ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 1.7 : AMARAH SANG RUBAH



Langit sudah sepenuhnya menjadi gelap, memunculkan sinar bulan yang menghujamkan cahayanya pada pepohonan hutan. Suara dari angin dingin perlahan mengalir diantara pepohonan. Membawa suasana hening yang anehnya terasa nyaman dan tenang.


Karena letaknya yang jauh dari perkotaan, membuat bintang bermunculan cukup banyak dan memenuhi langit dengan kilaunya. Berapa kalipun aku melihatnya, hal ini tidak pernah sekalipun membuatku kecewa dengan keindahannya.


Suasana gunung yang hening mulai memunculkan beberapa bunyi serangga dan lolongan, Gemericik dari semak-semak, disertai suara nafas dari seekor rubah dengan sembilan kepala dan ekornya di atasku. Menahan tubuhku untuk bergerak.


Bulu emasnya yang mengeluarkan partikel cahaya keemasan setiap itu bergoyang karena angin memberikan sensasi keindahan yang menenangkan, sembilan kepalanya yang menatap tajam ke arahku memberikan sensasi dingin yang menggelitik punggungku, ditambah sembilan ekornya yang mengibas dan menyebarkan banyak partikel cahaya.


Partikel cahaya itu terlihat seperti kunang-kunang, dengan cahayanya yang berkedip. Menyebar ke sekitarnya dan menghilang cukup cepat.


Tapi disisi lain, ada seekor rubah dengan tinggi satu meter menindih tubuhku menggunakan dua kaki depannya, membuatku sama sekali tidak bisa bergerak. Lebih tepatnya, sebuah Roh yang mengambil wujud seekor rubah.


Rubah itu mendekatkan hidungnya pada wajahku dan mengendus beberapa kali, kemudian membuka sedikit moncong mulutnya yang dipenuhi oleh taring berwarna hitam.


Sedikit percikan bara api berwarna keemasan keluar saat rubah itu berbicara.


"Bocah, kau menepati janjimu. Kerja bagus, aku suka mahluk yang cerdas tapi disaat yang sama, juga membenci mereka. Kau membawa sesuatu yang menarik bersamamu, tidak bisakah kau datang sendirian ke dalam gunung?"


Aku mengangkat alisku dan tersenyum tipis, untuk membalasnya.


"Sayang sekali tapi aku sedikit pemalu, terlebih kau hanya memintaku untuk datang ke gunung dalam tiga hari, tapi kau tidak memintaku untuk datang sendiri. Lalu aku membawa penjaga tidak lebih hanya sebagai jaminan, untuk melindungi diriku dari ancaman yang tidak perlu."


Mendengarkan perkataanku, rubah itu hanya mendengus dan mengeluarkan beberapa bara api berwarna keemasan lainnya dari sudut mulutnya.


"Ancaman yang tidak perlu? Apa yang kau maksud itu diriku? Bocah manusia, kau memang sangat kurang ajar. Sebenarnya aku ingin memakan tubuhmu saat itu juga tapi sayangnya tubuhku terlalu lemah untuk melakukannya. Karena itu aku memilih waktu tiga hari untuk setidaknya memulihkan tenagaku. Tapi dengan besarnya Energi pada tubuhmu, semua Energi Spiritual milikku yang terhisap pastinya akan kembali dalam sekejap."


Rubah itu mengeluarkan lidahnya, memberikan tatapan seorang predator ke arahku.


Melihat aktingnya yang terlihat cukup nyata ini sedikit membuat diriku tanpa sengaja tertawa, perutku terasa sedikit sakit. Hal itu membuat Rubah di atas tubuhku menatapku dengan sedikit waspada.


"Memakan tubuhku? Rubah sepertimu? Aku tidak yakin jika kau benar-benar ingin melakukannya. Aku menyadari hal ini sebelumnya, jika aku sama sekali tidak merasakan niat buruk apapun yang coba kau arahkan padaku. Hanya saja—"


Sebelum aku bisa menyelesaikannya, rubah itu berteriak ke arahku, membuka lebar rahangnya yang dipenuhi oleh taring hitam berkilau.


"Diam!! Bocah manusia rendahan, memangnya apa yang kau tahu?! Rasa dari kebencian yang terus menumpuk karena tersegel selama lima ratus tahun!! Penghinaan yang telah aku terima dan emban ini!! Hanya karena salah satu rekan kami yang melakukan kesalahan hina itu ... Kami semua harus menanggung ... Sial!! Tidak bisa dimaafkan!! Aku sangat membenci Kitsu yang melakukan hal hina itu bersama manusia tapi yang lebih aku benci adalah para manusia yang berani menyerang kami semua!! Bahkan setelah kami menyuburkan tanah mereka!! Memurnikan air mereka!! Membuat kehidupan mereka menjadi nyaman!! Inikah balasan dari semua yang kami lakukan?! Menghabiskan waktu seumur hidup tersegel dan secara perlahan musnah karena Energi kami yang dihisap?! Aku akan pastikan untuk membebaskan semua rekanku yang tersegel, membunuh semua keturunan para manusia yang menyegel kami dengan kematian terburuk!!"


Berbagai emosi saling bertabrakan di dalam suara yang dikeluarkan rubah itu. Begitu juga pada air mata berkilau yang menetes dari matanya, rubah itu memasang ekspresi wajah yang dipenuhi rasa frustasi. Seolah dia tidak yakin akan suatu hal.


Suatu hal yang bahkan dirinya pun tidak mengetahuinya, tapi aku mengetahuinya.


Sebenarnya, ada sebuah hal penting yang masih aku sembunyikan dari Master. Tentang diriku yang mampu untuk melihat sebuah mimpi dari beberapa Roh yang pernah aku temui.


Tentunya itu bukanlah mimpi biasa, melainkan mimpi yang menampilkan kisah dari kehidupan Roh itu.


Tentang apa yang dia lakukan.


Tentang apa yang dia rasakan.


Tentang apa yang dia pikirkan.


Semuanya, dalam bentuk penyampaian yang sangatlah jelas.


Karena itu, aku bisa tahu dengan jelas apa yang rubah ini inginkan. Setelah aku melihat mimpinya pada sebuah malam tiga hari lalu, aku paham betul apa yang dia harapkan.


Tapi menyampaikan padanya dengan keadaan setengah-setengah seperti ini hanya akan memberikan efek yang terbalik. Karena itu aku harus menggunakan seluruh kemampuanku, yang sudah aku pelajari sebelumnya.


"Nebi, tenanglah." Ucapku dengan singkat, membuat rubah di atas tubuhku melebarkan matanya dan melompat untuk menjauh.


"Bocah, kau ... Dari mana kau mengetahui—Gurrghh!!"


Aku berdiri, mengarahkan telapak tanganku yang mengeluarkan sinar biru keputihan pada rubah yang menjauh itu.


Rubah itu sedikit membungkukkan tubuhnya, seolah mendapatkan tekanan dari atas dan membuatnya tidak bisa bergerak.


Ini adalah Teknik yang diajarkan oleh seorang Roh padaku sebelumnya, untuk menahan gerakan dari para Roh demi melindungi diriku.


Yang perlu aku lakukan hanya mengulurkan tangan, kemudian mengalirkan sebanyak mungkin Energi Spiritual pada tanganku. Lalu mengarahkannya pada Roh yang menjadi target.


Teknik ini akan bertahan hingga Energi Spiritual pada tubuhku habis.


Karena aku memiliki Energi Spiritual yang cukup banyak jadi seharusnya Teknik ini akan bertahan cukup lama tapi aku berusaha untuk tidak menggunakannya. Ini membuat para Roh akan takut padaku.


Manusia sudah tidak terlalu suka padaku jadi jika para Roh juga merasakan hal yang sama, maka aku tidak memiliki tempat lagi baik di kedua Dunia. Memikirkannya saja sudah membuatku sedikit sedih.


Selagi mengarahkan tangan kananku pada rubah yang masih tidak bergerak, aku berjalan pelan ke arahnya dan berjongkok di depannya. Mengelus kepalanya dengan lembut, mengabaikan tatapannya yang menatap semakin tajam ke arahku.


"Nebi, aku tahu kau sangat membenci Kitsu, yang merupakan sahabatmu dan juga penyebab dari Insiden lima ratus tahun lalu. Aku juga tahu jika kau sangat membenci para manusia yang sudah menyegel dirimu dan semua rekanmu. Tapi disaat yang sama, aku juga tahu jika kau tidak berniat membunuh siapapun. Apa kau ingin tahu jawabannya?"


Menatap lurus pada sembilan pasang mata rubah di depanku, aku menegaskan kalimat yang akan aku katakan.


"Karena Dewa yang kau layani, tidak memintamu untuk melakukannya. Dan karena Dewa yang sama itu juga sudah berkali-kali bersujud di depan dirimu dan para rekanmu yang tersegel, meminta maaf mewakili para manusia yang sudah menyegel kalian semua. Dewa itu melakukannya setiap tahun tanpa melewatkan siapapun sampai saat dimana dia dilupakan dan menghilang. Apakah aku salah?"