ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 1.6 : PENCARIAN SESAAT



Dengan semangat yang tinggi, aku memanjat menuju punggung atau bagian belakang leher Master dengan menggenggam bulunya yang sangatlah halus dan berkilau, menetapkan posisiku dan menepuk kakiku pada bagian bawah.


"Baiklah, Master!! Persiapanku sudah siap!!" Ucapku selagi menunjuk ke arah langit.


"Pastikan kau memegang buluku dengan erat, aku tidak akan menahan diri!!"


"Aku menger—Burrgghh!! Hwaa—!!!"


Sebelum aku bisa membalasnya, Master sudah melesat pada langit dan tidak sampai sepuluh detik berlalu, kami mencapai ketinggian tiga ratus meter di atas permukaan tanah.


Pemandangan gunung kecil yang diwarnai oleh warna kuning kemerahan dari langit, memperindah tampilannya layaknya sebuah lukisan.


"Memang sangat indah, aku harap semua orang bisa melihatnya juga."


"Aciel, fokuslah!! Aku akan berlari setelah ini jadi pastikan kau memiliki pegangan yang kuat, jangan sampai terjatuh!!"


"Ah! Ya, aku mengerti!!"


Aku menundukkan tubuhku, mendekatkannya pada lapisan bulu hitam yang berkilau, sembari menguatkan pegangan pada tangan serta kaki. Dengan ini harusnya semuanya sudah aman.


Lalu aku sedikit mengangkat kepalaku ke atas untuk melihat keseluruhan pemandangan gunung kecil yang ada di bawah, tanpa melewatkan satupun titik.


Memastikan bahwa aku sudah siap, Master mendengus pelan dan langsung memunculkan bantalan awan berwarna hitam kehijauan di bawah setiap telapak kakinya.


Lalu Master menggunakan awan hitam itu sebagai pijakan untuk berlari di udara dengan kecepatan tinggi.


Kami pun memulai pencarian dan mengelilingi pegunungan kecil itu, tanpa melewatkan detail sekecil apapun.


Di beberapa kesempatan Master juga bertanya pada para Roh kecil yang kami temui dan memberikan mereka perintah untuk menyebar dan ikut mencari Roh rubah itu.


Untuk berjaga jaga, aku juga memberitahu tempat pertemuan pertamaku dengan rubah itu tapi tampaknya dia sudah tidak ada di sana.


Kami terus mencari dan mencarinya, mengelilingi gunung beberapa kali dan tanpa terasa, waktu berjalan cepat sampai cahaya matahari mulai menghilang dari langit. Jam malam hampir tiba.


"Master!! Aku ingin menanyakan sesuatu!! Bukannya ada yang aneh di sini?! Roh rubah itu memintaku untuk menemuinya di gunung ini sekali lagi tapi dia sama sekali tidak ada di manapun!! Apa mungkin dia ternyata sudah pergi ke tempat dimana aku tinggal?!"


Karena tekanan udara yang cukup kuat, mengharuskan diriku untuk berteriak agar suaranya tersampaikan. Tapi aku yakin jika Master tetap akan mendengarku meskipun aku menggunakan nada biasa, pendengarannya sepertinya cukup tajam.


"Itu tidak mungkin!! Sebelumnya dialah yang menawarkan sebuah perjanjian padamu untuk bertemu di gunung ini sekali lagi, kan?!"


"Ya, dan aku menerimanya!!"


"Para Roh akan selalu menepati janji yang mereka buat, karena itu berhubungan langsung pada nama yang mereka miliki!! Nama adalah sebuah arti keberadaan bagi para Roh!! Jika membandingkannya dengan manusia, sebuah nama bagi para Roh sama pentingnya seperti sebuah jantung!!"


"Ah, begitukah?! Memangnya ada apa dengan itu?!"


"Diam dan dengarkan, dasar bocah bodoh!! Bukannya aku sudah bilang jika sebuah janji berhubungan langsung dengan nama para Roh?! Itu berarti saat para Roh membuat perjanjian, itu sama seperti mereka memasang benang pada nama yang mereka miliki!! Jika mereka melanggar janji itu, maka benang itu akan menghancurkan nama yang mereka miliki dan menghilangkan keberadaan mereka sampai tak tersisa!!"


"Sial, bukannya itu sangat menakutkan?! Lalu apa yang akan terjadi pada mereka yang menerima perjanjiannya?!"


"Hah?! Ah, jika itu para Roh maka mereka akan mendapatkan situasi yang sama. Tapi jika itu manusia, maka benang itu sendiri akan menghancurkan jantung yang mereka miliki!!"


Menghancurkan jantung? Jadi itu yang akan terjadi jika aku tidak datang ke gunung hari ini? Sial, itu sangat mengejutkan!! Aku tidak pernah tahu jika sebuah perjanjian yang diberikan para Roh memiliki pengaruh sebesar itu.


Misalnya aku tanpa sadar memutuskan untuk tidak datang ke gunung hari ini, tidak bertemu dengan Master dan tidak mendapatkan penjelasan apapun tentang situasinya. Maka besok aku sudah menjadi mayat dengan jantung yang hancur.


Dan setelah terjadi hal seperti itu, maka mereka yang menampungku juga akan mendapatkan masalah. Jadi itu yang Master maksud dengan melibatkan orang lain, ya?! Sial, ini cukup menakutkan!!


"Tapi kita sudah berkeliling ke banyak bagian dari gunung kecil ini dan masih belum menemukannya. Apa dia sembunyi di dalam sebuah lubang atau menyamar menjadi sesuatu yang lain?"


Master menggerakkan telinga dan hidungnya, lalu melihat ke beberapa titik pada gunung. Tatapan yang dikeluarkan keempat matanya menjadi sedikit lebih tajam dari sebelumnya.


"Kemungkinan itu ada. Roh rubah dikenal luas sebagai penyamar handal, menemukan mereka sama seperti mencari sebuah jarum di tengah tumpukan jerami. Ini tidak akan ada habisnya. Aku punya rencana yang lebih baik."


"Hm? Apa itu? Coba sebutkan."


"Pertama, kita turun ke permukaan dulu."


Menghilangkan pijakan awan hitam kehijauan itu, Master meluncur ke bawah dengan perlahan dan memijak pada permukaan rumput. Menundukkan kepalanya ke samping, aku pun melompat turun.


"Kita akan berpencar dan mencarinya secara terpisah. Kemungkinan untuk menemukannya akan jauh lebih tinggi dengan cara ini. Kau bisa mencarinya dengan berjalan menuju timur, sedangkan aku akan mengambil arah sebaliknya."


"Mencarinya dengan berpencar? Di tengah gunung ini? Ini memang gunung kecil tapi gunung tetaplah gunung, bagi manusia kecil dan lambat sepertiku tempat ini masih sangatlah luas. Terlebih malam sudah akan tiba, mungkin akan muncul beberapa Roh jahat yang akan memakanku."


Aku melihat sekitar, ada beberapa gerakan yang sedikit mencurigakan dari semak-semak terdekat.


"Kau tidak perlu terlalu khawatir, kita akan menemukannya dengan cepat menggunakan cara ini."


"Hm? Master, kau terlihat percaya diri. Apa cara biasa seperti ini benar-benar akan bekerja?"


"Ya, aku sangat yakin. Tapi untuk berjaga-jaga aku akan menanamkan sebuah mantera pada tubuhmu. Ini akan melindungi dirimu setidaknya dari satu serangan Roh yang kuat."


Master mendekatkan hidungnya pada dadaku dan menempelkannya, sebuah cahaya kehijauan menyala dari sana dan pecah menjadi beberapa partikel.


"Jika mantera ini aktif, aku akan langsung melesat dan menghampirimu dalam sekejap."


"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain melakukannya. Baiklah, aku setuju dengan itu."


Aku menyentuh dadaku yang masih terdapat beberapa jejak cahaya dan mengusapnya perlahan. Di sisi lain Master sudah bersiap untuk pergi.


"Kalau begitu aku akan langsung melakukannya. Kau juga cepatlah berjalan." Master melompat menuju langit dan menghilang di kejauhan.


"Ya ampun, padahal baru saja menjadi penjagaku tapi langsung meninggalkanku bahkan sebelum satu jam sejak penandatanganan kontrak. Aku harus mempertimbangkan gajinya nanti."


Membalik tubuhku, aku mengambil arah lain dari Master dan berjalan masuk ke dalam hutan. Tapi tiba-tiba terdengar suara gemericik dari belakangku. Dan saat aku menoleh—


"Urghh—!!"


—Sesuatu menabrak dadaku, membanting tubuhku pada tanah dan menekannya dengan pijakan yang cukup berat. Aku merasakan Deja vu.


Tapi saat aku membuka mata untuk memastikannya, yang ada di sana bukanlah Master, tapi penampilan dari Roh familiar lainnya yang sudah pernah aku lihat sebelumnya.


Dengan bulu emasnya, lalu corak garis berwarna hitam sebagai pemisah, bersama sembilan kepala dan sembilan ekor yang mengeluarkan partikel cahaya berwarna keemasan yang menerangi sekitar.


Tidak salah lagi, dia adalah Roh rubah yang aku temui sebelumnya.


"Bocah manusia, kita bertemu lagi." Ucap Roh rubah itu, menggunakan mulut dari sembilan kepalanya secara bersamaan.


Meskipun begitu, masing-masing suara yang dikeluarkannya tidak bertabrakan, tapi sinkron menjadi satu yang anehnya terasa lebih jelas.


Mendengar itu, aku mencoba mengeluarkan senyum yang sedikit canggung.


"Ya, kau terlihat lebih sehat dan gemuk dari terakhir kali kita bertemu."