
Mari kita sedikit memundurkan temponya, ini adalah cerita pada saat aku berusia tujuh tahun. Keluarga yang menampungku pada kali ini bukanlah Marga Sena, melainkan sebuah keluarga yang menjadi kerabat lainnya dari ayahku.
Seingatku, aku hanya tinggal bersama mereka kurang lebih selama tiga bulan.
Sebuah keluarga biasa yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan seorang puteri. Diantara ketiganya, aku menjadi satu-satunya orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan mereka.
Meskipun begitu, ketiganya menyambut kedatanganku dengan hangat, bersama sebuah senyuman. Tapi diriku yang saat itu masih sangat rentan terhadap gangguan dari para Roh di sekelilingku, malah membuat ketiganya ketakutan dan seiring berjalannya waktu, jarak diantara kami pun membesar.
Selalu saja seperti itu.
Semua keluarga yang menerimaku selama ini adalah orang-orang yang sangat baik, tapi aku justru membuat mereka semua takut dengan tingkah aneh yang selalu saja aku lakukan.
Tapi masalahnya, diriku yang berusia tujuh tahun pada saat itu tidaklah memikirkannya sejauh itu. Setelah menyadari jika suasana rumah rusak akibat ulahku itu, pada akhirnya aku memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu di luar, pada sebuah taman.
Aku mulai membenci waktu untuk pulang, dan menghabiskan lebih banyak waktu di sebuah taman dekat sekolah dasar yang aku masuki, melihat anak-anak seusiaku bermain dan bersenang-senang.
____________________________________
Rona warna pada langit berubah, diikuti suhu sekitar yang perlahan mulai meningkat. Pada saat jarum jam di dinding menunjuk tepat di angka 10.00, sebuah bel yang menandakan waktu pulang bergema di seluruh bagian sekolah dasar.
Semua anak di kelas langsung menegang, memusatkan pandangan mereka pada ibu guru. Aku juga menjadi salah satunya. Ibu guru yang menyadari itu mengeluarkan senyuman canggung dan menepuk kedua tangannya.
"Baiklah!! Karena jam sekolah sudah selesai untuk hari ini, kalian bisa mengemasi barang dan memasukkannya dalam tas!! Setelah ini ibu akan mengadakan kontes ketenangan, anak yang tidak berisik boleh keluar kelas lebih dulu dengan dua permen!!"
Meskipun rasa antusias tampak pada mata semua anak, tidak ada satupun teriakan senang yang keluar. Semuanya langsung mengemasi barang mereka dan memasukkannya pada tas masing-masing, lalu duduk dengan tenang dan rapi.
Ibu guru melihat kami satu persatu dan akhirnya menunjuk salah satu anak. Jarinya mengarah pada tempat di mana aku duduk.
"Nak Aciel!! Kamu yang pertama, ayo kemari!!" ucap bu guru dengan senang.
Berkebalikan dengan itu, aku merasakan kekecewaan yang mendalam.
Hal ini sudah aku lalui beberapa kali dan setiap kali hal seperti itu terjadi, anak-anak kelas yang ada di sekitarku memusatkan pandangan mereka ke arahku dan mendecakkan lidah mereka.
"Lagi-lagi si anak aneh yang terpilih, ya?"
"Anak itu menyebalkan, kenapa dia selalu terpilih menjadi yang pertama pulang? Apa bu guru memang pilih kasih?"
"Bukannya itu karena dia selalu diam saat di kelas? Tapi aku sering melihatnya berteriak di tempat kosong sih, anak aneh itu selalu melakukannya di belakang gedung dekat pembuangan sampah."
"Dia selalu diam dan menunduk, tatapannya juga menakutkan, aku tidak ingin bermain dengannya dan menjadi aneh juga."
"Iya, papa dan mamaku juga melarangku untuk bermain dengannya. Anak itu sering terluka karena alasan yang kurang jelas."
Satu demi satu suara bermunculan saat aku berjalan ke depan kelas, membuat suasana di dalam kelas sedikit berisik dan bu guru pun menepuk tangannya sekali lagi, untuk menenangkan suasana.
"Hayo~ hayo~ kalau kalian bisik bisik seperti itu, bu guru tidak akan memulangkan kalian lo~ cobalah untuk tetap tenang~"
Aku berjalan dan menyalaminya, lalu orang itu memberiku dua permen. Tapi bu guru tidak melepaskan tanganku setelahnya membuatku melihat ke atas dan orang ini, dengan senyuman polos pada wajahnya, memberikan saran padaku.
"Nak Aciel, mungkin kamu bisa lebih aktif bicara dengan anak-anak lainnya dan tidak diam terus di kelas. Teman-temanmu semuanya anak yang baik, mereka pasti mau bermain jika kamu mengajaknya."
Bu guru mengangkat poni yang sedikit menutupi mataku, membuatku harus menatap matanya secara langsung. Tidak ada sedikitpun perasaan buruk yang bu guru arahkan padaku, dia benar-benar hanya menginginkan agar aku bisa membaur di dalam kelas.
Tapi hal seperti itu sudah sangat terlambat. Terlebih, bu guru sedikit lambat dalam memahami suasana di dalam kelas ini. Suasana di mana aku bisa mendapatkan seorang teman sudah tidak ada.
Karena itu—
"Jangan mencampuri urusanku, nenek peyot. Aku tidak membutuhkan perhatianmu."
"Eh?"
Bu guru pun membeku dengan ekspresinya yang tidak berubah. Sebelum orang ini bisa mencerna perkataan ku, aku segera keluar dari kelas dan memakan semua permen sekaligus.
"Aku merasa tidak enak melakukannya pada bu guru, padahal aku tahu bahwa niatnya yang sebenarnya adalah demi kebaikanku. Tapi jika aku tidak mengatakannya dengan jelas, bu guru malah akan melakukan hal yang tidak perlu dan membuatku dalam masalah lainnya."
Ini benar-benar sulit.
Sungguh, aku tidak akan mengalami semua ini jika saja aku bukanlah anak yang aneh. Lagian, kenapa orang lain tidak bisa melihatnya, meskipun aku bisa melihatnya dengan sangat jelas?
Melihat para Roh itu sama jelasnya seperti melihat manusia dan hewan lainnya, aku juga bisa menyentuh mereka, begitu pula sebaliknya.
Jadi aku sendiri pun tidak akan bisa mengabaikan keberadaan mereka meskipun aku sangat menginginkannya. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanya merespon mereka.
Disisi lain, para Roh itu juga tidak pernah berhenti untuk menggangguku. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini? Apa aku harus terlibat pada sesuatu seperti ini seumur hidupku?
Sial. Aku juga ingin berteman, bermain dan bersenang-senang. Tapi semuanya benar-benar menjauhiku, menatapku dengan mata yang menakutkan dan menyebutku aneh.
"Ini benar-benar melelahkan ..."
Dengan cepat, aku berjalan keluar dari sekolah, melewati kerumunan orang tua yang menunggu anak mereka di gerbang depan.
Tentu saja, tidak akan ada yang menjemputku.
"Lama-lama pulang juga terasa merepotkan, mungkin aku akan mampir ke beberapa tempat dan menunggu sampai sore. Itu pastinya akan membantu bibi agar tidak perlu repot-repot membuatkan makan siang untukku. Emma juga tidak harus protes jika aku merebut orang tuanya darinya."
Yap, menjauh adalah pilihan terbaik.
Aku tidak akan menyakiti siapapun, jika tidak ada siapapun di dekatku.
Tapi aku harus kemana, ya?
Ini masih jam sepuluh pagi jadi masih ada cukup banyak waktu sampai sore nanti. Lebih baik mengecek tempat satu persatu.
"Baiklah, dengan ini ayo kita mulai petualangan Aciel!!"
Aku mengangkat tanganku dan berteriak, tentunya tidak akan ada yang membalas itu.
Atau begitulah pikirku—
Tiba-tiba, sesuatu menggenggam tangan kananku.
"Aku mendengar jika ada anak manusia kecil yang bisa melihat Roh di dekat sini. Karena itu aku sedikit mencari tahu dan beberapa Roh memberikan informasi jika anak itu memiliki aroma yang unik."
"Eh?" tanpa sadar, aku melihat pada arah lain. Yang tentunya merupakan kesalahan fatal.
"Ternyata benar, ya? Bocah, kau terlihat enak."
Roh berwujud menyerupai gurita, dengan mata dan mulut di kepalanya, lalu asap berwarna hitam yang mengelilingi tubuh abu-abunya. Roh itu memegang salah satu tanganku dengan tentakelnya.
"Jangan ganggu aku!!" aku pun memutar tanganku, membuat tentakelnya terlepas.
Lalu tanpa persiapan sedikitpun, aku segera berlari menjauh secepat mungkin.