
"Urghh—" aku tersentak, dan langsung membangunkan diriku dari tidur.
Napas terengah-engah, dengan keringat dingin yang membasahi tubuhku. Aku mencoba untuk duduk tapi perutku entah kenapa terasa sedikit berat dan saat aku melihatnya, Master menggulung tubuh kucing hitamnya di sana dan tertidur.
Bukannya masih ada tempat lain? Kenapa harus di atas perutku?
Meskipun begitu, sudah lama aku tidak melihat mimpi itu. Setelah itu apa yang terjadi, ya? Kalau tidak salah, aku mengatakan banyak hal kejam pada kakak perempuan Roh itu yang mungkin membuatnya tersakiti. Pada akhirnya aku sangat menyesali itu, tapi tidak sempat meminta maaf.
"Sialan, awal hari yang sangat buruk."
Cahaya matahari sudah sedikit menampakkan dirinya pada langit, membawa cukup banyak kehangatan di pagi hari yang gelap dan dingin ini.
Setelah melepas selimut yang membungkus tubuhku dan menyingkirkan Master dari atas perutku, kemudian bergegas untuk segera mandi. Pagi hari yang sama dan monoton, seperti biasanya.
Setelah menyelesaikan sarapan dan membantu membersihkan piring kotor, aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Master yang telah menunggu di depan rumah marga Sena dengan wujud kucing, langsung menghampiriku dan melompat pada bahu.
Selagi menjilat kaki depannya, Master memulai pembicaraan.
"Oh ya, aku tidak melihat rubah betina itu lagi pagi ini. Kapan dia menyelesaikan tugasnya?"
Rubah betina, tentunya yang Master maksud adalah Ebi. Dia memang tidak bersama kami pagi ini.
"Bukannya aku sudah menjawabnya berkali-kali kalau dia sedang bepergian untuk mencari segel dari tiga temannya yang tersisa? Master, kau sudah menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali selama tiga hari belakangan ini sejak keberangkatannya."
"Apa begitu? Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal kecil. Memangnya berapa banyak waktu yang dia perkirakan untuk dapat menemukan semua segel temannya itu?"
"Karena dia sudah mengetahui lokasinya jadi sisanya dia hanya perlu mencari titik penyegelan, Ebi bilang dia akan membutuhkan waktu sekitar tujuh hari untuk menyelesaikannya. Sekarang sudah hari ketiga sejak dia pergi, kalau begitu tersisa sekitar empat hari lagi."
Ada tiga titik lokasi. Jika semuanya lancar, maka hanya butuh waktu sekitar dua hari untuk ke pergi masing-masing titik segel dan satu hari sisanya untuk kembali bersama ketiga temannya.
Tapi semuanya mungkin tidak akan berjalan lancar begitu saja, pastinya akan ada beberapa halangan yang menghambat. Semoga saja dia akan memberitahuku jika hal seperti itu terjadi.
"Pada akhirnya apa yang rubah itu ingin lakukan? Aku tidak mengerti. Setelah menyelamatkan rekannya, apa yang akan mereka lakukan? Membalas dendam pada para manusia yang menyerang mereka? Atau bersembunyi sampai bisa mengumpulkan kekuatan untuk melakukannya? Atau pilihan yang hampir mustahil, memaafkan manusia?"
"Master, kenapa kau terus menanyakan hal seperti itu?"
"Aciel, bocah bodoh dan naif sepertimu mungkin tidak mengerti tapi hubungan diantara para Roh dan manusia itu cukup buruk. Karena itu aku harus selalu waspada, untuk mengeleminasi apapun yang ada di dekatku dan menjauhkan segala ancaman."
"Ancaman? Memangnya ancaman seperti apa yang akan Ebi bawa? Bukannya dia sudah tidak berniat untuk membunuh para manusia lagi?"
Mendengar balasan heran dariku itu, Master hanya menghela napasnya dan menampar pipiku menggunakan kaki depannya. Itu tidak terasa sakit, malahan terasa cukup nyaman dan lembut.
"Aku tahu jika rubah betina itu sudah tidak berniat untuk menghabisi para manusia tapi bagaimana dengan ketiga rekannya? Jika mereka masih berniat membasmi manusia, apakah rubah itu bisa meyakinkan rekannya untuk memaafkan manusia? Dan jika dia gagal, apa yang akan rubah itu lakukan? Apakah dia akan mengikuti rekannya atau malah menentang dan melawan mereka balik?"
Master melompat pada jalan dan mempercepat langkahnya, lalu berbalik ke arahku. Dengan mata hijaunya yang menyala terang, Master memberikan diriku sebuah peringatan.
Ah, jadi begitu rupanya. Master benar-benar memikirkannya sejauh ini, aku kagum dengan bagaimana dia bisa mendapatkan runtutannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah sedikit memahami bagaimana situasinya akan beralih? Dirimu bisa saja berada dalam bahaya kapanpun saat ini."
"Begitulah. Aku paham jika Master memikirkan semuanya terlalu berlebihan."
Aku berjalan melewati Master yang melebarkan kedua bola matanya.
"Dasar bocah sialan, aku sudah berbaik hati untuk menjelaskan dan kau malah menanggapinya seringan itu. Jangan harap kau bisa meminta bantuan dariku jika sesuatu terjadi padamu nantinya."
Master melompat lagi pada bahuku dan menetap.
"Jika Master melakukan itu, bukannya Master sendiri yang akan kerepotan? Kau tidak akan bisa memakan tubuhku jika aku terbunuh. Terlebih, biaya untuk menaiki bahuku cukup mahal, aku akan menganggapnya sebuah hutang saat ini dan Master bisa membayarnya dengan menolongku."
Master hanya menanggapi candaan itu dengan mendengus pelan.
"Tidak berguna, mana mungkin aku akan mengikuti omong kosong itu. Jika kau ingin aku menolong mu, maka berikan aku camilan asin yang enak."
"Ahahahaha! Begitukah? Yah, sayang sekali~"
Meskipun begitu, seperti yang Master katakan padaku, sepertinya aku memang masihlah naif dan bodoh. Setelah melihat tampilan mimpi dari Ebi sebelumnya, aku cukup memahami bisa menjadi sekejam apa manusia untuk memenuhi tujuannya.
Begitupula para Roh yang dipengaruhi oleh kekejaman itu, mereka pasti akan membalasnya dengan beberapa kali lipat lebih banyak. Untuk itu aku harus menancapkan peringatan Master dan mengingatnya baik-baik jauh di dalam hatiku.
Tidak boleh ada kelengahan sedikitpun.
Dengan titik itu pada diriku, aku pun memperkuat langkah menuju sekolah.
Tapi di pertengahan jalan aku mulai menyadari jika orang-orang melihat dengan tatapan aneh ke arahku dan saat aku mulai bertanya-tanya tentang itu. Ternyata penyebabnya adalah kucing yang menggantung di punggungku.
Awalnya aku berpikir jika wujud Master saat ini tidak dapat terlihat oleh orang lain tapi tampaknya Roh Tingkat Tinggi memiliki keistimewaan untuk mempertahankan wujud fisik dalam waktu yang sangatlah lama. Dan itu membuat orang yang tidak memiliki kemampuan Roh pun bisa melihatnya dengan jelas.
Kenapa Roh ini tidak memberitahuku hal sepenting itu lebih awal? Kalau begini aku terlihat seperti anak aneh yang membawa kucing di bahunya.
Sialan, ini sangat memalukan!!
"Oh ya, Aciel. Aku ingin membicarakan sebuah hal padamu setelah kau menyelesaikan kegiatan yang bernama sekolah ini. Aku harusnya membahasnya tiga hari lalu tapi aku melupakannya."
"Membahas sesuatu sepulang sekolah nanti? Aku bisa sih. Tapi memangnya ada hal penting apa yang terjadi? Kau bisa memberitahukannya sekarang padaku, kan? Jika itu memang hal yang penting."
"Tidak, aku akan membahasnya setelah kau menyelesaikan semua kegiatan hari ini. Kau tidak keberatan, kan?"
"Tidak, tidak ada masalah dengan itu. Memangnya tentang apa ini?"
"Sedikit cerita tentang ibumu. Setidaknya sebagai keturunannya, kau harus tahu mengenai ini. Kerena ini mungkin akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada kehidupanmu setelah ini."