
"Aciel, bau dari Roh yang mengikuti kita semakin kuat. Kita harus menyingkirkannya lebih dulu sebelum dia bisa mengganggu rencana kita. Bagaimana menurutmu?"
"Aku juga ingin melakukannya sih tapi dimana Roh itu? Aku tidak bisa melihat keberadaannya."
Aku melihat pada sekeliling tapi tetap tidak menemukan apapun, dimana sebenarnya Roh itu bersembunyi?
"Tenang saja, aku sudah memiliki beberapa kemungkinan untuk itu. Setelah mengikuti kita tanpa memperlihatkan dirinya selama ini, satu-satunya tempat yang mungkin untuk tidak menampakkan dirinya hanyalah satu."
Master mengulurkan ekornya dan melemparkan Beida pada punggungnya, menempatkan belalang itu di sampingku.
"Aku akan membuat pengecualian agar kau bisa menempati punggungku kali ini, jadi pegang buluku yang erat di sana. Aku tidak akan kembali misal kalian terjatuh ke bawah."
"Baik!! T-T-Terimakasih banyak!!" teriak Beida dengan mulut belalangnya yang mengeluarkan busa.
"Dan juga belalang, aku benar-benar akan membunuhmu jika kau berani meneteskan satu butir saja busa itu pada buluku. Aciel, awasi agar dia tidak melakukannya."
"Oke~ aku mengerti~"
"Saya bersumpah untuk tidak akan melakukannya, sebagai ganti dari nyawa saya!!"
"Baguslah jika kau mengerti. Baiklah, pegangan yang erat!!"
Aku dan Beida segera tiarap, mendekatkan kepala kami pada lautan bulu dan memegangnya sebisa mungkin. Setelah itu, Master sedikit mempercepat laju larinya dan sepertinya mendarat di suatu tempat tapi dia segera melompat menuju langit sekali lagi.
Aku sedikit mengangkat kepalaku untuk melihatnya dan yang pemandangan ada di sana adalah sesuatu yang sangat mengejutkan.
Master membuka mulutnya, mengeluarkan sebuah bola cahaya berwarna hitam kehijauan dan memusatkan sejumlah besar Energi pada bola itu. Ukurannya semakin besar dan semakin besar, sampai titik mencapai ukuran dengan diameter dua meter.
"Bwagh—!!"
Dan bola itu pun ditembakkan. Menuju suatu dataran rumput hijau yang kosong yang tidak memperlihatkan apapun dan menabraknya dengan telak. Bola itu meledak, menyebarkan kabut berwarna warna hitam kehijauan pada seluruh dataran itu.
Dan seolah air yang terhisap ke dalam tanah, semua kabut itu pun menghilang dengan cepat dan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Muncul sebuah retakan pada dataran rumput itu, yang semakin besar dan melebar. Kemudian dengan suara kaca yang pecah, semuanya pun terbuka.
Menampakkan sesuatu yang keluar dari dalam tanah, menjulur dengan cepat dengan membuat sebuah garis lurus layaknya sebuah pilar pada langit, menampakkan ukurannya yang tidak kalah besar dari beruang yang aku lihat sebelumnya.
Tidak. Daripada menyebutnya besar, mungkin lebih tepat untuk memanggilnya dengan panjang.
"Dasar harimau sialan!! Beraninya kau menyapa dengan cara kasar seperti itu!!"
Dengan sisiknya yang berwarna kecokelatan, memiliki banyak corak kemerahan diantaranya, lalu dua matanya yang tertutup oleh sebuah kain hitam tebal mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan dari dalamnya, disusul sedikit kabut tipis yang keluar pada mulut besarnya.
Kabut itu mengenai sedikit pohon di sekitarnya, mengeluarkan suara mendesis yang pelan dan membuat pepohonan itu menyusut dan mengering dengan sangat cepat disaat yang bersamaan. Itu adalah napas beracun, akan sangat gawat jika terkena.
Ular itu berdiri pada langit, dengan sebagian tubuhnya yang masih terkubur di dalam tanah itu membuatku tidak bisa mengukur panjang tubuh yang dia miliki.
Tapi saat ini dia sudah bisa mencapai ketinggian dua puluh meter hanya dengan sebagian tubuhnya, setidaknya itu pasti memiliki panjang sekitar tiga sampai empat puluh meter.
"Leore, apa tidak ada satu atau dua kata yang ingin kau katakan padaku setelah kita tidak bertemu lima puluh tahun terakhir ini? Aku dengar kau disegel oleh seorang anak manusia sekitar dua puluh tahun lalu, apa itu benar?"
"Itu bukanlah urusanmu. Lagipula aku juga tidak memiliki kewajiban untuk menjawab semua pertanyaan itu. Ular sialan, biarkan aku lewat dan menyingkir dari sini. Aku tidak akan melukaimu jika kau bisa melakukannya."
"Seperti biasa, kau selalu dingin layaknya seekor serigala yang diusir dari kawanannya. Meskipun kau hanyalah seekor harimau polos yang bisa dengan mudah disegel oleh seorang manusia rendahan."
"Apa katamu? Katakan itu sekali lagi."
Ular itu mencoba untuk mendekati Master tapi gerakannya segera dihentikan saat Master menguatkan aura tubuhnya dan memasang postur waspada. Suasana diantara mereka cukup buruk.
Meskipun begitu ular itu hanya mendengus dengan tawa dan melanjutkan perkataannya.
"Apa? Kau tidak mendengarnya dengan baik? Aku bilang jika kau hanyalah seekor harimau menyedihkan yang bahkan tidak bisa melawan seorang manusia rendahan dan membiarkan dirimu disegel dengan begitu mudah. Mempermalukan kami para Roh tingkat tinggi, lebih baik kau musnah saja."
Tapi kemudian, Master membuka mulutnya.
"Diamlah, ular sawah. Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu."
"Hah?"
"Apa? Kau mendengarnya cukup jelas kan? Aku memanggil dirimu dengan sebutan ular sawah. Jika kau tidak tahu apa artinya itu ... Benar juga, bagaimana jika aku menceritakan sebuah kisah yang menarik?"
Ular itu terdiam, tidak mengatakan apapun. Meskipun begitu, cahaya merah yang ada di balik kain hitam yang menutupi matanya semakin kuat.
"Hentikan itu."
Tampaknya hal itu cukup mempan, sesuai yang Master perkirakan. Master membuat sebuah senyum jahat pada wajahnya dan melanjutkan.
"Hentikan? Apanya yang dihentikan? Apa itu tentang diriku yang akan menceritakan sebuah kisah yang membahas adanya seekor ular yang menjadi budak dari para manusia dan diperintah oleh mereka untuk menjaga sawah dan mengusir tikus-tikus kecil?"
"Akan aku musnahkan kau!!"
"Majulah, sialan!!"
Ular itu melesat dengan mulutnya yang dipenuhi oleh kabut dan cairan bisa, langsung menuju titik dimana Master berada tapi itu bisa dihindarinya dengan beberapa lompatan. Pola yang sama diulangi beberapa kali dan tidak ada satu serangan pun yang bisa menyentuh bulu Master.
Hanya saja bisa yang terciprat dan kabut yang keluar saat ular itu membuka mulutnya benar-benar merusak lingkungan di sekitarnya. Akan merepotkan jika membiarkan hal ini terus berlanjut.
"Master!! Cepatlah selesaikan!! Kita juga harus mengikuti beruang itu!!"
"Ya!! Aku sudah punya rencana!! Aciel, aku akan mengandalkan kemampuanmu dan bantulah aku untuk menjatuhkan serangan ringan pada tubuhnya."
"Aku mengerti!!"
Master melompat beberapa kali pada langit dengan pijakan awan sebagai katalis, memutari tubuh ular itu untuk mencari titik buta tapi berapa kalipun mencoba, ular itu bisa langsung mengalihkan perhatiannya pada Master.
Tapi kesalahannya adalah dirinya yang tidak menyadari keberadaanku juga di punggung Master. Hal itu akan membawanya pada kekalahan.
"Ular sialan!! Rasakan ini!!"
Master membuka mulutnya dan mengumpulkan pusaran cahaya berwarna hitam kehijauan disana dan dengan sebuah momentum dari pijakan yang dia buat menggunakan awannya, Master melesat dengan kencang.
Membentuk garis lurus, menembus bagian depan ular itu.
"Apa kau pikir serangan depan seperti itu akan aku biarkan begitu saja?!"
Ular itu juga membuka mulutnya yang dipenuhi oleh bisa menggumpal, mengarahkan pada Master yang mendekat ke arahnya.
Hanya butuh dua detik sampai keduanya berbenturan. Dan disini giliranku untuk mengambil alih.
Aku segera mengangkat tubuhku, mengarahkan tangan kananku pada Ular yang membuka lebar mulutnya dan mengalirkan Energi sebesar mungkin keluar. Menekan ular itu dan menahan pergerakannya.
Aku tidak pernah mencobanya pada Roh tingkat tinggi, karena itu aku tidak akan tahu apa yang terjadi jika aku melakukannya. Tapi reaksi yang diberikan ular itu memberikan ketenangan pada diriku.
"Ughh—!! Tubuhku!! Sialan!! Apa yang kau lakukan?!"
Master tidak menanggapinya dan melemparkan bola cahaya di mulutnya pada tubuh ular itu.
Cahaya itu pun menabrak sisik sang ular dan meledak, menciptakan sebuah kabut yang segera masuk ke dalam tubuh si ular dalam waktu singkat.
"Gaaahhh—?!!"
Tubuhnya mengejang dan di beberapa detik selanjutnya, ular itu akhirnya terjatuh lemas pada tanah.