisa dimaafkan! Aku akan memberimu pelajaran dan sesali karena sudah menghina tuanku!!"
Rambut gadis itu memanjang, mencapai tubuhku tapi aku langsung menghalanginya dengan tanganku, membuat keduanya terlilit dengan kencang dan rambut itu pun menarik tubuhku.
"Urghh—!!"
Karena tidak kuat menahan tenaga yang menarik tubuhku, membuatku jatuh pada meja dan menyenggol gelas kosong, lalu memecahkannya. Kemudian seorang pelayan datang untuk memastikan situasinya.
"Tuan, apakah ada masalah?"
"Ah tidak ada, temanku hanya kekurangan tidur dan ambruk di atas meja. Maaf tapi bisakah kamu ambilkan sebuah kain untuk membersihkan mejanya?"
"Ah, baik! Saya segera kembali."
Kak Ren mengatasinya dengan baik, dan pelayan itu pun segera pergi.
Meskipun begitu, dia tidak melakukan apapun terhadap Roh pelayannya yang menyerangku dan hal itu membuatku lebih kesal dengannya. Setelah melihatku tersungkur pada meja selama beberapa saat, akhirnya dia menyentuh bahu Rohnya.
"Baiklah~ baiklah~ sudah cukup, jangan bertindak semaunya. Meskipun masih muda tapi dia tetaplah teman berharga yang aku punya. Lebih baik kita tidak kasar padanya."
"Yang kasar itu adalah kau."
Tapi tiba-tiba ada suara lain yang membalas perkataan dari Kak Ren. Dengan sedikit rasa amarah yang tercampur di dalamnya.
"Jangan seenaknya mengajak mangsaku untuk pergi bersamamu, dasar bocah."
Itu adalah Master, entah sejak kapan dia sudah ada di atas meja, menatap tajam pada kak Ren.
"Arrghh—!!"
Dan sesaat setelahnya, cahaya hijau yang sangat menyilaukan muncul dari tubuhnya dan memenuhi garis pandang mataku. Apa yang bisa aku tangkap adalah teriakan kesakitan dari gadis Roh dengan siluet bayangannya yang pergi menuju punggung kak Ren dan menghilang.
Dalam beberapa saat, pemandangan pada mataku kembali seperti semula dengan semua rambut yang telah melilit tubuhku menghilang. Hanya menyisakan rasa terkejut cukup besar yang tampak pada wajah kak Ren yang membeku.
"Aciel, mahluk apa yang ada di sampingmu itu?"
Tapi sebelum aku bisa menjawab pertanyaan yang dia berikan itu, seorang pelayan datang dengan kain lap pada tangannya dan tersenyum.
"Maaf, tuan. Tapi anda tidak diperbolehkan untuk membawa seekor kucing masuk ke dalam, sudah ada tanda peringatan pada pintu."
Karena banyaknya urutan kejadian yang terjadi dalam waktu singkat, membutuhkan sedikit usaha untuk otakku dapat mencerna semuanya.
"Urghh—!! Bocah bodoh, apa yang kau lakukan?!"
Aku langsung mengambil kucing hitam yang duduk santai di atas meja dan menundukkan kepala pada pelayan itu. Kemudian sedikit menoleh pada kak Ren dan berlari keluar.
"Ah, maafkan aku. Aku segera pergi! Kalau begitu kak Ren, aku akan menunggumu di depan."
"Oh ... Ya, aku mengerti."
Kak Ren mencoba untuk menghentikan langkahku tapi rasa terkejut yang masih tertinggal pada dirinya membuat suaranya tidak keluar maksimal. Aku pun menunggunya di depan Kafe selagi mengatakan banyak hal pada kucing hitam ini.