
Pemandangan yang aku lihat berubah begitu cepat sekali lagi, menampilkan tampilan hutan yang kebakaran. Tapi warna api itu sendiri bukanlah kuning kemerahan, melainkan api berwarna biru.
Api berwarna biru melahap sebagian besar dari hutan. Meskipun begitu tidak ada satu pohon pun pada hutan yang terbakar, tidak ada satu hewan pun yang berlarian, seolah api biru itu sendiri adalah sebuah ilusi. Jika melihat lebih jauh, tidak ada satupun asap yang dihasilkan api biru itu.
Tapi ada suara teriakan yang dipenuhi kepanikan dan rasa takut, memenuhi bagian hutan. Saat aku melihat lebih dekat, ada sangat banyak roh dengan ukuran bervariasi yang berlari tanpa arah memasang ekspresi putus asa pada wajah mereka.
Apa itu adalah api yang hanya membakar para Roh?
Api biru itu menyebar luas dengan sangat cepat ke seluruh bagian melalui satu pohon ke pohon lainnya dan membuat situasi di dalam hutan semakin kacau. Tidak ada satupun yang bisa menjelaskan detail situasinya padaku, apa yang sedang terjadi di sini?
Swingg—!! Pemandangan pada mataku berubah.
Menampilkan kembali kuil yang aku lihat beberapa saat sebelumnya dan seekor Rubah dengan sembilan ekor dengan sembilan kepala.
Itu Nebi.
Hutan di sekeliling kuil terbakar dengan hebat oleh api biru yang sangat besar, menyisakan kuil yang ada pada bagian tengahnya. Kuil itu tampaknya dilindungi oleh semacam dinding penghalang, membuat api biru tidak bisa mendekat lebih jauh.
"Apa yang sedang terjadi di sini?!"
Nebi berteriak pada para Roh yang berlarian untuk masuk dan berlindung di dalam kuil. Tapi tidak ada satupun Roh yang bisa menjawabnya karena rasa takut yang mereka miliki.
"Cepat jelaskan, apa yang terjadi di sini?!"
"Nona Nebi!!"
Sebuah suara datang dari arah lain, aku melihat Rubah dengan tujuh ekor dan kepala yang berlari mendekat ke arah Nebi. Apakah itu Sen? Tidak, baik suara serta auranya berbeda. Mungkin itu salah satu rekan atau saudara dari Sen.
"Chio!! Cepat jelaskan situasinya!!"
"Baik!! Saya juga tidak mengetahui detail dari situasinya tapi setidaknya saat ini ada sekitar lima puluh manusia yang menginjakkan kaki di hutan besar. Merekalah pelaku yang melakukan pembakaran besar-besaran ini!! Mereka sedang berjalan menuju tempat ini sekarang!!"
Nebi melebarkan matanya, keraguan tergambar jelas di setiap ekspresi pada wajahnya.
"Manusia, katamu?! Apa yang para manusia itu lakukan di dalam hutan?! Dan mereka pelaku yang menyebarkan abi biru ini?! Kalau begitu bagaimana status dari perjanjian yang sudah mereka sepakati itu?! Sialan, ada sangat banyak hal yang tidak diketahui."
"Nona Nebi, apa yang harus kami lakukan?!"
Nebi mendengus dan menetapkan tatapannya pada rubah bernama Chio.
"Untuk sekarang panggil sepuluh rubah magang itu dan perintahkan mereka untuk mengatur para Roh keroco ini agar mereka bisa masuk ke dalam Kuil dengan lancar, lalu temui saudara dan saudarimu setelahnya. Sen ada di gunung belakang dan Lin di gunung timur, kau bisa mencari sisanya sendiri!! Keempat saudariku dan sang Dewa sedang ada diluar saat ini, akulah yang akan menjaga tempat ini!! Cepatlah pergi!!"
"Baik!! Terimakasih banyak!!"
Chio menundukkan sedikit sudut kepalanya pada Nebi dan melompat tinggi ke arah langit, lalu tubuhnya pun terpecah menjadi tujuh bagian. Masing-masingnya memiliki satu kepala dan sebuah ekor dan menyebar ke segala arah berbeda.
Kemampuan yang mirip dengan si Pemakan bayangan.
"Manusia, ya? Sungguh, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Nebi melihat jauh pada kobaran api raksasa berwarna biru yang menelan sebagian besar hutan, bergumam selagi menajamkan matanya.
Swingg—!! Pemandangan yang aku lihat pun berubah.
Menampilkan tempat sama seperti sebelumnya, dengan Nebi yang menggertakkan taring hitamnya ke arah kumpulan manusia yang mengenakan sebuah jubah berwarna hitam dengan tudung untuk menutupi kepala mereka, kecuali satu orang dengan wajah yang dipenuhi oleh balutan perban.
"Manusia, apa maksud dari semua ini?" tanya Nebi, menyebarkan aura ancaman lebih besar.
Meskipun sebagian besar orang dengan jubah hitam itu sedikit panik, hal itu sama sekali tidak mempengaruhi pria dengan wajah perban. Tidak salah lagi, sepertinya dia pemimpin mereka.
Pria itu mengangkat tangannya untuk menenangkan pengikut di belakangnya, kemudian menjawab pertanyaan dari Nebi.
"Pertama, biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Yan Zalsa, kepala pertama dari Klan Zalsa, sebuah Organisasi yang didirikan khusus untuk membasmi para Roh yang mengganggu kehidupan para manusia. Roh Rubah yang agung, saya akan senang jika anda mengingat nama saya."
Pria dengan perban itu sedikit menurunkan kepalanya dan membungkuk. Tapi tampaknya itu malah memancing amarah Nebi lebih jauh, sembilan ekornya mulai tak terkendali.
"Sayang sekali tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mengingat nama dari manusia rendahan sepertimu. Daripada itu, cepat jawablah pertanyaanku. Manusia, apa maksud dari semua ini?"
"Begitukah? Sayang sekali. Meskipun memiliki penggambaran wujud dan keberadaan yang sangat agung, pada akhirnya Roh seperti kalian tidaklah lebih dari sekedar hewan buas. Memang ada beberapa yang memiliki kecerdasan lebih tinggi dari yang lain, meskipun sebagian besarnya bisa dengan mudah kehilangan kendali dan berakhir merugikan manusia."
"Hah?"
"Tidak, itu hanya gumaman tidak berarti dari saya. Pada akhirnya, opsi terbaik yang bisa para Roh seperti kalian gunakan adalah menjadi alat kami dan membiarkan manusia memaksimalkan potensi yang kalian miliki."
Tepat setalah pria perban itu menyelesaikan perkataannya, gumpalan cahaya membungkus tubuh raksasa dari Nebi dan menutupi wujudnya. Apa yang tampak darinya saat ini hanyalah kobaran cahaya sangat ganas dengan wujud rubah yang mengamuk.
"Manusia, ini adalah kesempatan ketiga, sekaligus kesempatan terakhirmu untuk berbicara. Apa maksud dari semua ini?"
Napas api keluar dari sembilan mulutnya, membuat suhu di sekitar menjadi sangat panas dan menampakkan sebuah fatamorgana.
Hal itu membuat semua orang selain si pria perban, terlihat kesakitan dengan tubuh mereka yang mengeluarkan banyak uap dan keringat.
Jadi ini wujud Nebi saat marah, ya? Cukup keren.
"Ini tentang rubah dengan penampilan yang sama seperti anda, bernama Kitsu. Pastinya anda kenal tentang dirinya, kan?"
"Huh? Kitsu?"
Meskipun wajahnya tertutupi oleh cahaya dari bara api, terlihat cukup jelas jika Nebi merasakan kebingungan lebih jauh karena nama Kitsu yang tiba-tiba muncul. Hal ini juga membuatku cukup penasaran saat mendengarnya.
Kenapa orang itu tiba-tiba menyebutkan nama Kitsu? Kalau tidak salah, itu nama dari Rubah dengan sembilan kepala dan ekor yang sama seperti Nebi, kan?
Dan juga, bagaimana bisa orang itu mengetahui namanya? Nama adalah sesuatu yang sangat penting bagi para Roh. Itu sedikit mustahil jika mereka memberitahukannya pada manusia. Aku mendapatkan ini dari pengalaman.
Tapi semua pertanyaan itu akan segera terjawab, saat pria dengan perban itu berbicara sekali lagi.
"Ya. Ini semua terjadi karena nona Kitsu, yang merupakan rubah seperti anda, menyamar menjadi seorang gadis manusia dan menggoda anak saya, membuatnya jatuh cinta pada nona Kitsu dan hubungan itu melahirkan sebuah keturunan manusia setengah Roh."
Keheningan tercipta, yang tentunya disebabkan oleh ucapan dari pria itu.
Tapi sebelum aku dan Nebi bisa mencerna semua perkataannya, pria dengan perban itu melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Saat saya mengetahui itu, saya meminta anak saya itu untuk membunuh anaknya dan juga membasmi Nona Kitsu sebagai bentuk tanggung jawab. Tapi hal itu malah membuat anak saya yang merupakan satu-satunya pewaris dari apa yang akan saya tinggalkan, melupakan semua tanggung jawabnya dan lebih memilih rubah itu. Dia melarikan diri dari kami dengan membawa dua mahluk itu bersama dengan dirinya."
Suara dari pria itu mengeras, melukiskan amarah yang terpendam dalam pada dirinya.
"Saya mencari dan terus mencarinya setelah itu, tapi tidak menemukan apapun. Sampai satu bulan lalu, saya akhirnya menemukan sebuah petunjuk tentang kemungkinan keberadaannya. Hal itu membawa saya pada hutan ini dan kuil di belakang anda."
Pria itu mengangkat tangannya yang dipenuhi perban, menunjuk pada arah kuil.
"Dia pasti ada di sana, kan? Tolong minggir, jangan menghalangi saya. Yang saya inginkan hanya agar anak saya kembali dan memenuhi semua tanggung jawabnya, tidak ada hal lain selain itu."
Eh? Dengan kata lain ... Bagaimana aku mengatakan ini?
Kitsu dan anak si perban ini ... Hah? Roh dan manusia melakukan hubungan tubuh? Lalu Kitsu melahirkan seorang manusia setengah Roh? Apakah begitu runtutannya yang benar? Sial, dimensi pembicaraannya terlalu tinggi untuk orang dengan otak rata-rata sepertiku.
Disaat aku mulai goyah karena berbagai informasi beruntun ini, disisi lain Nebi mendengus pelan dan tertawa kecil.
"Kisah yang membosankan, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk merangkai semua itu?"
Ucapannya membuat aura di sekitar pria perban itu menguat, dengan suaranya yang menjadi lebih berat dari sebelumnya.
"Dasar Rubah rendahan, apa kau benar-benar berpikir jika keberadaanmu itu lebih unggul dari manusia? Ketahuilah posisimu."
"Dasar bodoh, itu adalah kalimatku."
Dengan begitu, suasana pekat yang tercipta pun akhirnya pecah.
Membawa masuk skenario pertempuran, menggunakan banyak lingkaran mantera yang mengeluarkan ratusan tombak besi dan rantai bersinar keunguan di sisi manusia, serta bola api emas raksasa yang menghiasi setiap ekor dari Nebi.
Kedua sisi pun berbenturan, menghasilkan cahaya terang yang amat menyilaukan.