ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.2 : PENGGANGGU



Aku terus berlari dan berlari, mengabaikan tatapan heran dari setiap orang yang aku lewati dan mempercepat langkahku. Mencari tempat yang sepi jauh lebih baik, setidaknya tidak akan ada yang memanggilku anak aneh jika mereka tidak melihatku.


Sebagian besar waktu yang aku habiskan selalu aku lalui sendirian, karena itu jika mengenai tempat yang sepi, aku cukup ahli menemukannya. Untuk tempat yang ada di dekat sekolah, satu-satunya tempat yang sepi saat ini adalah taman.


Taman hanya ramai saat sore hari oleh anak kecil. Karena siang hari adalah waktu bagi mereka untuk tidur siang. Tidak akan ada siapapun di sana saat ini, aku harus segera sampai!!


"Itu percuma, bocah manusia!! Ayo kita lakukan sebuah permainan!! Jika kau menang, maka aku akan memberikan namaku padamu dan jika kau kalah, kau harus menjadi bawahanku dan bersumpah untuk melakukan semua perintahku!!"


Mengabaikan teriakan di belakangku, aku terus berlari selagi mempertahankan napas. Tempo lari milikku mulai melambat, aku harus bertahan!!


Roh gurita abu-abu itu masih mengikuti pada jarak sepuluh meter di belakangku, jarak diantara kami tidak berubah sejak tadi. Gurita ini sama sekali tidak serius mengejarku dan hanya bermain-main.


"Memangnya permainan seperti apa yang kau inginkan?"


"Sebuah permainan untuk menghilangkan rasa bosan yang ada pada diriku!! Jika kau berhasil melakukannya, maka kaulah pemenangnya. Tapi jika kau tidak bisa melakukannya, maka kau kalah. Sederhana, kan? Itu pastinya mudah bagi anak manusia, yang merupakan tempat untuk bersenang-senang."


Sudah kuduga, selalu saja seperti itu. Kebanyakan Roh yang mendatangiku menawarkan hal yang sama, untuk membuat mereka berhenti merasa bosan. Tentu saja aku selalu menolaknya.


Entah bagaimana aku selalu berhasil melarikan diri dari mereka dan lolos, meskipun itu membuatku harus berlarian cukup lama. Berkat itu staminaku memiliki level yang lebih tinggi dari anak lain, walaupun aku juga tidak terlalu senang menerimanya.


Setelah berlari selama beberapa menit, akhirnya aku sampai pada taman. Sesuai prediksi, taman sepi saat ini. Aku langsung meluncur pada salah satu wahana dan masuk ke dalamnya, dengan cepat melaluinya dan Roh di belakangku pun mengikutinya.


Saat Roh gurita yang ada di dalam wahana masih berusaha keluar, aku sudah lolos. Sisanya hanya perlu mencari tempat bersembunyi yang tepat dan menunggu dengan tenang hingga Roh itu menyerah dan pergi. Aku masuk ke dalam wahana perosotan tertutup dan bersembunyi di dalamnya.


"Bocah manusia!! Dimana kau?! Apa jangan-jangan permainannya sudah dimulai?! Tapi kita masih belum membuat sebuah kontrak untuk hasil dari permainannya!! Cepatlah keluar!! Bocah manusia!! Dimana kau?!" Roh itu terus berteriak, mencari keberadaanku.


Beberapa saat berlalu, akhirnya Roh gurita itu pun menyerah dan pergi dari taman. Sepertinya dia berpikir jika aku sudah melarikan diri dan mencoba mencari di tempat lainnya.


Cukup mudah untuk mengelabuhi Roh bodoh sepertinya, aku beruntung hari ini.


"Setidaknya aku akan aman di taman ini untuk sementara waktu, mungkin lebih baik agar aku tidak keluar dari sini dan menunggu hingga sore. Tapi hanya diam dan menunggu saja akan membosankan, saatnya permainan kecil."


Aku segera keluar dari perosotan tertutup dan turun, berjalan menuju permukaan rumput dan mengeluarkan papan kecil catur dari tas. Catur memang biasa dimainkan oleh dua orang tapi itu tidak akan bermasalah untuk memainkannya sendiri.


Apa yang aku butuhkan hanya imajinasi. Dan untungnya, aku memiliki itu.


"Baiklah, sisanya hanya perlu menatanya~"


Aku menata setiap pion pada papan catur, mengeluarkan beberapa snack dan roti dari tas, serta botol minuman dan menatanya di samping.


Permainan catur adalah cabang olahraga yang membutuhkan waktu lama untuk penyelesaiannya. Camilan adalah sesuatu yang wajib menemaninya.


"Baiklah, semua persiapan selesai."


Aku menepuk tanganku, membuka satu bungkus roti, memakannya dan mengangkat satu pion kecil sebagai tirai pembuka pertandingan.


"Urgh—!!"


Tapi begitu aku menaruh pion berwarna putih pada dua kotak papan catur di depannya, sebuah gangguan yang tidak diharapkan lainnya muncul. Gangguan itu menekan tubuhku pada rumput dan membuat semua pion pada papan catur yang aku tata berantakan.


"Bocah manusia, aku menemukan dirimu lagi!! Bwahahaha!!!"


Itu si Roh gurita sebelumnya.


Dia melilit seluruh tubuhku dengan semua tentakelnya untuk mencegah adanya perlawanan dan menutup mulutku juga bersama tentakel untuk mencegahku berteriak. Gurita itu menindih tubuhku lebih kuat dan mendekatkan mulutnya yang berisi banyak gigi tajam pada telingaku.


"Tentu saja aku ada di sini, kan? Apa kau berpikir aku ini bodoh? Mana mungkin seorang bocah manusia bisa melarikan diri secepat itu. Karena itu aku memutuskan untuk menjauh sedikit dari taman dan mengawasi, lalu kau pun keluar dengan sendirinya."


"Bmrrghh—!!"


Dia ternyata Roh yang bertipe memiliki otak, ya?! Sialan, aku lengah!! Ah, bagaimana ini?! Aku tidak bisa bergerak, suaraku juga tidak keluar, apa yang harus aku lakukan?! Ini gawat, apa yang dia inginkan?! Sebuah permainan?!


"Bmmrrghhh—!!"


Sedikit air mata keluar pada ujung mataku, mengalir melalui pipi dan diambil oleh tentakel. Gurita itu pun menjilatinya dan sebuah senyum yang menakutkan muncul pada kepalanya.


"Asin dan gurih, sangat cocok untuk menjadikannya sebagai camilan pendamping saat meminum arak. Awalnya aku hanya berencana bermain bersamamu untuk mengisi waktu luang dan menghilangkan kebosanan tapi aku berubah pikiran."


"Brrhhgg—?!!!"


"Bocah manusia, aku akan memakan tubuhmu!!"


Gurita itu merapatkan lilitan tentakelnya pada tubuhku dan memasukkan salah satunya untuk menahan mulutku lebih dalam, rasanya sangat menyakitkan!! Sialan, siapapun tolong aku!! Siapapun!!


"Brrghh—!!"


"Bwahahahaha!! Bagus, kau bisa memberontak lebih keras!! Ayo!! Gerakan tubuhmu lebih kuat!! Lagipula tidak akan ada yang menyadari tentang apa yang akan terjadi padamu setelah ini!! Karena hanya kaulah manusia yang bisa melihatku!!"


Sialan!! Lagi-lagi begini? Kenapa selalu aku yang mengalaminya? Kenapa hanya aku yang bisa melihat mereka? Apa yang harus aku lakukan untuk melalui ini tanpa bantuan krang lain?


Sialan, tubuhku sudah kehabisan tenaga. Napasku akan habis, aku tidak bisa bernapas, tentakelnya masuk terlalu dalam pada tenggorokanku dan menahan pernafasan.


Bagaimana ini? Aku akan mati ... Aku harus melakukan sesuatu ... Sesuatu ... Aku harus melakukan sesuatu ... Untuk lolos dari situasi ini.


Tapi apa itu? Apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak tahu.


Ahh ... Entah kenapa semuanya mulai terlihat sedikit merepotkan. Mungkin ide yang bagus untuk membiarkan semuanya berakhir di sini. Setidaknya dengan ini, aku tidaklah harus menderita.


Tapi, apakah semuanya benar-benar akan berjalan baik?


"Graahhhhh—!!!"


Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara.


Suara teriakan yang dipenuhi kesakitan, diikuti bau terbakar yang cukup kuat. Aku mengenal suaranya, itu suara milik si gurita.


Apa ada yang membantuku?


"Apa yang kau lakukan?! Beraninya kau mengganggu waktu makan siang yang berharga milikku!! Kemari kau, dan Rasakan ini!!"


Tapi, kesadaranku sudah ada di ujung. Pada akhirnya, aku pingsan tanpa mengetahui apapun. Aku benar-benar kehabisan napas.