
Melihat keadaan dari rubah yang terbaring lemas di depanku entah kenapa membuatku merasa harus melakukan sesuatu, meskipun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk menaruh kepalanya pada pahaku dan mengelus satu demi satu dari sembilan kepalanya. Menyanyikan beberapa lagu yang aku hafalkan dari kelas menyanyi pagi tadi, dengan tenang selagi merasakan haluan sejuk dari angin yang menari.
Beberapa saat berlalu, rubah itu akhirnya bergerak dan membuka matanya.
"Anak manusia, apa yang kau lakukan?"
"Ah tidak, bagaimana aku menjelaskannya, ya? Kau terlihat sedikit lemah jadi aku berniat untuk menunggumu bangun selagi menghabiskan waktu di sini. Kau tahu, kan? Sedikit berbahaya tinggal sendirian di dalam hutan atau gunung seperti ini."
Sepertinya balasanku tampak sedikit lucu, rubah itu mendengus dengan tawa kecil dan membalas.
"Berbahaya? Dasar bodoh, hutan dan gunung sudah seperti rumah bagiku. Justru yang dalam bahaya saat ini adalah bocah manusia sepertimu, apa yang kau lakukan jika aku adalah salah satu Roh yang berniat memakan tubuhmu?"
"Yah, aku tidak yakin dengan itu. Kau juga sudah menyelamatkan diriku sebelumnya, mungkin aku akan mati jika kau tidak menolongku. Jadi meskipun kau berniat memakan tubuhku saat ini, kurasa kau memiliki hak untuk itu. Aku tidak terlalu keberatan."
Tentu saja aku bohong. Jujur saja rubah ini benar, akan jadi masalah jika dia adalah salah satu Roh jahat yang mengincar tubuhku.
Tapi anehnya aku tidak merasakan niat jahat apapun darinya, mungkin naluri yang aku punya bisa saja salah tapi aku memutuskan untuk bertaruh. Pertaruhan yang berbahaya.
Untungnya aku memenangkannya kali ini, aku sangat lega jika rubah ini adalah Roh yang mudah untuk diajak berkomunikasi dan ramah.
"Hm? Ada apa? Kenapa kau menatap seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyaku, merespon tatapan dari rubah yang ada pada pangkuan pahaku.
"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir jika kau memiliki pemikiran yang sedikit ekstrim pada kepalamu dan aku merasa jika itu berkemungkinan untuk membahayakan dirimu di masa depan nantinya."
"Ah, benarkah?"
Mungkin itu benar, aku hanya sedikit berbicara dengan manusia belakangan ini dan hal itu membuatku kurang cakap dalam menata kalimat ataupun memulai percakapan. Terkadang aku juga mengatakan sesuatu yang terlalu berlebihan.
Mungkin sudah saatnya aku memulai langkah baru dan mencari teman. Tapi semua anak di sekolah menjauhiku, apa aku harus mencari di luar lingkungan sekolah? Kurasa itu cukup sulit.
Mengabaikan kegelisahan pada diriku, rubah itu segera melompat dari pahaku dan berjalan menjauh, berhenti pada sebuah pohon dan duduk di sana, memutar posisi tubuhnya ke arahku.
"Yah, lupakan hal tidak penting dan mari kembali ke topik awal. Anak manusia, apa yang kau inginkan sebagai ganti dari membebaskan diriku dari segel yang menjijikkan itu? Jangan menahan diri, katakan apapun yang kau inginkan."
"Tidak, aku tidak terlalu menginginkan sesuatu saat ini. Lagipula aku juga tidak sengaja menabrak lentera batu itu, kau tidak perlu repot-repot untuk mengabulkan keinginanku."
Jawabku sesaat. Tapi anehnya itu malah membuat rubah di depanku memasang ekspresi jengkel di sembilan kepalanya.
"Orang sepertimu yang tidak menginginkan apapun itu tipe yang paling merepotkan. Aku ubah perkataanku, cepat sampaikan keinginanmu sekarang juga. Aku akan mengabulkannya."
Entah kenapa ini terasa seperti sebuah paksaan. Apa mungkin maksud dari tindakannya adalah dia tidak mau berhutang budi pada manusia rendahan sepertiku? Kalau begitu aku bisa memahaminya.
Tapi apa yang harus aku minta? Aku tidak memikirkan apapun saat ini ... Hm? Tidak, ada satu hal yang bisa aku minta sekarang juga.
Aku menunjuk pada kaki kananku, lebih tepatnya pada beberapa jari yang ada di sana.
"Baiklah, aku akan menerimanya. Kalau begitu apa kau bisa menyembuhkan jariku dan mengembalikannya ke tampilan semula? Ini membuatku cukup sulit untuk kembali ke rumah nanti."
"Aku bisa melakukannya tapi apa kau yakin hanya itu? Kau bisa meminta kekayaan atau yang lainnya. Keadaanku memang melemah saat ini tapi setidaknya aku masih bisa memberikan sebanyak itu pada manusia rendahan sepertimu."
Siapa yang kau sebut rendahan?
"Begitukah? Aku merasa sedikit tidak puas tapi apa boleh buat. Dengan ini aku sudah tidak memiliki hutang apapun denganmu."
Salah satu ekor dari rubah itu memanjang, kemudian mendekat pada kaki kananku dan membungkusnya sampai paha. Gawat, sensasi bulunya sangat lembut dan hangat. Aku ingin mengambilnya.
Beberapa partikel cahaya bermunculan dari ekor yang membungkus kakiku itu dan saat kakiku terbebaskan, semua luka yang ada di sana sudah menghilang sepenuhnya. Untuk memastikan, aku menggerakkan jari pada kakiku.
Sudah tidak ada rasa sakit yang tersisa.
"Kemampuan yang sangat hebat. Kau tidak butuh Rumah Sakit jika proses dari menyembuhkan luka dapat dilakukan semudah ini."
"Itu hal yang cukup mudah bagi Roh Tingkat Tinggi sepertiku untuk menyembuhkan satu atau dua luka kecil pada tubuh rapuh manusia rendahan sepertimu. Kau bisa memintanya sebanyak apapun."
Aku cukup senang dengan itu tapi lebih baik untuk tidak terluka. Dan aku akan senang jika dia tidak memanggilku rendahan.
Tapi aku masih sedikit takut untuk mengatakannya. Meskipun tidak ada niat jahat yang dia arahkan padaku sekarang tapi aku merasakan sesuatu pada aura dari Roh rubah ini.
Mungkin dia juga membenci manusia. Yah, itu hal yang cukup umum dari para Roh.
Setelah itu aku membicarakan beberapa hal bersama Roh rubah itu, selagi menghindari beberapa topik. Anehnya Roh rubah di depanku ini mengetahui cukup banyak tentang manusia.
Kami berbincang-bincang cukup lama, langit pun mulai berubah warna saat aku menyadarinya.
"Ini sudah sore, aku harus segera pulang. Kalau begitu aku akan pergi dulu, apa kau baik-baik saja aku tinggalkan sendiri?"
"Hmph! Membuat seorang anak manusia rapuh merasa khawatir padaku, sepertinya kau benar-benar meremehkanku. Daripada diriku, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri. Apa kau bisa keluar dari kaki gunung ini sendirian?"
"Ah tenang saja, aku sudah biasa bermain di sekitar sini. Gunung dan hutan sudah seperti kebun belakang rumah bagiku, meskipun aku masih bisa tersesat beberapa kali sih." balasku dengan tawa kecil yang datar.
"Kalau begitu cepat pergilah. Ah, benar juga, sebelum itu apa kau bisa berjanji padaku untuk datang kemari tiga hari lagi?"
Aku tidak menduga itu, apa dia mulai menyukaiku saat kami memulai percakapan?
"Aku bisa saja datang besok sih, bagaimana dengan itu?"
"Tidak, tiga hari saja. Aku harus memulihkan Energi yang terserap untuk sementara waktu, jadi kau bisa datang tiga hari lagi. Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?"
Benar juga, kalau tidak salah sebelumnya dia bilang jika segel lentera batu yang mengurungnya itu tipe segel terlarang yang menyerap Energi Spiritualnya secara perlahan seiring berjalannya waktu.
Energinya pasti hanya tersisa sangat sedikit sekarang, apa boleh buat kalau begitu.
"Baiklah, aku akan datang tiga hari lagi."
"Ya, aku akan menunggumu."
Dengan begitu aku pun segera kembali menuju rumah. Ada sedikit masalah saat aku pulang terlambat dan membuatku mendapatkan sedikit hukuman dari Bibi An tapi tidak ada sesuatu yang khusus selain itu.
Malam segera tiba, aku yang sudah menyelesaikan semua kegiatan hari ini segera masuk ke dalam gudang dan menyiapkan kasur lipat.
Tidak butuh waktu lama sampai aku terlelap. Dan di hari itu, aku mengalami sebuah mimpi, yang anehnya terasa begitu nyata.