
Master mencambuk ekornya yang melilit Beida pada tanah dan melompat, melintasi langit bersama pijakan awan hitam dengan corak kehijauannya. Tujuan kami adalah mengikuti beruang putih raksasa itu sampai dia mendapatkan madunya dan merebut semuanya darinya tanpa menyisakan apapun.
Tapi ada gangguan kecil, dimulai dari Master yang menemukan keanehan.
"Aciel, aku merasakan bau dari Roh di dekat sini. Lihat di belakang, apa kau menemukan sesuatu?"
"Sebentar."
Mengikuti instruksi Master, aku mengecek bagian belakang, namun tidak menemukan apapun. Yang ada hanyalah langit kosong dengan beberapa burung yang terbang dan kumpulan awan.
Tapi penciuman Master tidak akan salah, aku mengecek daratan tapi tidak menemukan apapun juga, hanya ada pepohonan tinggi yang tertutupi oleh dedaunan. Tidak ada tanda keberadaan Roh.
"Baik di langit atau daratan tidak ada, apa mungkin Roh itu memiliki kemampuan untuk tembus pandang dan membuatnya tidak terlihat menggunakan mata telanjang?"
"Tidak, tidak ada kemampuan yang seperti itu. Roh itu tidak ada di manapun, ya? Meskipun bau yang dikeluarkannya cukup menyengat. Ini menyebalkan, dia bisa menyerang dari mana saja. Aciel, tetap waspada dan awasi segala arah, jangan lengah. Minta agar belalang itu membantumu juga."
"Aku mengerti."
Master menggerakkan ekormya yang melilit Beida dan mendekatkannya pada tempatku, aku segera menjelaskan situasinya dan menyerahkan pengawasan bagian belakang padanya. Untuk bagian depan dan samping adalah bagian ku.
Fwishh—!!
Master melompat pada setiap pijakan awan yang dibuat dengan kakinya dan melesat dalam kecepatan yang stabil. Menurutnya, jarak antara kami dengan beruang putih itu sekitar dua kilometer. Beruang itu sama sekali tidak menyadari keberadaan kami.
Sejujurnya aku tidak terlalu mempercayai hal itu dan berpikir jika beruang itu sebenarnya menyadari kita yang mengikutinya dan menyiapkan banyak jebakan pada jalur yang akan dilewati tapi Master hanya menertawakan semua pendapatku itu.
"Dia adalah tipe Roh yang hanya bisa terfokus pada satu hal. Saat dirinya terlalu fokus untuk melakukan suatu hal, dia akan melupakan yang lainnya. Hal itu mungkin untuk terjadi karena fokus yang dia berikan pada hal yang dilakukannya benar-benar tinggi dan membuatnya tidak mempedulikan yang lainnya."
"Oh, aku tidak tahu jika para Roh memiliki kategori seperti itu."
"Jika dalam dunia manusia, ini sama seperti kategori manusia yang suka bicara dan mereka yang tidak suka bicara. Para Roh juga memiliki kehendaknya sendiri, itu sudah hal yang wajar jika ada berbagai macam dari mereka di luar sana. Aciel, apa kau pernah melihat para Roh yang ada di luar negeri ini?"
"Hm? Tidak, aku tidak pernah pergi ke luar negeri jadi aku juga tidak pernah melihat mereka semua. Apa Roh yang ada di luar negeri juga berbeda?"
"Yah, itu akan jadi lebih menarik jika kau melihatnya sendiri nantinya. Karena itulah tidak akan menarik jika aku menceritakan semuanya begitu saja, kan? Alami dan rasakan semuanya dengan kulitmu. Pada akhirnya pengalaman adalah guru terbaik."
"Master, kau selalu saja begitu. Mengakhiri pembicaraan di bagian tengah dan menggantung, itu membuatku lebih penasaran dengan itu, kau tahu?"
"Begitukah? Yah, kau tidak punya pilihan selain membiasakan diri dengan cepat. Kesampingkan itu, sepertinya beruang itu akan menemukan sesuatu, kita akan mendekat sedikit."
Master sedikit mempercepat langkahnya beberapa kali dan berhenti pada sebuah pohon besar, mengawasi gua di kejauhan dengan lubang yang memiliki diameter sekitar dua puluh meter.
Gua yang besar tapi jika dibandingkan dengan ukuran beruang itu, gua itu masih terlalu kecil. Dia mengambil wujud lainnya untuk masuk ke dalam, ya? Tapi akan gawat jika kita hanya menunggu di sini.
"Master, bukannya kita akan mendekat? Tidak akan terlihat apaoun di sini jika beruang itu memasuki gua. Bagaimana jika dia sudah menemukan sarang madu itu dan memakannya di dalam sana?"
"Tenanglah, aku sedang memfokuskan pendengaran ku. Meskipun hanya sedikit, aku masih bisa mendengar beberapa suaranya. Jika kau terus berteriak seperti itu, aku akan membungkam mulutmu."
Beberapa saat berlalu, Master masih terus menggerakkan telinganya sampai tiba-tiba melompat beberapa kali ke belakang. Sebelum aku bisa menanyakan apa yang terjadi, Master mengangkat suaranya.
"Tidak ada apapun di dalam gua itu, dia akan segera keluar."
"Ah, iya. Aku mengerti. Tapi bukannya Master melompat terlalu jauh? Jika begini kita hanya bisa mengandalkan pendengaran Master."
"Hah? Memangnya kenapa? Apa kau memiliki protes dengan itu?"
"Tidak sih, hanya saja tidak terlalu nyaman rasanya saat aku tidak bisa melihat apapun seperti ini. Apa tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan, ya? Master, apa ku membutuhkan bantuan?"
"Aku akan sangat terbantu jika kau bisa menutup mulu ... Beruang itu keluar. Dia akan pergi ke lokasi selanjutnya. Sepertinya dia tidak berbuah ke wujud ketiganya, apa ada yang terjadi? Ini membuatnya sedikit sulit untuk dilacak."
"Mungkin beruang itu sudah sadar jika Master mengikutinya dan berusaha melarikan diri secepat mungkin?"
"Tidak, tidak ada aatupun tanda perubahan pada suara dan napasnya. Mungkin dia hanya malas merubah wujudnya lagi."
Kami pun melanjutkan pengejaran pada beruang putih itu dan mengawasinya saat dia mengunjungi beberapa tempat. Master semakin memperpendek jarak pengejarannya seiring waktu berjalan, hal ini untuk mengukur respon beruang itu.
Untuk tempat selanjutnya setelah mengunjungi gua adalah lereng suatu gunung yang sudah tidak aktif, beruang itu memasukinya dan keluar tanpa membawa apapun setelah melakukan pengecekan selama beberapa menit.
Setelah selesai dengan lereng beberapa gunung dan tidak menemukan apapun, beruang itu melanjutkan pencariannya pada sebuah danau. Dia menyelam ke dalam danau dan keluar begitu saja.
Melihat semua lokasi dimana dia mencari madu itu benar-benar membuatku bingung. Tentang—
"—Pola pencarian seperti apa yang beruang itu lakukan? Dia terlihat hanya mencarinya secara asal-asalan pada tempat-tempat yang tidak mungkin menyimpan sebuah sarang lebah. Maksudku, mana mungkin kau bisa menemukannya di dalam danau, kan?"
"Jangan menggunakan logika saat kau membahas para Roh, sejak awal keberadaan kami sendiri dan fakta bahwa kau bisa melihatnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia. Hal ini juga berlaku sama pada sarang lebah itu."
"Begitukah? Aku cukup ragu dengan itu. Setidaknya sarang lebah itu harus ada di tempat yang masuk akal, dan juga apa Master tidak tahu?"
"Tidak, aku tidak pernah mengikuti hal-hal bodoh seperti ini. Coba kau tanyakan pada belakang di belakang itu, dia mungkin bisa menjawabnya."
Master mendekatkan ekormya sekali lagi, membawa Beida yang masih terlilit di sana.
"Beida, aku ingin menanyakan sesuatu. Tempat delapan saeang lebah yang sebelumnya itu ada di mana saja? Semuanya ada di tempat yang wajar, kan?"
"Eh? Ya, semuanya ada di tempat yang cukup normal. Memangnya ada sesuatu dengan itu."
Beberapa percikan perasaan lega dan senang melayang pada diriku setelah mendengarnya, tapi semua itu segera dimusnahkan dengan kata-kata yang Beida berikan selanjutnya.
"Sarang pertama ditemukan pada suatu celah di dalam lereng gunung, sarang kedua ditemukan di sebuah sumur tua, sarang ketiga ditemukan pada aliran sungai yang deras, sarang keempat ditemukan pada bagian terdalam sebuah gua, sarang kelima ditemukan pada celah sebuah batang pohon raksasa. Empat lainnya juga ditemukan pada tempat-tempat serupa. Semuanya tempat yang normal."
....
Seriusan? Bukannya lokasinya terlalu random?