ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.13 : KESEMPATAN SELANJUTNYA



Angin yang sedikit dingin menimpa bagian atas tubuhku, dengan sensasi hangat yang ada pada bagian bawah yang memberikan reaksi berlawanan.


Hal itu membawaku pada kesadaran dan membuka mataku, apa yang tampak di sana adalah langit dengan warna merah kekuningan, berisikan awan yang memantulkan warnanya dengan cukup baik..


"Oh, akhirnya dia bangun. Belalang, bawakan beberapa madu itu."


"Ah, baik!!"


Aku mendengar suara, milik Beida dan Master. Memutar tubuh dan mengangkatnya, melihat ke arah lain. Tepat seperti perkiraan ku, Master dengan wujud harimau besarnya ada di belakangku.


Harimau ini memberikan ekor hitamnya sebagai bantalan untuk tubuhku. Lalu ada sesuatu yang berkilau pada lapisan mulut Master dan dia segera mengelap itu dengan lidahnya. Itu terlihat enak dan mengeluarkan aroma yang manis.


Disisi lain, aku melihat belalang yang berjalan menjauh dan tampak mengambil sesuatu, lalu belalang itu berjalan kembali ke arahku dengan sebuah kendi kecil yang ada pada keempat tangannya.


Aroma manis semakin menyebar saat Beida mendekat padaku.


"Syukurlah anda sudah bangun sebelum langitnya menjadi semakin gelap. Suasananya sangat cocok untuk meminumnya saat ini jadi saya sangat berharap anda bisa menikmatinya."


Beida berhenti di depanku dan mendekatkan keempat kendi kecil pada tangannya, aku mengambil salah satunya dan membuka penutupnya.


Tampak sebuah cairan keemasan dengan aroma manis menggoda yang mengelilinginya. Saat melihat sedikit lebih dekat, disana juga tampak sebuah partikel cahaya keemasan yang keluar dari cairan itu. Daripada enak, ini lebih terlihat sangat indah.


"Ini ... Jangan-jangan ... Apa kita sudah berhasil mendapatkannya?"


Aku mengalihkan pandanganku dari cairan di dalam kendi itu pada Beida, belalang itu segera mengangguk dan aku pun melihat pada Master, yang membalas tatapanku dengan mendengus.


Beida memegang tanganku, kemudian mengangkat suaranya dengan lembut.


"Itu benar, kita telah mendapatkannya. Apa yang ada di tangan anda saat ini adalah madu Huflu. Tuan Leore membawanya beberapa saat lalu setelah merebutnya dengan paksa dari Tuan Hjorn."


"Master yang melakukannya? Ah benar, aku sedikit mengingatnya sebelum jatuh pingsan. Merebutnya secara paksa ... Apa Master bertarung dengan beruang putih itu? Kalau begitu Master yang menang, kan?"


Aku berjalan mendekat ke arah Master dan mengusapkan dahiku pada bulu hitamnya yang sangat lembut. Master segera menyingkirkan ku dengan mendorongku menggunakan hidungnya.


"Tentu saja aku memenangkannya, kan? Mana mungkin aku akan kalah dari seekor beruang yang bahkan tidak bisa mendeteksi jika dia sedang diikuti. Ini adalah hasil yang wajar, tidak perlu terlalu senang dengan itu dasar para amatir."


Aku sedikit melihat ke arah lain, dimana sebuah ekor bergerak mengibas dengan pelan. Hal itu memang tidak bisa disembunyikan, ya kan? Itu membuatku sedikit sulit untuk menahan senyuman.


"Hah? Ada apa dengan ekspresi pada wajahmu itu? Apa kau mengejekku?"


"Tidak, bukan apa-apa. Kesampingkan itu apa madunya memang hanya ada empat kendi kecil ini? Karena banyak makhluk-makhluk besar yang mencarinya, aku pikir ukurannya akan jauh lebih besar dan isinya juga jauh lebih banyak."


Aku tidak berpikir jika madu sebanyak ini akan memuaskan mereka semua, apa porsinya memang dari awal sudah terbagi menjadi sepuluh bagian, apa karena itu ada total sepuluh ronde pencarian untuk mendapatkan madu Huflu ini?


Aku memikirkan beberapa kemungkinan untuk itu tapi semuanya segera menghilang saat Beida membuka mulutnya yang dipenuhi busa.


"Ah tidak, untuk banyaknya sendiri satu sarang Huflu akan menghasilkan seratus liter madu jika semuanya bisa diserap dari sarangnya dengan baik. Saya sudah melakukannya sebelumnya."


"Seratus liter? Lalu apa empat kendi kecil ini? Kemana sembilan puluh liter lainnya?"


"Nah, tentang itu ..."


Beida melihat ke arah Master. Disaat yang sama, Master pun memalingkan wajahnya ke arah lain, sembari mengusap bibirnya yang masih tersisa beberapa kilauan tanpa mengatakan apapun.


Begitu rupanya, sembilan puluh liter lainnya sudah pergi ke perut seekor kucing, ya?


Apa boleh buat kalau begitu. Lagipula aku juga tidak akan bisa memakan semuanya sendirian. Meskipun aku juga masih sedikit terkejut jika Master sudah memakan sebanyak itu selagi aku tidak sadarkan diri.


Mungkin aku harus membuatnya bisa menahan diri sedikit.


Aku mengambil satu kendi lagi dari tangan Beida tapi belalang itu tampaknya mulai sedikit kebingungan dan mendekat satu langkah padaku dan mendekatkan dia kendi lain di tangannya.


"Ah tidak, saya sudah mengambil dua kendi sebelumnya jadi untuk empat kendi ini anda bisa membawanya. Saya hanya membutuhkan porsi untuk sahabat saya yang sudah memberikan informasi pada saya."


"Sahabatmu, ya? Kalau begitu aku juga akan memberikannya dua kendi milikku sebagai bentuk terimakasih. Lagipula kita tidak akan mendapatkan semua ini jika temanmu tidak memberikan informasi berharga itu."


Aku mencoba untuk mendorong Beida yang membawa dua kendi berisi madu itu tapi dia sepertinya masih belum menyerah.


"Tidak, anda tidak perlu repot-repot. Saya sudah membawakan porsi madu untuknya jadi saya rasa itu saja sudah cukup. Anda tidak perlu memberikan porsi yang anda miliki juga, Tuan Aciel."


Kami saling mendorong dua kendi itu satu sama lain tanpa berusaha untuk memegangnya. Lama-lama ini terasa sedikit menyebalkan.


Belalang ini terlihat seperti penurut tapi dia lumayan keras kepala juga. Apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkannya, ya? Ah benar, mungkin aku bisa mencoba cara ini.


Aku sedikit memberi kekuatan pada tanganku dan mendorong kembali dua kendi itu pada Beida, belalang itu sedikit terkejut saat aku melakukannya kerena itu membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang tapi aku langsung menaruh dua tangan pada pundaknya dan melihat langsung pada matanya.


"Beida, kau bisa membawanya. Lagipula empat kendi masih terlalu banyak untukku. Aku akan membawa dua kendi ini saja."


Beida mematung lalu menoleh ke arah lain dan terlihat cukup kesulitan. Tapi dia segera kembali menatap mataku dengan beberapa keraguan.


"Apa anda yakin?"


"Ya, kau tidak perlu menanyakannya berulang kali karena itu menyebalkan."


Jawabku dengan singkat, membuat belalang sembah di depanku menghirup napas dengan tenang dan sedikit menundukkan kepalanya padaku.


"Kalau begitu saya akan menerimanya dengan senang hati. Terimakasih banyak, Tuan Aciel. Tidak hanya telah mengulurkan tangan pada saya, tapi anda juga memberikan semua ini, saya sangat berterimakasih untuk semua itu."


Aku sudah memikirkan hal ini sebelumnya tapi belalang ini memang sangat kaku. Yah, meskipun aku tidak terlalu keberatan dengan itu sih.


"Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, lagipula kita mendapatkannya dengan kerjasama. Kau sudah memberikan informasi dan aku hanya memberikan bantuan tenaga untuk memanfaatkannya. Posisi kita setara disini sebagai rekan."


"Baik, terimakasih banyak."


Padahal aku sudah mengatakan jika posisi kami setara tapi dia masih menundukkan kepalanya seperti itu. Yah biarlah, lagipula bukan berarti dia bisa langsung menyerapnya begitu saja.


"Oke, karena semuanya sudah selesai maka aku akan mencoba madu ini. Cukup sulit untuk mendapatkannya jadi aku harap rasanya akan sepadan dengan usaha yang sudah kita lakukan."


"Anda tidak perlu khawatir tentang itu, karena rasanya pasti akan memuaskan."


"Aku senang mendengarnya ... Hm? Master, ada apa dengan tatapan itu? Master sudah memakan sangat banyak, kan? Aku tidak akan membaginya denganmu, cobalah untuk menahan diri."


"Hmph, siapa yang melihatmu? Lagipula aku sudah bosan dengan madu itu. Kau bisa memakan semuanya tanpa perlu mengkhawatirkan diriku."


"Ya, aku memang akan melakukannya. Beida, kau juga bisa membuka kendi milikmu. Kita akan memakannya bersama selagi melihat matahari terbenam. Ayo kita duduk di dataran rumput itu."


"Baik!!'


Dengan begitu, pencarian Huflu pun akhirnya berakhir. Menutup tirai saat kami melihat matahari terbenam pada puncak gunung bersama selagi menikmati madu terenak yang pernah aku makan.


Meskipun begitu, bagiku rasanya sedikit terlalu manis. Apa ini aman untuk gigi? Rasanya sangat manis sampai mau tidak mau aku harus mengkhawatirkannya.


Tapi tidak salah lagi jika rasanya memang sangat hebat, mungkin aku akan melakukannya lagi jika pencarian Huflu diadakan kembali selanjutnya.


Selanjutnya, ya? Kira-kira berapa usiaku saat itu terjadi?