ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : KEPINGAN API VIII



Pada akhirnya, sepertinya Nebi merasakan beberapa kecocokan pada gadis berambut putih itu dan berhenti mengusirnya. Keduanya mulai berbicara dan menceritakan banyak kisah.


Yah, meskipun sebagian besar dari kisah yang mereka bahas setiap kali bertemu adalah keseharian yang dijalani oleh si gadis Puteri bulan itu. Ngomong-ngomong, kenapa para Roh memanggilnya dengan sebutan seperti itu?


Untuk mengejeknya? Tidak, julukannya terlalu bagus untuk menjadi sebuah ejekan. Pastinya ada alasan untuk melakukannya.


Kesampingkan tentang julukan, gadis berambut putih itu sama sekali belum memperkenalkan namanya pada Nebi, meskipun Nebi juga melakukan hal yang sama. Keduanya langsung membicarakan banyak hal dan tidak membahas topik itu sama sekali.


Mungkin mereka masih merasa waspada satu sama lain? Tapi aku bisa merasakan ketertarikan besar yang tampak pada mata gadis itu yang dia tujukam pada Nebi yang terkurung.


Gadis itu juga bisa melihat wujud Nebi yang sebenarnya meskipun saat ini dia sedang disegel, lalu melakukan hal seperti pemecahan segel seperti yang dia lakukan sebelumnya, meskipun gagal.


Sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat para Roh sepertiku, level dari gadis ini jelas lebih tinggi dariku.


Apa aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan gadis itu, ya? Mungkin itu juga ide bagus untuk meminta beberapa Roh mengajariku tentang itu saat sadar dari mimpi ini.


Oh ya, bukannya mimpi ini terasa begitu panjang? Sial, kapan aku akan terus melihat semua gambaran ini? Aku sungguh berharap untuk tidak terbangun kesiangan dan berakhir dimarahi Bibi An nantinya.


"Oi rubah, apa kau masih di sini?"


Gadis itu berjalan mendekat dan mengetuk atap dari Lentera batu, suara Nebi pun keluar dari sana dengan cepat.


"Gadis manusia, hari ini kau juga datang, ya? Sejak hari pertama kau di sini, bukannya kau selalu memasuki hutan di kaki gunung ini selama tujuh hari berturut-turut? Tentunya kau tidak ingin membuat orang tuamu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, kan? Kembalilah."


Beberapa ekspresi misterius tampak dari wajah gadis itu saat dia sedikit tersentak, tapi senyumnya yang biasa segera kembali.


"Tenang saja, tidak akan ada yang mengkhawatirkan diriku, lagipula aku tidak memiliki sebuah keluarga untuk mendapatkan hal seperti itu. Orang yang menampung diriku pun menganggap diriku sebagai gadis yang berbahaya, mereka berusaha untuk tidak terlibat denganku. Karena itulah, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal kecil itu."


Ah, ekspresi itu ... Entah kenapa aku merasa sangat familiar saat melihatnya. Sifat ceria yang dia perlihatkan membuatku cukup sulit untuk membayangkannya tapi gadis ini memang sama seperti diriku.


Kami berdua memanglah sama, dijauhi oleh setiap orang-orang yang tidak dapat memahami perbedaan yang kami miliki dan memasang tatapan seolah mereka ketakutan pada kami.


Gadis ini juga mengeluarkan ekspresi yang memendam rasa sakit dan kesepian. Sial, jika saja kami berdua bisa bertemu, mungkin aku bisa berteman dengannya dan melakukan sesuatu bersama!!


"Gadis manusia, sepertinya aku mengungkit hal yang menyakitkan. Maafkan diriku, kau bisa melupakan apa yang aku katakan barusan."


"Tidak apa. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan dengan itu. Hanya saja ... Kurasa kau memang benar, aku sudah terlalu banyak berkunjung ke sini akhir-akhir ini. Awalnya aku berniat untuk menghabiskan waktu selagi menunggu, tapi tanpa aku sadari tempat ini terasa cukup nyaman."


Untuk pertama kalinya, gadis itu memasang senyuman canggung.


Nona Nebi, padahal kau memiliki sebuah wujud dan suara dari seekor rubah betina, tapi tampaknya kau memang tidak bisa memahami perasaan manusia. Gadis itu jelas-jelas tersakiti!!


Ah bagaimana ini? Sialan!! Entah kenapa melihat wajahnya saat ini terlihat sangat menyakitkan!! Apa tidak ada yang bisa aku lakukan?!


Tidak, Nebi lah yang harus bertanggung jawab dan melakukan sesuatu tentang ini!!


"Gadis manusia ..."


Nebi tampaknya ingin mengatakan sesuatu tapi dia berhenti di tengah-tengah.


Ah, gadis itu pergi. Urusan, ya? Dilihat darimana pun yang baru saja terjadi adalah sebuah pola dimana seorang gadis yang pergi karena rubah tidak peka ini mengatakan sesuatu yang merusak suasana.


"Gadis manusia yang aneh ... Aku memang tidak bisa memahaminya."


Setelah itu, beberapa hari pun berlalu. Dan si gadis berambut putih itu tidak datang lagi, mungkin juga dia tidak akan pernah datang kembali.


Dan saat aku mulai berpikir seperti itu, pada hari ketujuh sejak kunjungan terakhirnya, si gadis pun kembali datang. Tapi ada yang berbeda darinya.


Yang paling mencolok adalah aura yang menggambarkan sebuah keceriaan dari gadis itu, saat ini menjadi terasa lebih gelap dan mencekam. Gadis itu benar-benar mengeluarkan aura yang dingin.


Lalu ekspresi pada wajahnya, dengan matanya yang mengeluarkan tatapan tajam dan wajah tersenyum yang biasa dia keluarkan menghilang. Dengan langkah yang kuat, gadis itu berjalan dan duduk di depan Lentera batu dan mengangkat suaranya.


Suara yang dalam, dengan gambaran amarah dan kebencian di dalamnya. Gadis itu mengatakan sesuatu yang membingungkan.


"Rubah, aku sudah melihat semuanya."


Melihat semuanya? Apa maksudnya?


"Gadis manusia, aku berpikir tentang apa yang coba kau katakan dengan mengeluarkan aura dan tatapan berbahaya seperti itu. Tapi apa maksudmu? Kau melihat semuanya? Memangnya apa yang kau lihat?"


"Klan Zalsa, apa kau tahu tentang mereka?" jawab gadis itu dengan singkat.


Nama itu ... Bukannya itu—


"Gadis manusia, darimana kau mengetahui nama itu? Dan kenapa kau mengatakannya di depanku?" balas Nebi, dengan nada yang sangat menekan.


Tapi tampaknya hal itu sama sekali tidak mempengaruhi si gadis, dia pun melanjutkan bicaranya seolah tidak terganggu dengannya.


"Di malam saat aku terakhir mengunjungimu tujuh hari lalu, aku melihat sebuah mimpi. Mimpi yang berupa kumpulan dari banyak potongan kejadian, menampilkan semua hal dengan begitu jelas."


"Sayangnya aku hanya melihat potongan dari gambar itu, dan tidak mendengarkan percakapan apapun yang ada di dalamnya. Aku melihat kisah kehidupanmu, dimana Klan Zalsa menghancurkan Kuil yang kau jaga dan membasmi semua rekanmu."


"Pada awalnya aku tidak menyadari jika para manusia yang menyerang adalah anggota dari Klan Zalsa yang merupakan salah satu Klan pembasmi Roh tertua, aku juga tidak menyadari identitas rubah raksasa yang mereka lawan pertama kali dan mereka segel. Karena itu aku mencari tahu semuanya."


"Aku mengetahui hubungan Klan Zalsa dari lambang yang ada pada bagian belakang jubah dari manusia yang menyerang hutan itu. Lalu aku mengetahui identitas rubah raksasa itu adalah dirimu, saat kau masuk ke dalam Lentera batu ini."


Gadis itu pun terdiam, mengakhiri perkataannya. Keheningan sesaat tercipta sampai Nebi mulai berbicara untuk membalasnya.


"Kau mengetahuinya sejauh itu ... Lalu? Apa yang kau inginkan dengan mengatakan semua itu padaku? Apa itu termasuk salah satu alasan kenapa kau memasang aura berbahaya itu?"


Gadis itu mengangkat tangannya dan meluruskannya ke arah Lentera batu, lalu menjentikkan jarinya.


"Mereka melakukan hal seburuk itu pada temanku, tentu saja aku marah, kan? Kalau begitu aku akan menawarkan sebuah hal padamu. Rubah, apa kau ingin agar aku yang menggantikan dirimu, dan menghancurkan Klan Zalsa?"


Tiba-tiba, gadis itu mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Dan respon yang dikeluarkan Nebi untuk menanggapinya adalah—


"Hah? Apa yang kau katakan?"