
Membuka mataku, yang terlihat pada pertama kali adalah langit berwarna kebiruan, dengan matahari yang ada pada puncaknya, tertutupi oleh awan tebal yang melewatinya.
Aku memiringkan tubuhku, melihat ke sekeliling. Aku masih ada di taman, tanpa ada seorangpun di dekatku. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kurasa tidak terlalu lama, ini masih siang hari.
Aku mengangkat tubuhku dengan perlahan, duduk dan mengambil botol minuman. Kalau tidak salah, aku diserang oleh Roh yang memiliki wujud seperti gurita cacat dan sepertinya ada seseorang yang menolongku.
Siapa yang sudah menolongku? Roh lain? Tidak, aku tidak bisa membayangkannya. Lalu apakah seorang manusia? Mereka yang bisa melihat para Roh sepertiku? Aku juga tidak yakin dengan itu, lagian aku tidak pernah menemui seorangpun seperti itu selama ini.
Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak pasti seperti itu, yang terpenting saat ini aku sudah lolos dari Roh gurita bodoh itu. Dia benar-benar berniat memakanku, itu sangat berbahaya.
Aku mengambil jam di dalam tasku, melihat jarum yang menunjuk pada angka satu.
"Mungkin aku akan bersantai di taman ini lebih lama lagi. Masih ada banyak waktu tersisa sampai sore hari datang, aku akan pulang saat taman sudah ramai dengan anak-anak lain."
Aku menaruh kembali jam pada tas kecilku dan berniat untuk melanjutkan permainan catur yang tertunda tapi sayangnya, papannya tidak ada.
Dimana papan catur kecilku?
Tuk—!!
Tiba-tiba, suara ketukan datang dari arah belakang, aku memutar tubuh dan melihat ke sana. Menemukan seorang kakak-kakak perempuan berambut hitam dengan pakaian berlengan panjang, bersama rok panjang berwarna hitamnya.
Memiliki tubuh yang ramping dengan rambut hitam panjang yang berkilau, bersama mata merahnya yang sedikit redup. Ekspresi lembut terpancar pada wajahnya yang sedikit terlihat pucat.
Dengan gerakan tangan yang halus, kakak perempuan itu menaruh pion pada papan catur. Pertandingan catur hampir sampai pada puncaknya, dengan raja dari sisi putih yang terpojokkan.
Kakak ini bermain catur sendirian. Usianya sepertinya beberapa tahun di atasku, kenapa dia bermain dengan papan catur milikku? Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah melihat wajahnya? Siapa dia?
Kakak perempuan itu sepertinya menyadari tatapanku yang menatap tajam ke arahnya, dia pun menoleh dengan lembut sembari menahan rambutnya dari hembusan angin, mengeluarkan senyuman yang lembut dan berbicara.
"Kau sudah bangun, ya? Sudah sekitar tiga puluh menit berlalu sejak dieimu pingsan. Karena itu aku memutuskan untuk tetap di sini dan menjagamu sampai ada seseorang yang menjemputmu. Tapi syukurlah kalau kau sudah sadar."
Kakak itu berdiri dan berjalan mendekat ke arahku, kemudian berjongkok, menyisir rambut yang menutupi dahinya dan menaikkan rambutku juga, lalu dia pun mendorong dahinya ke arahku.
"Eh?"
Dahi kami bersentuhan, dengan wajah kami yang sangat berdekatan, hanya memisahkan jarak beberapa inci. Membuat napasnya terasa jelas.
"Uwaahh—!!"
Tanpa sadar aku berteriak dan mendorong kakak itu untuk menjauh, kemudian menatap ke arahnya dengan waspada. Apa yang kakak ini lakukan tiba-tiba? Itu sangat mengejutkan.
"Ah, maaf. Aku membuatmu takut, ya? Aku hanya berniat mengecek keadaan tubuhmu melalui kontak fisik. Suhu tubuhmu normal, tubuhmu juga tidak terkena efek apapun. Syukurlah kalau begitu."
"Efek?"
Kakak itu tersenyum sekali lagi dan berdiri, membersihkan bagian belakang rok panjangnya dan berjalan menjauh.
Eh? Dia sudah mau pergi? Apa hanya itu saja yang dia lakukan? Tidak, tunggu sebentar. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya.
"Tu-tunggu sebentar!! Anu!! Apa kita bisa berbicara sebentar?!"
Kakak itu segera menghentikan langkahnya untuk menjauh dan memutar tubuhnya ke arahku, memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung yang tergambar jelas pada wajahnya.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang masih mengganggumu?"
Ah, ini adalah sebuah kesempatan. Aku akan menanyakannya, mungkin kakak ini akan menganggap diriku aneh jika dia tidak mengetahui apa-apa tapi entah kenapa aku merasa harus melakukannya.
Sedikit menakutkan, tapi aku harus melakukannya. Jika ada sebuah kesempatan untukku menemukan seorang teman, aku akan mengambilnya.
"Anu ... Aku ingin menanyakan sesuatu. Kakak ... Apa jangan-jangan kamu bisa melihat Roh?"
"Eh?"
Kakak itu memasang ekspresi terkejut, seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang aneh. Reaksi ini ... Jadi dia tidak bisa melihatnya, ya? Sial, tapi aku sudah memutuskannya. Dia mungkin akan menganggap ku aneh tapi aku tidak menyesal—
"Ya, tentu saja aku bisa melihat mereka. Memangnya kenapa?"
Huh? Dia bisa melihatnya? Lalu reaksi barusan itu untuk apa? Ah, apa mungkin reaksi yang barusan itu karena terkejut biasa? Terkejut karena aku yang baru saja menyadarinya?
Jadi begitu, kakak ini juga bisa melihatnya.
Begitu rupanya, aku tidaklah sendirian. Ada orang yang memiliki kemampuan sama sepertiku.
"Hm? Kenapa kau malah memasang ekspresi seperti itu? Bukannya itu sudah jelas kalau aku bisa melihat para Roh ... Huh? Tunggu dulu, kau menangis? Hei, kau benar-benar menangis?"
Tanpa sadar, air mata sudah mengalir pada pipiku. Membuat pandanganku menjadi sedikit buram, dengan nafasku yang terasa sesak.
"Ah ... Maafkan aku, aku hanya merasa sangat lega. Ini pertama kalinya aku melihat seorang manusia yang memiliki kemampuan untuk melihat para Roh sama sepertiku. Aku sangat bahagia saat ini, karena aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian."
"...."
Tidak peduli berapa kalipun aku mengusapnya, air mata selalu keluar lebih banyak dan lebih banyak, nafasku semakin tidak teratur, dengan suaraku yang semakin mengecil.
Gawat, aku akan membuat kakak perempuan ini khawatir. Aku harus segera menghentikannya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
"Begitu rupanya, aku paham. Seperti yang dibicarakan, kamu memang anak yang aneh, ya?"
Aku merasakan sentuhan pada kepalaku, sentuhan yang lembut ditambah beberapa usapan. Ini aneh, kakak perempuan ini menyebutku aneh tapi entah kenapa, aku tidak terlalu membencinya.
Perlahan, aku membuka mataku dan mendongakkan kepalaku, menatap kakak yang menunduk untuk melihatku juga. Tatapan kami pun bertemu, senyuman itu entah kenapa terlihat sangat indah dan menenangkan.
Kakak itu menurunkan posturnya, mensejajarkan posisi kami. Kemudian menyentuhkan dahinya sekali lagi pada dahiku.
"Hangatnya. Aku suka anak-anak, karena mereka semua dipenuhi oleh kehangatan seperti ini. Membuatku merasa bersemangat, bahkan saat mereka ada di depan mataku, meskipun mereka tidak akan mendekatiku."
"Kulit kakak terasa sedikit dingin, ya? Tapi aku cukup menyukainya."
"Begitukah? Sayangnya, aku tidak terlalu menyukai kulitku yang terasa sedikit dingin ini. Seakan menggambarkan bahwa aku sama sekali tidak memiliki sebuah kehidupan."
"Apa memang begitu? Aku tidak memahami sesuatu yang terlalu rumit seperti itu."
"Apa boleh buat, kan? Lagipula kau juga masih anak-anak. Tapi benar juga ya, jika kau tidak mengerti sesuatu yang rumit, yang perlu aku lakukan hanyalah menyederhanakannya."
"Kakak? Apa maksudmu?"
Kakak itu menarik kembali dahinya, kemudian menatap tajam ke arah mataku.
Eskpresi lembutnya, dengan matanya yang terlihat sedikit sayu, rambut hitam panjangnya yang berkilau, lalu bergoyang kerena hembusan angin. Semua itu terekam begitu jelas di depanku.
Dan dengan begitu, kakak itu mengatakannya.
"Maafkan aku, anak manusia. Tapi aku juga adalah seorang Roh."
".... Eh?"