ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.6 : ROH BERTOPENG



"Hwahh—!! Itu tadi sangat enak!!"


Pada samping jalan dimana lampu-lampu sudah mengeluarkan sinarnya, sebagai ganti dari cahaya matahari yang sudah menghilang, menggantikan langit dengan kegelapan bintang.


Mona merenggangkan perutnya dengan raut wajah yang sangat puas. Melihat itu, tanpa sadar juga membuatku yang ada di sampingnya tersenyum.


"Kau benar, aku juga membeli beberapa untuk di rumah. Apa kau yakin tidak membelinya? Memakannya selagi belajar atau nonton TV juga tidak buruk. Itu akan mengisi Energi tubuhmu seketika."


"Tidak, aku sudah kekenyangan dan orang-orang di rumah juga tidak begitu menyukainya. Mereka semua lebih suka makanan manis."


"Aku mengerti, apa boleh buat kalau begitu."


Langitnya sudah cukup gelap, kami meninggalkan toko sekitar jam enam jadi sekarang mungkin sudah memasuki jam setengah tujuh. Tubuhku sangat lelah, setelah mandi aku pasti akan tidur.


Untuk sekolah besok ... Tidak ada tugas, kan? Dan kami juga baru menyelesaikan Study Tour siang ini, bukannya sekolah harus memberikan warna merah besoknya? Kenapa kita harus masuk?


Tubuhku benar-benar lelah, aku ingin mengistirahatkannya dan tidur sepuasnya tanpa ada satu gangguan pun. Melumuri beberapa nyeri otot juga bukan ide yang buruk.


Selagi aku memikirkan beberapa hal, kami akhirnya sampai pada jalan bercabang. Mona pun berhenti dan menepuk punggungku.


"Baiklah, aku akan ke kiri dan Aciel, kau ke arah mana?"


"Kanan, sayang sekali tapi sepertinya kita harus berpisah."


"Yah, lagipula kita bisa bertemu lagi besok di sekolah, kan? Jangan terlalu sedih."


Tidak, aku tidak sedih akan apapun.


"Ngomong-ngomong Aciel, aku ingin menanyakan ini padamu dari tadi tapi tidak menemukan timing yang pas, kucing hitam itu ... Apa dia milikmu?"


Ah, jadi itu, ya? Jantungku sempat berhenti saat dia menyebutkan Master. Jika dia menyebutkannya seperti itu maka Mona memang tidak menyadarinya, ya? Karena dia bisa melihat Roh ukuran kecil, kupikir dia setidaknya akan merasa curiga.


Tapi wujud Master juga benar-benar menyerupai seperti kucing hitam biasa jika dia tidak berbicara, aku tidak harus protes untuk itu.


"Tidak, dia bukan kucingku. Hanya kucing liar—Urghh!!"


Saat aku menjawabnya seperti itu, Master menamparku dengan kaki depannya. Mona yang melihatnya membalas dengan tawa kecil.


"Sepertinya tidak begitu, kalian benar-benar terlihat dekat satu sama lain."


"Benarkah? Aku tidak yakin dengan itu."


"Meow."


Mendengar jawaban cepat yang kami berikan, sekali lagi membuat Mona tertawa. Dia pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melambaikannya.


"Baiklah, aku akan pulang dulu. Sampai jumpa lagi di sekolah."


"Ya, berhati-hatilah."


Aku membalasnya dengan lambaikan kecil, sedangkan Master hanya mendengus.


Setelah melihat siluet dari Mona yang menghilang di kejauhan, aku pun melangkah dan berjalan untuk mengambil arah kanan dari jalanan. Sebenarnya arah kiri juga tidak terlalu masalah tapi jika memperhitungkan jaraknya, maka mengambil arah kanan adalah yang terbaik.


"Gadis yang cantik dan terlihat kuat, kau memilihnya dengan cukup baik. Bukannya dia betina yang baik untuk melahirkan anakmu?"


Aku berjalan, tanpa mengatakan apapun untuk mengurangi rasa lelah tapi kucing pada bahuku memiliki toleransi yang cukup buruk dengan itu. Master memulainya dengan kalimat kasar dan membuatku harus mengomentarinya.


"Jangan menyebut seorang gadis dan wanita dengan betina, berapa kali aku harus mengulangi itu? Dan juga hubunganku dengannya tidaklah seperti itu, jangan menyimpulkan seenaknya."


"Apaan? Apa jangan-jangan kau merasa malu? Pejantan sepertimu benar-benar terlihat jinak. Aku yakin kau bukanlah tipe manusia yang akan mendapatkan keturunan jika cara bermain yang kau berikan terlihat lembut seperti itu."


"Master, apa yang ingin kau katakan?"


"Jika kau memang menyukainya, pastikan untuk memberikan sebuah tanda jika dia adalah milikmu, agar pejantan lain tidak mengincarnya."


Kucing hitam ini, dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan.


"Tidak, sudah kubilang hubungan diantara kami tidak seperti itu, kan? Dan juga jangan menyebut laki-laki dengan pejantan."


Mendengar jawabanku itu, Master menghela napasnya dengan berlebihan dan menggoyangkan ekor hitamnya yang memanjang.


"Hah ... Laki-laki yang membosankan, kau pasti tipe orang yang menghabiskan masa tuanya dengan mengunyah biskuit sendirian bersama gigi palsu tanpa seorang keluarga di sisimu."


"Apa-apaan dengan gambaran aneh itu? Sama seperti biasa, aku tidak memahaminya. Berhentilah bicara denganku saat ini, aku benar-benar lelah dan berbicara malah membuatku kesal."


"Meskipun begitu, tatapan tajam yang gadis itu berikan mengingatkan ku dengan Anella, meskipun tekanan yang didapatkan sangat berbeda. Setidaknya menurutku kau bisa menjalin hubungan dengan gadis itu, dia tidak akan membuatmu menyesal."


Sudah kubilang untuk tidak mengajakku bicara dan menyimpulkan sesuatu seenaknya, kan? Kucing ini sama sekali tidak mendengarku. Apa aku harus membalasnya? Tidak, itu akan menjadi semakin panjang.


Lebih baik mengabaikannya saat ini. Dia pasti akan diam dengan sendirinya nanti ... Hm?


"Aciel? Kenapa kau terhenti?"


Mengabaikan Master yang berbicara padaku, aku melihat ke arah lain. Pada sebuah belokan jalan, terdapat seseorang yang mengenakan topeng aneh dengan ikatan tali tampar pada leher, pergelangan tangan dan kakinya, berjalan menyusuri jalan.


Tidak, itu bukan seseorang. Dia adalah Roh.


Dengan topeng aneh yang memiliki desain taring pada bagian tengahnya dengan dua bola mata di samping bilah taringnya. Roh itu berjalan, mengabaikan lima ikatan panjang pada tubuhnya, tapi apa yang menarik perhatianku bukanlah semua itu. Aku pun memutuskan untuk berbicara padanya.


"Hei, kau."


Master terlihat terkejut dengan apa yang aku lakukan tapi dia memilih untuk diam. Aku pun melangkah, mendekati Roh yang melihat padaku. Dia memiringkan kepalanya.


Aku menunjuk pergelangan tanganku, sebagai tanda.


"Perban di tanganmu sedikit terlepas, apa kau mau agar aku membenarkannya?"


Roh dengan topeng itu hanya menatapku, saat aku pikir jika dia tidak bisa berbicara, Roh itu mengangkat suaranya dengan nada berat. Tapi dari suaranya, Roh itu tampaknya seorang gadis.


"Padahal kau cuma anak manusia, apa kau bisa melihatku?"


"Ya, begitulah. Jadi, bagaimana? Apa kau mau agar aku membenarkan perban itu?"


"Jangan bicara seolah-olah kita akrab, dasar anak manusia. Pergilah, aku tidak membutuhkan bantuan darimu."


"Ah ..."


Tanpa menunggu balasan dariku, Roh itu berbalik dan berjalan menjauh. Sebelum aku bisa mengatakan apapun, Master memulainya.


"Jangan tiba-tiba mengajak para Roh bicara seperti itu. Ya ampun, apa yang kau lakukan jika nantinya ada masalah merepotkan yang mengikatmu? Pada akhirnya akulah yang membereskannya."


"Tapi dengan semua tali yang mengikat tubuhnya dan luka di pergelangan tangan, kaki dan lehernya itu, aku sedikit sedih saat melihatnya. Master, bagaimana jika kau yang ada di posisinya dan aku menawari dirimu bantuan? Apa Master akan merasa senang? Kau pasti merasa senang, kan?"


"Jangan bercanda, mana mungkin Roh agung sepertiku akan berakhir dengan kondisi itu. Aku sama sekali tidak bisa membayangkannya."


"Yah, itu hanya gambaran umum, kau tahu?"


Meskipun begitu, tali panjang yang mengikat Roh itu sampai terlantar di jalanan seperti ini, aku ingin tahu di mana ujung tali ini? Mungkin mengarah pada tempat Roh bertopeng itu tinggal.


Tapi karena dia sudah memintaku untuk pergi, mungkin tidaklah baik untuk terus mencampuri urusannya hanya demi memuaskan rasa ingin tahu milikku.


Lebih baik aku pulang saja untuk saat ini.