
"Pwahhh—!! Jus setelah latihan memang yang terbaik!!"
Karena Master memutuskan untuk menyelesaikan latihan yang kami lakukan hari ini, yang perlu dilakukan sisanya tentu beristirahat dengan satu botol jus yang sudah aku siapkan dan beberapa biskuit.
Bersama keduanya di samping, aku mengisi perut dengan kecepatan maksimal.
Disisi lain—
"Bwuuhh—!! Arak setelah bekerja memang yang terbaik! Bakpao ini juga cukup enak, meskipun rasanya masih di bawah dari yang kau berikan sebelumnya."
Master dengan satu botol arak dan Bakpao daging pada ekornya yang memanjang, berbaring lemas sembari beberapa kali mengeluarkan suara cegukan. Kami menikmati angin sore dengan maksimal, melihat langit yang perlahan kehilangan cahayanya.
"Master, jangan minum terlalu banyak dan kehilangan kesadaran. Malam akan datang sebentar lagi jadi akan gawat jika Master membawaku kembali dalam keadaan mabuk. Bagaimana jika kita malah akan jatuh di ketinggian yang berbahaya atau bertabrakan dengan Roh lain saat terbang nanti?"
"Hah?! Jangan menyamakan diriku yang agung ini dengan bongkahan besi bernama mobil itu. Jika kau takut menunggangi punggungku maka tidak perlu naik ke atasnya dan berjalanlah!! Lagipula dataran ini tidak terlalu jauh dari rumahmu, kan?"
"Jarak kembali menuju rumah memang tidak terlalu jauh tapi cukup menakutkan berjalan sendirian saat gelap. Bagaimana jika ada hantu yang keluar? Aku akan pingsan jika itu terjadi—Aduh!! Apa yang lakukan, Master?! Jangan melempar botol arak yang sudah kosong ke orang lain!!"
Master hanya mendengus dan mengambil botol lainnya lalu meminumnya.
"Orang yang bisa melihat Roh sepertimu takut akan hantu?! Dasar bodoh, apa yang manusia panggil dengan sebutan hantu adalah kami!! Meskipun mereka tidak bisa melihat kami. tapi memberikan nama yang bodoh seperti itu. Aku akan membasmi semuanya!!"
Dengan wujud kucing kecilnya, Master melompat-lompat pada dataran rumput kekuningan dan mencakar apapun yang ada di sekitarnya. Sepertinya kucing ini sudah mulai berhalusinasi.
Percuma, dia sudah terlalu mabuk. Tidak ada pilihan selain membawanya pulang dengan berjalan kaki, meskipun sedikit merepotkan.
Aku segera membereskan semuanya dan menyimpannya di dalam tas, lalu menaruh Master yang pingsan pada bahuku. Setiap bulu hitamnya mengeluarkan aroma menyengat yang sangat kuat. Aku benar-benar berharap Master bisa menahan diri.
"Ehmm ... manusia keparat ... Akan aku basmi kalian semua ... Tunduklah dan menangis ... Inilah akibatnya jika kalian menentang diriku yang agung ... Dan telah membunuh ... Emier ... Aku bersumpah ... Tidak akan memaafkan kalian semua ... Ehm ..."
Apa yang kucing ini gumam kan?
"Master, ayo kita segera pulang. Aku akan membelikan beberapa bakpao daging."
"Ehmm ... Dasar manusia ... rendahan ..."
Master melingkarkan ekornya dengan lembut pada leherku dan akhirnya mendengkur pelan. Wajahnya benar-benar terlihat pulas.
"Ya ampun, benar-benar kucing yang sangat merepotkan. Bukannya yang harusnya menjaga dan membawaku pulang itu Master? Kenapa peran kita berdua malah berbalik?"
Aku menguap pelan, membuat sedikit air mata keluar pada ujung mataku.
"Yah, sudahlah. Aku hanya perlu menyimpan semuanya dan menagihnya nanti."
Berjalan diantara semak-semak pada jalan setapak yang dipenuhi dedaunan berguguran, ditemani suara angin yang bising dengan beberapa pekikan dari tupai yang berlari memanjat pohon.
Bersama kucing hitam di bahu kananku, serta tas kecil pada punggungku dengan tubuh yang dibaluri oleh keringat lengket, aku menguatkan langkah untuk berjalan maju ke depan.
—Tiga puluh menit kemudian
Akhirnya kami keluar dari dataran gunung dan hutan. Untuk saat ini lebih baik aku beristirahat lebih dulu di tempat duduk jalan terdekat.
Menaruh Master secara perlahan pada tempat duduk, aku segera mengistirahatkan pantatku dan meluruskan kaki, melihat ke arah langit yang sudah didominasi oleh kegelapan malam.
"Karena aku sudah meminta ijin pada bibi An sebelumnya untuk keluar, jadi tidak perlu khawatir akan di hukum untuk saat ini. Meskipun begitu, bukan berarti aku bisa bersantai di sini."
Pada jalanan yang hanya terdapat beberapa lampu dengan pencahayaan redup, tanpa ada seorang pun yang berlewatan, menyisakan keheningan yang diisi oleh beberapa suara jangkrik pada semak.
Dari awal jalan ini hanya digunakan para penebang untuk pergi ke gunung sih, jadi sangat sedikit ada orang yang melewatinya. Terlebih saat malam hari, aku beruntung tidak menemui satu Roh aneh.
"Hm? Hwahhh—!! Kepalaku sakit, dimana kita?"
Master yang mulai terbangun menguap dan menoleh ke sekeliling dengan matanya yang menyipit. Sedikit embun keliar dari mulutnya saat berbicara.
"Perjalanan pulang, kita ada di tengah jalan. Apa Master mau jusku? Setidaknya ini bisa mengurangi rasa pening setelah meminum arak."
Aku membuka botol dan meminumkannya pada Master dnegan perlahan.
"Jus Apel, ya? Tidak buruk." ucap Master saat menjilat bibirnya yang basah.
Hembusan angin sedikit menguat, membuat kulitku sedikit menggigil. Tapi ada sesuatu yang terlintas pada kepalaku saat itu, sangat tiba-tiba sampai membuatku cukup terkejut.
"Master, aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang ayah dan ibuku. Bahkan saat aku menanyakan tentang keduanya, para kerabat yang menampungku langsung membentak ku dan berpura-pura tidak mengetahui apapun."
Aku meminum jus dan menelannya, menarik napas ku sekali lagi.
"Lalu tidak ada satupun barang peninggalan keduanya yang sampai padaku hingga saat ini, bahkan satu lembar foto wajah mereka pun tidak ada. Aku bertanya-tanya tentang apa yang sudah mereka lakukan hingga semuanya begitu membenci mereka."
"Membenci, ya? Daripada membenci, aku rasa itu lebih merujuk pada ketakutan. Merasa takut pada sesuatu yang tidak diketahui adalah hal yang wajar, begitulah sifat manusia. Lalu orang sepertimu yang bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui juga menjadi salah satu objek rasa takut mereka."
"Merasa takut padaku, ya? Sama seperti diriku yang merasa takut saat orang-orang menatapku dengan tajam. Orang-orang juga takut padaku saat aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Pada akhirnya ini hanya masalah pemahaman, ya?"
Master mendengus dan melompat pada pahaku lalu memanjat menuju bahuku dan melingkarkan ekornya diantara leher. Bulunya memberikan sensasi yang hangat dan nyaman.
"Bukankah masalah manusia memang selalu berasal dari sana? Perbedaan pendapat menghasilkan perdebatan, perdebatan menghasilkan permusuhan, permusuhan menghasilkan pertumpahan darah. Dan pertumpahan darah menciptakan sebuah alasan, lalu alasan menciptakan sebuah kebencian, kemudian kebencian itu saling berbenturan dan menciptakan perbedaan lainnya dan mengulang siklus yang sama."
"Dengan kata lain, itu adalah hal yang tidak bisa dihindari, begitukah?"
"Ya, mungkin begitu ... Kesampingkan itu, kita sudah meleset jauh dari topik awal. Di malam yang indah ini lebih baik kau menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Malam ini langit akan memberikan berkah melalui bintang jatuh. Para Roh akan mengadakan sebuah pesta untuk merayakannya, apa kau mau ikut?"
"Eh? Master akan menghadiri jamuan? Tapi terakhir kali aku memasuki jamuan, semuanya tidak berjalan lancar dan penyamaran ku juga hampir terbongkar di depan Dewa yang menjadi penyelenggaranya."
Keringat dingin benar-benar turun deras pada punggungku saat itu. Terlebih sekarang Ebi sedang tidak ada jadi aku tidak bisa menyembunyikan diriku dengan baik saat menyamar menjadi Roh.
"Tenang saja, lagipula jamuan yang akan aku hadiri kali ini adalah pesta yang diadakan para pengikutmu di hutan barat gunung kecil itu."
"Pengikutku ... Perkumpulan Frouya? Bukannya mereka baru saja mengadakan pesta untuk merayakan kembalinya hutan mereka tadi pagi? Bagaimana jika persediaan mereka habis?"
"Dasar bodoh, jangan samakan aturan dari Dunia manusia dengan aturan dari Dunia Roh. Meskipun ada ribuan manusia yang hidup di hutan itu, semua buahnya tidak akan pernah habis."
Master melompat dan merubah wujudnya menjadi harimau berbulu hitam.
"Baiklah, cepat naik."
"Ah? Ah, ya."
Sebenarnya aku masih sedikit khawatir jika pulang terlalu malam tapi kurasa tidak akan ada masalah serius yang terjadi.
Lagipula aku sudah mendapatkan ijin, mungkin hukumannya hanya sekedar tidak memberikan makan malam dengan beberapa tamparan di pipi. Itu bukanlah masalah besar.