
Setelah pesta selesai diadakan, aku segera menemui para Roh yang mencoba bergabung ke dalam Frouya dan memperkenalkan diri pada mereka. Ada beberapa Roh yang mencolok tapi semuanya memang memiliki aura cukup baik padaku.
Aku senang perkumpulan yang aku buat bertambah besar tapi ini masih terlalu cepat, baru satu hari Frouya terbentuk dan sudah ada tambahan sekitar dua puluh Roh baru. Mungkin kedepannya aku akan menyeleksi mereka sebagai bentuk kelayakan?
Tidak, kurasa itu ide yang tidak terlalu pas.
Ada baiknya untuk membicarakan hal ini bersama Rune dan Wasa nantinya. Aku bisa meminta beberapa pendapat mereka tentang itu.
Selanjutnya beralih ke pelepasan daun yang membungkus tubuhku, awalnya aku cukup takut saat daun itu sulit dicopot karena mengeluarkan sebuah akar yang menanamkan dirinya pada bekas luka dadaku tapi sepertinya itu hal normal.
Rune segera membersihkan akar yang tertinggal pada dadaku dengan pisau, bekas lukanya sendiri meninggalkan sebuah bentuk lingkaran tidak rata, aku pikir itu akan hilang tapi ternyata tidak.
Lalu ada pula seragamku. Itu berlubang karena terkena serangan sebelumnya tapi Wasa sudah mengambilkan yang lainnya jadi semuanya baik-baik saja. Sudah tidak ada apapun yang aku awasi lagi untuk saat ini, aku bisa menyerahkan sisanya pada mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih atas perawatannya selama dua hari ini."
Aku mengulurkan tangan pada Rune yang ada di depanku, dia segera menyalaminya dengan wajah yang mengeluarkan senyuman. Meskipun tersenyum, wajah rakun itu memang menakutkan.
"Tidak tidak, itu sudah jadi hal yang wajar untuk merawat tuan dan penyelamat kami. Tuan Aciel, anda bisa mampir ke sini kapanpun yang anda suka, kami akan menantikannya."
"Apa kau benar-benar akan menantikan kedatanganku?"
Rune melebarkan mata hitamnya, lalu dia segera tersenyum kembali.
"Anda memang cukup jahil. Tentu saja saya akan menjadi salah satu yang menantikannya. Hutan ini akan selalu terbuka untuk anda."
"Begitukah? Aku senang mendengarnya. Untuk Wasa aku akan memberitahunya sendiri nanti, kau tidak perlu mengirimkan Roh untuk menyampaikan hal ini padanya. Aku ingin mengejutkannya."
"Anda memang cukup jahil. Tapi yah, saya bisa mengerti perasaan itu."
Kami langsung terkikik pelan dan suara dari tanah yang dihantam pun terdengar. Itu berasal dari Master yang mencambuk kan ekornya pada tanah.
"Sampai kapan kalian akan berbicara dan membuatku menunggu? Cepatlah selesaikan."
"Master, kenapa kau begitu terburu-buru? Ini semua menjadi lama karena aku harus menunggumu untuk sadar dari mabuk dulu, kau tahu?"
"Apa kau bodoh? Ini semua menjadi lama karena kau yang terluka akibat serangan bodoh dari cecunguk itu. Jika saja kau tidak terkena, pastinya aku tidak akan menunggu lama dan bekas luka di dadamu itu merusak tampilan makananku. Tubuhmu adalah makananku, jangan berani lagi kau merusaknya."
"Apa? Kau protes? Lagipula kau menunggu dengan mabuk-mabukan dan bersenang-senang, ya kan? Lalu ini adalah tubuhku, aku yang memiliki hak tertinggi untuk menggunakannya."
"Apa? Kau sudah berani membalasku?"
Master berjalan mendekat dan menjulurkan lidahnya, menjilat wajahku.
"Maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana."
"Tidak ada kesempatan kedua bagi bocah bodoh sepertimu."
"Ah! Tunggu dulu!!"
Master menggigit seragamku lalu mengangkat tubuhku dan melemparkannya, aku pun terjatuh pada punggungnya dan tenggelam diantara bulu hitamnya. Pendaratan yang cukup berbahaya.
"Pegangan yang erat, kita akan terbang."
"Tunggu dulu!! Rune!! Sampai jumpa!! Aku akan mampir lain kali!!"
"Baik!! Kami akan menunggunya!!"
Master mencambuk ekornya pada tanah, melompat dan berlari diantara langit dengan kakinya yang memunculkan potongan awan berwarna hitam pada setiap langkahnya. Selagi melambai pada Rune dan para Roh lain, kami pun pergi untuk mengunjungi tempat selanjutnya.
____________________________________
Setelah menemukan dataran kosong yang cukup luas, Master menurunkan kecepatan dan ketinggiannya, melompat sebagai pendaratan dan menciptakan sedikit gelombang debu disaat kakinya menyentuh tanah.
Aku segera turun setelahnya.
"Tentu saja, kau tidak perlu menanyakan itu."
Master merubah wujudnya kembali menjadi kucing dan melompat pada bahuku. Aku pun berjalan melewati beberapa pepohonan sebelum sampai di depan rumah Paman Gen, lalu mengetuk pagar kayunya.
"Permisi?! Apakah ada orang?!"
"Ya!! Tolong tunggu sebentar!!"
Langsung ada jawaban dari dalam, itu suara Nenek Lunius. Beberapa saat kemudian, nenek muncul dengan sapu pada tangannya.
Aku tidak tahu kenapa tapi tampaknya Master mengubah niatnya untuk ikut, dia melompat dari bahuku dan berjalan menjauh dari rumah. Apa mungkin karena Energi yang mengelilingi rumah ini?
Itu pasti membuatnya mual.
Kesampingkan itu, nenek menyambut bersama senyuman, tampak sedikit keringat mengalir pada dahinya yang terdapat beberapa keriput dengan rambut putih yang menempel.
"Wah, nak Aciel! Ada apa datang sepagi ini ke rumah kami? Dan seragam itu, apa kamu tidak sekolah hari ini? Membolos tidak baik."
"Ah tidak, sekolah pulang lumayan cepat hari ini karena ada ulangan yang diadakan. Ngomong-ngomong nek, apa paman Gen ada? Aku ingin membicarakan beberapa hal dengannya sebentar."
"Oh, anakku? Dia ada. Masuklah dulu, aku akan memanggilnya untukmu."
"Terimakasih banyak."
Nenek segera membuka pagarnya dan aku pun masuk ke dalam, kami masuk ke ruang tamu yang sama dengan sebelumnya.
Selagi mempersilahkan diriku untuk duduk, nenek membawa beberapa biskuit dengan cangkir teh sebagai pendampingnya.
"Kamu bisa makan dan minum selagi menunggu Gen datang. Dia sedang ada di kebun belakang, hari ini kami menanam beberapa singkong."
"Oh begitukah? Baik, aku akan menunggunya di sini. Terimakasih, nek."
Nenek pun pergi setelahnya. Beberapa menit berlalu dan paman Gen akhirnya muncul. Dia langsung duduk pada kursi dengan senyuman pada wajahnya yang dipenuhi keringat.
"Sepertinya menanam singkong cukup melelahkan."
"Hm? Ah, kamu mendengarnya dari ibu? Iya, itu membutuhkan tenaga yang cukup banyak saat melakukannya di usia ini. Kesampingkan itu, Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak, tidak ada sesuatu yang khusus sih. Aku di sini cuma mau melaporkan kalau Roh yang lepas dari kendi sudah aku atasi. Dengan ini semuanya sudah aman, paman tidak perlu khawatir."
"Eh? Sudah selesai? Kamu membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menyelesaikannya, ya?"
Tidak, sebenarnya hanya beberapa menit ... Atau detik? Aku membutuhkan dua hari ke sini karena harus menyadarkan diri dari luka yang disebabkan oleh kecerobohan ku. Mana mungkin aku akan mengatakan hal itu, kan?
Tidak terjadi sesuatu yang khusus adalah jawaban terbaik.
"Iya. Meskipun aku sedikit sulit membuktikannya karena Roh itu tidak meninggalkan apapun yang bisa menjadi tanda kalau dia sudah musnah."
"Bukti? Aku tidak memerlukan hal seperti itu. Tenang saja Aciel, karena aku pasti akan mempercayaimu. Kalau begitu dengan ini sudah tidak ada yang perlu aku khawatirkan, ya? Terimakasih banyak."
Untuk sesaat saja, aku sempat termenung saat mendengarkan ucapannya itu.
Mempercayai dan terimakasih, ya?
Aku tidak tahu jika mendengar dua kalimat singkat itu akan membuat hatiku terasa seringan ini. Rasanya seperti sesuatu yang hangat memenuhi diriku, membuat sebuah senyuman sedikit sulit untuk ditahan.
"Hm? Ada apa, Aciel?"
"Tidak, bukan apa-apa. Yang harusnya berterimakasih adalah aku."
Sungguh, aku sangat bersyukur sudah melakukannya.