ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.9 : SEDIKIT KESALAHPAHAMAN



Setelah keluar dari barisan pepohonan hutan, kau akan langsung melihat sebuah bangunan kuil kecil yang berdiri kokoh di depan. Itu adalah tempat tinggal dari si pembasmi Roh.


Seharusnya itulah informasi yang Rune berikan padaku sebelum aku sampai di sini tapi apa yang aku lihat dengan mataku saat ini cukup berbeda dari apa yang rakun itu sampaikan. Yang aku lihat saat keluar hanyalah rumah biasa.


Tidak, menyebutnya rumah biasa sedikit kurang tepat.


Rumah ini memang tidak memiliki dua lantai tapi lebarnya cukup luas, dengan dinding kayu yang mengelilinginya. Tipe khas dari sebuah rumah tradisional dengan suasana antik dan berkilau. Meskipun begitu, aku paham kenapa para Roh itu salah paham dan menyebut rumah ini sebagai sebuah kuil.


Rumah ini dikelilingi dengan Energi yang cukup kuat di sekitarnya, berfungsi untuk mengusir para Roh yang berusaha masuk. Aku sudah menyiapkan diri untuk bertemu seorang biksu tapi sepertinya sedikit meleset dari harapan, ya?


Yah, tidak masalah sih. Lagipula tugasku juga masih belum berubah.


"Permisi?! Apakah ada orang?!"


Aku mengetuk pagar kayu yang memiliki celah itu beberapa kali sembari memanggil ke dalam. Tidak lama, keluar seorang wanita tua dengan pakaian yang terlihat sedikit lusuh, berjalan menghampiri pagar.


Wanita tua itu membuka pagar kayu dan tersenyum lembut padaku. Aku pun membalasnya dengan senyuman yang sama.


"Ya, apa ada yang bisa dibantu?"


"Maaf mengganggu waktunya, kemarin saya bertemu dengan seorang paman yang kerap masuk ke dalam hutan dan telah dibantu olehnya. Saya datang untuk berterimakasih atas pertolongannya, apakah paman itu bertempat tinggal di sini?"


Wanita tua itu menaruh tangannya pada dagu dengan anggun dan mengerutkan alisnya.


"Apa kamu bisa memberitahukan ciri-cirinya?"


Membalas pertanyaannya itu, aku memasang senyum canggung dan menyentuh rambut.


"Mungkin ini terdengar sedikit tidak sopan tapi paman itu memiliki kepala yang bersih."


"Pfft—!! Bwahahahaha!!! Kepala yang bersih?! Bukannya maksudmu botak?!"


"?!"


Dan setelah aku mengatakan hal itu dengan sedikit ragu, entah kenapa wanita tua di depanku mulai tertawa terbahak-bahak.


Dia benar-benar tertawa sampai memegangi perutnya dan kehabisan napas, aku khawatir apakah tawa itu akan membahayakan nyawanya. Setelah beberapa saat, wanita tua itu akhirnya berhenti.


"Hah ... Hah ... Hah ... Perutku sakit, ini karena anak muda sepertimu mengatakan sesuatu yang lucu, jujur saja ini berbahaya bagi kesehatanku."


"Ah, benarkah? Maafkan saya kalau begitu." tanpa sadar, aku meminta maaf.


Eh? Kenapa aku meminta maaf?


Ah, itu tidak penting.


"Anu, apakah paman itu tinggal di dekat sini? Saya ingin menemuinya."


"Ah ya, dia adalah anakku. Pertama-tama masuklah dulu, kalian berdua bisa membicarakannya di dalam sembari meminum beberapa gelas teh."


"Oh, baik. Terimakasih banyak. Maaf telah merepotkan."


Aku pun masuk dan mengikuti wanita tua itu yang membawaku pada ruang tamu dan mempersilahkan ku untuk duduk. Lalu memberikan satu gelas teh dan beberapa biskuit.


"Kalau begitu akan aku panggilkan dulu, ya? Tunggu di sini sebentar."


"Baik."


Wanita tua itu pun pergi dengan punggung yang sedikit membungkuk, entah kenapa ekspresi orang itu terlihat senang saat melihatku.


Meskipun begitu, di sini memiliki suasana yang sedikit aneh, ya? Padahal aku ada di dalam rumah tapi rasanya seperti ada di tengah hutan. Bagaimana aku harus menjelaskan sensasi seperti ini, ya? Energi yang berputar juga cukup pekat.


Mungkin aku bisa menirunya dan melakukannya di gudang untuk mengusir Roh-Roh kecil yang berkeliaran seperti Jerry dan lainnya.


Memasangnya di rumah utama juga bukanlah ide yang buruk, hitung-hitung membalas budi pada keluarga Sena yang sudah menampungku selama enam bulan terakhir ini. Meskipun mereka memang sedikit tidak ramah.


Aku melihat pada sisi dinding dan properti.


"Ada cukup banyak lukisan pemandangan juga yang menempel pada dinding, begitupula desain dan corak di setiap vas dan properti rumah yang cukup unik. Ini tempat tinggal yang bagus."


Aku mengangkat gelas dan meminum tehnya. Disaat itulah aku menyadari jika ada seseorang yang melihatku dari belakang.


"Maaf telah menunggu, apa kamu tamunya?"


Aku menaruh gelas dan sedikit memutar tubuhku ke arah lain, menghadap pada orangnya.


"Ya, saya datang ke sini untuk membicarakan beberapa hal dengan anda. Apakah anda ada waktu luang?" ucapku dengan memasang sebuah senyuman.


"Oh ya, tenang saja. Ibuku tadi mengatakan jika ada tamu anak laki-laki yang ingin bertemu denganku, kamu sepertinya memiliki usia yang sama dengan anakku yang akan lulus SMP tahun ini."


"Benarkah? Saya juga akan lulus bulan Mei nanti. Usia saya akan menjadi empat belas di tahun ini."


Paman botak itu segera duduk pada kursi yang bersebrangan meja denganku. Lalu bersama wajahnya yang sedikit terkejut, dia melanjutkan topiknya.


"Empat belas tahun dan lulus SMP? Usia anakku satu tahun lebih tua darimu ternyata."


"Ya, saya sedikit terburu-buru saat memulai sekolah."


Kami pun sedikit tertawa dan suasana di ruang tamu sudah mulai sedikit tenang. Paman botak itu meminum tehnya dan melihat ke arahku.


"Jadi, apa yang ingin dibicarakan?"


Baiklah, bagaimana aku memulainya? Apakah sedikit basa basi lebih baik? Tidak, aku akan langsung ke topiknya saja dan menyelesaikannya dengan cepat. Karena para Roh itu menyebutnya sebagai pembasmi Roh, jadi orang ini pasti bisa melihat mereka, kan?


Kalau begitu aku tidak perlu ragu lagi.


"Saya ingin membahas tentang anda yang cukup sering pergi ke dalam hutan dan melakukan pemurnian, lalu memasang banyak kertas jimat di pepohonan dan semak-semak. Tentang kegiatan itu, apakah anda bisa menghentikannya?"


Paman di depanku langsung terkejut dengan apa yang aku katakan, membuatnya sedikit melebarkan mulutnya tanpa sadar. Apa aku terlalu cepat masuk ke topik utama, ya? Mungkin ada baiknya untuk sedikit basa basi sebelum memulainya.


Yah, semuanya sudah terlambat sih.


"Bagaimana kamu bisa tahu hal itu? Perasaan aku tidak pernah memberitahukannya pada siapapun dan tidak ada yang mengikuti ku. Aku juga hanya melakukannya sendirian tanpa ada seorangpun yang menemani, bagaimana kamu bisa tahu?"


Reaksinya sedikit berbeda daei apa yang aku harapkan.


"Hm? Dari mana, maksud anda? Tentu saja saya mendengarnya dari para Roh, kan? Roh yang sudah anda usir."


Dan saat aku mengatakan itu dengan sedikit keraguan, ekspresi paman botak di depanku terlihat semakin bingung.


"Hm? Roh? Semacam hantu, kah? Apa yang kamu bicarakan? Mengusir?"


... Eh? Apa ini? Entah kenapa, perasaanku tidak enak tentang ini.


Sebelumnya Rune menyampaikan jika baru-baru ini ada Pembasmi Roh yang melakukan banyak pemurnian dan memasang perangkap pada hutan dimana tempat mereka tinggal.


Tapi, apakah yang melakukan pemurnian itu benar-benar seorang Pembasmi Roh?


Jangan-jangan, orang ini hanya melakukan sebuah pemurnian tanpa sadar jika itu benar-benar ampuh dan mengusir para Roh di sekitar rumahnya?