
Meskipun begitu, tepat setelah aku memberikan daun talas besar pada anak manusia itu, hujan yang mengguyur hutan menjadi lebih intens dan membuatnya tidak memungkinkan untuk menggunakan Daun talas sebagai pengganti payung.
"Sepertinya hujannya menjadi lebih deras, ya?"
Anak itu tertawa kecil dengan canggung, melihat pada langit-langit yang dipenuhi oleh awan gelap. Tatapannya pun terganti pada daun talas yang aku berikan, dia menatapnya dengan seksama.
Sepertinya dia tahu jika tidak memungkinkan untuk menggunakan daun itu. Itu lebih baik agar dia berteduh lebih lama di sini, mungkin aku harus pergi dan mengawasinya dari jauh agar tidak mengganggunya lagi.
Tanpa mengatakan apapun, aku langsung berjalan menjauh dan mencoba masuk ke dalam semak-semak tapi sesuatu menyentuh pergelangan tanganku. Saat aku melihatnya, anak manusia itu sudah menghentikan ku dengan bingung.
"Aku akan bertanya untuk berjaga-jaga tapi, mau ke mana kau saat hujan lebat seperti ini?"
Aku menatapnya, kemudian mengalihkan pandanganku pada semak-semak selagi menunjuknya. Anak itu melihat ke arah yang sama.
"Kau berencana untuk masuk ke semak-semak lagi?" tanyanya sekali lagi.
Aku menjawabnya dengan dua anggukan, apa yang ingin anak ini sampaikan? Wajahnya terlihat cemas dengan bayangan kebingungan. Apa ada sesuatu yang mengganggunya?
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, mungkin lebih baik untuk menunggunya bicara.
"Daripada kau harus menunggu di dalam semak-semak saat hujan deras mengguyur seperti ini, lebih baik untuk berteduh denganku. Memang masih ada beberapa air hujan yang turun tapi tidak sebanyak itu. Berteduh akan lebih nyaman."
Hm? Manusia ini, apa dia mengkhawatirkan diriku?
Aku melepaskan pegangan anak itu dan mencoba sekeras mungkin untuk berbicara. Anak itu hanya diam menatapku.
"Aku adalah Roh, tidak ada masalah meskipun hujan mengguyur kepalaku berhari-hari. Kau tidak perlu khawatir jika aku terkena demam atau apapun, karena itu tidak akan terjadi."
Apa anak ini meremehkan diriku karena aku hanyalah Roh tingkat rendah? Meskipun aku hanya tingkat rendah setidaknya aku tetaplah Roh. Demam ataupun fenomena fisik lainnya tidak akan menjangkiti kami. Entah kenapa ini membuatku kesal.
Namun semua yang aku pikirkan sepertinya salah, anak itu menyangkalnya dengan cepat.
"Hm? Demam? Tidak, aku tidak mengkhawatirkan itu, tentu saja aku tahu jika para Roh tidak bisa terkena demam. Hmm ... Benar juga ya, alasan kenapa aku ingin kau berteduh denganku adalah karena adanya sesuatu yang disebut moral."
Anak itu mengatakan sesuatu yang membingungkan lagi, membuatku memiringkan kepala dan mengerutkan alis pada wajahku.
"Moral? Apa itu?"
"Ini sama seperti sebuah balas budi. Karena kau sudah memberikan daun talas ini padaku, tentunya aku juga tidak bisa membiarkanmu kehujanan sedangkan aku sendiri berteduh, kan?"
Ah jadi begitu, dia merasa berhutang padaku karena aku sudah memberikan daun talas itu padanya. Itu sama seperti aku yang mencoba membalas budi atas pertolongan yang dia berikan. Jadi itu yang dia maksud dengan moral.
Tidak terlalu berbeda, ya?
Kalau memang begitu, aku bisa mengerti alasan yang dia berikan. Tapi hutang budi yang aku miliki padanya masih lebih besar jadi harusnya dia tidak perlu memusingkan sesuatu seperti ini. Tapi itu malah akan memakan waktu lebih banyak.
Kurasa lebih baik menerima penawarannya, aku juga bisa mengawasinya dari dekat. Itu adalah sesuatu yang menguntungkan.
"Aku mengerti, kalau begitu aku akan berteduh denganmu."
"Terimakasih, itu sangat membantu karena kau bisa menerimanya."
Huh? Kenapa dia berterimakasih? Harusnya aku yang mengatakannya, kan?
"Hm? Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Huh? Ah, tidak ... Bukan apa-apa."
"Begitukah? Aku mengerti ... Katakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal."
Melihat pepohonan yang bergoyang karena hembusan kuat para angin, segalanya yang terhujam oleh air hujan deras, kilauan petir terlihat pada langit kejauhan dengan suara deru yang menyusul setelahnya, sekitar benar-benar dipenuhi oleh suara.
Dan saat perhatianku terpalingkan pada semua itu, tanpa sadar anak manusia di sampingku sudah menutup matanya. Anak itu tertidur, dengan memangku kucing hitam itu pada pahanya.
Meskipun begitu, aku tahu jika keduanya masih belum tidur. Telinga dari kucing hitam itu terus bergerak, menangkap setiap suara yang muncul, sangat terlihat jika kucing ini sedang waspada.
Lalu untuk anak manusia di sampingku, aku tidak tahu kenapa dia berpura-pura tidur. Itu terlihat dari alis dan matanya yang masih bergerak. Tampaknya dia tidak terlihat pandai menyembunyikan ekspresinya, aku cukup senang dengan itu.
Pada akhirnya, hal itu membuatku menatapnya lagi untuk waktu yang lama. Aku tahu anak itu menyadari tatapan dariku tapi dia masih bersikeras untuk berpura-pura tidur dan seolah tidak menyadari apapun.
Apa dia waspada denganku? Tidak, bukan begitu.
Untuk beberapa alasan, aku juga mulai merasakan jika suasana di sekitar kami mulai memadat, seolah ada sesuatu yang menekan dan membuat diriku merasa sedikit tidak nyaman.
Sepertinya anak manusia itu juga merasakannya, ekspresi tidurnya semakin rusak dan itu membuat wajahnya terlihat menarik. Tanpa sengaja, tawa kecil keluar dari mulutku.
Dan saat aku mencoba untuk menenangkan diri, anak itu membuka mulutnya. Aku melihat padanya dan matanya sudah terbuka.
Dia melihat padaku, selagi menanyakan sesuatu.
"Dua Roh yang mengganggumu sebelumnya, apa mereka selalu melakukannya?"
Saat dia menanyakan hal itu, untuk sesaat pikiranku menjadi kosong dan dengan cepat, ada sangat banyak hal yang lewat di dalam kepalaku.
Itu membuatku sedikit terkejut dan hasil dari itu adalah diriku yang tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya.
Di lain sisi, tanpa sadar aku juga mulai memunculkan sebuah senyuman dan hal itu membuat anak manusia di depanku menatapku dengan rasa cemas dan kebingungan. Ah gawat, aku harus bisa mengendalikan diri atau anak ini akan membantuku lagi.
Aku tidak boleh berhutang budi lebih jauh padanya.
Meskipun begitu, apakah aku harus memberitahunya tentang hal itu? Tapi dia sudah banyak membantuku dan hal itu mungkin akan membuatnya terlibat dalam masalah jadi kurasa aku tidaklah harus menyembunyikan apapun darinya.
"Mm ... Mereka dulunya tidak sering menggangguku karena ada ibu yang membalasnya tapi setelah ibu meninggal, tidak ada yang menghentikan mereka lagi dan mereka terus menggangguku. Itu bukanlah hal aneh saat Roh lemah ditindas."
Aku pun menceritakan semuanya pada anak manusia ini dan dia hanya mendengarku tanpa mengatakan apapun tapi saat aku menyelesaikan semua cerita yang bisa aku sampaikan, anak manusia itu mengatakan sesuatu yang tidak terduga.
"Tentunya kau tidak akan membiarkan mereka mengganggumu selamanya, kan? Akan datang saat dimana kau harus melawan."
Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana harus merespon pernyataannya itu. Membuat kata-kata yang aku keluarkan terbata-bata dan akhirnya, aku mengambil sebuah alasan yang sama.
""Um ... Itu ... Tapi aku lemah ..."
"Lemah, ya? Itu berlaku sama untukku. Tapi yang aku maksud dengan melawan bukanlah mengalahkan mereka, tapi memastikan jika kau tidak begitu saja membiarkan dirimu dengan mudah diganggu."
Jujur saja, ada cukup banyak hal yang ingin aku komentari tentang itu.
Pertama-tama saat anak ini mengatakan jika dirinya lemah, aku benar-benar ingin tahu bagian lemah mana yang dia maksudkan. Seorang anak yang memiliki hubungan dengan Roh tingkat tinggi tentunya bukanlah seseorang yang lemah.
Tapi sebagian besar perhatianku teralihkan pada apa yang anak itu katakan setelahnya. Yaitu tentang diriku yang dapat memastikan jika jika aku tidak begitu saja membiarkan para pengganggu itu menyulitkan ku. Aku pun bertanya untuk memastikannya.
Dan setelah itu, anak manusia menjawab jika yang harus aku lakukan hanyalah melawan balik. Tidak peduli dengan pukulan, tendangan ataupun gigitan, selama aku tidak menyerah dan terus melawan.
Jujur saja, aku masih tidak terlalu yakin dengan ini. Tapi anak ini sudah memberikan begitu banyak saran padaku dan dia juga mendengarkan ceritaku tanpa menanyakan apapun. Bagiku itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Karena itu, mungkin aku akan mencoba saran yang dia berikan.