ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.1 : BINATANG MISTIS



"Pwahhh—!! Lelahnya—!!!"


Berusaha untuk menumpahkan semua rasa lelah yang menumpuk pada tubuh, aku melemparkan diriku pada kasur, berguling-guling dan merenggangkan tubuhku dengan penuh kenikmatan.


Bagaimanapun aku sangat merindukan kasur ini, karena Study Tour yang harus dilakukan sebelumnya mewajibkan para murid untuk menginap selama satu malam. Jujur saja aku sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang kemarin.


Kehadiran anak-anak lain ditambah pengerjaan tugas pengamatan serta suasana canggung yang memenuhi ruangan, semua hal itu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak dan pada akhirnya merusak keseimbangan pada diriku. Aku sudah menantikan ini sejak kemarin.


Saat-saat dimana aku bisa bersantai sepenuhnya, ruangan yang hanya dipakai oleh diri sendiri memanglah yang terbaik. Aku tidak perlu memikirkan apapun selain mengistirahatkan tubuh di sini.


"Ya ampun, kau baru saja pulang dan langsung melakukan ini? Dasar bocah bodoh, setidaknya mandilah terlebih dulu."


Terdengar suara hinaan dari seekor kucing hitam yang naik pada tubuhku, kemudian melingkarkan tubuhnya dan berbaring di sana. Tidak butuh waktu lama sampai kucing itu menutup matanya.


Meskipun begitu, aku tidak yakin jika kucing ini tertidur.


"Aku tidak ingin mendengar ceramah apapun dari Roh yang menghabiskan banyak waktunya di dalam pesta dan memakan banyak makanan enak selagi orang yang harus dia lindungi berusaha keras. Master, apa saja yang kau lakukan di dalam pesta? Itu tidak hanya minum-minum arak biasa, kan?"


"Hum? Apa yang ingin kau katakan? Jika menyangkut tentang pesta, tentu saja itu berkaitan dengan arak dan makanan, kan? Tidak ada hal penting yang aku bicarakan selain topik tentang arak surgawi ataupun daging para Unirs yang dikenal sangat enak."


Jadi dia memang hanya menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan, ya? Itu membuatku kesal meskipun aku sudah siap akan jawabannya.


Tapi dari apa yang Master ucapkan, ada sesuatu yang membuatku tertarik. Aku mengambil tubuh Master yang berbaring pada punggungku, memutar tubuhku dan menaruhnya pada perutku.


"Unirs? Apa itu?"


"Itu adalah sebutan untuk binatang mistis berwujud kuda dengan dua tanduk di kepala dan sepasang sayap berwarna putih keperakan, kalian para manusia biasa menyebut mereka sebagai Unicorn."


Untuk sesaat, aku membeku mendengar semua informasi itu. Butuh beberapa detik sampai aku bisa mencerna semuanya. Dan begitu selesai, aku menanyakan bagian yang terpenting pada kucing hitam di atas perutku.


"Kesampingkan Unicorn itu, apa itu binatang mistis?"


"Hm? Ah, kau masih belum pernah melihat binatang mistis? Itu bukanlah sesuatu yang aneh, lagipula jumlah mereka sangatlah sedikit. Sama seperti namanya, binatang mistis adalah mahluk yang menyerupai Roh tapi bukanlah Roh."


"Huh? Maaf, aku sama sekali tidak mengerti."


"Tidak perlu memikirkannya terlalu dalam, kau akan paham begitu melihat mereka ... Tidak, tunggu. Bukannya kau sudah melihat binatang mistis sebelumnya? Kau ingat, gadis dengan telinga kelinci itu. Yang kau temui di hutan sebelumnya."


Sebelum aku bisa mencerna dengan penuh informasi tentang hewan mistis ini, informasi tak terduga lainnya muncul. Sesuatu yang mengejutkan seperti ini benar-benar tidak baik untuk jantungku, aku segera mengangkat tubuh Master dan duduk, menaruhnya di depanku.


"Huh? Bukannya dia itu Roh?"


"Awalnya aku juga berpikir seperti itu tapi setelah mengingatnya lagi, bau yang gadis itu keluarkan memiliki sedikit perbedaan dari para Roh dan di saat yang sama, aromanya juga memiliki beberapa kesamaan dengan binatang mistis."


"Huh? Apaan itu?"


"Tenanglah, bahkan aku pun baru menyadarinya. Sudah berkisar puluhan tahun sejak aku terakhir kali bertemu dengan binatang mistis dan itu membuatku cukup lupa akan bagaimana keberadaan mereka."


"Tapi, Master ... Keika bilang jika kedua orang tuanya adalah Roh. Ayahnya adalah Roh tingkat tinggi dan ibunya Roh tingkat menengah. Apakah mungkin hal seperti itu terjadi?"


"Apaan? Apa kau pikir binatang Mistis dan para Roh itu adalah keberadaan yang berbeda? Keduanya adalah sama. Jika membandingkannya ... Benar juga, ini sama seperti simpanse dan Gorila, pada akhirnya mereka adalah kumpulan kera."


Tidak tidak ... Apakah baik-baik saja untuk membandingkannya dengan sesuatu yang sangat simple seperti itu? Aku merasakan beberapa masalah akan muncul dari penggambaran ini.


Pertama-tama, jangan memanggil para wanita dan gadis dengan sebutan betina. Itu akan menimbulkan banyak masalah yang merepotkan. Lalu perbandingan yang bermasalah itu, mendengarnya saja sudah membuatku merasakan sakit pada perut dan kepala.


Tapi sepertinya Master tidak bercanda tentang ini. Kalau begitu apakah Keika memang benar-benar seekor binatang Mistis? Aku tidak bisa mencium bau atau apapun untuk mengidentifikasinya tapi dengan penciuman tajam yang Master banggakan itu, tidak mungkin kucing ini salah.


Lalu yang terakhir, apakah Keika mengetahui tentang fakta ini? Karena ini menyangkut dirinya sendiri, mungkin dia sudah tahu. Ibu atau ayahnya pasti sudah memberitahunya.


Meskipun begitu, semua ini memang sangat mengejutkan diriku. Aku tidak berpikir jika ada pembagian seperti para Roh ataupun binatang Mistis di dunia yang tidak terlihat ini.


Kupikir hanya manusialah yang suka mengelompokkan diri mereka, ternyata para Roh juga sama, ya? Yah, lagipula keduanya tinggal berdampingan pada lingkungan yang sama meskipun salah satu pihak kebanyakan tidak menyadarinya.


Tidak mengherankan jika ada satu ataupun dua persamaan.


"Aku mengerti, tidak perlu memikirkannya terlalu berlebihan. Meskipun begitu, apakah para binatang Mistis itu kuat?"


"Kuat, ya? Daripada kuat, mungkin akan lebih tepat untuk menyebutkan jika Binatang Mistis memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Keberadaan binatang Mistis sangat sedikit, karena itu informasi tentang mereka pun menjadi cukup terbatas. Tapi ada satu hal yang pasti, binatang Mistis akan tumbuh kuat dengan menggunakan sebuah katalis."


"Sebuah katalis? Apa lagi itu?"


"Katalis bisa diartikan juga sebagai pemicu. Cepatnya pertumbuhan Binatang Mistis dipicu oleh lingkungan dimana mereka berada. Semakin berbahaya lingkungan mereka hidup, maka mereka akan menjadi semakin kuat. Itu juga berlaku sebaliknya, mereka akan menjadi sangat lemah jika lingkungan dimana mereka hidup sangat damai. Saat aku menyebutkan jika Binatang Mistis memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, itulah yang aku maksud."


"Jadi begitu. Master, kau tadi mengatakan jika pernah menemui Binatang Mistis sebelumnya, kan? Apa kau bisa memberitahuku Binatang Mistis terkuat yang pernah Master temui? Apa kekuatan yang mereka miliki memang sangat besar?


Master melompat pada bahuku dan seperti biasa, dia mendiamkan dirinya di sana. Setelah beberapa jeda untuk mengingat, Master akhirnya membuka mulutnya yang dipenuhi taring.


"Binatang Mistis terkuat yang pernah aku temui, ya? Aku bertemu dengannya sembilan dekade lalu, Binatang itu memiliki wujud seekor ikan lele dengan sisik berwarna kebiruan. Kami menghabiskan enam puluh enam hari untuk bertarung dan menyisakan banyak kerusakan sampai akhirnya aku memenangkan pertarungannya."


"Huh? Master menang? Setelah kalian bertarung selama dua bulan lebih?"


"Hm? Kenapa kau memasang ekspresi seolah meragukan seperti itu? Yah, itu adalah momen yang cukup menyenangkan bagiku saat berusaha mengisi waktu luang tapi sayangnya lele biru itu tidak memberitahukan namanya sebelum dia menghilang."


"Mungkin dia tidak sudi memberitahukan namanya pada kucing hitam yang sombong?"


"Jangan bodoh, kami sama-sama menikmati pertarungan itu. Mungkin dia berencana untuk memberitahuku namanya saat kami bertemu kembali. Kesampingkan itu semua cerita ini mulai membuatku lapar, berikan aku tiga Bakpao daging."


"Aku memiliki beberapa kacang di sini, bagaimana kalau —"


"Bakpao daging, aku hanya ingin itu. Cepat belikan itu sekarang. Anggap saja itu sebagai bayaran dari cerita menarik yang aku berikan."


Kucing ini ... Selalu saja sangat pemilih dalam memilah makanan ... Hm? Ngomong-ngomong soal makanan ada yang aneh sejak Master menaiki tubuhku sedari tadi. Kupikir itu hanya perasaanku tapi setelah dia menindih punggung, perut dan pundak, aku akhirnya dapat memastikannya.


"Master, apa kau bertambah gemuk?"


"Huh? Kenapa kau mengatakannya tiba-tiba? Jangan mengalihkan topik."


"Tidak, tubuhmu benar-benar terasa lebih berat dari sebelumnya. Mungkin kita harus jalan-jalan sedikit selagi membeli beberapa bakpao?"


"Ide bagus, ayo lakukan itu."


Master langsung melompat turun dari bahuku, berjalan menjauh dan membuka pintu gudang. Benar-benar Kucing yang sederhana.