ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : KEPINGAN API IX



"Seperti yang aku katakan sebelumnya, bagaimana jika aku menggantikan dirimu untuk menghancurkan Klan Zalsa?" Gadis itu menegaskan kembali ucapannya dengan sebuah senyuman yang dipenuhi intimidasi.


Gadis ini ... Apa yang dia katakan? Apa dia benar-benar memahami arti dari perkataan yang dia ucapkan itu? Menggantikan Nebi untuk menghancurkan Klan Zalsa? Yang artinya, dia akan membunuh seseorang? Apa dia memang membenci orang lain sebanyak itu?


Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Kupikir aku memiliki kesamaan dengannya, tapi jika begini aku jadi tidak tahu pasti mana yang benar.


"Dan seperti yang aku bilang sebelumnya, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti sama sekali. Kesampingkan itu, apa kau memiliki kekuatan untuk melakukannya? Itu tidak akan berarti jika kau hanya menyerang markas mereka dan dibunuh setelah merusak satu atau dua rantai yang mereka miliki." jawab Nebi.


Gadis itu berdiri, dia mengeluarkan partikel cahaya dan mengumpulkan semuanya pada telapak tangannya, membuatnya bersinar terang dengan warna biru kehijauan.


"Tenang saja, aku memiliki kekuatan dan dukungan untuk melakukannya. Jika aku mengatakan untuk menghancurkan, maka itu artinya adalah menghancurkan Klan Zalsa sepenuhnya dan melenyapkan mereka dari Dunia yang indah ini."


Gadis berambut putih itu mengambil sesuatu dari sakunya, membukanya dan memakannya. Itu adalah sebuah permen batangan.


"Karena itu yang perlu kau lakukan saat ini hanyalah menerimanya dan aku pasti akan kembali bersama potongan Kepala dari Ketua Klan Zalsa tiga hari kemudian. Klan Zalsa memiliki sebuah kutukan yang menghantui mereka dan semua kutukan itu dipusatkan pada Ketua Klan saat ini, kau pasti akan langsung mengetahui itu begitu melihatnya."


Gadis ini ... Entah kenapa tapi aku mulai merasa jika dia akan benar-benar melakukannya dan berhasil menepati kata-katanya. Kepercayaan diri sebesar itu, darimana dia mendapatkan semua itu? Apa karena kekuatannya yang besar? Apa hanya itu saja?


Apapun itu, kejadian selanjutkan akan bergantung pada bagaimana Nebi meresponnya. Nah, bagaimana dia akan menghadapi situasi ini? Apa dia akan mengalah pada dendam yang dia pendam dan menerima tawaran dari gadis ini? Atau dia akan memikirkannya ulang, karena permintaan Dewa yang masih menggantung di dalam dirinya?


Kebimbangan besar sedang menggoyahkan hatinya sekarang, satu keputusan yang dia ambil saat ini akan membuat pengaruh yang besar.


Nebi didorong pada situasi dimana dia diharuskan untuk segera membuat keputusan, sebuah keputusan besar yang akan menentukan garis dari masa depan yang dia tempati nantinya.


Baiklah ... Nebi, keputusan seperti apa yang akan kau ambil? Apa kau akan menyerahkan semuanya pada keinginan balas dendam itu, ataukah menyerahkan semuanya pada sisi dirimu yang lain, dimana kau akan memadamkan api itu?


Pilihan apapun yang kau ambil itu—


"Tidak berguna. Gadis manusia, apa hanya itu saja yang kau ingin kau katakan? Aku ingin tahu kemampuan apa saja yang surga berikan padamu, lalu takdir seperti apa yang kau emban dengan semua beban itu. Karena itulah, aku akan menolaknya. Apa yang coba kau lakukan saat ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri, campur tangan dari yang lainnya tidaklah dibutuhkan."


Nebi ... Kau ... Sampai kapan kau akan terus terikat dengan semua itu? Kau memiliki sebuah kesempatan untuk mengakhiri semuanya saat ini dan kau malah menyingkirkannya begitu saja? Apa kau masih menginginkan waktu tambahan untuk merenungkannya?


Tapi itu adalah keputusan yang Nebi ambil, aku tidak memiliki hak apapun untuk mencampurinya.


Terlebih peranku disini hanyalah sebagai pengamat, apa yang bisa aku lakukan hanya melihat semuanya dan memastikan untuk mengingatnya.


Ini adalah sesuatu yang benar-benar terjadi di masa lalu, dan aku pastinya memiliki sebuah hubungan tertentu dengan semua ini. Bukti terbesar adalah mimpi yang memperlihatkan semuanya ini.


Apakah ada suatu peran yang harus aku penuhi setelah ini? Aku hanya bisa menemukan semua jawabannya setelah mimpi ini berakhir.


"Begitukah? Kau memang benar, kurasa aku terlalu dalam untuk mencampuri urusanmu. Aku hanya berusaha membantumu untuk menentukan semuanya tapi jika kau memutuskan untuk meminta sedikit tambahan waktu, maka aku tidak perlu mengatakan apapun saat ini."


Ekspresi gadis itu sedikit melunak, dengan kedua alisnya yang bengkok ke atas, dia menunjuk pada Lentera batu dan tersenyum tipis.


"Tapi rubah, semuanya pasti memiliki suatu batas. Kau tidak bisa memikirkan hal yang sama terus menerus, akan ada saat dimana dirimu harus membuat keputusan. Aku harap kau akan mengingat ini di setiap waktu yang kau habiskan."


"Aku tahu, kau terlalu banyak bicara."


"Yah, mau bagaimana lagi, kan? Roh dengan usia yang sangat panjang seperti kalian cenderung memiliki kebiasaan untuk mengulur waktu melakukan sebuah hal. Dalam bidang untuk memutuskan sesuatu, manusia dengan usianya yang pendek ada tiga langkah di depan kalian."


Gsdis itu tertawa keras setelahnya selagi memegangi perutnya dengan kencang, aku tidak tahu bagian mana dari kalimatnya barusan yang bisa membuatnya tertawa seperti itu.


Setelah mengelap sedikit air mata pada ujung matanya, gadis itu pun melanjutkan.


"Yah, aku mengucapkan terimakasih karena kau sudah menolak tawaranku. Aku senang dengan itu, karena tidak perlu menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan."


"Hah? Lalu kenapa kau menawarkan hal seperti itu?"


"Aku sudah mengatakan sebelumnya, sih. Mereka semua melakukan hal buruk pada temanku, tentu saja hal itu akan sedikit membuatku marah, kan?"


Sedikit? Kau berencana untuk menghancurkan sebuah perkumpulan, dan kau bilang itu disebabkan oleh sedikit amarah yang mengambil alih? Lalu apa yang akan terjadi jika gadis ini benar-benar marah? Aku tidak ingin membayangkannya lebih jauh.


"Hm?"


Aku tidak bisa melihat apapun selain Lentera batu dan gadis ini, apa yang terjadi? Perubahan mendadak seperti ini bukanlah hal yang normal.


Aku melihat sekeliling, tapi tidak ada satupun tanda akan sesuatu yang datang.


"Wah~ wah~ sepertinya aku menghabiskan cukup banyak waktu di sini dan tanpa sengaja membuatnya menunggu cukup lama. Dia akan mengomeliku."


Gadis itu terlihat tenang, apa dia tahu yang sebenarnya terjadi di sini?


"Hm? Gadis manusia. Dukungan yang kau katakan padaku sebelumnya, apakah dia termasuk salah-satunya?"


Hm? Apa yang Nebi maksud ... Huh? Apa-apaan itu?


Di kejauhan, sebuah bayangan berwarna hitam muncul pada kumpulan kabut. Bayangan yang sangat besar, dengan tinggi tiga puluh ... Empat puluh ... Tidak, Bayangan itu memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari wujud Nebi sebelumnya!! Apa-apaan itu?!


"Begitulah, dia termasuk salah satunya."


Dengan bentuk yang menyerupai harimau, bersama kilau berwarna kehijauan yang menembus pada kabut, menatap lurus ke arah kami.


"Gadis bodoh!! Sampai kapan kau membuat diriku yang agung ini menunggu?! Apa kau benar-benar ingin agar aku memakan tubuh kecil tanpa gizi yang kau miliki itu?! Cepatlah kembali!! Kita sudah kehabisan banyak waktu di sini!!"


Suara dari bayangan itu menggema, meninggalkan gelombang angin yang cukup kuat. Gadis itu pun menghirup banyak napas dan mengumpulkan semua itu pada dadanya, memposisikan tangannya pada mulutnya dan berteriak.


"Tunggu sebentar lagi!! Aku akan segera selesai!!"


Tampaknya pemilik dari bayangan itu mendengarnya, dia segera duduk dan menghadap pada arah lain. Gadis itu pun menghela napas pelan dengan sebuah senyuman dan memutar dirinya kembali pada Lentera batu.


"Baiklah, kurasa aku akan pamit. Sebelum kita berpisah dan sebagai ganti dari tawaran yang kau tolak sebelumnya, aku menjanjikan satu hal padamu. Rubah, aku pasti akan mengeluarkan dirimu dari segel ini suatu saat nanti."


Gsdis itu mengangkat tangannya dan menunjuk Lentera batu di depannya sekali lagi.


"Sebagai gantinya, kau juga harus berjanji padaku untuk memutuskan tentang apa yang kau lakukan selanjutnya begitu keluar dari sana!! Tentu saja janji biasa akan sangat membosankan, kerena itulah aku akan menjadikan ini sebuah Kontrak!!"


Sebuah cahaya berwarna biru kemerahan bersinar pada celah diantara gadis itu dan Lentera batu, yang kemudian terpecah dan berubah menjadi partikel.


"Gadis manusia, kenapa kau melakukannya sejauh itu?"


"Kenapa, kau bilang? Aku selalu menjadikan Roh yang menarik sebagai temanku. Tentu saja aku akan menginginkan hal terbaik untuk temanku, kan? Karena itulah kau juga harus berusaha keras untuk mengambil sebuah keputusan nantinya!!"


Gsdis itu berlari menjauh, lalu membalik badannya dan melambaikan tangannya.


"Aku pergi dulu ya!! Ada beberapa hal yang harus aku lakukan dan mungkin aku tidak bisa mengunjungimu sementara waktu!! Tapi aku pasti akan datang ke sini lagi!!"


"Gadis manusia!! Tunggu sebentar!!"


Untuk pertama kalinya selama beberapa waktu ini, aku mendengar Nebi berteriak.


"Hm? Ada apa?"


"Nama ... Bolehkah aku tahu namamu?"


"Hm? Nama?!"


Aku tidak bisa melihat dengan jelas dari sini karena tubuh gadis itu yang tertutupi kabut tebal, tapi tampak jika dia terkejut.


"Bwahahahaha!! Akhirnya kau menanyakan hal itu!! Aku sudah menunggunya cukup lama, kau tahu?! Bagaimanapun kau harus memperkenalkan namamu dulu sebelum bertanya pada orang lain!!"


"Begitukah?"


"Yah, tidak apa. Sebagai hadiah, aku akan memulainya lebih dulu. Namaku adalah—"


Swingg—!! Tapi sebelum gadis berambut putih itu bisa menyebutkan namanya, pemandangan pada mataku pun berubah sekali lagi.