ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : KEPINGAN API V



Ratusan tombak keluar pada lingkaran mantera yang dibuat oleh puluhan orang berjubah, mengejar Nebi yang terbang dengan kecepatan tinggi pada langit. Melakukan beberapa manuver dan lompatan dengan pijakan awan berwarna keemasan, membuat tombak dengan sinar keunguan itu tidak dapat mencapainya.


"Ada apa?! Apa hanya itu saja?! Sebagai sapaan, terimalah hadiah dariku!!"


Salah satu ekor Nebi bergerak, melemparkan satu bola api emas raksasa menuju kumpulan manusia itu, membuat mereka panik dan meringkuk ketakutan. Tapi beberapa saat sebelum bola api itu mencapai mereka, bola api itu terpecah dan menyebar menjadi ukuran yang jauh lebih kecil dan menabrak semua manusia itu dengan jumlah yang mencapai ribuan dan membakar tubuh mereka semua.


Tetapi sebelum bola api itu membakar tubuh beberapa manusia itu sampai habis, entah kenapa Nebi mematikannya dan membiarkan semua manusia yang tergeletak pingsan begitu saja.


Dia tidak membunuh manusia itu? Kenapa? Aku tidak memahaminya.


"Hah! Membunuh manusia seperti kalian hanya akan mencoreng martabat tinggi yang aku punya, setidaknya pahami perbedaan tingkat antara kalian dengan diriku yang agung dan kembalilah!! Putera imajinasi yang kalian cari dengan cerita karangan buruk itu tidaklah berada di sini!!"


Nebi menggerakkan satu ekornya, melemparkan bola api emas sekali lagi.


"Terlebih, jika aku memiliki manusia rendahan seperti itu di sini, pastinya aku sudah memakannya bersama arak kelas atas. Mana mungkin aku akan membiarkannya begitu saja, kan?! Baiklah, jika kalian sudah mengerti maka kembalilah!!"


Bola api raksasa itu memecah sekali lagi, menjadi ukuran yang jauh lebih kecil dan membakar setiap manusia yang mereka sentuh dan memadamkan diri beberapa saat kemudian.


Hanya tersisa sepuluh orang manusia, termasuk si perban yang hanya melihat Nebi dengan tatapan tajamnya tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa aku merasakan perasaan buruk dari orang ini, apa yang dia rencanakan?


"Seperti dugaan, Roh Tingkat Tinggi yang menjadi bawahan langsung dari seorang Dewa memanglah tidak bisa dibandingkan. Kalian semua sangatlah kuat, sangat tidak tertandingi dan sangat tidak mungkin untuk digapai. Tapi rubah yang agung, apa anda tahu kelemahan terbesar mahluk seperti itu? Kira-kira ada dimana titik buta mereka?"


Pria perban itu melayangkan tangannya yang dipenuhi perban dan menunjuk ke arah Nebi. Rantai-rantai berwarna keunguan mulai bergetar, seolah mempersiapkan diri untuk sebuah perintah yang masih belum diucapkan.


Disaat yang bersamaan, empat orang mulai menggambar sebuah simbol berbentuk lingkaran pada tanah, bergambarkan sebuah mata, rantai dan tulang di dalamnya dengan beberapa aksara yang tidak dapat terbaca olehku.


Lingkaran itu pun selesai dan mengeluarkan sebuah cahaya berwarna keunguan, lima orang lainnya mempersiapkan diri mereka dengan menghirup napas panjang, kemudian berjalan masuk ke dalam lingkaran.


Melihat itu membuat Nebi menyipitkan delapan belas matanya. Si perban sepertinya juga menyadari tatapan itu dan dengan suara yang menggambarkan sebuah kesenangan, dia melanjutkan.


"Kelemahan terbesar yang dimiliki oleh sosok agung seperti anda adalah tidak adanya Kewaspadaan, sebuah rasa antisipasi untuk mencoba membaca setiap rencana musuh dan menghalaunya. Karena kekuatan yang terlalu besar itu, anda pastinya belum pernah bertemu satupun musuh yang benar-benar kuat hingga dapat membuat anda memikirkan hal itu. Itulah kelemahan terbesar anda."


Pria perban itu menggigit salah satu jari pada tangan kirinya, lalu meneteskan darah pada lingkaran bercahaya di dekatnya.


"Dan dari kelemahan itu, sebuah titik buta anda pun tercipta. Karena anda terlalu meremehkan lawan, anda cenderung menghabiskan banyak waktu pada sebuah pertarungan, hal itu membuat lawan memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan sebuah opsi terbaik untuk melawan. Seharusnya anda menyelesaikan semua ini dengan cepat, mulai prosesnya!!"


Empat orang mengelilingi lingkaran dengan lima orang di dalamnya, mereka menyatukan tangan dan menggumamkan sesuatu. Cahaya pada lingkaran semakin kuat dan ratusan rantai diantara mereka pun menjadi semakin liar.


Beberapa hidung Nebi berkedut, dia sepertinya menyadari sesuatu.


"Manusia, kau menggunakan sebuah Teknik Terlarang, ya? Bisa-bisanya manusia rendahan sepertimu memikirkan cara menjijikkan seperti itu. Apa kau sudah siap dengan bayarannya?!"


"Tentu saja, justru karena saya manusia yang lemah, saya bisa memikirkan metode seperti ini. Dan untuk bayarannya, tentu saya sudah menyiapkan semuanya tanpa melupakan apapun."


"Hah?"


Cahaya pada lingkaran semakin menguat, disusul keluarnya sesuatu berwarna hitam dari lingkaran yang tampak seperti sebuah lengan.


Huh? Apa-apaan ini? Apa ini benar-benar terjadi?


Lengan berwarna hitam itu melilit kelima orang yang ada di dalam lingkaran dan melebur mereka menjadi potongan daging yang kecil, kemudian menghisap semuanya ke dalam lingkaran.


Gelombang listrik berwarna ungu bermunculan pada lingkaran setelahnya, disusul salah satu orang berjubah yang berteriak.


"Ya, aku ucapkan terimakasih atas pengorbanan yang kalian lakukan sejauh ini. Dengan ini semua keluarga kalian di rumah akan aku ampuni atas dosa yang telah mereka lakukan sebelumnya."


Ratusan rantai berwarna keunguan yang bergetar sedari tadi meluncur masuk ke dalam lingkaran itu sekaligus. Lingkaran itu pun menghilang, kemudian memunculkan sebuah lingkaran lain dengan ukuran yang lebih besar dan berwarna merah, yang mengeluarkan rantai kemerahan dengan tetesan darah yang menguapkan rumput di bawahnya.


"Manusia rendahan, kau benar-benar melakukannya. Mengorbankan lima nyawa manusia lain hanya untuk melawanku, bukankah kau sudah gila? Bahkan menyebutmu sebagai manusia mulai membuatku merasa malu."


Nebi menyatukan sembilan ekornya, membuat sebuah bola api yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ukurannya terus membesar, menyaingi sebuah bukit ... Tidak, sebuah gunung!!


Tapi hal itu tidak membuat pria perban itu mengeluarkan kepanikan sedikitpun, dia hanya meresponnya dengan memiringkan kepalanya dan berbicara santai.


"Terimakasih atas pujian yang anda berikan. Tapi jika hanya dengan mengorbankan lima orang maka membuat saya mampu untuk melakukan penyegelan pada Roh setingkat anda. Itu adalah bayaran yang sangat murah, saya bersedia melakukannya sebanyak apapun dengan senang hati."


"DASAR MANUSIA KEPARAT!!! KETAHUI DERAJATMU!!!"


Nebi melemparkan bola api raksasa itu pada permukaan bumi dan disisi lain, pria perban itu melayangkan tangannya dan ratusan rantai merah pun melesat ke arah langit. Keduanya pun bertabrakan, menciptakan gelombang angin yang sangat kuat.


Gelombang angin itu terlalu kuat, sampai memadamkan seluruh api biru yang menelan sebagian besar hutan dan menghancurkan penghalang yang melindungi kuil. Membuat semua yang ada di sekitarnya terbang berserakan.


Tapi—


"URGHHH—!! SIALAN!! BERANINYA KAU!!"


Ratusan rantai itu akhirnya menguraikan bola api raksasa yang Nebi lemparkan dan memusnahkannya. Kemudian dalam sesaat, mereka sudah melilit seluruh tubuh Nebi dan membatasi pergerakannya.


Meskipun Nebi berusaha memberontak tapi tampaknya hal itu percuma, tidak ada tanda jika rantai itu akan rusak. Nebi sepenuhnya tertangkap.


Disisi lain, pria perban itu meminta salah satu bawahannya untuk mengambil sebuah Lentera batu dan menatanya.


"Apakah anda tahu? Sejak pertama kali saya melihat cahaya yang anda keluarkan, saya sudah memikirkan beberapa hal yang mungkin memiliki sedikit kecocokan dengan diri anda. Saya harap anda bersedia menggunakan kemampuan itu untuk menerangi lentera batu ini, dan membuat gelapnya malam sedikit terasa hangat."


"MANUSIA SIALAANNNNN—!!! APA KAU BENAR-BENAR BERPIKIR JIKA BAYARAN DARI TEKNIK MANTERA TERLARANG SETINGGI INI HANYA BERKISAR PADA LIMA NYAWA MANUSIA?!!! DIRIMU BESERTA KETURUNANMU PASTI AKAN MENYESALINYA!!"


Mendengar peringatan dari Nebi, pria perban itu hanya mendengus.


"Yah, apapun yang terjadi di masa depan akan saya serahkan pada diri saya di saat itu. Oh satu hal lagi. Segel yang akan saya terapkan pada anda adalah tipe yang menyerap Energi Spiritual pada tubuh anda secara perlahan. Anda tidak perlu khawatir untuk musnah dalam waktu dekat dan silahkan gunakan waktu anda yang cukup banyak itu untuk merenungi banyak hal yang akan terjadi setelah ini."


Rantai merah itu meremas tubuh Nebi dan merubahnya menjadi wujud bulat, tampak seperti sebuah bara api dan memasukkannya pada lentera batu yang tersusun dengan rapi. Kemudian rantai merah itu menggulung habis Lentera batu itu hingga tidak menyisakan apapun dan menghilang.


Itu membuatnya tampak seperti Lentera batu biasa, sama seperti lentera batu yang aku tendang sebelumnya. Hanya saja tampilannya tidak berlumut dan masih bersinar.


Jadi itu benar Nebi, ya? Sepertinya mimpi ini memang menampilkan kejadian nyata yang terjadi di masa lalu. Kenapa aku bisa memilikinya?


"Baiklah, mari kita lanjutkan. Masih ada beberapa Roh rubah Tingkat Tinggi di dalam sana, kita harus berhati-hati dalam melangkah."


"Baik!!"


Pria perban itu pun berjalan masuk dengan empat pria berjubah lainnya, meninggalkan Nebi yang sudah masuk ke dalam Lentera batu. Mereka menuju ke bagian dalam kuil dengan perlahan.


Aku harus mengikuti mereka dan melihat semuanya!! Tapi saat aku berlari untuk mendekati kelima orang itu, sesuatu yang familiar terjadi kembali.


Swing—!! Dan begitulah, pemandangan pada mataku berubah sekali lagi.