
Jika Frans sedang fokus menyetir mobilnya, maka yang menjadi fokus Onya adalah ponselnya Frans. Gadis itu terus meneliti setiap foto yang ada didalam sana hingga membuat Frans semakin penasaran dengan isi pikiran gadis itu.
"Bagaimana? Apa kamu percaya padaku, Onya?" Tanya Frans, namun yang ditanya malah mengangkat tangannya sebagai tanda perintah agar pria itu tetap diam ditempatnya.
Detik berikutnya, Onya langsung melempar ponsel Frans kearahnya begitu saja. "Hei, ada apa?" Tanya Frans tanpa mempedulikan letak ponselnya saat ini.
"Brengsek kau Frans. Apa matamu sudah rabun? Jelas-jelas yang kamu foto itu Alka dengan Mena" tutur Onya membuat Frans mengernyitkan keningnya, seolah-olah dirinya sedang kebingungan. "Alka dan Mena itu punya hubungan persepupuan, jadi jangan bodoh untuk menuduhnya selingkuh" jelas Onya membuat Frans membisu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Tanya Frans kemudian.
"Percuma aku minta balikan sama Alka. Ngemis-ngemis cinta sama dia juga tetap percuma" Onya menjeda ucapannya untuk sementara waktu. Gadis itu menghirup udara sedalam-dalamnya, kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Tapi bukan berarti kita akan melanjutkan perjodohan ini, Frans. Aku tidak bisa melakukannya, apalagi kamu itu sahabatku yang sudah aku anggap sebagai kakak laki-laki" tambahnya.
"Lalu?" Tanya Frans lagi.
"Aku ingin kamu segera membatalkan perjodohan ini. Karena setelah lulus S1, aku akan mengambil S2 di luar negeri" tutur Onya membuat Frans menoleh begitu saja.
"Aku tidak tahu" lirih Frans yang tidak dapat didengar oleh Onya, karena gadis itu sudah memasang headset terlebih dahulu.
Setelah membawa Onya ke rumah gadis itu dengan selamat, Frans kembali mengendarai mobilnya menuju rumah besar keluarganya. Dalam perjalanan pulang pria itu hanya bisa tersenyum getir. Dia merasa percuma untuk menyenangkan orangtua mereka perihal perjodohan itu, jika Onya sangat keras kepala untuk di luluhkan.
Untuk sementara waktu Frans memilih untuk melupakan masalahnya dengan Onya. Sesampainya di kediaman orangtuanya, pria itu langsung bergegas turun dari mobilnya. Namun mendengar ponselnya berdering dibawah kursi kemudianya membuat pria itu meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilan dari seseorang.
"Tadi kau meneleponku, Frans?" Tanya seorang pria disebrang sana, tak lain adalah Franky.
"Aku hanya ingin memberitahumu tentang keberadaan Mona" tanpa basa-basi, Frans langsung mengatakannya.
Sementara Franky yang mendengarnya langsung tertekun ditempat. Entah apa yang dia rasakan, yang pasti ada rasa penasaran untuk mengetahui keberadaan wanita masa lalunya itu.
"Kamu dimana, sekarang?" Tanya Franky membuat Frans terkekeh. Pria itu merasa jika sang kakak terkesan buru-buru.
"Tenanglah kak, aku hanya ingin mengabarimu kalau kak Mona sudah kembali. Tadi pagi aku melihatnya ditempat perhentian bus. Entah apa namanya, aku bahkan tidak tahu istilah yang tepat bagi tempat itu" jawab Frans panjang lebar. "Ohiya, aku ingat. Halte bus namanya" sambungnya.
"Aku tidak bertanya tentang itu. Apa kau tidak mengerti maksud pertanyaanku, Frans?" Suara Franky terdengar tajam.
"Dirumah" jawab Frans dengan spontan.
"Temui aku diruang kerja" ucap Franky terdengar seperti perintah yang tegas, tanpa ingin dibantah. Dan tanpa mendengar jawaban dari adiknya, pria itu malah mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Frans hanya bisa mendengus kesal, kemudian melangkah masuk kedalam rumah besar itu. Dia bergegas menemui kakaknya di ruang tamu. Dilihatnya pria itu sedang sibuk dengan setumpuk kertas. Melihatnya saja sudah membuat kepala frans berdenyut nyeri.
"Kak Franky" sapa Frans membuat pria itu mendogak menatapnya. Dia langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja, kemudian mengajak adiknya untuk duduk disebuah sofa diruangan itu.
"Apa benar yang kau katakan tadi, Frans?" tanya Franky sembari menatap pria itu dengan tatapan menyelidik.
"Iya" jawab Frans dengan santai.
"Dimana? Ceritakan se-detilnya padaku" ucap Franky terkesan serius. Sementara Frans tetap pada mode santainya.
"Aku sudah memberitahumu tadi. Rasanya sangat menyebalkan jika aku mengulanginya" tutur Frans membuat Franky menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Tapi aku tidak sempat menghampirinya, karena dia langsung naik kedalam bus begitu saja" tambahnya.
"Hanya itu. Maksudku, aku bahkan tidak berniat mengikutinya jadi tidak tahu dimana dia tinggal" jawab Frans membuat Franky mendengus kesal.
"Percuma aku bicara denganmu" ucap Franky sembari berdiri dengan niat kembali pada tumpukan kerjaannya.
"Setidaknya kau bisa mengecek cctv disekitar area itu dan mencari tahu keberadaannya" ucap Frans membuat Franky berhenti dari posisi berdirinya. Pria itu mengangguk kepalanya dan meminta alamat yang dimaksud oleh adiknya itu.
Serasa puas memberi informasi pada kakaknya, Frans bergegas keluar dari ruangan tersebut. Sementara Franky hanya menatap nanar tulisan tangan adiknya yang bertuliskan sebuah alamat. Terlihat jelas dari sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Aku harap kamu masih lajang, dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Gumam Franky sambil mengusap kertas tersebut.
Detik itu juga Franky langsung menghubungi orang suruhannya. Dia memberi perintah pada mereka untuk segera melacak keberadaan wanita itu. Wanita yang sangat ia rindukan.
Hari menjelang malam, namun Frans masih berada di rumah besar keluarganya. Pria itu sedang sibuk memainkan game pada layar televisi. Sementara Franky yang baru selesai dengan urusan pekerjaannya langsung menghampiri adiknya. Dia meraih remote game yang sedang digunakan oleh adiknya. "Apa yang kau lakukan Franky?" bukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, melainkan protes.
"Kita main bersama" ucapnya. Mungkin karena mood yang membaik membuat Franky berbuat seenaknya demikian.
Dalam kegiatan mereka bertanding, datanglah seorang gadis kerumah mereka. "Hello kak Franky" sapa-nya tanpa berniat menghampiri kedua pria itu.
"Onya, apa yang dia lakukan disini?" Gumam Frans, tanpa berpaling dari layan televisi. Hanya dengan mendengar suara gadis itu, dia bisa tahu jika yang datang adalah Onya.
Pertanyaannya tidak luput oleh pendengaran Franky. Pria itu langsung menoleh kearah adiknya yang seolah tidak peduli dengan keberadaan Onya. Franky sedikit menyenggol lengan Frans, "Apa kalian lagi marahan?" Tanya Franky, namun Frans malah mengacuhkannya.
Sementara Onya yang datang ke rumah mereka atas permintaan Nyonya Eisten. Kebetulan juga karena ayah dan ibunya sedang ada urusan diluar negeri, jadi Onya berniat menginap di rumah itu.
"Kak, nanti jangan bahas perihal kak Mona didepan Onya ya?" Pintah Frans pada kakaknya itu.
Beberapa menit kemudian, Nyonya Eisten menyahuti mereka untuk segera makan malam. Untuk itu Franky dan Frans bergegas meninggalkan permainan mereka untuk menuju meja makan.
"Onya dimana, ma?" Bukan Frans yang bertanya, melainkan Franky. Pria itu bertanya mengenai keberadaan gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya itu dari sang ibu.
"Lagi di kamar. Frans, kamu panggil Onya untuk segera makan malam bersama kita" titah Nyonya Eisten.
"Baiklah" jawabnya ketus membuat Nyonya Eisten dan Franky saling bertatapan.
"Apa ada masalah?" Tanya Nyonya Eisten pada anak laki-lakinya itu.
"Entahlah" ujar Franky.
Kini Frans sudah berada didepan kamar tamu. Tanpa mengetok pintunya, dia langsung menerobos masuk kedalamnya. Betapa kagetnya Onya ketika melihat Frans masuk seenaknya.
"Frans..." Geram Onya meneriaki nama pria itu. Pasalnya, gadis itu sedang mengganti ****** ********. Karena itulah dia merasa amat malu, dimana Frans tidak sengaja melihat objek bagian bawahnya tanpa busana.
Untungnya Onya keburu memasang ****** ********. Namun sama saja, karena mata pria itu sudah sangat beruntung melihatnya. "Kenapa tidak ditutup pintunya? Bagaimana kalau yang tadi datang itu kak Franky?" Hei, bukankah yang harus marah disini adalah Onya? Kenapa malah sebaliknya?
Sebenarnya Onya sudah berniat untuk turun kebawah. Tapi selepas keluar dari kamar mandi, dia merasakan celana bagian dalamnya sedang basah. Jadi, Onya tidak sempat menutup pintunya karena dia pikir hanya menggantinya sebentar saja. Namun kejadian memalukan itu terjadi tanpa keinginannya.
"Sama saja kamu yang salah. Seharusnya kamu ketok pintunya" Onya balik membalas ucapan Frans dengan ketus. Dia langsung mendorong Frans keluar kamarnya, kemudian menutup pintunya dengan rapat.
"Cepatlah keluar, mama dan kak Franky menunggumu untuk makan malam" seru Frans dari luar sana.