ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.3 : MINI STUDY TOUR LINTAS KELAS



"Kita akan mengadakan Mini Study Tour Lintas kelas. Bagaimana? Itu sedikit membingungkan saat mendengarkan namanya yang cukup panjang, kan? Baiklah, bapak akan menjelaskannya dengan detail jadi dengarkan baik-baik."


Wali kelasku mengambil sepotong kapur putih dan menekannya pada papan hitam. Dengan mood baik yang mengelilinginya, penjelasan dimulai.


Mini Study Tour Lintas Kelas.


Kegiatan yang akan diadakan selama dua hari satu malam. Karena ini adalah Mini Study Tour, tempat untuk melakukannya pun tidak terlalu jauh dan masih dalam cakupan kota yang sama.


Kegiatannya terdiri dari mengamati tumbuhan pada pegunungan tapi nyatanya ini hanyalah kegiatan yang dibuat oleh para guru untuk memberikan para muridnya bersenang-senang dan membuat banyak kenangan sebelum kelulusan.


Karena sekarang kami ada pada pertengahan februari, masih ada beberapa minggu sebelum kami melakukan upacara kelulusan di bulan april nanti. Jujur saja ini sedikit merepotkan.


Tapi bagi anak lainnya, tampaknya Mini Study Tour ini adalah sesuatu yang bagus. Mereka menerimanya begitu saja dengan senang hati.


Aku tidak paham, mungkin hal itu disebabkan karena aku tidak memiliki satupun teman untuk diajak bersenang-senang. Dan hal itu juga memberikan masalah padaku.


Karena Study Tour kali ini akan terbagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga anak di dalamnya.


Bagi seseorang yang tidak memiliki satupun teman sepertiku, ini merupakan masalah yang sangat besar karena tidak tidak ada siapapun yang bisa aku ajak untuk bergabung.


Bagaimana ini?


Saat aku memikirkan hal itu dengan serius, wali kelasku memberikan secercah harapan untukku.


Karena ini adalah Study Tour Lintas kelas, yang berarti kita juga bisa membentuk kelompok dengan anak dari kelas lainnya. Itu sangat membantuku karena aku memiliki seorang kenalan dari sana.


Aku akan memintanya untuk bergabung saat bertemu dengannya pada istirahat nanti. Semoga saja dia belum bergabung dengan anak lain. Dan semoga dia menerima ajakan yang aku berikan.


Dengan tekad yang tertanam dalam pada hati, aku menetapkan pilihanku.


Penjelasan wali kelas pun berakhir dan waktu istirahat datang setelahnya. Aku langsung pergi menuju kantin, memburu beberapa menu favorit dan duduk pada belakang gedung.


Tidak lama waktu berlalu setelah aku membuka bungkus roti pertamaku selagi melihat sampah yang terbakar di depan, Mona muncul dari sisi dinding gedung. Aku melambaikan tanganku dan gadis itu perlahan berjalan menuju arahku.


Dia membawa kotak bekal pada tangannya dan tanpa mengatakan apapun, dia duduk di sampingku dan membuka bekalnya.


Padahal aku sudah memikirkan beberapa hal untuk membicarakan hal ini tapi saat Mona ada di sampingku, pikiranku langsung menjadi kosong.


Sepertinya aku terlalu senang karena memiliki seorang teman. Baiklah, aku harus menenangkan diri dan langsung masuk ke intinya.


"Mona, aku ingin membicarakan sesuatu."


Tubuh ramping Mona sedikit tersentak saat aku tiba-tiba mengangkat suaraku.


Dengan perlahan, gadis berambut kemerahan itu melihat ke arahku dari balik kacamata bulatnya.


Tatapannya sedikit ragu dan melihat ke arah lain, dia pun mengangguk pelan dan menjawabnya dengan suara yang lemah.


"Y-Ya, ada apa?"


"Selain kelas persiapan. Kelas 3-1, kelas 3-2, kelas 3-3 akan mengadakan Mini Study Tour Lintas Kelas untuk melakukan pengamatan kehidupan di dalam pegunungan selama dua hari satu malam. Kau sudah mendengarkan penjelasannya, kan?"


Mona membalasnya dengan anggukan kecil.


"Dalam Study Tour itu, kau bisa membuat kelompok dari anak kelas lain. Bagaimana menurutmu?"


"Eh? Me-Menurutku?"


"Ya, aku menanyakan bagaimana pendapatmu tentang itu?"


"Uh? Um ... "


Apa aku terlalu berbelit-belit, ya? Itu malah membuatnya kebingungan. Tapi bagaimana aku harus menyampaikannya? Aku tidak tahu kenapa tapi terasa sedikit sulit untuk mengatakannya.


Apa ini? Aku tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya. Mulutmu terasa kaku dan pikiranku berputar di satu tempat yang sama.


Lalu untuk beberapa alasan, suasananya tampak sedikit canggung. Aku harus menaik napas dan menenangkan diri sekali lagi.


"Fuhh ... Hah ..."


Baiklah, kurasa ini sudah cukup.


"Begini ... Semisal kau masih belum bergabung dengan sebuah kelompok, mungkin kita bisa membentuknya bersama? Itu akan menyisakan satu orang lainnya tapi setidaknya kita tidak perlu khawatir."


"Ah? Ah, ya. Itu benar."


Kenapa dia harus mengulanginya? Bukannya aku sudah mengatakannya dengan jelas? Tidak, aku sudah mengatakannya dengan jelas, kan? Sial, aku tidak bisa mengingatnya.


Aku pasti mengatakannya dengan sangat jelas sebelumnya, kan?


Ya, begitulah seingatku. Kurasa?


"A-Apa Aciel yakin dengan itu?"


"Eh? Maksudnya?"


Mona memainkan jari-jarinya dan menundukkan kepalanya, membuatku tidak bisa melihat wajahnya. Apa yang sedang gadis ini pikirkan?


Aku tidak bisa memahaminya.


"Um ... Begini ... Tentang membentuk kelompok bersama itu ... Apa Aciel yakin mengajakku?"


"Uh? Tentu saja? Untuk itulah aku mengajakmu ... Ah, apa kau sudah memiliki kelompok lain? Kalau begitu kau tidak perlu menerimanya. Aku baik-baik saja dengan itu, jangan terlalu memaksakan diri."


"Tidak, bukan itu. Aku hanya senang mendengarnya. Sebenarnya aku sudah membentuk kelompok lain, jadi ... kurasa aku akan menolak ajakan itu."


"Oh, begitukah? Syukurlah kalau kau sudah membuat kelompok dengan temanmu."


"Mm ... Begitulah."


Mona mengangguk pelan dan tersenyum tipis, menyuapkan satu sendok nasi pada mulutnya selagi melihat ke arah tempat pembakaran sampah. Aku pun membuka bungkus roti kedua.


Kami menghabiskan makanan dan minuman selagi bersantai, tanpa membicarakan sesuatu yang berarti. Menunggu waktu istirahat selesai.


Begitu ya, jadi Mona sudah membentuk kelompok dengan anak lain. Yah, jika dilihat lebih dekat Mona memang memiliki paras yang bagus untuk seorang gadis, dia juga cukup tinggi.


Tidak heran jika Mona memiliki banyak teman meskipun dengan sifat pemalu itu.


Kalau begitu sisanya hanya aku, ya? Tapi dengan siapa aku harus membentuk kelompok? Aku tidak memiliki gambaran sedikitpun tentang—


"Karena itu, bagaimana jika Aciel juga bergabung ... Um, ke dalam kelompokku?"


"Eh? Apa? Maaf, aku tidak terlalu mendengarnya."


"Kelompokku masih ada dua orang, itu tidak masalah untuk menambah satu orang lagi. Kami juga kebingungan untuk mencari anggota ketiga jadi ... Aku berpikir untuk menawari Aciel juga."


"Apa kau yakin? Apa temanmu tidak akan protes dengan itu?"


"Tenang saja, aku sudah menjelaskan padanya. Yah, mungkin dia akan sedikit protes dan mengomel tapi itu bukanlah masalah besar. Jadi, bagaimana menurutmu? Apa Aciel akan menerimanya?"


Bagaimana, ya?


"Pfft—!!"


"Eh? Ke-kenapa kau malah tertawa?"


"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya merasa ini sedikit lucu, padahal aku berencana untuk menawarimu tapi apa yang terjadi benar-benar terbalik. Kau malah menawarkan ku untuk bergabung."


"Be-Begitukah? Kamu tidak perlu langsung menjawabnya. Um, begini ... Pikirkan saja dulu dan kamu bisa menjawabnya be—"


"Aku menerimanya."


"Eh?"


"Hm? Kenapa kau malah terkejut, kau sudah menawarkannya padaku, kan? Tentu saja aku akan menerimanya."


"Te-Terimakasih?"


"Tidak, harusnya aku yang berterimakasih, kan?"


Hah ... Ini benar-benar membuatku terlihat bodoh. Untuk apa aku memikirkan hal ini begitu dalam sebelumnya? Padahal apa yang sebenernya tersampaikan adalah sesuatu yang sangat sederhana.


Aku memiliki seorang teman yang cukup baik, kan?