
Lengkap sudah keluarga kecil Frans dan Onya. Satu bayi mungil terlahir dengan selamat dan tidak menyusahkan ibunya.
Dulu saat melahirkan Liona, Onya sempat terbaring koma. Namun tidak untuk kali ini. Bahkan baru beberapa hari berlalu Onya sudah diizinkan pulang oleh dokter.
"Sudah siap, sayang?" Tanya Frans sambil mengancing kemejanya, pria itu berjalan mendekati sang istri.
Hari ini Frans akan mengantar istrinya kembali ke kediaman Eisten. Setelah itu ia akan ke kantor.
"Aku beri dia ASI dulu, Frans" ucap Onya sambil menyipak bajunya dan memberi sumber makanan untuk anak bayinya itu.
Frans ikut duduk diranjang istrinya. Pria itu menatap gemas anak bayinya yang sedang menyusu dengan rakus.
"Dia sangat rakus" ucap Frans sontak ditatap oleh Onya dengan galak.
Frans hanya terkekeh melihat respon Onya. "Musuh papa dan kakak Liona ini" ucap Frans dengan asal, karena bayinya kali ini berjenis kelamin laki-laki.
"Mama!" Teriak seorang anak kecil dari balik pintu.
Orang yang baru disebut Frans tiba-tiba datang. Liona, gadis kecil itu datang bersama neneknya.
"Io mau main sama adiknya Io" ucap gadis kecil itu sambil berusaha menaiki tempat tidur.
"Io, jangan ganggu adik dulu ya! Adik lagi susu, mau tidur. Nanti sampai di rumah baru mainnya" ucap Onya menegur Liona yang masih kesusahan naik keatas tempat tidur itu.
Frans lantas menggendong anak perempuannya itu dan memangkunya diatas tempat tidur.
"Liona dan papa lihat dari sini saja. Adiknya lagi mau tidur, jadi jangan ganggu dulu ya" ucap Frans.
Beberapa menit menunggu bayi laki-laki itu menyusu sampai tertidur dalam gendongan Onya, barulah keluarga kecil itu keluar rumah sakit.
Dalam perjalanan, Nyonya Eisten yang ada diantara mereka mulai membuka obrolan.
"Frans, katanya kalian mau pindah ke rumah baru?" Tanya Nyonya Eisten karena kabar burung itu ia dengar dari sang suami.
"Ia, ma" jawab Frans sambil fokus menyetir.
"Kapan? Dan rumah mana yang kamu beli?" Tanya Nyonya Eisten lagi. Pastinya sebagai orangtua, ia akan khawatir. Apalagi menantunya baru saja melahirkan, ia harus memastikan kenyamanan dan keamanan menantu dan cucu-cucunya itu.
"Nanti setelah Frans pulang dari kantor, Frans langsung jemput Onya dan Liona ke rumah baru. Hari ini kita sudah pindah, ma. Tadi Frans sudah bilang ke pelayan untuk membereskan barang-barang kita" ucap Frans.
"Dimana, Frans? Jangan bilang di puncak" tebak Nyonya Eisten, karena sepengetahuannya, Frans hanya membeli satu rumah semenjak menikah dengan Onya, yaitu rumah temannya yang berada di puncak.
"Iya, ma" ucap Frans.
"Rumahnya jauh dari perkotaan dan kantormu, Frans. Kamu sudah dewasa tapi bisa-bisanya mengambil keputusan sebodoh itu" ucap Nyonya Eisten.
"Mending kalian tinggal dulu dikediaman Eisten. Cari rumah baru lain yang dekat Kota dan Kantormu" tambahnya.
"Lagian siapa yang mau membantu Onya menjaga dua anakmu ini?" Nyonya Eisten mengelus rambut Liona sambil memperhatikan anak dan menantunya yang duduk di kursi depan.
"Nanti itu kita pikirkan lagi, ma. Kita mau tinggal dulu beberapa hari di rumah puncak. Soalnya Frans sudah beli rumah yang ada ditengah Kota, itu dekat sekali dengan kantornya Frans. Maunya direnovasi dulu. Mungkin satu atau dua bulan sudah selesai" ucap Frans dengan tenang.
"Lagian kan ada penjaga dan pelayan juga di sana, nanti mereka yang akan bantu-bantu kita di rumah puncak. Beberapa hari ini juga Frans mau istirahat sambil kantoran di rumah, jadi bisa bantu-bantu Onya mengurus Liona dan adik. Nanti Frans cari nanny buat adik dan Liona juga" tambah Frans panjang lebar. Pria itu ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilnya.
Terbiasa hidup jauh dari orangtunya membuat pria itu enggan tinggal berlama-lama dikediaman Eisten. Lagi tempat tinggal itu akan diwariskan oleh kakak laki-lakinya, dan dia harus tahu diri.
Nyonya Eisten mengeluarkan nafasnya dengan berat. "Terserah kalian saja" ucap wanita itu pada akhirnya.
Sampai di kediaman Eisten, Frans terus mengikuti istrinya sampai wanita itu benar-benar masuk kedalam kamar mereka.
"Kamu gak ke kantor, Frans?" Tanya Onya selesai menidurkan bayinya diatas tempat tidur.
"Aku pergi dulu. Nanti sore aku pulang, kita langsung ke rumah puncak" ucap Frans.
Onya hanya menganggukkan kepalanya. Ia setuju karena mereka sudah memutuskan hal itu jauh-jauh hari.
"Ohya..." Belum sempat Frans melepas pelukannya, wanita itu kembali menahannya.
"Aku mau bilang kalau aku udah minta bantuan ke Liana buat cari nanny. Dan orangnya sudah siap kerja malam ini, jadi kita langsung jemput saja orangnya pas ke rumah puncak nanti sore" ucap Onya.
Frans mengernyit dahinya. "Kamu sudah kenal orangnya bagaimana?" Tanya Frans, karena dia sangat berhati-hati memilih seorang pekerja apalagi untuk menjaga kedua anaknya nanti.
"Belum sih, ya minimal dia bisa bantu aku jagain Liona dan adik sampai rumah baru kita direnovasi. Lagian aku juga bakal ngawasin orangnya" ucap Onya.
Frans hendak bicara lagi, namun dengan cepat dipotong oleh Onya.
"Ah, sudahlah! Kamu kan harus ke kantor. Jangan sampai terlambat. Kita bicara lagi setelah kamu pulang" ucap wanita itu sambil mendorong dada bidang suaminya.
*
Sore harinya, Onya membiarkan Liona bermain dengan bayinya diatas tempat tidur sambil menunggu Frans pulang dari kantor.
Tok... Tok...
Terdengar seseorang mengetok pintu kamarnya diluar sana.
"Io hati-hati ya mainnya sama adik. Adik masih kecil" ucap Onya memperingatkan anak gedisnya itu.
"Okei, ma" ucap Liona.
Dengan gemas Liona mencubit pipi adik laki-lakinya. Tidak kuat, justru jarinya hanya menyentuh pipi mungil itu. Kalau saja Onya melihatnya mungkin Liona sudah dimarah habis-habisan.
"Permisi, Nyonya" ternyata seorang pelayan yang mengetok pintu.
"Ada apa?" Tanya Onya.
"Ada pesan dari Tuan muda, katanya Tuan tidak bisa menjemput Nyonya ke rumah baru karena ada beberapa urusan kerja yang mendesak di kantor. Tuan baru saja mengirim satu mobil untuk menjemput Nyonya" ucap pelayan itu.
Onya manggut-manggut mendengarnya. Wanita itu lantas mengikuti kata pelayan itu.
Dalam perjalanan Onya menghubungi Liana, karena dia akan langsung menjemput nanny untuk kedua anaknya.
"Kamu dimana? Aku sudah dalam perjalanan" ucap Onya kepada Liana disebrang sana.
"Aku sudah ditempat tujuan. Kamu datang saja ke sini, aku dan orangnya udah nunggu dari tadi" jawab Liana.
"Oke"
Sesampainya di sana, Onya terpana melihat seorang wanita yang begitu cantik berdiri bersama Liana. Wanita itu terlihat masih muda darinya.
Onya hanya membuka jendela mobilnya saja. Dia tidak bisa turun karena bayinya yang sedang digendong.
"Dia nanny nya?" tanya Onya tak yakin.
Liana mengangguk kepalanya dengan jengah. "Kenapa? Berubah pikiran?" tanyanya dengan asal.
"Pilihan yang bagus, Liana sayang" ucap Onya sambil mengacungkan jempolnya.
"Kamu tidak merasa terancam ya" ucap Liana dengan asal sambil geleng-geleng kepalanya.
Dari awal Liana tidak menyarankan temannya itu untuk bekerja pada Onya. Liana sering memperingati Onya akan wanita yang satu itu. Hanya saja Onya bersikeras mencari nanny yang muda agar bisa dijadikan teman juga.