ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.8 : REUNI SINGKAT



Beruang raksasa itu memanggil Master, meskipun kucing di bahuku sama sekali tidak menanggapinya dan hanya diam menatapnya.


"Hei, ada apa? Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa? Ini reuni setelah tiga abad berlalu dan kau hanya mengabaikan ku? Ayolah, menjadi jahat juga ada batasnya, kau tahu?"


Beruang putih raksasa itu terus mengoceh, Master hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Apa yang sebenarnya kucing ini pikirkan? Raut wajahnya jauh lebih rumit dari biasanya.


"Oh ya, aku mendengar kabar ini sekitar satu atau dua dekade yang lalu, kabar jika kau telah disegel oleh seorang anak manusia. Bagaimana rasanya? Apakah harga dirimu terinjak-injak?"


"Kh—!!"


Untuk pertama kalinya, ekspresi pada wajah kucingnya berubah. Dengan matanya yang menyipit dan giginya yang menggertak, Master terlihat sangat jengkel saat mendengarnya.


Master memang disegel sih, lagipula aku yang tanpa sengaja mengeluarkannya. Meskipun begitu, dia terlihat begitu jengkel dengan itu. Akan bohong jika aku tidak penasaran tapi aku mencoba untuk tidak terlalu terlibat dalam hal itu.


Tentu saja semuanya akan berbeda jika Master sendiri yang membahasnya.


Selagi kami bertiga masih terdiam, beruang putih itu melanjutkan ocehannya. Karena reaksi yang Master berikan sebelumnya, entah kenapa raut wajah beruang ini terlihat lebih senang.


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya khawatir denganmu, kau tahu? Kita sudah menjadi teman selama berabad-abad dan mendengar kabar jika Roh kuat sepertimu disegel, itu cukup membuatku goyah. Perutku terasa sangat sakit hingga aku tidak bisa memakan apapun saat itu."


Sepertinya hal itu benar-benar memancingnya, Master akhirnya mendengus dan mengangkat suaranya, bersama nada ejekan.


"Hah! Perut sakit dan tidak bisa makan, kau bilang? Aku berani bertaruh jika kau pasti tertawa sangat keras saat mendengarnya. Seperti biasa, mulutmu benar-benar dilumasi oleh madu dengan baik dan membuatnya cukup licin. Pertama-tama, kecilkan wujud besar itu dan turunlah. Itu membuat leherku sakit saat melihatmu."


"Kenapa harus aku yang melakukannya? Pakai saja wujud ketiga milikmu di sini dan kita bisa berbicara sebentar dengan setara. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak pernah tahu jika kau tertarik dengan madu."


Master melompat pada rumput dan berubah menjadi Harimau di wujud keduanya yang setinggi lima meter, dia berlari ke atas dan mendekati wajah beruang dengan nama Hjorn itu.


Tidak terlalu jauh, aku bisa mendengar suara keduanya cukup jelas.


"Apaan? Aku hanya sedikit membuang waktu dan bersenang-senang. Tentang itu Hjorn, aku ingin agar kau menyisihkan Huflu kali ini untukku sebagai bentuk reuni kita. Apa kau bisa melakukannya? Lagipula kau juga sudah mendapatkan cukup madu banyak kali ini, kan? Berikan sisanya padaku."


"Heeh ... Jika memang hanya untuk membuang waktu dan bersenang-senang, seharusnya kau tidak akan meminta hal seperti itu, kan? Tapi sayangnya aku tidak bisa membiarkanku mendapatkannya kali ini."


"Hah? Memangnya kenapa, beruang tolol? Enam Huflu sudah terlalu banyak untukmu, puas lah dengan semua itu dan kembalilah lalu berikan sisanya padaku. Ini sedikit merepotkan jika harus menyingkirkan ular itu bersama denganmu bersamaan."


Beruang itu mendengus tawa, sebuah kabut berwarna putih keluar pada hidungnya.


"Hah! Menyingkirkan diriku dan ular itu bagimu merepotkan, tapi tidak mustahil, ya? Seperti biasa, kau sangatlah sombong. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa menyerahkannya begitu saja kali ini, ular itu sudah menantang diriku untuk berlomba dengannya jadi satu-satunya pilihan yang bisa kau ambil adalah masuk diantara kami dan ikut mendapatkannya. Terlebih, aku cukup kesal saat ular itu mendapatkan tiga Huflu yang seharusnya bisa aku dapatkan."


Jadi perkiraan ku tentang Huflu di lokasi kesembilan yang diambil ular bernama Vips itu benar, ya? Tapi akan sedikit sulit jika kita harus ikut campur diantara perselisihan keduanya.


Meskipun begitu, jika tidak ada pilihan selain itu maka aku hanya perlu melakukannya, sih.


"Ngomong-ngomong, siapa dua keroco kecil yang bersamamu itu?"


Beruang itu akhirnya memutar pandangannya ke arahku dan Beida. Dia memberikan tekanan yang cukup besar pada tatapannya, hal itu membuat Beida mengalami sesak napas di sampingku.


Meskipun itu hanya sedikit mempengaruhiku, sepertinya latihan ketahanan yang aku lakukan bersama Master sebelumnya menghasilkan. Hal itu membuatku cukup senang tapi tampaknya itu juga menarik perhatian si beruang lebih jauh.


"Yang satunya memang keroco tapi yang satunya mampu menahan tekanan yang aku berikan. Lalu bau unik ini ... Aku tidak pernah mencium sesuatu seperti ini. Hei kau, sebutkan namamu."


Beruang itu menggerakkan hidungnya beberapa kali ke arahku.


Aku berniat untuk menjawab pertanyaannya tapi Master menggigit hidung beruang itu dan menyingkirkannya. Membuat beruang itu sedikit memundurkan tubuhnya dan memasang raut waspada.


Master mengabaikan itu dan mengangkat suaranya.


"Jika kau tidak bisa melakukan apapun untukku maka pergilah, waktumu pasti hanya tersisa sedikit, kan? Ular itu pasti akan merebut Madu ketujuh milikmu jika kau terus bersantai disini bersamaku."


"Ya, aku juga berencana melakukannya. Satu hal lagi, kau bisa mampir menuju tempatku setelah semua ini selesai. Kita akan berpesta untuk merayakan keluarnya dirimu dari segel."


Master terdiam sesaat sebelum menjawabnya dengan singkat.


"Aku akan memikirkannya."


"Pastikan untuk datang pada tengah malam di tiga hari mendatang. Aku akan menunggumu bersama banyak jamuan yang ada pada tempatku. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Semoga kau bisa mendapatkannya!!"


Beruang itu pun menghilang dengan seluruh tubuhnya yang berubah menjadi partikel cahaya berwarna biru terang yang terpecah. Keberadaannya benar-benar menghilang dalam sesaat.


Master kembali pada dataran rumput dan berjalan menuju kami berdua. Aku segera mengangkat Beida yang kehilangan keseimbangannya dan masih terduduk.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Y-Ya, saya hanya sedikit terkejut dengan Aura Roh tingkat tinggi. Tingkatannya memang benar-benar mengagumkan, tapi itu juga cukup mengagumkan saat melihat anda yang seolah tidak terpengaruh sama sekali sebelumnya."


"Benarkah? Aku hanya sedikit terbiasa setelah melakukan latihan berkali-kali. Meskipun begitu, yang tadi itu memang sedikit berbahaya. Jika Master tidak mengalihkan perhatiannya, dia mungkin sudan sadar jika aku adalah seorang manusia."


Dengan Beida di sampingku, kami juga berjalan menghampiri Master. Langkah selanjutnya sudah aku pikirkan, aku yakin Master juga paham.


Dengan hidungnya yang masih berkedut, Master mendekatkan moncong mulut harimaunya di samping telingaku.


"Baunya terasa sangat jelas. Kita akan mengikutinya, kan?"


"Ya, tapi ada satu masalah yang menggangguku. Apa beruang putih itu tidak akan menyadarinya? Roh tingkat tinggi memiliki aura yang luar biasa, itu membuatku berpikir jika tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan."


"Tidak masalah. Pada dasarnya beruang itu hanya pandai dalam menemukan sesuatu, dia tidak memiliki kewaspadaan sedikitpun untuk dapat menemukan ku saat mengikutinya."


"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Master, aku akan naik."


Master sedikit menurunkan postur tubuhnya dan aku pun naik pada punggungnya. Beida mencoba untuk melakukan hal yang sama tapi tubuhnya segera dihempaskan oleh ekor Master.


"Hei, apa yang kau lakukan, Master?!"


"Mana mungkin aku akan membiarkan cecunguk ini menaiki punggungku, kan?! Lagipula dia bisa terbang sendiri, cobalah untuk berusaha!!"


"Tidak, Beida memiliki kecepatan yang cukup lambat. Itu malah membuatnya tertinggal jauh."


Master mendecakkan lidahnya laku mengulurkan ekornya pada belalang yang meringkuk lemas pada rumput hijau. Ekornya menggulung tubuh belalang itu dan membawanya.


"Dengan ini masih baik-baik saja, kan?"


"Huh? Oh, ya. Itu baik-baik saja."


Ada banyak hal yang ingin aku katakan tapi lebih baik untuk menahannya saat ini.