ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.14 : SURAT YANG JAUH



Langit sudah menjadi cukup gelap, berhiaskan bintang-bintang yang menjadi pernak-pernik, membuat semua titik cahaya pada langit hitam itu tampak sangat indah.


Diantara titik cahaya yang memenuhi itu, terdapat sebuah bintang jatuh, melintas jauh menuju arah selatan dan menghilang.


Setelah menyelesaikan pencarian Huflu dan menyelesaikannya, lalu memuaskan diri kami dengan madu yang sangat enak itu, akhirnya tiba waktu untuk kembali pulang.


Karena belum lama waktu berlalu sejak matahari terbenam pada ujung langit bagian barat, mungkin saat ini masih sekitar jam tujuh malam. Aku sudah mendapatkan ijin dari Bibi An, tidak perlu khawatir untuk pulang sedikit malam.


"Baiklah Tuan Aciel, kalau begitu saya akan pamit undur diri untuk saat ini."


Pada suatu jalan kembali dari gunung, belalang bernama Beida tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya padaku.


Itu sangat tiba-tiba jadi ada sedikit freeze di sisiku dan membuatku terlambat dalam merespon, tampaknya Master yang duduk pada bahuku juga mengalami hal yang sama. Setelah keheningan sesaat, aku tersentak dan membuat senyum canggung.


"Oh, ah, kau akan kembali sekarang, ya? Aku paham. Kalau begitu sampai jumpa di kesempatan selanjutnya, kau bisa menemui diriku jika mendapatkan kesulitan lainnya. Tidak perlu menahan diri."


Aku mendekati Beida dan menyentuh bahunya, menepuk lalu mengusapnya perlahan, kemudian menyesali hal itu setelahnya.


Tekstur dari kulitnya terasa sedikit kasar dengan cukup banyaknya duri kecil yang timbul di sana, aku benar-benar berharap tidak ada racun apapun pada bagian dalamnya.


Beida tampak sedikit terkejut saat aku menaruh tangan pada bahunya, hal itu membuatnya menundukkan kepala lebih dalam daei sebelumnya. Dia mengangkat suaranya, dengan sedikit getaran di sana.


"Baik, saya sangat senang dengan kalimat yang anda berikan. Untuk terakhir kalinya biarkan saya berterimakasih atas semua bantuan yang telah anda berikan dalam pencarian Huflu kali ini. Saya pasti akan membalas semuanya suatu saat nanti."


"Sudah kubilang untuk tidak terlalu memikirkannya, kan? Aku juga mendapatkan bantuan yang sama darimu jadi posisi yang kita miliki di sini setara. Tanpa bantuan dari salah satu sisi, kita tidak akan mendapatkan apa yang kita incar hari ini. Karena itu, aku juga mengucapkan terimakasih untukmu."


"Meskipun begitu, saya akan tetap berterimakasih."


"Ah baiklah, aku mengerti jadi angkatlah kepalamu. Pembicaraannya tidak akan maju jika kau terus menunduk seperti itu."


"Ah baik, maafkan saya."


Sialan, belalang ini memang menyebalkan. Tapi aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, lagipula itu adalah bentuk ketulusan yang dia berikan. Hah ... Ini memang merepotkan, meskipun begitu entah kenapa aku tidak terlalu membencinya.


Karena itulah semua ini begitu menyebalkan, jantungku terasa berdetak lebih cepat saat belalang ini mengucapkan terimakasih dan semua itu terasa cukup menyebalkan.


Sialan, ini semua menjadi jauh lebih menyebalkan karena aku merasa gelisah seperti ini tanpa tahu jelas tentang penyebabnya!!


"Hah ..."


Baiklah, aku harus menenangkan diri.


"Tuan Aciel, apakah ada sesuatu? Anda menghela napas dengan berat seperti itu."


"Hm? Ah tidak, ini bukan apa-apa jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya."


"Apa begitu? Tapi—"


Aku meletakkan tanganku pada wajah Beida, membuat belalang itu sedikit terkejut dan mundur satu langkah ke belakang.


Aku memilih untuk mengabaikan kebingungan Beida itu dan tersenyum dengan tulus.


"Tidak ada apa-apa, kau tidak perlu menanyakan apapun lebih jauh"


"—!! Sa-Saya mengerti, maafkan saya."


"Hm? Kenapa kau meminta maaf?"


"Tidak, hanya saja—Urghh!!"


Sebelum Beida bisa menyelesaikan perkataannya, Master melompat pada wajahku dan memanjangkan ekornya, melilit leher kami berdua dan berteriak dengan amarah.


"Berisik!! Aku sudah muak mendengar percakapan yang diulang-ulang seperti ini jadi cepatlah selesaikan!! Sampai kapan kalian akan mengulanginya?!"


Aku melepaskan Master yang menempel kuat pada kepalaku dan menyingkirkan ekornya dari leherku, lalu melihat Beida yang mengeluarkan banyak busa dari mulutnya.


Biasanya itu adalah pemandangan umum tapi busa yang Belalang sembah itu keluarkan kali ini disebabkan oleh sesuatu yang benar-benar berbeda.


"Master, kau mencekik Beida terlalu kencang di lehernya!! Cepat lepaskan itu sebelum terjadi sesuatu yang gawat!!"


"Huh?! Cih, dasar lemah!!"


Setelah beberapa hal yang merepotkan itu, akhirnya aku bisa mengucapkan selamat tinggal dan melihat Beida yang terbang menjauh lalu menghilang pada kegelapan malam yang diterangi sinar bulan.


Melihat belalang sebesar itu terbang memberikan perasaan aneh pada diriku tapi aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak memikirkannya.


"Kalau begitu, ayo kita pulang?"


"Ya, aku juga sudah mengantuk ... Mungkin aku akan menerima ajakan dari Hjorn besok malam saja, apa kau ingin ikut?"


"Ajakan? Ajakan seperti apa?"


Aku juga seperti mengingat sesuatu seperti itu sebelumnya, dimana ya? Itu tidak terlalu penting jadi aku melupakannya begitu saja.


"Beruang putih itu memintaku untuk datang ke tempatnya hari ini karena dia akan mengadakan pesta perayaan untukku yang berhasil keluar dari dalam segel beberapa hari lalu."


Ah, ajakan pesta itu, ya?, Memang benar, beruang itu mengajak Master sebelumnya saat kami bertemu dengannya di hutan sore tadi.


Huh?


"Tapi bukankah kalian berdua baru saja bertarung beberapa saat lalu? Apa semuanya baik-baik saja dengan itu?"


"Hm? Ah, itu hanya bermain-main. Aku dan dirinya hanya membuang-buang waktu jadi hal itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Apa kau tidak mengerti hal sekecil itu?"


Tidak, aku sama sekali tidak mengerti.


Mungkin bagi mereka berdua itu adalah sesuatu yang wajar, aku tidak perlu terlalu dalam memikirkannya dan merasa kebingungan.


"Kalau tidak ada masalah tertentu ya Master mungkin bisa datang saja? Lagipula beruang itu sudah repot-repot menyiapkan perayaan hanya untuk Master. Itu tidak sopan jika Master malah menundanya, kan? Martabat dan kehormatan adalah salah satu hal yang dimiliki Roh tingkat tinggi."


"Itu benar juga sih. Ngomong-ngomong aku ingin menanyakan satu hal, apa maksudmu saat menyebutkan hanya? Aku Roh tingkat tinggi, kau tahu?! Keinginanku adalah sebuah prioritas utama."


"Eh ... Begitukah? Bukannya itu sangat hebat?"


"Bocah sialan! Aku mulai sadar jika akhir-akhir ini mulut dan tata krama milikmu itu mulai mengendor, aku akan memperbaikinya!!"


Master melompat dan memanjat wajahku lalu menempelkan perut hitamnya pada seluruh bagian hidung dan mulutku.


"Ah! Apa yang kau lakukan, kucing sialan?! Jangan tutupi wajahku!! Aku tidak bisa bernapas!! Master!! Aku minta maaf jadi lepaskan aku!!"


"Hah!! Akan aku sadarkan kau sebesar apa perbedaan derajat yang kita miliki!! Setelah memahaminya, perbaiki tata krama busuk itu dan tata kembali pola pikirmu menjadi lebih baik!!"


"Aku mengerti!! Aku mengerti jadi lepaskan aku!!"


Butuh sedikit waktu untuk menenangkan Master dan melepaskan diri dari lilitan ekor serta perutnya. Meskipun keduanya memiliki sensasi yang lembut, itu tidak berarti jika aku tidak bisa menikmatinya.


Setelah itu kami mampir sebentar pada toko untuk membeli beberapa bakpao hangat dan memberikannya pada Master. Kucing ini langsung melupakan semuanya begitu aku memberikan itu.


Ada cukup banyak hal yang terjadi hari ini, tapi kurasa semuanya mengarah pada hal yang baik. Aku mencoba untuk memikirkan semuanya seperti itu—


Sampai aku tiba pada gudang untuk menyiapkan tempat tidur, aku menemukan sebuah surat kusam pada meja belajar dengan warna kecokelatan yang bertuliskan nama Ebi pada bagian depannya.


Aku melihat isinya, dimana itu bertuliskan jika dirinya akan memperpanjang waktu untuk mencari tempat ketiga rekannya disegel.


Apa semuanya baik-baik saja, ya? Aku harap begitu.