ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.4 : KOMBINASI YANG ANEH



Setelah aku menerima tawarannya, Mona meminta sedikit waktu untuk pergi dan memanggilkan temannya agar dia bisa memperkenalkannya padaku. Setelah beberapa saat, Mona pun kembali dengan seorang gadis lain di sampingnya.


Aku memang sedikit terkejut dengan fakta dimana Mona memberikan sebuah klaim jika dia memiliki seorang teman tapi ini lebih mengejutkan saat tahu identitas dari temannya itu.


Bagaimana aku harus menyebutnya, ya? Kombinasi yang aneh? Ya, itu benar. Keduanya adalah kombinasi yang cukup aneh sebagai teman.


"Jadi Mona, apakah dia anggota ketiga yang ingin kamu masukkan?"


Aku tidak pernah menyangka jika gadis pemalu yang polos seperti Mona akan berteman dengan seorang gadis yang dikenal sebagai siswi berandal dan suka membuat keonaran.


Dengan tangannya yang sedikit gemetaran, Mona menggiring kami dan menjadi penengah untuk memperkenalkan diri.


"I-Iya. Ella, perkenalkan dia adalah Aciel, teman laki-laki pertamaku. Dan untuk Aciel, perkenalkan dia adalah Ella. Aku sudah berteman dengan Ella sejak kelas delapan dan dia sudah cukup banyak membantuku."


Rambut hitam dengan pupil mata yang berwarna kemerahan, bersama postur tubuh tinggi yang melebihi anak laki-laki. Tubuhnya cukup berisi, mungkin dia melatihnya?


"Hah? Apa yang kau lihat?"


Lalu sikap agresif dan haus darah yang dia tunjukkan seolah-olah mencoba untuk menerkam sesuatu. Ini mungkin tidak terlalu sopan tapi aku melihatnya seperti seekor hewan buas di sini.


"Tidak, bukan apa-apa. Salam kenal, namaku Aciel."


"Ya, aku sudah mendengarnya dari Mona jadi kau tidak perlu mengulanginya. Aku tidak perlu untuk menyebutkan namaku lagi, kan?"


Ella melipat tangannya dan menaikkan dagunya, melihat dengan sudut yang tinggi ke arahku. Itu sangat tampak jika dia ingin mengintimidasi ku dengan auranya dan sifatnya yang kuat.


Tatapannya juga tajam dan menakutkan. Dia benar-benar memandang remeh diriku, apa ada yang bisa aku lakukan untuk itu?


Aku tidak tahu.


"Y-Ya ... Kau tidak perlu menyebutkannya, Ell—"


"Nona Ella."


"Huh?"


"Hm? Apa telingamu tuli? Aku menyuruhmu untuk menambahkan honorifik saat memanggilku. Jangan menyebutkan namaku seolah kita adalah seorang teman, aku benci pria seperti itu." ucap Ella, memasang ekspresi jijik saat dia menyipitkan matanya padaku.


"Ah? Oh ... Aku mengerti?"


Tentu saja, aku tidak benar-benar mengerti dengan itu tapi ada cukup banyak masalah tidak perlu yang bisa kau lewati hanya dengan berpura-pura setuju. Itu bukanlah hal yang buruk.


Hanya saja ... Bagaimana aku harus menggambarkan ini, ya? Dia lebih ganas dari dugaanku.


Ella Altana.


Dia memiliki nama yang cukup terkenal di sekolah karena kemampuannya dalam mengacaukan sesuatu dan membuat banyak keonaran, hal itu membuatnya menjadi salah satu anak yang dijauhi seluruh murid.


Awalnya aku sedikit penasaran tentangnya karena dia juga dijauhi sama sepertiku, aku pun memutuskan untuk mulai melakukan beberapa penyelidikan padanya sampai akhirnya menyadari jika ada banyak ketidakcocokan yang aku miliki dengannya.


Hal itu pun membuatku kehilangan minat untuk mendekatinya.


Dia adalah tipe gadis agresif dengan kepribadian yang keras. Bahkan dia tidak akan segan untuk membentak seorang guru.


Melihat orang seperti itu bisa menjalin sebuah hubungan pertemanan dengan Mona cukup memberikan beberapa perasaan yang aneh padaku. Mona bilang dia berteman dengan Ella sejak kelas delapan.


Aku pindah ke sekolah ini saat kelas sembilan jadi tidak tahu rincian tentang itu sih. Yah, apa boleh buat jika keduanya memang berteman.


Lagipula tidak ada hal yang bisa aku lakukan tentang itu.


Disaat aku mulai memikirkan beberapa hal lainnya, Ella melangkah padaku dan melihat beberapa bagian pada tubuh dan wajahku.


"Mona memang sudah menyampaikannya padaku jika dia akan mengajak seorang anak laki-laki baik tapi aku tidak menyangka jika itu kau. Mona, apa kau yakin memilih anak aneh sepertinya?"


Aku juga ingin mengatakan hal itu padamu. Aku tidak menyangka jika dia akan mengatakannya dengan blak-blakan begitu saja. Bahkan aku pun akan tersakiti jika kau menyampaikannya sejelas itu.


Setidaknya aku ingin agar gadis ini bisa sedikit belajar bagaimana caranya menahan diri.


Yah, mungkin itu hal yang mustahil.


"Ella, bukannya aku sudah bilang kalau Aciel adalah anak yang bisa dipercaya? Jangan mengejek dan mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Aciel itu sama sepertiku, kamu pasti bisa akrab dengannya."


Dalam sekejap, tulang punggungku sedikit menggigil saat Mona mengatakan jika aku sama sepertinya. Apa dia memang melihatku seperti itu? Aku tidak terlalu senang mendengarnya.


"Begitukah? Aku yang bisa akrab dengan anak aneh sepertinya, ya? Aku tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi sedikitpun."


Begitu pula denganku, aku tidak bisa membayangkan bisa akrab dengan gadis kasar sepertinya. Mulutnya benar-benar kendor.


"Ella ... Kamu setuju untuk satu kelompok dengan Aciel, kan? Meskipun kamu berpikir seperti itu untuk saat ini, setidaknya cobalah untuk berusaha dan kalian pasti akan akrab setelah pulang dari Study Tour."


"Eh? Ah, jangan mendekatkan wajahmu seperti itu padaku ... Ah, ya ampun! Baiklah, aku mengerti jadi menjauhlah! Beri aku ruang untuk bernapas!!"


Selagi Mona mendekat dengan wajah penuh tekad pada Ella, membuatnya ragu dan menyerah dengan semangat yang diarahkan padanya.


Mungkin aku harus meralat penilaian ini sebelumnya, mereka cukup akrab. Hal ini membuatku sedikit iri saat melihatnya.


Cih, sialan.


Bukan berarti aku iri atau apapun.


"Baiklah, kalau begitu apa bisa aku menganggap jika kita sudah sepakat untuk membuat satu kelompok? Jam istirahat akan segera berakhir dan aku masih belum menyelesaikan makananku."


Mona menjawab pertanyaanku dengan anggukan beberapa kali. Di sisi lain, Ella meresponnya dengan sebuah anggukan wajah kesalnya selagi dia mendecakkan lidahnya cukup keras.


"Oke, kalau begitu karena kita sudah ada disini ayo makan bersama. Aku membeli cukup banyak roti tadi dan sedikit sulit untuk menghabiskannya."


Aku mengambil plastik berisikan banyak roti dan memberikan beberapa pada Mona dan melemparkan sisanya pada Ella.


"Hei, kenapa kau malah melemparkannya padaku?! Apa kau tidak bisa memberikannya seperti biasa seperti yang kau lakukan pada Mona?!"


"Seperti biasa? Bukannya aku sudah memberikannya seperti biasa padamu?"


"Hah? Apa maksudmu? Kau melemparkannya begitu saja padaku, kan?!"


Mengabaikan Ella yang berisik, aku duduk pada tangga belakang gedung dan melihat ke arah pembakaran sampah sekali lagi.


"Setiap orang memiliki definisi akan 'biasa' milik mereka sendiri. Aku menilainya berdasarkan hal itu dan memilih bagaimana harus memperlakukan orang seperti 'biasa' tergantung dari seperti apa sifat mereka."


"Hah?! Apa itu berarti sudah menjadi hal biasa bagimu untuk melemparkan makanan padaku?!"


Ella mendekat ke arahku dengan langkah kaki yang kuat dan berhenti pada jarak setengah meter, melemparkan plastik berisi beberapa roti di dalamnya padaku dan aku mendapatkannya kembali.


Aku melihat ke arahnya dan tersenyum, membuat beberapa urat kecil muncul pada dahi Ella dan sebelum dia bisa mengatakan apapun, aku membalasnya.


"Begitulah, apa ada yang salah dengan itu?"


Dan tepat setelah itu, sebuah tinju mengarah pada wajahku. Aku kehilangan momentum untuk menghindarinya dan menerimanya secara mentah, membuat tubuhku terpental.


Kesadaranku menghilang setelahnya.