
Mona berlari ke arahku dan menepuk punggungku dengan kencang, meninggalkan sedikit rasa sakit dan cukup besar keterkejutan padaku. Dengan senyuman cerah pada wajahnya, dia menyapaku.
"Aciel, apa yang kamu lakukan di sini? Padahal aku berencana untuk ke rumahmu."
Aku yang masih belum terbiasa untuk menghadapi semangat tinggi dari kepribadian lain yang dia tunjukkan ini hanya bisa merespon dengan lambat disertai beberapa keraguan.
Kurasa masih ada cukup banyak waktu tersisa sampai aku benar-benar bisa terbiasa dengan sisi Mona yang ini. Semua hal membutuhkan waktu, aku tidak perlu mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Setidaknya itu yang Ella ucapkan padaku.
Tapi dari perkataan yang dia lontarkan barusan, ada sebuah kata yang sangat menarik minatku. Aku pun mengulanginya dengan ragu.
"Huh? Ah, tidak ... Hm? Ke rumahku? Kenapa kau ingin ke sana?"
Seharusnya aku tidak melakukan suatu hal sampai Mona harus pergi ke rumahku. Sial, kepribadian cerianya ini sangat sulit untuk ditebak. Aku heran bagaimana keluarganya bisa bertahan sejauh ini, tapi mereka pasti sudah terbiasa.
Mungkin akibat paman itu botak karena perbedaan perilaku anaknya. Tapi aku tidak melihatnya sebagai hal yamg buruk sih, jujur saja semua ini terlihat cukup menarik bagiku.
Meskipun, aku masih sedikit sulit untuk mengatasinya saat ini.
"Oh, sebentar. Aku akan mengambilnya."
"Hm?"
Mona mengambil sesuatu pada tas di punggungnya dan menunjukkannya padaku. Itu adalah buku pengamatan yang aku pinjamkan padanya tadi pagi untuk membantu pembuatan laporan.
Oh, jadi itu ya?
"Aku berencana untuk mengembalikan ini dan menuju rumahmu. Aku sudah mengajak Ella tapi dia tidak mau ikut karena lelah. Untuk itulah aku berangkat sendiri dan berkeliling."
Gadis berandalan itu, setidaknya aku berharap jika dia dapat menghentikan Mona. Tapi hal itu sudah tidak terlalu penting sekarang.
"Lupakan soal lainnya, apa kau tahu dimana rumahku?"
"Hm? Tidak, aku berencana untuk mencarinya dengan berkeliling. Bukannya aku sudah memberitahumu sebelumnya?"
Tidak, kau belum mengatakan itu. Kau hanya mengatakan jika kau akan berkeliling sebelumnya, apa yang sebenarnya gadis ini pikirkan? Aku harus serius untuk mengamatinya baik-baik.
Tapi untunglah aku bisa membatalkan niatnya yang ingin berkunjung ke rumah, aku sangat bersyukur sudah bertemu dengannya di sini. Tidak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi jika Bibi An melihatku membawa seorang gadis ke gudang.
Akhir-akhir ini keluarga itu juga mulai mencari beberapa kesalahan-kesalahan yang tidak aku perbuat, kelihatannya aku tidak akan tinggal di sana lebih lama lagi.
Yah, fakta jika mereka membiarkanku tinggal sampai kelulusan sudah sangat membantuku. Aku sangat berterimakasih untuk itu.
"Begitukah? Untunglah kita bertemu di sini, kalau begitu aku akan mengambilnya sekarang. Aku akan mengantarmu pulang sampai setengah jalan, bagaimana dengan itu?"
"Eh? Kita tidak akan ke rumahmu?"
"Sekarang sudah sore dan kita juga baru saja menyelesaikan Study Tour siang tadi, tubuhku masih cukup lelah dan aku ingin beristirahat. Jadi kita bisa melakukan kunjungan rumah lain waktu saja. Kau bisa mengajak Ella bersamamu nantinya."
Lain waktu, ya? Aku tidak tahu kapan itu benar-benar terjadi.
Mungkin tidak akan pernah.
"Begitukah? Aku mengerti ... Ngomong-ngomong Aciel, siapa itu?"
Mona melihat ke arah lain, dimana kak Ren dan gadis pelayan itu berada. Ah, aku benar-benar melupakan mereka karena membicarakan tentang kunjungan rumah ini.
Keduanya masih menatap ke arahku, dengan raut wajah canggung.
"Nah, aku baru bertemu beberapa saat lalu. Dia adalah seorang pelukis, kau bisa memanggilnya kak Ren dan untuk yang lainnya—"
Sebelum aku bisa menyelesaikan perkenalannya, kak Ren datang untuk memotong. Dia melangkah, mendekat pada Mona dan memegang tangannya, kemudian berbicara dengan nada ceria padaku.
"Gadis yang cantik dan penuh energi. Aciel, apa dia pacarmu?"
"... Hah?"
Orang ini, padahal kita baru saja berkenalan dan dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu. Dalam situasi normal, kau seharusnya menilainya sebagai temanku, kan?
Apa mungkin dia hanya berniat mempermainkan ku?
"Dia adalah temanku, dan juga tolong jangan memegang tangannya. kau bisa menodainya."
Aku mendorong pelan pria pirang tidak tahu malu itu dan menarik Mona, mencoba untuk.memisahkan keduanya sejauh mungkin.
"Kau jahat sekali~ jadi, siapa nama gadis ini?"
"Bukannya kau sudah mendengarku menyebutkan namanya sebelumnya? Dia adalah Mona, tolong jangan buat aku mengulanginya."
"Ya~ ya~ maafkan aku."
Meskipun kak Ren hanya menanggapi semua kata-kataku dengan senyuman tipis tapi gadis pelayan itu berbeda, tatapannya mulai menajam setiap perkataan sindiran yang aku ucapkan.
Aura di sekitarnya terasa cukup berbahaya dan membuatku sedikit takut.
Tapi di saat yang sama itu juga membuatku kagum pada gadis ini karena dia benar-benar mengabdikan dirinya pada pekerjaan dan sangat setia pada tuannya.
Tapi aku akan lebih terkesan jika dia lebih bisa mencoba lebih keras untuk mengendalikan ekspresi yang ada pada wajahnya itu.
Tidak, apa mungkin gadis ini tidak bisa melakukannya karena dirinya menyukai kak Ren? Itu bukanlah kesimpulan yang buruk, atau malahan jauh lebih wajar jika begitu.
Tidak ada seorangpun yang bisa menahan dirinya saat orang yang dia sukai dihina. Mungkin hal itu sangat cocok dengan sikap gadis pelayan ini. Kalau begitu ekspresinya yang tidak terkendali adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Meskipun begitu—
"Hah ..."
—Kisah cinta seorang pelayan dan majikannya, ya?
Itu terlalu umum dan klasik tapi menurutku cukup lumayan.
"Aciel, apa kau baru saja memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan?"
"Tidak, tidak sama sekali."
Aku segera membantah tuduhan tidak berdasar yang kak Ren katakan itu dan berpaling pada gadis yang berdiri di sampingku.
"Tapi Mona, aku cukup terkejut kau menemukan ku di sini. Kita ada cukup jauh di pinggir jalan, atau apa kau memang berencana mampir ke taman sejak awal?"
"Nah, aku mendengar suara tawa yang sangat keras di pinggir jalan tadi dan karena rasa penasaran, aku memutuskan untuk mendekat lalu aku menemukanmu di sini. Itu sepenuhnya kebetulan."
Oh, karena tawa kak Ren yang sangat keras sebelumnya itu, ya?
"Aku mengerti, kalau begitu bagaimana jika kita kembali sekarang? Aku berencana untuk pulang dan kita bisa bersama sampai tengah jalan."
"Ya, aku tidak keberatan dengan itu."
Mona langsung menerimanya dengan senyum tipis. Aku pun mengangguk dan memalingkan pandanganku pada kak Ren di depanku.
"Oke, kalau begitu kak Ren, kurasa aku akan pamit. Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi tapi mungkin itu akan terjadi dalam waktu yang cepat."
Aku mengulurkan tangan pada kak Ren, yang segera dibalasnya dengan senyum dan menjabatnya.
"Ya, aku juga berharap seperti itu. Jika kau ingin menemui ku, cukup datang ke taman ini saat sore hari, aku pasti ada di sini."
"Aku mengerti, kalau begitu sampai jumpa."
"Sampai jumpa, kak Ren."
"Ya, berhati-hatilah saat kalian berjalan pulang."
Di sela sela kepergian, aku juga mengangguk pada gadis pelayan itu tapi dia hanya membalasnya dengan tatapan tajam lain, sepertinya dia membenciku. Yah, tidak ada yang bisa dilakukan dengan itu.
Aku pun segera pergi dari taman bersama Mona, meninggalkan kak Ren dan gadis pelayan itu di belakang yang menatap kami. Meskipun begitu, masih ada sesuatu yang mengganjal padaku.
Tatapan yang keduanya arahkan padaku sebelum kedatangan Mona tadi, apa artinya itu, ya? Mereka terlihat sangat terkejut.
"Apa itu sungguh karena aku yang tiba-tiba menendang kaleng cat itu?"
"Hm? Aciel, apa kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Aku mungkin bisa menanyakannya saat kami bertemu lagi nanti, jika tidak melupakannya.